China Makin Agresif di Kawasan, AS Mulai Khawatir

0
113
Aircraft carrier USS Nimitz (CVN 68), guided-missile cruiser USS Chosin (CG 65), guided-missile destroyers USS Sampson (DDG 102) dan USS Pinkney (DDG 91), serta guided-missile frigate USS Rentz (FFG 46) di Laut China Selatan. Sumber: Angkatan Laut AS

Nusantara.news “China makin berkuasa, sementara Amerika kian melemah dan malah terancam,” begitu kira-kira narasi yang dapat menggambarkan Amerika di bawah Presiden AS yang baru, Donald Trump terkait situasi keamanan di kawasan Asia Timur.

Sejumlah politisi di Amerika Serikat mengkhawatirkan China akan semakin agresif “merebut” sekutu-sekutu Paman Sam itu di kawasan Asia. Di Asia Tengara, China hampir berhasil mendekati Filipina sekutu lama AS, sementara di Asia Timur China telah berhasil mempengaruhi kebijakan sekutu AS yang lain: Korea Selatan. Setidaknya, China bisa mempengaruhi Korea Selatan terkait penangguhan pemasangan 4 unit sistem anti-rudal milik AS (THAAD) di sejumlah titik di Seoul, Korea Selatan.

Dengan kondisi ini, sejumlah anggota parlemen AS mendiskusikan pentingnya membahas sebuah kebijakan luar negeri AS yang lebih agresif. Sebab mereka merasa prihatin dengan posisi AS sekarang di mata negara-negara sekutunya.

Keprihatinan tersebut dipicu salah satunya oleh keputusan presiden Korea Selatan yang baru, Moon Jae-in untuk menunda penyebaran sistem pertahanan rudal AS (THAAD). Padahal pejabat Amerika dan Korea Selatan telah sepakat dalam beberapa tahun terakhir bahwa THAAD adalah perlindungan yang diperlukan untuk melawan Korea Utara. Namun China khawatir bahwa sistem tersebut yang dapat merusak kekuatan persenjataan nuklirnya sendiri. Sehingga China ketika itu menuntut agar Korea Selatan segera menghentikan penyebaran sistem tersebut. China melakukan langkah-langkah sanksi ekonomi dan bisnis yang merugikan ekonomi Korea Selatan, seperti penutupan banyak toko waralaba Lotte milik Korea Selatan di China.

Korea Selatan pun mematuhi rekomendasi China. Di bawah presiden baru, Moon Jae-in Korea Selatan menangguhkan pemasangan THAAD, dengan alasan diperlukan kajian lingkungan terhadap program tersebut.

Keputusan Moon memicu kekhawatiran di AS. “Kekhawatiran saya bahwa dia (Moon) berpikir, Korea Selatan memiliki kesempatan lebih baik bekerja dengan China untuk menahan Korea Utara daripada bekerja sama dengan Amerika Serikat,” kata Senator partai Demokrat Dick Durbin kepada Washington Examiner, Senin (12/6).

Jika Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in yang menganggap China sebagai mitra yang lebih dapat diandalkan mengenai masalah keamanan nasionalnya, seperti ancaman Korea Utara, dianggap mewakili perubahan langkah kerja sama dengan AS yang signifikan di kawasan ini. Maka, Moon Jae-in bukanlah satu-satunya pemimpin di wilayah ini yang akan menyulitkan pembuat kebijakan AS.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte juga telah menghabiskan waktu selama berbulan-bulan pada tahun 2016 lalu untuk melawan pemerintahan Obama dan menyerukan “pemutusan” kerja sama dari Amerika Serikat.

“China akan menggunakan pengaruh (dengan memaksa),” demikian prediksi senator dari Partai Republik, Ted Yoho, yang memimpin subkomisi Komite Luar Negeri di kawasan Asia Pasifik.

