KTT BRICS 2017

Cina Ingin Salurkan Hasrat Memimpin Dunia Lewat BRICS

0
163
(ki-ka) Presiden Brazil Michel Temer, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden China Xi Jinping, Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma dan Perdana Menteri India Narendra Modi berpose untuk foto dalam KTT BRICS di Xiamen International Conference and Exhibition Center di Xiamen, tenggara provinsi Fujian, China, Senin (4/9). ANTARA FOTO/REUTERS

Nusantara.news, Xiamen – Cina menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS, sebuah kelompok 5 negara ekonomi besar dunia (Brazil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan) di kota Xiamen, Fujian, Cina. KTT kali ini berlangsung di tengah sejumlah isu dan ketegangan global. Amerika Serikat yang mundur dari panggung global serta mengusung proteksionisme perdagangan, program nuklir Korea Utara, sanksi Amerika atas Rusia, hingga perseteruan dua anggota BRICS (Cina dan India) di wilayah Dokhlam, perbatasan Bhutan yang telah berlangsung dua bulan ke belakang.

Tentu saja, yang menjadi bintang dalam KTT ini adalah Cina, negara dengan perekonomian nomor dua terkuat di dunia, setelah Amerika. Selain juga sedang menjadi sorotan dunia karena ambisinya tentang One Belt One Road, dan potensinya menggantikan Amerika yang menyatakan mundur dari panggung dunia. Dalam pertemuan G-20 di Jerman bulan Juli lalu, nama Cina sudah digadang-gadang bakal menggantikan Amerika memimpin sejumlah inisiatif dan kesepakatan internasional.

Namun, dalam konteks BRICS, Cina masih harus menyelesaikan kendala dengan India, negara anggota dengan kekuatan ekonomi yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Negara yang secara politik cenderung lebih dekat dengan Amerika, dan juga menentang inisiatif “One Belt and Road” Cina. Oleh sebab itu, untuk “berdamai” dengan India, Cina sudah rela mengalah dengan tidak melanjutkan pembangunan jalur perbatasan di wilayah sengketa Dokhlam.

Dilaporkan South China Morning Post (SCMP) Minggu (3/9), dalam pernyataannya, Presiden Cina Xi Jinping mendesak BRICS untuk bersatu mengatasi masalah perdagangan, khususnya soal proteksionisme Amerika.

“Presiden Xi Jinping telah meminta blok negara berkembang itu untuk bersatu membentuk peraturan pemerintahan global,” tulis SCMP.

Berbicara di hadapan lebih dari 1.000 eksekutif bisnis pada forum bisnis BRICS di kota Xiamen hari Minggu sore itu, Xi menampik kritik yang berkembang selama ini bahwa BRICS telah kehilangan pamor sejak diluncurkan satu dekade lalu. Saat itu kelompok tersebut punya harapan yang tinggi untuk memimpin dunia global di bidang ekonomi.

Xi tetap optimis dengan BRICS karena menurut dia, nilai gabungan dari 5 negara anggota BRICS tumbuh sebesar 179 persen selama dekade ini, dengan total volume perdagangan mereka hampir dua kali lipat.

Dia juga mengatakan, perubahan struktur ekonomi global, menyusutnya permintaan pasar dan meningkatnya risiko keuangan merupakan tantangan bagi BRICS, tapi jawabannya tidak hanya untuk mengejar pertumbuhan ekonomi. Negara-negara BRICS juga harus beralih ke manufaktur cerdas (smart manufacturing), teknologi digital dan sharing economy, semua sudah dilakukan Cina.

Cina inginkan BRICS mendominasi global tapi terkendala India

Tidak hanya untuk masalah ekonomi—sebagaimana awalnya BRICS dicetuskan—Cina juga menginginkan BRICS terlibat dalam mengatasi masalah-masalah perdamaian dunia yang selama ini cenderung didominasi oleh Amerika. Ini juga menjadi sinyal bahwa Cina ingin memanfaatkan BRICS untuk menyalurkan hasratnya memimpin dunia, tidak saja dari segi ekonomi tapi juga, politik, militer, dan lain sebagainya.

