Cerita Rakyat di Balik Nama ‘Malang’

0
552
Ilustrasi Malang Tempo Dulu

Nusantara.news, Kota Malang – Suatu wilayah dengan tata letak secara astronomis terletak 112,06° – 112,07° Bujur Timur dan 7,06° – 8,02° Lintang Selatan, dan dijuluki sebagai Paris van East Java, Zwitserland van Java dan Kota Bunga di Provinsi Jawa Timur, yakni Malang.  Wilayah cekungan Malang telah ada sejak masa purbakala menjadi kawasan pemukiman. Wilayah Dinoyo dan Tlogomas diketahui merupakan kawasan pemukiman prasejarah.

Selanjutnya, berbagai prasasti (misalnya Prasasti Dinoyo), bangunan percandian dan arca-arca, bekas-bekas fondasi batu bata, bekas saluran drainase, serta berbagai gerabah ditemukan dari periode akhir Kerajaan Kanjuruhan (abad ke-8 dan ke-9) juga ditemukan di tempat yang berdekatan. Wilayah Malang sendiri sudah dikenal sejak abad ke-8 sekitar tahun 760-an melalui prasasti Dinoyo yang menandai lahirnya sebuah tempat suci di wilayah tersebut.

Pada masa lalu, Malang juga merupakan pusat dari Kerajaan Kanjuruhan dan Singosari. Ini yang kemudian menandakan bahwa wilayah Malang telah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan banyaknya candi serta artefak sejarah yang tersebar di wilayah sekitar Malang, Candi Jago, Candi Kidal, Candi Mendut, Candi Badut, Candi Kalasan dan lainnya.

Ada suatu hal yang menarik dari asal muasal penamaan Malang, dimana dibaliknya banyak terkandung cerita corak kehidupan masyarakat kala itu disuatu wilayah yang kini kita sebut Malang.

Malang dalam bahasa Indonesia, kata ‘Malang’ secara umum diartikan sebagai suatu hal yang kurang beruntung/baik contoh “Nasibnya Malang” yang berarti nasibnya susah. Namun, tidak serta merta nama daerah tersebut berarti buruk. banyak versi cerita rakyat terkait asal usul penamaan Malang tersebut.

Malang, Simbol Perlawanan terhadap Ekspansi Mataram

Penafsiran secara etimologi atau melalui Bahasa Indonesia ‘Malang’ yag berarti tidak beruntung, berbeda arti apabila menggunakan penafsira dalam Bahasa Jawa ‘Malang’ yang berarti “Melintang”, “Menghalang-halangi” atau “Membantah”.

Kata tersebut dikisahkan, Sultan Mataram mempunyai keinginan untuk memperluas pengaruhnya ke daerah-daerah di Jawa Timur. Misi ekspansi kekuasaan dan kewilayahan Kerajaan Mataram yang ingin menguasai Jawa Timur kala itu.

Saat berada di daerah Malang, penduduk asli, dengan permulaan berdirinya Kerajaan Kanjuruhan kala itu mengobarkan perang besar untuk melawan dan menghalangi keinginan Sultan Mataram yang akan mengekspansi wilayah Kanjuruhan. Sejak saat itu wilayah tersebut kerap disebut Malang berdasarkan cerita rakyat.

Piagam & Prasasti Bantaran Ukirnegara

Sejarah penamaan wilayah ‘Malang’ dikuatkan oleh temuan penelitian oleh Prof. Habib Mustopo Guru Besar Universitas Negri Malang, mengungkap penamaan ‘Malang’ lebih dapat diterima berasal dari sebuah piagam atau prasasti tahun saka 1120 atau 1198 Masehi yang ditemukan pada tanggal 11 Januari 1975 oleh seorang administratur perkebunan di Bantaran Kabupaten Blitar.

Dalam penelitiannya ia menemukan beberapa peninggalan prasejarah yakni berupa 8 lempengan prasasti, piagam perunggu dari Desa Ukirnegara, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Blitar.

Menurut beliau, penemuan tersebut memberikan keakuratan data terkait asal muasal sejarah Malang. Karena di sini, kata Malang pertama kali disebut sebagai nama tempat, bukan sebagai nama raja atau kependekan dari Malangkucecwara.

Ia menjelaskan penelitannya, dalam prasasti yang ditemukan disebutkan, “Taning sakrida (ning) Malangakalihan wacid lawan macupa-sabhanira deh (dyah) limpa-20-makanagrani”. Yang artinya sebelah timur tempat berburu (di) Malang bersama Wacid dan Mucu. Nama Malang di sini disebut sebagai daerah di sebelah Timur Gunung Kawi.