“China akan meminta mereka (negara-negara sekutu AS) melakukan apa yang China inginkan dan saya pikir, Durbin (senator Demokrat) benar, karena melihat Moon (Jae-in) melakukan itu, … Dia (Moon) mencoba untuk menenangkan pemerintah China, dan kita tahu bagaimana mereka akan bermain,” katanya.

Pandangan berbeda disampaikan Senator Partai Republik dari North Carolina yang juga duduk di Komite Urusan Luar Negeri, Mark Meadows. Dia berpendapat tidak sepenuhnya analisa bahwa AS kehilangan pengaruh di Asia itu benar.

“Saya tidak melihat pengaruh China di salah satu wilayah tersebut secara substansial mengurangi peran AS,” kata Mark Meadows.

“Saya tidak setuju dengan analisis Dick Durbin, tapi itu mungkin saja terjadi, saya tidak mengatakan bahwa analisis itu tidak berguna, saya hanya mengatakan bahwa hal itu berlebihan,” tambah Meadows.

Pengaruh yang kuat China terhadap Korea Selatan dan Filipina dapat membawa implikasi yang sangat signifikan bagi keamanan nasional Amerika dan kepentingan ekonomi, mengingat ambisi China yang besar di wilayah ini.

Tahun lalu, China mengirimkan jet-jet tempur untuk ratusan misi ke wilayah udara yang diklaim oleh  Jepang, dalam upaya untuk menegaskan kontrol China atas Laut China Timur. China juga membangun pulau-pulau buatan, lengkap dengan instalasi militer di Laut Cina Selatan. Jika China berhasil mencapai tujuannya di kawasan perairan tersebut, ia akan mengendalikan sejumlah jalur pelayaran terpenting di dunia, serta cadangan minyak dan gas bawah laut yang sangat berharga.

Namun demikian, Yoho memuji Presiden Trump karena telah mengirim kapal perang AS melalui Laut China Selatan pada misi navigasi yang menentang klaim kedaulatan China di kawasan tersebut.

“Itu adalah sesuatu yang seharusnya kita (AS) lakukan selama ini,” katanya kepada Washington Examiner.

Namun Repulikan dari Florida itu mengakui bahwa kebijakan Trump lainnya telah memperkuat posisi China di kawasan tersebut. Menurut Yoho, Platform kebijakan luar negeri “America First” telah menciptakan “narasi palsu” bahwa Trump akan membawa masa depan AS ke dalam “isolasionisme”. Keputusan Trump untuk keluar dari Kemitraan Trans-Pasifik (TPP) dengan 11 negara di kawasan Pasifik semakin memperburuk persepsi tersebut.

“Mereka mengandalkan TPP, dan mereka melihat itu sebagai pesan kuat dari Amerika,” kata Yoho.

Dan pada kenyataannya, negara-negara TPP termasuk Australia sebagai sekutu utama AS malah mendorong China untuk memimpin TPP, mengisi kekosongan kepemimpinan yang ditinggalkan oleh AS.

Yoho berpendapat, dalam jangka pendek negara-negara seperti Filipina mungkin ragu untuk menentang agresi China.

“Namun tren tersebut sebetulnya dapat dibalikkan dengan operasi navigasi bebas dan kesepakatan ekonomi dengan negara-negara Asia Pasifik. Semakin banyak yang kita lakukan, akan membangun kredibilitas kita, dan saat kita membangun kredibilitas, orang-orang ini berkata, ‘mereka sudah kembali’,” kata Yoho.

“Jika itu tidak berhasil juga, dan China kemudian berhasil mendominasi kawasan itu, maka AS akan siap menghadapi konflik militer, bergabung dengan sekutu AS lainnya,” tegasnya.

Masalahnya, dengan kepemimpinan Donald Trump yang sulit diprediksi tidak bisa dipegang komitmen dan kebijakannya di Kawasan ataupun global, dalam hal apa pun, bukankah lebih baik sekutu-sekutu AS itu mencari kekuatan aliansi baru, ketimbang mengandalkan AS? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here