Konflik Perbatasan Cina-India

Cina Mengalah atas India demi BRICS

0
92
Foto: Youtube

Nusantara.news – Cina dan India selama berbulan-bulan telah mengalami ketegangan di wilayah perbatasan kedua negara. Kedua negara bahkan telah mengerahkan pasukan masing-masing untuk mengamankan wilayah sengketa. Adalah sebuah dataran tinggi di kawasan yang oleh Bhutan, sekutu India, diklaim sebagai Dokhlam, wilayah negaranya, sementara oleh Cina diklaim sebagai bagian dari wilayah Donglang, Cina. Ketegangan berawal ketika India menentang rencana Cina untuk memperpanjang jalan perbatasan di dataran tinggi yang disengketakan itu.

Jepang, sekutu Amerika juga ikut-ikutan berkomentar bahwa Cina melanggar kesepakatan internasional jika memaksakan membangun jalan di wilayah yang statusnya masih disengketakan. Dalam beberapa pekan terakhir, India dan Cina telah melakukan pembicaraan diplomatik dimana Cina akhirnya mengalah pada India.

“Dalam beberapa pekan terakhir, India dan Cina telah mempertahankan komunikasi diplomatik sehubungan dengan insiden di Dokhlam,” kata Kementerian Urusan Luar Negeri India dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dilansir ibtimes, Senin (29/8).

“Atas dasar kesepakatan ini, penarikan personil keamanan dari wilayah perbatasan tersebut di Dokhlam telah disepakati dan tengah berlangsung,” demikian tulis pernyataan tersebut.

Tentu saja, kemunduran Cina dari wilayah sengketa perbatasan dengan Bhutan, Dokhlam, menjadi pertanyaan. Mengingat, ini adalah hal pertama yang dilakukan Cina, mundur dari sengketa di sebuah wilayah. Di Laut Cina Selatan, misalnya, meski harus berhadapan dengan negara adidaya, Amerika Serikat, Cina tetap bergeming. Tak sedikit pun dia mundur dari pulau-pulau sengketa dengan Vietnam dan Filipina, yang telah direklamasi dan dibangun dengan berbagai fasilitas, sipil maupun militer. Kenapa di perbatasan dengan Bhutan Cina mengalah?

Rupanya, keputusan tersebut tampaknya merupakan upaya Cina agar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-9 yang akan diadakan di kota Xiamen, China 3-5 September, nanti berjalan sukses dan berhasil sesuai yang diharapkan Cina. Bagi Cina BRICS adalah wadah untuk memuluskan ambisi Cina menguasai dunia dengan kerangka One Belt One Road (OBOR).

Konon, sebelumnya ada spekulasi yang berkembang bahwa Perdana Menteri India, Narendra Modi, kemungkinan tidak akan menghadiri KTT tersebut. Sementara, Cina memang selalu memberi arti penting pada BRICS dan memproyeksikan kelompok ini sebagai model ekonomi alternatif untuk melawan Barat. Menurut laporan yang dipublikasikan sejumlah media India, Cina tidak ingin masalah sengketa dengan Bhutan mengganggu KTT puncak BRICS nanti, sehingga ia rela mengalah secara diplomatik dengan India.

Langkah ini juga dapat dilihat bahwa Cina ingin menunjukkan iktikad kerja sama dan persahabatan yang erat di antara negara-negara BRICS lainnya: Brazil, Rusia, India, dan Afrika Selatan. Cina sendiri memilih tema KTT BRICS tahun ini adalah: “Kemitraan yang lebih kuat untuk masa depan yang lebih cerah”.

Selain anggota yang ada, dalam KTT kali ini Cina juga berusaha mengajak anggota baru dari sejumlah negara berkembang. Cina sebagai tuan rumah mengundang Indonesia, Thailand, Kazakhstan dan Mesir ke puncak acara, sebagaimana dilaporkan CNN.

Secara historis India dan Bhutan memiliki hubungan yang sangat erat. Angkatan Darat India terlibat dalam pelatihan Angkatan Darat Kerajaan Bhutan, sementara Bhutan bekerja sama erat dengan India dalam menentukan kebijakan luar negerinya.