“(BRICS) akan berperan secara konstruktif dalam proses pemecahan masalah geopolitik,” kata Xi.

Menjelang penyelenggaraan KTT, India dan Cina memang tengah berselisih masalah perbatasan di daerah terpencil di Himalaya, tepatnya di wilayah Dokhlam, perbatasan Cina dengan Bhutan, sekutu India. Namun seminggu lalu, kedua belah pihak sepakat untuk mengakhiri ketegangan di kawasan sengketa tersebut.

Baca: Cina Mengalah atas India demi BRICS

Xi tidak menyinggung soal perselisihan perbatasan itu, tapi dia mengakui adanya perbedaan historis dan budaya di antara anggota BRICS dan meminta kepercayaan yang lebih besar lagi untuk menghilangkan kecurigaan di antara negara anggota.

KTT BRICS di Cina tampak sekali menunjukkan ambisi Cina untuk melawan agenda “America First” Donald Trump dengan proteksionisme perdagangannya.

“Kita juga harus memperbaiki rezim tata kelola ekonomi global agar mencerminkan realitas lanskap ekonomi global, serta membuat peraturan yang lebih baik agar bisa mencakup area baru seperti internet, laut dalam, kutub, dan ruang (pembangunan),” kata Xi.

Di BRICS Presiden Xi juga mempromosikan “Belt and Road Initiative” sebuah strategi ekonomi yang sebelumnya ditentang India karena kekhawatiran akan pengaruh Cina di Asia Selatan, wilayah yang selama ini di bawah pengaruh New Delhi.

“(Belt and Road Initiative) bukanlah alat geopolitik tapi platform pragmatis untuk kerja sama. Ini bukan rencana bantuan luar negeri, tapi sebuah inisiatif untuk diskusi bersama, pembangunan bersama dan untuk kepentingan bersama,” kilah Xi.

Wang Yiwei, profesor hubungan internasional dari Renmin University mengatakan, ketegangan Cina dan India, dua ekonomi terbesar di BRICS, masih akan menjadi kendala dan dapat mempengaruhi masa depan blok ini.

“BRICS bukan lagi sekadar kelompok ekonomi tapi sekarang mencakup masalah politik, keamanan dan ekonomi yang membutuhkan visi yang lebih luas,” kata Wang.

Cina sebagai magnet BRICS

Cina memang pantas menjadi bintang atau magnet bagi negara-negara BRICS. Negara anggota lain seperti Rusia misalnya, membutuhkan Cina dalam konteks permusuhannya yang tidak pernah berakhir dengan Barat. Brazil juga membutuhkan Cina karena di sanalah pasar semua kedelai dan bijih besinya. Sementara, agribisnis Brazil sangat penting bagi pemulihan ekonomi negara itu.

Kemudian India, meski terlibat sengketa perbatasan dengan Cina, dan mitra dagang utama India adalah Amerika dan Uni Emirat Arab. Tapi jika India memasukkan Hong Kong sebagai bagian dari Cina, maka Cina menjadi negara nomor dua paling penting bagi impor India. Impor Cina senilai USD 59 miliar pindah ke India pada tahun 2015. Volume perdagangan bilateral antara Cina dan India juga meningkat 21,5 persen per tahun menjadi USD 47,52 miliar antara bulan Januari dan Juli 2017 menurut data pabean India.

Satu lagi, Afrika Selatan saat ini jelas membutuhkan investasi dari Cina dan pasar Cina bagi penjualan bahan bakarnya. Cina adalah pasar ekspor terbesar negara itu, bernilai sekitar USD 12 miliar pada 2015, mengalahkan mitra nomor duanya, Amerika Serikat dengan nilai USD 7 miliar di tahun yang sama. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here