Cerita Tersembunyi di Balik Foto Proklamasi

0
284

Nusantara.news, Jakarta – Pagi hari itu, Jumat 17 Agustus 1945, yang bertepatan dengan bulan Ramadhan, rumah Soekarno dipadati sejumlah massa pemuda yang berbaris dengan tertib. Di rumah yang terletak di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta itu, akan diselenggarakan peristiwa penting yang bersejarah: Pembacaan teks Proklamasi. Teks itu menyatakan kemerdekaan dan perpindahan kekuasaan.

Untuk menjaga keamanan upacara pembacaan proklamasi, dr. Muwardi (Kepala Keamanan Soekarno) meminta kepada Cudanco Latief Hendraningrat untuk menugaskan anak buahnya berjaga-jaga di sekitar rumah Soekarno. Sedangkan Wakil Walikota Suwirjo memerintahkan kepada Mr. Wilopo untuk mempersiapkan  pengeras suara. Untuk itu Mr. Wilopo dan Nyonopranowo pergi ke rumah Gunawan pemilik toko radio Satria di Jalan Salemba Tengah 24, untuk meminjam mikrofon dan pengeras suara. Sudiro yang pada waktu itu juga merangkap sebagai sekretaris Soekarno memerintahkan kepada S. Suhud (Komandan Pengawal Rumah Soekarno) untuk menyiapkan tiang bendera. Suhud kemudian mencari sebatang bambu di belakang rumah.

Tepat pukul 10.00 WIB, dengan pakaian putih dan peci hitam di kepalanya, Bung Karno berdiri tegak di depan standing mic. Memegang secarik kertas yang ditatapnya, dan mulutnya sedikit terbuka. Di belakangnya berdiri Bung Hatta, seorang ajudan, dan beberapa orang lainnya. Saat itu, 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Sebuah prosesi yang amat sederhana, singkat, tanpa protokoler, namun penuh khidmat.

Berita proklamasi itu kemudian disebarkan ke seluruh Indonesia. Pagi hari itu juga, teks proklamsi telah sampai di tangan Kepala Bagian Radio dari Kantor Berita Domei, Waidan B. Palenewen. Segera ia memerintahkan F. Wuz untuk menyiarkan tiga kali berturut-turut. Baru dua kali F. Wuz menyiarkan berita itu, masuklah orang Jepang ke ruangan radio. Dengan marah-marah orang Jepang itu memerintahkan agar penyiaran berita itu dihentikan. Tetapi Waidan memerintahkan kepada F. Wuz untuk terus menyiarkannya. Akibatnya, pucuk pimpinan tentara Jepang di Jawa memerintahkan untuk meralat berita itu. Dan pada hari Senin tanggal 20 Agustus 1945, pemancar itu disegel dan pegawainya dilarang masuk.

Meski begitu, para tokoh pemuda tidak kehilangan akal. Mereka membuat pemancar baru dengan bantuan beberapa orang teknisi radio, seperti: Sukarman, Sutanto, Susilahardja, dan Suhandar. Sedangkan alat-alat pemancar mereka diambil bagian demi bagian dari kantor berita Domei, kemudian dibawa ke Jalan Menteng 31. Maka terciptalah pemancar baru di Jalan Menteng 31. Dari sinilah seterusnya berita proklamasi disiarkan.

Namun di seputar proklamasi tersebut, tak banyak yang tahu kisah heroik di balik foto proklamasi yang amat terkenal dan menjadi bukti sejarah bahwa Indonesia telah bebas dari jajahan bangsa asing. Sebuah foto hitam putih Presiden Soekarno membacakan naskah proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur. Wakil Presiden Mohammad Hatta berdiri di sisi kiri. Siapakah “orang biasa” yang telah mengabadikan foto itu?

Dialah Frans Mendur. Wartawan foto yang sangat berjasa untuk Republik ini. Tak mudah baginya merekam momen paling penting dalam sejarah Indonesia kala itu. Pun, jika Frans Mendur dulu tidak berbohong pada tentara Jepang, tidak akan ada foto-foto proklamasi Republik Indonesia. Dia adalah satu-satunya fotografer yang berhasil mengabadikan momen paling penting bagi Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 itu.

Jepretan Bersejarah Frans Mendur

Frans Mendur mendengar kabar bahwa pada 17 Agustus 1945 akan ada pembacaan proklamasi di kediaman Soekarno. Berita ini ternyata juga didengar oleh kakaknya, Alexius Mendur, yang menjabat kepala bagian fotografi kantor berita Jepang Domei. Kedua kakak beradik ini akhirnya memutuskan untuk pergi membawa kamera mereka dan mengambil rute terpisah ke kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta.

