CEO Toyota Astra Motor Diberhentikan, Dealer Lokal Terancam Digusur Dealer dari Jepang

4
2663
Eks CEO PT Toyota Astra Motor (TAM) Hiroyuki Fukui (kanan) dan Menteri Perindustrian Erlangga Hartarto (kiri) saat launching mobil Calya

Nusantara.news, Jakarta –  Nasi sudah menjadi bubur, itulah peribahasa yang pas untuk menggambarkan perkara yang menyangkut nama baik PT Toyota Astra Motor (TAM) dan CEO-nya Hiroyuki Fukui.

Ya, Achmad Rizal Roesindrawan yang diminta berhenti bekerja di TAM oleh Fukui, lewat Vice President Director TAM Henry Tanoto, sudah hilang kesabarannya. Sebelumnya ia mencoba melakukan komunikasi dengan Henry agar masalahnya bisa diselesaikan secara musyawarah, karena tidak mendapat tanggapan, ia mencoba mengajukan tuntutan secara personal hingga tiga kali. Namun tetap tak mendapat tanggapan.

“Ini adalah langkah terakhir, dengan mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum terhadap Hiroyuki Fukui selaku Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor,” tegas Ali Nurdin & Rekans, kuasa hukum Rizal, beberapa waktu lalu.

Rizal adalah Division Head of Product Planning & Development PT TAM. Ia telah bekerja di TAM selama hampir 19 tahun. Berbagai sumbangan pemikirannya dalam bidang konsep mobil produk Toyota cukup laris, antara lain seperti konseptor mobil Avanza, menjadi project leader introduction Lexus Indonesia. Termasuk juga mobil Kijang Innova, All New Kijang Innova, Sienta, All New Yaris, Agya, Calya, Rush TRD Sprotivo, Yaris Heykers. Veloz, dan Dyna.

Itu sebabnya Rizal mendapat julukan media sebagai ‘Bapak Avanza Indonesia’, karena debutnya dalam konsep Avanza luar biasa tajam. Sehingga Avanza laris manis.

Di puncak karirnya, pada Februari 2016 Rizal agak bingung dengan mutasi paksa, kalau tidak bisa dibilang ‘pemecatan.’ PT Astra International Tbk, sebagai induk perusahaan TAM menyelamatkan Rizal dan menempatkan di anak perusahaan yakni PT Energia Prima Nusantara (EPN), bergerak di bidang energi dan pembangkit.

Rizal mengatakan dirinya dipanggil Henry Tanoto dengan mengatasnamakan perintah Fukui. Dalam pemanggilan tersebut dia diminta berhenti. Ketika ditanya alasan pemberhentian, Henry mengatakan, “Kamu tidak bisa mendengar orang Jepang.”

Henry ketika dihubungi sama sekali tidak menjawab apa yang dimaksud “Kamu tidak dapat mendengar orang Jepang.”

Perbuatan diskriminatif

Rizal mengaku sudah mencoba berkomunikasi secara baik-baik dengan Fukui melalui Henry, akan tetapi tidak ada tanggapan. Bahkan yang ada adalah pemindahan tugas Rizal dari PT TAM ke PT EPN. Tentu saja secara badan hukum dan struktur kedua perusahaan itu sangat berbeda dan memiliki bidang kerja yang juga berbeda. PT TAM bergerak dalam bidang otomotif, sedangkan PT EPN bergerak di bidang pembangkit listrik swasta,” jelasnya.

Rizal mempersoalkan proses mutasi yang dilakukan secara sewenang-wenang dengan mengabaikan prinsip Toyota Way, yaitu Kaizen dan Respect for People. Kaizen adalah continues improvement yang berarti perbaikan yang berkesinambungan, sedangkan Respect fot People berarti penghargaan, penghormatan tehadap setiap individu, termasuk para pekerja.

Kuasa Hukum Rizal, Ali Nurdin, menilai tindakan Fukui tanpa prosedur yang berlaku di PT TAM, sewenang-wenang, tanpa prosedur yang jelas dan mengabaikan ketentuan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, dan itu merupakan bentuk perbuatan melawan hukum.

