Cerita Unik Pasangan Jalur Perseorangan Madiun

0
368
Pasangan Haryadin Mahardika dan Arief Rahman naik ojek online dan ojek pangkalan menuju kantor KPU Kota Madiun.

Nusantara.news, Kota Madiun – Tidak ada yang menyangka dua pasangan Dr. Haryadin Mahardika dan Arief Rahman, ST, M.M., menaiki motor untuk berangkat ke kantor KPU Kota Madiun. Keduanya memilih ojek online dan ojek pangkalan. Mahardika naik ojek pangkalan, sedang Arief naik ojek online. Ini menjadi pemandangan menarik.

Keduanya berangkat ke kantor KPU Madiun untuk mendaftar sebagai bakal calon Wali Kota dan Wakil Walikota Madiun dari jalur independen.

Pasangan tersebut memilih transportasi ojek online dan ojek pangkalan yang biasa mangkal di depan Stasiun Madiun karena memiliki sebuah pesan yang ingin disampaikan pada publik. Ya, adanya perselisihan kedua model ojek di Kota Madiun, menjadi perhatian keduanya yang diselipkan dalam visi dan misi mereka dalam memimpin Madiun di masa depan.

“Kami ingin mengakomodasi semuanya. Perlu saling kerja sama dan tidak perlu saling meniadakan. Ojek online salah satu bentuk ekonomi kreatif yang perlu dikembangkan. Demikian pula dengan ojek pangkalan, sama-sama kreatif dengan model dan role konvensional,” kata Mahardika.

Kedua pengemudi ojek yang mewakili rakyat kecil kaum urban ini disatukan dalam semangat membangun Madiun bersama. Sebuah harapan baru bagi Kota Madiun.

Kedua pasangan sangat gigih untuk membangun Kota Madiun. Mereka ingin merengkuh semua lapisan masyarakat agar tidak terkotak-kotak dan selalu bergotong royong dalam segala hal.

“Filosofinya yang kita jaga. Kita akan selalu bekerjasama. Masyarakat jangan sampai bercerai berai hanya karena sebuah kontestasi politik. Masyarakat Madiun jangan jadi korban tapi jadi pemenang,” ujar pria kelahiran Madiun, 14 Agustus 1980, yang kini berusia 37 tahun ini, saat diwawancarai awak media.

Mahardika mengatakan berdampingan dengan Arief merupakan pilihan yang cocok di hati. Pasalnya, dia sudah merasa satu visi dengan pasangannya tersebut. “Saya dan Mas Arief ini sudah satu hati dan satu visi untuk mewujudkan Madiun Mahardika. Sebuah smart city. Kota Madiun yang mandiri, modern, berdaya saing tinggi dengan warga yang bahagia serta sejahtera,” terang peraih gelar Ph.D bidang Management dari Monash University-Australia ini.

Kedua figur calon pemimpin Kota Madiun itu pun ingin mewujudkan kesejahteraan bagi semua golongan. Menurut bakal calon Wakil Walikota Madiun Arief Rahman, pihaknya sangat care dengan permasalahan di bidang pendidikan dan kesehatan.

“Pekerjaan besar kita selain yang utama soal pendidikan dan kesehatan, harus mengurangi tingkat pengangguran di Madiun. UMKM yang akan kita dorong terus untuk mendorong ekonomi tumbuh tapi juga merata,” tambah Arief Rahman kandidat doktor Ilmu Manajemen Universitas Airlangga ini.

Kepada wartawan, Arief menyampaikan pilihan mendaftar bersama Harryadin Mahardika di jalur independen. “Banyak orang bilang independen ini sulit nanti di parlemen karena non partai. Bagi kita justru akan lebih mudah dalam komunikasi politik,” kata pengurus harian Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur tersebut.

“Kita ingin wujudkan Madiun milik bersama, milik semua golongan. Dengan berjarak sama dengan partai manapun, semua akan bisa diakomodir. Bagaimana pun partai juga mewakili suara rakyat,” tambah Arief Rahman yang dikenal pegiat pariwisata di Badan Promosi Pariwisata Daerah Jatim.

Arief juga mengungkapkan kesediaannya untuk berpasangan dengan Harryadin Mahardika dalam Pilwali Madiun ini karena sejak awal sudah merasa cocok dan berjodoh. “Mas Adin ini sosok muda yang baik dan cerdas, juga punya komitmen kuat untuk memajukan Madiun. Pemikiran dan strategi membangun kota Madiun yang diusung sangat brilian. Ini lah yang membuat saya merasa pas untuk mendampingi dan mendukung,” terang Arief Rahman.