Perjalanan menuju ke kediaman dari Bung Karno ini ternyata cukup sulit. Penjagaan yang cukup ketat dilakukan oleh banyak tentara Jepang. Kendati Jepang telah mengaku kalah pada sekutu beberapa hari sebelumnya, kabar tersebut belum diketahui luas di Indonesia. Radio masih disegel Jepang dan bendera Hinomaru masih berkibar di mana-mana. Patroli tentara Jepang masih berkeliaran dan bersenjata lengkap.

Dengan mengendap-endap, Mendur bersaudara berhasil merapat ke rumah di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56,  tatkala jam masih menunjukkan pukul 05.00 pagi. Mereka akhirnya menunggu bersama para pemuda di beranda rumah Soekarno hingga acara dimulai pukul 10.00 pagi.

Dalam acara proklamasi ini, Mendur bersaudara melakukan pemotretan dengan kamera yang mereka miliki. Alex memotret cukup banyak momen, sementara Frans hanya memotret tiga peristiwa karena di dalam kameranya memang tersisa tiga frame saja. Namun tiga foto dari Frans Mendur itulah yang hingga kini melegenda. Foto pertama, Soekarno membaca teks proklamasi. Foto kedua, pengibaran bendera Merah Putih oleh Latief Hendraningrat, anggota PETA (Pembela Tanah Air). Foto ketiga, suasana upacara dan para pemuda yang menyaksikan pengibaran bendera.

Foto-foto proklamasi yang legendaris karya Frans Mendur.

Usai upacara, Mendur bersaudara bergegas meninggalkan kediaman Soekarno. Tentara Jepang memburu mereka. Alex Mendur tertangkap, tentara Jepang menyita foto-foto yang baru saja dibuat dan memusnahkannya. Adiknya, Frans Mendur, berhasil meloloskan diri. Negatif foto dikubur di tanah dekat sebuah pohon di halaman belakang kantor harian Asia Raya. Tentara Jepang mendatanginya, tapi Frans mengaku negatif foto sudah diambil Barisan Pelopor.

Meski negatif foto selamat, perjuangan mencuci dan mencetak foto itu pun tak mudah. Mendur bersaudara harus diam-diam menyelinap di malam hari, memanjat pohon, dan melompati pagar di samping kantor Domei, yang sekarang kantor Antara. Negatif foto lolos dan dicetak di sebuah lab foto. Risiko bagi Mendur bersaudara jika tertangkap tentara Jepang adalah penjara, bahkan hukuman mati. Tanpa foto karya Frans Mendur, maka proklamasi Indonesia tak akan terdokumentasikan dalam bentuk foto.

Kakak beradik Alex dan Frans Mendur adalah putra daerah yang berasal dari Kawangkoan, Minahasa-Sulawesi Utara. Alex lahir pada tahun 1907, sedangkan Frans lahir pada 1913. Frans belajar fotografi dari sang kakak Alex, yang terlebih dahulu menjadi sebuah wartawan di Java Bode, koran berbahasa belanda yang berada di Jakarta. Frans lantas mengikuti jejak sang kakak menjadi wartawan pada tahun 1935.

Semasa hidupnya, Frans Mendur pernah menjadi penjual rokok di Surabaya. Di RS Sumber Waras Jakarta pada tanggal 24 April 1971, fotografer pengabadi proklamasi kemerdekaan RI ini meninggal dalam sepi. Begitupun dengan Alex Mendur, ia tutup usia pada tahun 1984 dalam keadaan serupa.

Hingga tutup usia, kakak-beradik Frans dan Alex Mendur tercatat belum pernah menerima penghargaan atas sumbangsih mereka pada negara ini. Konon, mereka berdua pun ditolak untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Namun, baru pada 9 November 2009 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menganugerahi kedua fotografer bersejarah Indonesia ini, penghargaan Bintang Jasa Utama.

Tugu Pers Mendur

Sebagai bentuk penghargaan lainnya terhadap Mendur bersaudara, dibangun Tugu Pers Mendur di tanah kelahiran mereka di Kelurahan Talikuran, Kecamatan Kawangkoan, Kabupaten Minahasa. Patung keduanya dibangun berdiri di atas kamera jenis Leica yang menjadi senjata keduanya. Di sebelah kiri adalah Alex dan kanan adalah Frans. Tugu ini diresmikan Presiden SBY pada 11 Februari 2012, bertepatan dengan peringatan Hari Pers Nasional yang digelar di Manado, Sulawesi Utara. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here