Ia merinci, TAM sudah memiliki SOP dalam memberhentikan karyawan yang nakal atau tidak memenuhi standar kinerja perusahaan. Pertama, jika ditemukan ada kesalahan, maka karyawan itu di-couching. Jika setelah itu tak berubah, maka dikeluarkanlah SP-1, SP-2, dan SP-3. Baru jika semua itu tidak juga digubris, maka karyawan tersebut layak dipecat.

“Rizal adalah karyawan berprestasi, hanya dengan alasan tidak dapat mendengar orang Jepang lantas dia diminta berhenti segera,” jelas Ali

Ali berpendapat tindakan Fukui akan mengganggu hubungan baik investasi Indonesia-Jepang, juga dapat merusak hubungan baik antara karyawan dengan manajemen perusahaan yang bonafid.

Rizal dalam kasus ini menuntut ganti rugi materil dan immaterial sebesar Rp155 miliar atas ‘pemberhentian’ sepihak yang dilakukan Fukui. Gugatan ganti rugi materil dilayangkan sebesar Rp5 miliar, sedangkan gugatan ganti rugi immateril sebesar Rp150 miliar.

Achmad Rizal (kanan) bersama tim pengacaranya dari Ali Nurdin dan Rekan

Masalah besar

Sebenarnya, ada masalah yang lebih besar ketimbang masalah pemecatan Rizal oleh Fukui. Kalimat Henry bahwa Rizal tidak bisa mendengar orang Jepang, sebenarnya ada pesan kuat di dalamnya. Sumber-sumber di Toyota mengatakan, bahwa ada keinginan yang terselubung dari pihak Toyota (Jepang) lebih bisa mengontrol Toyota sekaligus membantu pasar otomotif Jepang yang sedang lesu.

Fukui selain sebagai CEO TAM, sebenarnya juga merangkap sebagai President Toyota Motor Asia Pasifik yang berkantor di Singapura. Ia membawahi membawahi Timur Tengah, Asia Pasifik kecuali China.

Itu sebabnya, sejak Fukui memimpin dilakukan perubahan struktur distribusi mobil dan dealer. Sebelumnya di TAM ada 5 main dealer: Auto 2000, Haji Kalla, Nasmoco, Hasjrat Abadi dan Agung Automall, dimana masing-masing main dealer itu membawahi area tertentu. Dibawah mereka ada beberapa dealer. Sejak Fukui menjadi CEO TAM, tidak ada lagi main dealer, semua disamakan dengan dealer.

Distribusi yang selama ini dipegang oleh 5 main dealer, punya peran lebih besar. Begitu Fukui masuk mereka diperlakukan hanya sebagai dealer, hanya jualan. Sementara distribusi kendaraan ditarik oleh TAM, dealer hanya bertugas jualan mobil.

Dengan keberhasilan Fukui mengubah struktur distribusi mobil dan delaer, pihak Toyota Jepang lebih bisa mengontrol dealer dengan harapan ke depan profit delaer ditakar atau diatur, atau dibatasi. Padahal dealer-dealer itu punya orang Indonesia. Inilah mission impossible dihadirkannya Fukui di TAM.

Ke depan, tidak menutup kemungkinan, dealer-dealer di Jepang bisa buka di Indonesia. Sehingga dealer Indonesia akan berhadap-hadapan dengan dealer Jepang. Mengapa demikian? Karena pasar otomotif Jepang sedang turun drastis, bagaimana dealer-dealer Jepang tetap hidup dan bisa ekspansi ke Indonesia.

Market otomotif Jepang dalam lima tahun terakhir memang turun dan ke depan masih akan terus menurun. Disamping juga generasi muda Jepang jumlahya turun, generasi muda di Jepang banyak yang tak suka otomotif. Ini mengancam keberlanjutan industri otomotif Jepang. Maka Jepang melirik Asia, khususnya Indonesia yang pasar otomotifnya masih bagus.

Salah satu yang diincar Jepang adalah, pasar logistik pengiriman mobil dari pabrik ke dealer, dari dealer ke pengguna. Ini pasar yang besar. Selama ini bisnis logistik otomotif ini dimiliki oleh main dealer dan rekanan mereka. Ke depan semua pasar logistik akan diambil alih oleh TAM.

