China Berpeluang Mediasi Krisis Qatar

0
127

Nusantara.news – Krisis diplomatik Qatar dan negara-negara Teluk lain dipimpin Arab Saudi sulit menemukan jalan keluar. Hal ini tampaknya karena sejumlah negara yang menawarkan mediasi cenderung dilihat tidak netral, bahkan menjadi bagian dari masalah itu sendiri. Buktinya, upaya Kuwait, salah satu negara Teluk, dan Turki yang menawarkan mediasi menemui jalan buntu.

Kuwait adalah bagian dari negara Teluk, yang meskipun netral tapi bisa jadi menjadi bagian dari masalah di kawasan itu. Sementara, Turki yang berada di luar kawasan Teluk, meski Presidennya, Recep Tayyip Erdogan berhubungan baik degan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulazis tapi tampak cenderung keberpihakannya terhadap Qatar maupun Iran. Apalagi Amerika Serikat yang jelas-jelas presidennya, Donald Trump mendukung saksi isolasi terhadap Qatar karena alasan untuk membungkam terorisme.

Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar yang berada di kawasan Asia Tenggara, dan jauh dari kepentingan konflik regional kawasan Teluk, sejatinya memiliki potensi untuk memediasi krisis diplomatik di kawasan Timur Tengah tersebut. Presiden RI Joko Widodo sudah memulai langkah baik dengan menelepon emir Qatar Tamim bin Hammad al-Thani dua hari yang lalu, untuk berkomunikasi awal terkait masalah yang sesungguhnya sedang terjadi.

Hanya saja, tampak belum ada keinginan yang kuat dari pemerintah Indonesia untuk menjadi penengah dalam konflik di wilayah tersebut, padahal Indonesia memiliki ikatan emosional yang kuat sebagai sesama Muslim dengan kawasan Timur Tengah. Mungkin pemerintah Indonesia sangat berhati-hati agar tidak terjebak dalam konflik kawasan Timur Tengah yang punya akar sejarah panjang, untuk mengatakan tidak percaya diri.

Sebetulnya, ada negara kuat lain di Asia dan selama ini relatif dianggap netral dalam konflik Timur Tengah, yaitu China. Hubungan China dengan Arab Saudi sangat baik, begitu juga dengan Qatar, juga dengan Iran. China mestinya didorong untuk terlibat dalam mengatasi krisis diplomatik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Qatar dan negara-negara Teluk lainnya.

Bukan tanpa alasan jika China semestinya terlibat. Pertama, soal program China One Belt One Road (OBOR). Qatar adalah negara yang sangat mendukung ambisi China untuk menghidupkan kembali jalur sutra baru itu. Masalahnya, isolasi Qatar oleh negara-negara Teluk lain berpotensi menghambat program OBOR Presiden China Xi Jinping.

China telah bekerja keras untuk menegosiasikan sebuah perjanjian perdagangan bebas dengan Gulf Cooperation Council (GCC) yang mencakup Qatar. Masalah bagi China, yang pertama kali menegosiasikan kesepakatan tersebut tahun 2004, jika anggota GCC tidak lagi dapat menyelesaikan konflik diplomatik antar mereka, maka kesepakatan tersebut menjadi kurang berarti lagi.

Selain itu, total perdagangan antara China-Qatar telah meningkat tiga kali lipat antara 2008 dan 2013 menjadi sekitar USD 11,5 miliar, menurut Reuters. Tahun lalu, Qatar memasok 19 % impor gas alam cair China, menurut IHS Fairplay, yang menjadikannya pemasok gas kedua terbesar di Qatar setelah Australia. Pada 2015, Qatar juga mengimpor barang senilai USD 3,77 miliar dari China, seperti mesin atau barang listrik, menurut Bank Dunia.

Statistik dari Central Intelligence Agency (CIA) menunjukkan bahwa China menyumbang 11,9% dari perdagangan Qatar pada tahun 2015, yang membuatnya menjadi mitra dagang utama Qatar.

China juga banyak berinvestasi infrastruktur di Qatar. Pada tahun 2014, China menandatangani kesepakatan untuk berpartisipasi dalam membangun proyek infrastruktur senilai USD 8 miliar di Qatar. Proyek tersebut meliputi pekerjaan konstruksi sipil, pembangunan jalan, jembatan, pelabuhan dan infrastruktur telekomunikasi, sebagaimana dilaporkan Gulf Times.

Setelah Qatar terpilih menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA 2022, China Railway Construction Corp memenangkan kontrak untuk membangun stadion untuk acara tersebut. Kini, proyek tersebut bakal terancam jika krisis diplomatik tak segera diatasi.

Investasi China di Qatar meningkat dengan cepat. Investasi langsung China ke Qatar meningkat 77,5% tahun lalu dari tahun sebelumnya. Bank Industri dan Komersial China meluncurkan pusat kliring Yuan China Timur Tengah pertama di Qatar tahun 2015.