Terlihat wilayah ‘Malang’ kala itu sangat luas mencakup keseluruhan jatim, namun kuasa tersebut seakan berubah dinamis dengan perkembangan zaman, perebutan kekuasaan kewilayahan kerajaan baik Singosari, Majapahit, Kediri dan lainnya.

Namun, pada masa penjajahan Belanda, Karasidenan Malang meliputi Kabupaten Lumajang, Kabupaten Malang, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, Kota Batu, Kota Malang, Kota Pasuruan, Kota Probolinggo, Kota Blitar, Kabupaten Blitar. Namun kini bekas karesidenan tersebut telah berdiri menjadi wilayah administratif sendiri pasca terusirnya Belanda dari Indonesia.

Kini yang dimaksudkan Karesidenan Malang, yang masih kental persaudaraan kewilayahannya tergabung dalam wilayah Malang Raya, yakni Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu.

Selain itu, pada masa tersebut juga malang termasuk satu-satunya tempat pertahanan, Malang sebagai kunci pertahanan Jawa Timur, Malang sebagai nominasi ibukota negara, Malang tata kotanya dijadikan  model kota Hindia Belanda dan fakta-fakta sejarah lainnya yang menunjukkan Kota Malang justru sangat spesial.

Bhatera Malangkucecwara, Bangunan Wilayah Suci

Beberapa pendapat dari penelitian yang didapatkan, penamaan ‘Malang’ adalah kependekan dari kata Malangkuceswara atau tepatnya Bhatera Malangkucecwara seperti disebutkan dalam Prasasti Kedu atau dikenal dengan Prasasti Mantyasih pada tahun 907 Masehi.

Pengambilan nama ‘Malang’ yang berasal dari Malangkucecwara, kalimat tersebut dapat kita lihat dalam lambang Kota Malang itu sendiri kini.

Lambang Kota Malang

Nama Malangkuçeçwara terdiri atas 3 kata, yakni mala yang berarti kecurangan, kepalsuan, dan kebatilan; angkuça (baca: angkusha) yang berarti menghancurkan atau membinasakan; dan Içwara (baca: ishwara) yang berarti “Tuhan”. Sehingga, Malangkuçeçwara berarti “Tuhan telah menghancurkan kebatilan”.

Prof. S. Wojowasito, Sastrawan Universitas Negri Malang, menyebutkan bahwa Malangkucecwara merupakan nama dari sebuah bangunan suci. Hipotesa ini dibuat karena nama bangunan suci tersebut telah ditemukan dalam prasasti miliki Raja Balitung (berasal dari Jawa Tengah) yaitu prasasti Mantyasih yang ditulis pada tahun 907 dan 908 Masehi.

“Dalam prasasti tersebut tertulis atas perintah raja Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Dharmodaya Mahasambhu. Prasasti yang sekarang berada di Museum Pusat Jakarta nomor D 40 itu, tertulis Kapujan Bathara I Malangkucecwara,” jelasnya .

Malangkucecwara yang diperuntukkan bagi pemujaan dewa Ciwa yang diwujudkan dengan Lingga. Nama daerah tersebut diambul dari nama bangunan suci yang telah melegenda di zamannya kala itu.

Pihaknya belum bisa menjelaskan tempat bangunan suci berada tersebut. “Kemungkinan daerah-daerah tersebut. Pertama, di daerah gunung Buring. Dulu gunung yang membujur ke arah timur Kota Malang tersebut puncaknya bernama Malang. Nama gunung Malang disebut dalam peta tahun 1930 (peta Topografi Malang, Garnizoenkarrt Malang en Omstreken 1938).” papar Dosen Fakultas Sastra Universitas Negri Malang tersebut.

Selain itu, ia juga menjelaskan bangunan suci tersebut juga kemungkinan berada di sebelah utara Tumpang. Menurut beliau, karena di sana masih terdapat nama desa Malangsuka. “Dalam teori metatesis, kata suka bisa diucapkan kusa. Karena itu, Malangsuka mungkin dulunya adalah Malang kusa (Malangkucaswara).

Pendapat ini diperkuat di daerah Tumpang ditemukan banyak peninggalan sejarah, seperti Candi Jago dan Kidal. Namun, bangunan suci Bhatera Malangkucecwara tak sepenuhnya ditemukan. Hal tersebut kemudian menguatkan bahwa beberapa cerita rakyat yang berkembang di masyarakat tentang Malang, meski dengan beberapa versi dan asal muasal.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here