Pria kelahiran Magetan, 8 Desember 1976 ini menambahkan, sudah saatnya anak muda memimpin. Kalangan muda memimpin ini merupakan fenomena global. Sebab banyak walikota, gubernur, bahkan presiden diisi oleh anak-anak muda. “Indonesia seperti itu. Buktinya di beberapa daerah mereka sukses. Daerahnya maju dan menjadi rujukan daerah-daerah lain,” papar aktivis ’98 ini.

Untuk target awal, mereka ingin memenangkan Pilkada 2018. Caranya dengan menyasar pemilih pemula. “Saya ingin secara tulus dan ikhlas mendampingi beliau (Mahardika,red) untuk menghantarkan di suatu daerah yang kecil dan sangat strategis. Ini yang menjadi dasar saya bergabung dengan mas Mahardika,” tandasnya.

Dua-duanya Tidak Direkom Demokrat

Pasangan lintas profesi itu diterima Komisioner KPU Kota Madiun Latutik Mukhlisin dan Panwaslu. Bersama tim, pasangan yang mengusung visi “Madiun Mahardika” ini langsung menyerahkan tiga kotak besar dokumen berisi berkas dukungan dari 18.541 warga Kota Madiun. Sementara dukungan KTP yang disyaratkan sesuai jumlah DPT di Kota Madiun hanya 14.400.

“Dukungan tersebut berasal dari 27 kelurahan, dengan sebaran dukungan yang hampir merata di semua kelurahan,” ujar Mahardika.

Mahardika dan Arief sangat yakin bahwa mereka dapat lolos verifikasi administrasi dan verifikasi faktual yang akan dilaksanakan oleh KPUD. Di depan relawan yang mengantarkan mereka, Ketua Aliansi Program Magister Manajemen Indonesia itu yakin KPU Kota Madiun akan bekerja profesional dan tak memihak kepada semua calon, perseorangan maupun dari partai politik.

Calon independen Pilwali Madiun 2018 menyerahkan berkas dukungan ke KPU Kota Madiun.

Sementara itu Latutik Muklisin menyampaikan penyerahan dokumen dukungan paslon perseorangan ditutup pukul 24.00 Wib, tepatnya Rabu (30/11/2017). Hingga pukul 18.47 Wib, menurutnya baru satu paslon saja yang telah menyerahkan dokumen dukungan. Artinya, dengan tenggat waktu yang diberikan KPU Kota Madiun, Pilkada Serentak 2018 bakal diisi satu calon perseorangan.

“Hari ini merupakan hari terakhir penyerahan dokumen dukungan untuk perseorangan. Saat ini kita lakukan penelitian dokumen yang telah diserahkan oleh paslon Mahardika dan Arif. Setelah sesuai kita berikan tanda terima,” katanya.

Latutik menambahkan, dengan adanya penyerahan dokumen dari jalur perseorangan, pihak KPUD Kota Madiun akan langsung melakukan pengecekan data untuk mengetahui jumlah pasti dukungan, apakah sudah sesuai dengan yang disampaikan. “Jika dalam proses penelitian administrasi sudah sesuai dan tidak ada permasalahan maka akan diberikan tanda terima,” jelasnya.

Masih menurut Latutik, nantinya setelah proses ini akan dilanjutkan proses mencari KTP yang dimungkinkan ganda atau disebut analisa kegandaan. Setelahnya, data melalui PPK akan didistribusikan kepada PPS untuk dilakukan verifikasi factual di tingkat kelurahan, rekapitulasi ditingkat kecamatan sampai dengan kota, perbaikan dokumen dan yang terakhir pengumuman lolos atau tidaknya paslon independen pada 8-9 Februari 2018. Tujuannya untuk mengetahui jika nantinya ada kekurangan yang perlu dibenahi.

“Jika seluruh proses sudah dilalui dan memenuhi syarat maka pasangan calon tersebut bisa memperoleh tiket untuk mendaftar sebagai peserta pemilihan Walikota dan Wakil Walikota pada bulan Januari nanti,” pungkas Latutik.

Senada, Ketua KPU Kota Madiun Sasongko mengapresiasi bakal calon dari jalur perseorangan yang mendaftar tersebut.

“Pasangan ini mendaftar dan menyerahan berkas yang diperlukan untuk Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Madiun tahun 2018,” ujar Sasongko kepada wartawan.

Menurutnya, setelah penyerahan berkas tersebut, proses untuk ditetapkan sebagai calon masih panjang. Sebab, KPU masih harus melakukan penghitungan jumlah dukungan dan melakukan verifikasi. “Setelah verifikasi masih ada perbaikan dan kemudian penetapan. Prosesnya masih lama, ditaksir butuh beberapa bulan lagi,” kata Sasongko.

Yang unik dari calon independen ini, keduanya sama-sama pernah mendaftar ke Partai Demokrat untuk maju dalam Pilkada Serentak 2018. Namun, keduanya ‘ditolak’ alias tidak mendapat rekom. Sehingga mereka pun bersatu memilih jalur perseorangan.

