Cina Mewujudkan Mimpi LRT di Afrika (4)

0
382

Nusantara.news, Jakarta – Sebagian pengamat mempertanyakan, Cina di Afrika apakah ‘kutukan’ atau ‘berkah’? Kutukan karena pembangunan Cina di Afrika menimbulkan ekses seperti yang terjadi di Angola, dalam hal tenaga kerja maupun larangan Islam di negara tersebut. Berkah karena investasi yang besar, khususnya infrastruktur mulai terwujud, diantaranya pembangunan Light Rail Transit (LRT) di Afrika.

Cina juga dianggap memberi hadiah bagi Uni Afrika pada tahun 2012 dengan membiayai pembangunan markas Uni Afrika di Addis Ababa. Selain itu, ketersediaan lapangan kerja juga sangat positif bagi masyarakat Afrika. Tercatat sudah 30 rumah sakit, 150 sekolah, 105 proyek air dan energi terbarukan, terdaftar dalam program bantuan.

LRT di Afrika

Kibaran bendera Cina dan Etiopia meramaikan stasiun-stasiun dan lintasan jalur layang kereta ringan atau LRT saat terwujudnya transportasi massal LRT di Addis Ababa, Etiopia, dan beroperasi sejak September 2015.

Negara-negara Afrika Utara, seperti Tunisia, Maroko, dan Algeria menyusul keberhasilan Etiopia yang mampu menginspirasi negara-negara tetangganya tersebut sehingga LRT menjadi proyek strategis di Afrika. Sebelumnya, warga Afrika hanya mengandalkan transportasi tradisional perpaduan antara taksi dan bus yang jauh dari kata layak.

Konstruksi LRT di Addis Ababa mulai dibangun sejak Januari 2012 dan memasuki masa uji coba Februari 2015, dengan kontrak proyek senilai USD 475 juta pada tahun 2009, untuk total jalur sepanjang 34,3 kilometer.

Warga Addis Ababa menyambut positif keberadaan LRT karena dengan biaya Rp 2.500 jauh maupun dekat, relatif murah untuk perjalanan sejauh 17 kilometer.

Tahun 2015, LRT tersebut sudah bisa mengangkut 60 ribu orang per jam sehingga beberapa ibukota negara Kenya, Uganda, Nigeria mengikutinya, seperti juga di Indonesia.

Uganda memulai proyek ini dengan rute melayang sepanjang 35 kilometer dengan investasi sebesar USD 440 juta. Ini langkah awal ambisi pemerintahan Uganda membangun jalur 240 kilometer, yang ditargetkan selesai tahun 2020.

Kenya tak mau kalah cepat. Presiden Kenya Uhuru Kenyatta pada tanggal 19 Januari 2016 mengumumkan kabar yang mengejutkan, yaitu mencanangkan pembangunan LRT yang dimulai pada Juni 2016. Proyeksinya adalah ada 300 ribu orang akan terangkut jika proyek ini selesai. Biaya diperkirakan USD 150 juta.

Namun celakanya, Nigeria gagal dalam merintis proyek LRT, sehingga sejak tahun 2011 proyek ini mangkrak.

China Railway Group mengucurkan dana USD 475 juta

Export-Import Bank of China (China Development Bank atau CDB) mengucurkan dana USD 475 juta untuk proyek LRT di Addis Ababa. Kecerdikan Cina terlihat selain mengucurkan uang untuk membangun, Cina juga memaksimalkan apa yang mereka miliki. Selain tenaga kerja Cina, teknologi, dalam hal ini Hwawei dipercaya sebagai penyedia sistem komunikasi nir-kabel. Berdasarkan laporan Baker & McKenzie, CDB telah mengucurkan dana segar USD 1 triliun untuk membiayai infrastruktur di Afrika.

Pembiayaan jalur LRT Jabodetabek tahap pertama dengan total 42,1 kilometer mencakup koridor Cibubur-Cawang 13,7 kilometer; Cawang-Dukuh Atas sepanjang 10,5 kilometer; dan Bekasi Timur-Cawang 17,9 kilometer menggunakan dana APBN.

Pemerintah mengucurkan dana sebesar Rp10 triliun dimana BUMN Adhi Karya sebagai pelaksananya. Presiden Joko Widodo telah melakukan ground breaking pada 2016, seperti yang terlihat pada jalan layang sepanjang tol Jagorawi.

Bagi Cina, investasi LRT di Afrika sebagai infrastruktur percepatan distribusi logistik selain untuk memajukan bisnis Cina di Afrika.

Kerja sama mutualisme Cina-Afrika menunjukkan tiga perubahan baru:

  1. Sebelum pembangunan, kepemimpinan pemerintahan bersifat satu arah, bahkan beberapa negara Afrika otoriter bertransformasi ke
  2. Perdagangan yang selama ini dengan komoditas sangat terbatas meningkat kapasitas produksinya dan industri turunannya.
  3. Pembangunan yang bersifat konstruksi sederhana melangkah ke pembangunan skala menengah dan besar.

Ide, struktur, dan subjek kerjasama Cina-Afrika melangkah bersama sesuai perkembangan zaman, dan terus diperdalam. Afrika bagian dari jalur One Belt One Road (OBOR). Negara-negara Afrika justru yang paling responsif dalam menanggapi konsep OBOR. Disayangkan, sudah terjadi ekses pembangunan Cina di Afrika, minimal tercatat di dua negara utama, yaitu: Zimbabwe dan Angola, yang karena tidak dapat membayar utang, mata uang negara tersebut menjadi Yuan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here