Cina Punya Barongsai, Nusantara Punya Reog Ponorogo 

0
894

Nusantara.news, Surabaya – Bangsa Cina merayakan Tahun Baru Imlek di kalender awal tahun. Perayaan Imlek atau mereka biasa menyebut Sin Cia akan jatuh pada 25 Januari nanti. Dalam sejarahnya, Sin Cia dipetik dari perayaan petani-petani untuk menyambut datangnya musim semi. Mereka meyebutnya: Cap Go Meh. Biasanya, perayaan-perayaan semacam itu ditandai dengan kesenian barongsai. Seni berbentuk tari-tarian boneka singa yang dimainkan beberapa orang, mirip kesenian Reog Ponorogo.

Reog Ponorogo tak kalah hebat dengan kesenian Barongsai. Apalagi Reog Ponorogo penuh dengan nilai-nilai historis. Bertutur tentang keteladanan, Ponorogo berkembang sampai sekarang. Sudah tentu, kesenian warisan leluhur di nusantara ini menjadi kebanggaan dan menjadi aset nasional. Reog merupakan salah satu dari keanekaragaman seni budaya di Tanah Air. Tidak hanya di Jawa Timur, reog Ponorogo juga berkembang di berbagai daerah di Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri.

Reog Ponorogo semula disebut Barongan, digunakan sebagai sindiran oleh abdi kerajaan Demang Ki Ageng Kutu Suryongalam terhadap Raja Majapahit Prabu Brawijaya V di masa Bhree Kertabhumi pada abad ke-15 yang korup dan melupakan rakyatnya. Perilaku sang  raja ditengarai karena pengaruh istrinya, seorang putri cantik yang berasal dari Tiongkok.

Saat itu Ki Ageng Kutu melihat kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan dan mengajarkan seni bela diri, ilmu kekebalan dan ilmu kesempurnaan kepada anak-anak muda. Tujuannya adalah agar anak-anak muda tersebut menjadi bibit dan penerus kebangkitan Kerajaan Majapahit kembali.

Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog sebagai sindiran kepada Raja Kertabhumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal terhadap peri laku menyimpang dari penguasa saat itu.

Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai Singa Barong. Singa Barong merupakan perwujudan raja hutan atau sindiran untuk Kertabhumi. Di atas topeng itu ditancapkan bulu-bulu merak menyerupai kipas raksasa sebagai simbol pengaruh kuat istrinya yang berasal Cina. Gerakan meliak-liuk dari sang Singa Barong bertutur tentang gerak-gerik raja yang diatur oleh sang istri.

Sementara itu, Jatilan yang diperankan oleh kelompok penari Gemblak menunggang kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit. Adapun Warok, yang berada di balik topeng badut merah, menjadi simbol  Ki Ageng Kutu.

Reog, jelas bukan sekadar ekspresi seni tari. Tarian ini memiliki makna tentang keteguhan sikap dari penciptanya yang ingin menyampaikan kritik terhadap pengusa saat itu. Kesenian ini merupakan cara rakyat Nusantara menyampaikan pandangan dan pendapatnya terhadap urusan ketatanegaraan pada masanya.

Kepopuleran Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Raja Kertabhumi mengambil tindakan dengan menyerang perguruannya. Pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, perguruan tersebut dilarang untuk melanjutkan pengajaran Warok. Namun, dengan diam-diam murid-murid Ki Ageng Kutu tetap melanjutkan kesenian Reog, dan hingga kini diperbolehkan untuk dipentaskan, karena populer di masyarakat. Jalan ceritanya memiliki alur baru, ditambahkan karakter-karakter cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewandono, Dewi Songgolangit dan Sri Genthayu.

Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo saat ini adalah kisah tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning. Namun di tengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singa Barong dari Kediri. Pasukan Raja Singa Barong terdiri dari merak dan singa, sementara dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujang Anom dikawal oleh warok, pria berpakaian hitam-hitam dalam tarian.

Warok digambarkan sebagai sosok kuat dan memiliki ilmu hitam yang mematikan. Seluruh tarian Reog menggambarkan perang ilmu hitam antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo dan mengadu ilmu hitam antara keduanya. Ini disimboklan dengan para penari dalam yang mengekspresikan “kerasukan” saat pentas.

Ironisnya, Singa Barong yang menjadi salah satu simbol Reog kini terancam oleh Barongsai asal Cina yang juga mulai popular. Bahkan, di sejumlah tempat Barongsai telah menjadi hiburan kesenian bagi sebagian masyarakat Indonesia. Kesenian tradisional seperti Reog Ponorogo terus terpinggirkan. Ini merupakan pekerjaan rumah bagi semua orang yang mengaku warga Indonesia, pemilik kesenian Reog Ponorogo. []

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here