Awal tahun ini saja, Qatar National Bank, bank terbesar di Timur Tengah dan Afrika, meningkatkan pinjaman senilai USD 1 miliar di pasar bank Asia. Agricultural Bank of China juga memiliki peran utama dalam pinjaman tersebut. Qatar juga telah berinvestasi di China selama bertahun-tahun.

Krisis diplomatik di kawasan Teluk tentu saja mengganggu hubungan bisnis China dan Qatar. Kemarin saja, China COSCO Shipping Lines Co. Ltd telah menangguhkan layanan pengirimannya ke Qatar, dengan alasan “ketidakpastian” setelah negara-negara Arab memutuskan hubungan diplomatik dan memberlakukan pembatasan pelabuhan.

Jalur pelayaran terbesar keempat di dunia ini bergabung dengan OOCL Evergreen dan Hong Kong Taiwan dalam menangguhkan layanan pengiriman. COSCO mengatakan kepada pelanggan tentang penghentian layanan ke dan dari Qatar Hamad Port dalam sebuah pemberitahuan yang dikeluarkan pada 7 Juni.

“Mengingat ketidakpastian saat situasi berkembang, untuk melindungi kepentingan pelanggan, perusahaan kami mulai sekarang menangguhkan layanan pemesanan dan pengiriman untuk Qatar,” kata juru bicara perusahaan itu pada Senin (12/6).

Hubungan dengan Iran

Faktor Iran merupakan salah satu isu yang muncul sebagai salah satu penyebab jatuhnya sanksi pemutusan hubungan diplomatik oleh negara-negara Teluk terhadap Qatar. Qatar dianggap bekerja sama dengan Iran dalam mendanai terorisme di Timur Tengah.

Isu ini tentu membuat China harus berhati-hati berjalan di tengah ranjau konflik. Sebab, meski China memiliki hubungan baik dengan Arab Saudi, tapi jika yang terjadi adalah semakin memperuncing perang proxy Arab Saudi-Iran, dan memperluas perang itu ke Balochistan Pakistan, maka akan mengancam inisiatif OBOR China. Balochistan di Pakistan adalah simpul kunci rencana OBOR di Pakistan.

China sebelumnya pernah berjanji untuk berpartisipasi memediasi konflik Saudi-Iran. Menteri Luar Negeri China Wang Yi pada bulan Maret lalu, saat China menerima kunjungan Raja Salman menyampaikan niat baik untuk memediasi ketegangan antara Saudi-Iran itu. Konflik Saudi-Iran adalah konflik yang pelik antara mazhab Sunni-Syiah yang telah berlangsung puluhan tahun. Ini pula tampaknya salah satu faktor yang melatar-belakangi krisis diplomatik Qatar. Qatar dituding terlalu memuji Iran yang Syiah itu.

Dalam konteks Iran, selain berteman baik dengan Saudi, China juga berteman baik dengan Iran. Tahun 2016 neraca perdagangan China-Saudi mencapai lebih dari USD 47 miliar dan China-Iran mencapai USD 33 miliar. Arab Saudi adalah pemasok minyak mentah terbesar ke China, dan sebaliknya Arab Saudi juga mempekerjakan sekitar 42 ribu warga China di berbagai bidang. Pada kunjungan Raja Salman ke China bulan Maret lalu ditandatangani kesepakatan kerja sama senilai USD 65 miliar antara China dan Saudi.

Dengan Iran, China adalah pemasok utama suku cadang militer Iran saat Teheran diembargo dunia Barat. China juga terlibat kerja sama senjata nuklir dengan Iran. China pula yang dulu pada tahun 2015 memediasi perjanjian nuklir Iran yang mendapat tentangan dari Donald Trump sekarang.

Dengan begitu, momentum krisis Qatar ini bisa menjadi pintu masuk bagi China untuk mulai memenuhi janjinya memediasi konflik yang berurat akar antara Saudi – Iran. Sebab bagaimana pun, Iran terlibat dalam krisis ini, bagaimana tidak, bahkan saat Qatar membutuhkan pasokan bahan makanan karena terisolasi jalur darat dan udaranya, Iran sebagai tetangga terdekat, bersedia mengantarkan lima pesawat berisi bahan makanan ke Qatar.

Pesawat Iran Air mengantar kebutuhan bahan makanan ke Qatar

Sekarang, tinggal bagaimana China sebagai negara besar secara ekonomi dan dianggap paling netral ketimbang AS maupun Rusia, menunjukkan peran mengatasi krisis Timur Tengah agar tidak merembet menjadi krisis global.

Indonesia, jika mau berperan, sebagai sesama negara di kawasan Asia, bisa mendorong China untuk memulai peran tersebut. Kecuali, jika memang Indonesia mampu, berada di depan, membawa misi memediasi krisis di negara-negara sesama saudara Muslim itu, tentu lebih bagus lagi. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here