Dalam sengketa Bhutan-Cina, India telah menyatakan keprihatinannya bahwa jalan tersebut, jika selesai, akan memudahkan Cina untuk mengakses negara bagian timur laut India. Jika terjadi konflik, India khawatir hal ini memudahkan Cina memotong wilayah timur lautnya dari wilayah lain di negara tersebut.

BRICS

BRICS adalah kelompok negara-negara: Brazil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan (South Africa) lima negara yang pertumbuhan ekonominya cukup pesat. Akronim tersebut pertama kali dicetuskan pada  2001 oleh Lord O’Neill, menteri keuangan Inggris dan mantan kepala ekonom di Goldman, dia mencatat  pertumbuhan PDB riil antara kuartet (Brazil, Rusia, India, Cina) telah melampaui kelompok ekonomi G7.

Pada tahun 2050 nanti gabungan ekonomi keempat negara itu akan mengalahkan negara-negara terkaya di dunia saat ini. Inilah yang membuat Cina begitu mengandalkan BRICS demi ambisi ekspansi ekonomi ke seluruh dunia dengan kerangka OBOR-nya.

Dana Bric Goldman lahir lima tahun kemudian, yang menginvestasikan setidaknya 80 persen aset bersihnya di ekuitas Bric.

KTT pertama kali dilangsungkan di Yekaterinburg, Rusia, pada 16 Juni 2009, dihadiri oleh Presiden Brazil Luiz Inácio Lula da Silva, Presiden Rusia Dmitry Medvedev, Perdana Menteri India Manmohan Singh, dan Presiden RRT Hu Jintao. KTT BRIC yang kedua berlangsung pada 15 April 2010 di ibu kota Brazil, Brasilia.

Pada kedua KTT itu, BRIC menyatakan posisinya pada berbagai isu global, antara lain: Reformasi institusi keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia agar dapat lebih menampung aspirasi negara-negara berkembang; Perlunya diversifikasi sistem moneter internasional, tidak terfokus lagi pada US Dollar sebagai mata uang internasional; Mendorong PBB memainkan peran yang lebih penting dalam diplomasi multilateral; Peran yang lebih besar untuk Brazil dan India di PBB (agar kedua negara bisa menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB).

Namun, BRICS kemudian dianggap sebagai antitesa dan ancaman bagi Barat, terutama Amerika Serikat dan para sekutunya, sehingga AS dengan berbagai cara berupaya menahan laju perkembangan BRICS, salah satunya dengan memecah kekompakan di antara negara-negara anggotanya. Terbukti, Cina kerap berkonflik dengan India termasuk salah satunya dalam sengketa wilayah perbatasan Cina-Bhutan baru-baru ini.

Sementara itu, dalam KTT BRICS bulan depan, Cina dan India sebagai negara besar yang memiliki pengaruh besar dalam blok lima anggota diharapkan dapat meningkatkan kerja sama dan menetapkan visi bersama, lebih-lebih saat ini AS sedang mengalami kiris kepercayaan dari negara-negara Barat dalam perannya memimpin globalisasi.

Negara-negara BRICS merupakan 43 persen populasi dunia dengan GDP gabungan lebih dari USD 16 triliun, menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan global. Oleh karena itu KTT BRICS kali ini diharapkan menghasilkan kerja sama yang lebih konkret di kalangan negara-negara anggotanya.

Negara-negara BRICS sudah dipandang sebagai mesin pertumbuhan ekonomi dunia. Bersama-sama, lima negara anggota itu telah menjadi sumber lebih dari setengah pertumbuhan global dalam sepuluh tahun terakhir.

Di satu sisi, KTT BRICS bulan depan di Cina mendapat momentum karena bersamaan dengan semakin surutnya peran AS (Donald Trump) di panggung global, serta kemarahan Rusia terhadap AS karena dijatuhi sanksi baru. Tapi di sisi lain, BRICS juga tengah menghadapi satu tantangan, yaitu ketegangan Cina-India di wilayah perbatasan dengan Bhutan. Cina tentu sangat sadar momentum emas ini, sebab itu ia rela mengalah terhadap India, tentu demi KTT BRICS yang membawa harapan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here