Cina, di Balik Gertak Rudal Korut ke Amerika?

0
404
Warga berjalan di depan layar monitor yang memperlihatkan berita ancaman terbaru Korut di Tokyo, Jepang, Kamis (10/8). Foto: ANTARAFOTO/REUTERS

Nusantara.news – Sebagai sekutu utama dalam ekonomi dan perdagangan, tidak mungkin Cina tidak ada kaitan dengan Korea Utara, termasuk dalam “memainkan” nada gertak menggertak rudal terhadap Amerika Serikat. Kabar terbaru, negeri Kim Jong-un itu mengancam bakal merudal pangkalan militer AS di Guam dalam beberapa hari ke depan. Benarkah demikian?

Sejumlah kalangan di AS tidak meyakini Korea Utara bakal melakukan itu, bahkan mereka tidak yakin Korea Utara telah memiliki kemampuan rudal sejauh itu. Seperti yang lalu-lalu, ancaman Korea Utara juga hanya gertakan belaka.

Penasihat keamanan dalam negeri AS untuk Guam, Geroge Charfauros, misalnya, yang menyatakan hanya ada 0,000001 persen kemungkinan rudal Korut bisa mengenai Guam. Charfauros bahkan mengimbau agar warga Guam tetap bersantai dan menikmati surga di pulau tropis tersebut.

Meski begitu, bukan berarti AS tidak bersikap menghadapi ancaman Korut. Presiden AS Donald Trump mengatakan, Korea Utara-lah seharusnya yang merasa cemas jika benar-benar melakukan serangan ke AS.

“Saya ingin memberi tahu Anda, Korea Utara sebaiknya memperbaiki perilaku mereka atau mereka akan dilanda masalah seperti sejumlah kecil negara lainnya,” kata Trump.

Tanggapan Trump cenderung sekadar menyelamatkan muka AS di mata global, bahwa negara adidaya itu tidak bisa digertak-gertak oleh negara kecil yang tidak sebanding itu.

Korut telah mengungkapkan rencana serangan rudal ke Guam secara rinci. Negara itu mengklaim akan menembakkan empat rudal balistik jarak menengah jenis Hwasong-12 ke Guam. Korut juga mengklaim rudal-rudalnya akan mengudara sejauh 3.365 kilometer dalam waktu 1.065 detik atau 17 menit 45 detik saja.

Lalu jika yang dilakukan Korut hanya gertakan semata, untuk kepentingan siapa?

Tentu saja Cina yang paling mungkin punya kendali atas Korut. Bagaimana pun ekonomi Korut, sebuah negara miskin, sangat tergantung dengan Cina. Perdagangan dengan Cina berkontribusi lebih dari 80 persen bagi ekonomi Korea Utara.

Indikasi lain bahwa Korut tetap di bawah kendali Cina sejauh ini, adalah adanya laporan surat kabar milik negara Cina yang menyatakan, Cina akan melakukan intervensi jika AS menyerang Korea Utara terlebih dulu, tapi akan tetap netral jika Kim Jong-un menyerang AS lebih dahulu. Cina juga menegaskan, jika Korut merudal AS terlebih dulu dan AS melakukan pembalasan, Cina akan tetap netral.

“(Tapi), Jika AS dan Korea Selatan melakukan penyerangan dan mencoba menggulingkan rezim Korea Utara serta mengubah pola politik Semenanjung Korea, Cina akan mencegah mereka melakukan itu,” sebut laporan itu.

Ini menyiratkan, Cina percaya diri, Korea Utara tidak akan menyerang lebih dulu AS. Sementara Cina menunjukkan kemarahannya jika AS atau sekutunya mengganggu Korut.

Perang dagang

Korut seolah-olah menjadi “senjata” penekan bagi Cina untuk bernegosiasi perdagangan dengan AS, dimana Trump menuding kerja sama perdagangan dengan Cina selama ini tidak adil karena terus menimbulkan defisit bagi AS. Bulan Juli lalu, defisit perdagangan AS dan Cina masih tinggi, yaitu mencapai USD 25 miliar.

Maka tak heran, jika pada setiap momentum negosisasi dagang AS dan Cina, Korut tampak selalu unjuk gigi. Lihat saja, misalnya beberapa hari sebelum pertemuan Presiden Xi Jinping dengan Presiden Donald Trump di Florida bulan Mei lalu, Korut melontarkan rudal dalam serangkaian uji coba yang menyasar ke laut Jepang. Pesan yang mengemuka waktu itu, Korut tidak suka Cina membahas soal nuklir Korut dengan AS. Tapi bukankah muncul pula kesan, ini agar AS meredahkan call negosiasi perdagangannya dengan Cina kalau AS mau program nuklir Korut dikendalikan?

Pada saat AS berencana menerapkan Undang-Undang Perdagangan pada produk-produk Cina yang terkait pelanggaran hak kekayaan intelektual, yang juga dapat diartikan “perang dagang” oleh Cina, rudal-rudal Korut kembali bereaksi, bahkan sudah mengancam akan merudal Guam, pangkalan militer AS.

Trump yang berencana melakukan “perang dagang” terhadap Cina pada minggu lalu, menundanya sampai waktu yang tak ditentukan. Alasan Trump, Cina sudah bersedia menyatakan kecaman terhadap Korea Utara di Dewan Keamanan PBB.

Cina sendiri menegaskan tak mau masalah senjata nuklir Korut dikait-kaitkan dengan kerja sama perdagangan AS-Cina karena merupakan dua hal berbeda. Sementara AS mengganggap semua memiliki kaitan.

Uji coba rudal Korut yang dilakukan pasca kecaman Cina di PBB, mungkin sengaja dilakukan untuk memberi kesan bagi AS bahwa Cina tidak terkait soal pengembangan senjata Korut, kecuali jika AS sendiri yang menahan diri untuk tidak memancing situasi.

Sebagai negara yang punya ambisi memimpin dunia dalam segala hal, Cina tentu akan menggunakan segala sumber daya untuk memenangi “permainan”, termasuk menggunakan Korea Utara sebagai “alat”  mengungguli negosiasi perdagangan dengan AS, negara tujuan ekspor utama. Sebab untuk saat ini, Kim Jong-un satu-satunya yang berani mengajak Amerika berperang, terlepas itu ancaman sungguhan atau hanya gertakan, nyatanya AS cukup kerepotan, sanksi ekonomi untuk Korut pun telah mereka jatuhkan.

Korut sendiri sebagai negara tertutup dan miskin, mana mungkin mampu membiayai pengembangan senjata nuklir yang canggih, jika itu benar ada, tanpa dukungan dari Cina. Jadi, apa mungkin Cina tidak berada di balik gertak Korut ke Amerika? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here