Mahardika sendiri beberapa waktu lalu sempat ikut mendaftar sebagai bakal calon Walikota melalui DPC Partai Demokrat Kota Madiun. Meski citra Partai Demokrat di Kota Madiun tercoreng pasca ditangkapnya mantan Wali Kota Madiun, Bambang Irianto, oleh KPK atas kasus korupsi, namun Mahardika tidak terlalu merisaukannya. Ia mengaku tidak khawatir masyarakat Kota Madiun tidak akan memilih calon wali kota dari Partai Demokrat. Justru, dia mengaku melihat peluang untuk memperbaiki citra Partai Demokrat.

Harapan Mahardika dia bisa melakukan perbaikan dari internal Demokrat dengan cara mengubah atau mengganti mereknya, misalnya mengganti logo merek dan mengganti nama merek. Selain itu, penyegaran merek dari eksternal yakni menggandeng pihak eksternal untuk meningkatkan merek.

Bersama puluhan simpatisannya, Mahardika mendatangi Kantor DPC Demokrat dengan berjalan kaki dari Alun-alun Kota Madiun diiringi musik rebana. Mahardika tampil mengenakan sarung dipadu dengan kemeja putih, jas hitam, serta peci hitam.

Selama perjalanan dari Alun-alun Kota Madiun menuju kantor DPC Demokrat di Jalan Ahmad Yani, Mahardika beserta pendukungnya yang mengenakan kaus warna pink, biru muda, dan abu-abu, diiringi alunan musik rebana serta lantunan shalawat. Tak hanya itu, kata Mahardika, para pendukungnya mengenakan pakaian berwarna cerah dan netral.

Saat itu dia mengatakan, pengembalian berkas formulir pendaftaran dengan cara yang berbeda ini lantaran ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa politik itu tidak menakutkan. Menurutnya, berpolitik harus dilakukan dengan cara-cara yang lebih menarik, bisa dinikmati, dan membuat orang lebih bergembira.

“Selama ini warna politik agak menyeramkan karena gambarnya macam-macam. Makanya kami pakai warna pink, biru muda agar kegembiraan itu selalu ada dalam politik,” urainya saat itu.

Pasangan Haryadin Mahardika dan Arief Rahman bersatu memilih jalur perseorangan karena sama-sama pernah ditolak Partai Demokrat.

Sayangnya, Mahardika tidak mendapat rekom dari Partai Demokrat. Itu juga yang dialami Arief Rahman. Di waktu yang hampir bersamaan, Arief Rahman mendaftarkan diri ke Partai Demokrat. Saat itu dia mencalonkan sebagai bakal calon Bupati Magetan ke DPC Partai Demokrat Magetan.

Pendaftaran Arief Rahman dinyatakannya dengan serius karena ingin berpartisipasi pada Pilkada Magetan, 27 Juni 2018 mendatang. “Saya Insya Allah siap ikut dalam proses demokrasi dan regenerasi kepemimpinan di Magetan. Dengan segala potensi yang dimiliki, Magetan bisa lebih maju dari sekarang,” kata Arief Rahman saat itu.

Bila diberi kepercayaan, Arief berjanji akan fokus membangun dan mengembangkan pariwisata di Magetan. “Karena semua aspek mulai potensi keindahan alam, kekayaan budaya, kondisi geografis dan sosial sangat mendukung untuk itu,” terang pria asli Magetan ini.

Dimulai dari pariwisata, diikuti dengan pemberdayaan UMKM dan industri kecil, serta diperkuat peran investor, Arief optimistis 5 tahun ke depan bisa membuka 10.000 lapangan pekerjaan baru di Magetan. “Sudah terbukti di banyak daerah, seperti Gunung Kidul, Kota Batu dan Banyuwangi, pariwisata mampu menggerakkan ekonomi daerah, menggairahkan sektor usaha serta mengentas kemiskinan,” tandasnya.

Menariknya, kedatangan Arief Rahman di DPC Partai Demokrat Magetan untuk mencalonkan diri sebagai Bupati Magetan bersamaan dengan Puthut Budi Santoso, bakal calon bupati yang kini masih menjabat Sekda Kabupaten Sampang.

Beberapa pengurus DPC Partai Demokrat sempat menyebut keduanya sebagai pasangan ideal. Tapi baik Puthut Budi Santoso (PBS) dan Arief Rahman hanya tertawa saja sembari menyatakan proses politik untuk pencalonan bupati atau wakil bupati Magetan masih panjang. Sebab dalam politik semua serba mungkin dan apapun bisa terjadi. Dan hasilnya memang tidak sesuai yang diharapkan Arief Rahman. Dengan kegagalannya mencalonkan lewat Partai Demokrat Magetan, dia akhirnya bergabung bersama Mahardika memilih jalur perseorangan di Pilwali Madiun untuk periode 2018-2023.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here