Ke depan, perlahan namun pasti, bisnis logistik ini akan di-share ke Jepang. Perusahaan logistik Jepang bisa masuk dengan alasan kualitas, pelan-pelan dealer Jepang masuk. Pendek kata, kebijakan Fukui ini berhasil meng-create bisnis untuk orang-orang Jepang. Pemain lokal akan tergerus dan hanya jadi penjual saja atau harus puas saebagai karyawan saja.

Itu sebabnya, Fukui tidak lama di TAM, perannya cukup 3 tahun. Per April 2017, hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) TAM, peran Fukui digantikan oleh Yoshihiro Nakata.

Jika memang hal itu yang terjadi, maka akan membahayakan Indonesia dalam jangka panjang. Khususnya untuk survival of the nation di bidang industri otomotif semakin terancam.

Hal inilah yang bisa menjelaskan mengapa Rizal dianggap ‘tidak bisa mendengar orang Jepang’. Pada saat yang sama Rizal menjadi Ketua Indonesianisme Summit, organisasi yang memperjuangkan agar Indonesia menjadi bangsa yang unggul. Lewat organisasi ini Rizal memperjuangkan keunggulan-keunggulan Indonesia bisa dikelola hingga dapat membawa perubahan agar Indonesia lebih baik.

“Kita harus jadi bangsa pemenang, jangan mau dijajah terus-terusan,” kata dia.

Kini, masalah gugatan Rizal terhadap Fukui sudah memasuki sidang ketiga. Tapi dalam sidang sebelumnya Fukui mengaku tidak pernah menyuruh Henry Tanoto untuk meminta Rizal berhenti. Artinya, Fukui merasa tidak ada masalah dengan Rizal. Masalahnya sekarang Rizal dihadapkan dengan Henry.

Lepas dari masalah hukum internal manajemen TAM ini, ada yang hilang dari bumi pertiwi, yakni keperkasaan delaer lokal terlah dikebiri, jalur distribusi kendaraan TAM diambil alih, mungkin sebentar lagi dealer Jepang bisa leluasa masuk ke Indonesia, bahkan bisnis asesoris Jepang bisa leluasa menguasai pasar nasional.

Karena itu pemerintah, khususnya Menteri Perindustrian harus mengambil peran untuk mencegah semua itu terjadi. Paling tidak meminimalisir agar Indonesai tidak jadi tukang jualan dan tukang jahit saja. []

 

 

 

 

 

 

 

 

Hiroyuki Fukui akhirnya lengser dari kursi Presiden Direktur Toyota Astra Motor (TAM), mulai April 2017. Berdasarkan hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) TAM, peran Fuki akan digantikan oleh Yoshihiro Nakata.

 

 

 

Djony Edward

 

 

Caption Foto:

  1. CEO TAM Hiroyuki Fukui saat mersemikan mobil Lexus bersama Wapres Jusuf Kalla dan Menperin Airlangga Hartarto beberapa waktu lalu.
  2. Achmad Rizal (dua dari kanan) didampingi kuasa hukumnya Ali Nurdin (dua dari kiri) dari kantor Ali Nurdin & Rekan dan Ketua Ikatan Alumni ITB Gembong Primadjaya.

4 KOMENTAR

  1. Barangkali jika hingar bingar keinginan membuat monas didukung 100% oleh pemerintah. Maka kita bisa mandiri. Banyak anak bangsa yang hebat dibidang otomotif diambil / kerja di asing. Yang nota bene maskulin bangsa lain. Gimana pa.joko??

  2. Barangkali jika hingar bingar keinginan membuat mobnas didukung 100% oleh pemerintah. Maka kita bisa mandiri dan punya mobil produk dalam negeri. Banyak anak bangsa yang hebat dibidang otomotif diambil / kerja di asing. Yang nota bene majuin bangsa lain. Gimana pak joko??
    Iri sama negara tetangga malaysia dan india dia bikin mobil dijual di indonesia lau pula.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here