China Dilanda Krisis Utang

0
497
Kemegahan infrastruktur Kota Beijing ternyata dibangun di atas tumpukan utang. Jika China gagal mencari jalan keluar atas utangnya pada 2017, negeri Tirai Bambu itu akan mengalami default.

Nusantara.news, Jakarta – China yang begitu besar dan telah menjadi adidaya ekonomi ternyata membangun kemegahan ekonominya dengan utang. Kini China memasuki periode ketidakpastian akibat beban pokok dan bunga utang yang makin tak terkendali.

Seberapa kuat kah negeri Tirai Bambu itu bertahan menghadapi krisis utang? Tahun 2017 merupakan tahun yang menentukan bagi China, apakah akan lolos dari perangkap utang (big trap debt). Bahkan tahun 2017 merupakan tahun pertaruhan atas utang-utang China untuk pembangunan infrastruktur jalan dan properti yang besar-besaran sejak 2008.

Dalam www.financialsense.com yang bertajuk, Debt Crisis: Why 2017 Will Be Decisive Year for China’s Economy, terungkap, tahun 2017 dapat dikatakan menjadi tahun yang menentukan bagi perekonomian China.

Dalam delapan tahun sejak krisis keuangan global melanda, vitalitas dan pentingnya ekspor murah–alat yang digunakan untuk daya saing ekonomi China–terus menurun.

Alat itu berebut untuk menopang pertumbuhan negara tersebut dan melindungi lapangan kerja. Para pemimpin China telah menerima langkah-langkah stimulus moneter dan fiskal, menyebabkan utang negara tersebut melonjak menjadi hampir 250% dari produk domestik bruto (PDB). Utang korporasi, yang merupakan bagian terbesar dari total utang China, juga melonjak lebih dari 60% menjadi 165% atas PDB.

Kini, krisis utang nasional terus berlanjut. Beijing kini berada di tengah ancaman kegagalan bisnis dan bangkrut akibat keuntungan industri yang rendah, yang menampik pengembalian investasi dan prospek yang sangat nyata dari penurunan sektor real estat lainnya.

Seberapa baik Beijing mengelola masalah ini di bulan-bulan mendatang. Ini sangat menentukan stabilitas ekonomi, sosial dan politik China selama bertahun-tahun yang akan datang.

Krisis mendalam

bagaimana krisis ekonomi China ni bisa terjadi? Rupanya, karena perekonomian China selalu bergantung pada investasi ke aset tetap atau infrastruktur sangat masif seperti jalan, rel kereta api dan kompleks apartemen.

Sebagian besar investasi Beijing, ternyata dibiayai oleh utang, baik dalam bentuk pinjaman, obligasi atau jenis pinjaman formal dan informal lainnya. Sebagian besar berasal dari bank-bank BUMN.  Pada 2015, outstanding pinjaman bank setara dengan 141% dari PDB, sementara outstanding obligasi mencapai 63% dari PDB.

Sementara negara-negara seperti Amerika Serikat dan Jepang cenderung memacu pertumbuhan dengan merangsang ekuitas atau menaikkan belanja pemerintah.

telah menggunakan kontrolnya atas sektor perbankan untuk membentuk biaya modal dan menentukan di mana dan seberapa cepat arus tersebut mengalir.

Tidak mengherankan, menurut laporan www.financialsense.com, bagian terbesar dari uang tersebut telah disalurkan ke perusahaan milik negara China yang sangat besar, yang menjelaskan mengapa mereka memiliki saham korporasi yang besar. Perusahaan milik negara menyumbang lebih dari 55% dari utang tersebut, walaupun hanya menyumbang 20% dari PDB.

Utang daerah

Selain getolnya pemerintah dan korporasi China menggenjot pembangunan dengan utang, pemerintah daerah China juga aktif menggenjot obligasi daerah (municipal bond).

Utang pemerintah daerah, yang pada saat ini dianggap sebagai sumber risiko keuangan sistemik terbesar bagi negara tersebut, menjadi perhatian serius. Ini tidak ada hubungannya dengan besarnya utang pemerintah daerah, yang tidak pernah melebihi 40% dari PDB.

Lagipula, hampir semua utang pemerintah daerah dipinjam dan diinvestasikan oleh perusahaan semu (special purpose vehicle—SPV) yang dikenal sebagai kendaraan pembiayaan pemerintah daerah yang tidak memiliki aset atau struktur manajemen fungsional apapun.

Pada 2013, Beijing memang mulai menindak serius pembelanjaan lokal yang boros, yang memaksa sebagian besar perusahaan semu ini menutup pintu mereka. Beijing secara bersamaan meluncurkan rancangan reformasi fiskal untuk mengurangi ketergantungan pemerintah daerah terhadap utang untuk membayar kebutuhan infrastruktur dasar mereka.

Termasuk dalam reformasi ini adalah sebuah program yang memungkinkan pemerintah daerah menukar utang mereka dengan obligasi kota jangka panjang yang lebih murah. Program yang telah berkembang pesat sejak pertengahan 2014, sebagian telah mengurangi kekhawatiran akan krisis utang lokal yang muncul, walaupun belum menyelesaikan masalah mendasar–kurangnya transparansi–yang akan terus membuat pemerintah daerah memiliki risiko keuangan.

Namun dengan inisiatif debt-swap dan tindakan lain untuk membantu kota-kota dan wilayah melunasi pinjaman mereka, utang lokal sepertinya tidak akan menjadi sumber utama kesengsaraan ekonomi China tahun 2017.

Lain halnya dengan utang perusahaan China. Utang yang dibuat oleh perusahaan China tersebut kemungkinan akan jatuh ke utang korporasi, terutama yang dipegang oleh perusahaan-perusahaan di industri berat dan konstruksi, yang banyak dijalankan oleh negara.

Peminjam terbesar China–pengembang properti, perusahaan minyak dan gas alam, utilitas listrik, logam dan perusahaan pertambangan, dan perusahaan konstruksi dan rekayasa–bersama-sama menyumbang setidaknya 60% dari utang perusahaan yang beredar di negara tersebut dan merupakan salah satu perusahaan dengan leverage paling tinggi.

Menurut Bloomberg, industri berat, bisnis bahan bangunan dan utilitas memiliki rasio utang terhadap ekuitas rata-rata masing-masing sebesar 85%, 120% dan 130%.

Saat ini, utang luar negeri China telah mencapai US$2,1 triliun dengan cadangan devisa US$3,01 triliun. Utang itu telah menjelma menjadi bencana jika pada 2017 ini tidak ada solusi yang baik. Boleh jadi China akan mengalami default sebagaimana negara-negara Portugal, Irlandia, Greece dan Spanyol (PIGS).

Inilah beberapa risiko China menggenjot pertumbuhan besar dengan bahan bakar utang. Negeri Tirai Bambu akhirnya kewalahan ditelan cicilan pokok dan bunga utang.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here