Cina “Senang” Presiden Korsel Dimakzulkan

0
76
Hakim MK Korea Selatan putuskan pemakzulan bagi Presiden Park Geun-hye pada Jumat (10/3). (Pressphoto)

Nusantara.news – Belum ada pernyataan apapun dari otoritas Cina soal “terjungkalnya” pemimpin Korea Selatan Park Geun-hye akibat dimakzulkan Mahkamah Konstitusi negara itu Jumat (10/3) karena skandal korupsi. Tetapi setidaknya, jika dilihat dari narasi media-media di Cina, yang didukung para pengamat negeri itu, Cina tampak senang dengan jatuhnya Park.

Di Cina, aura kegembiraan muncul di sejumlah media. Wajar saja, sebab selama ini arah kebijakan luar negeri Presiden Park, terutama soal sistem pertahanan rudal AS, ditentang pemerintah Cina. Cina menentang kebijakan Korsel untuk menyebarkan sistem pertahanan rudal THAAD yang berasal dari AS.

Meski Park dimakzulkan bukan karena soal sistem anti-rudal, tapi Cina memanfaatkan momentum ini untuk menunjukkan ketidak-setujuannya atas pemasangan sistem anti-rudal di sejumlah titik di Korsel.

Pemerintah Park ingin memasang radar dan rudal baterai untuk melindungi negaranya terhadap potensi serangan dari Korut yang semakin membabi-buta. Mereka menganggap bahwa Rezim Pyongyang, dalam hal ini Presiden Korut Kim Jong Un telah melanggar bahkan menantang sanksi PBB dengan melakukan serangkaian uji coba rudal balistik dan nuklir. Bahkan yang terbaru, rudal dilontarkan ke laut Jepang, memasuki kawasan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Jepang.

Sementara Cina sendiri adalah sekutu ekonomi dan diplomatik utama bagi Korut, meskipun saat ini Cina juga menangguhkan impor batubara terhadap Korut karena mengutuk uji coba rudal terbaru Korut. Tapi Beijing tampaknya tidak mau berbuat banyak untuk mencegah Korut.

Cina menentang kebijakan Park karena melihat motif lain yang tersembunyi dari pemasangan sistem anti-rudal THAAD milik AS itu di Korsel, yaitu upaya untuk mendeteksi rudal di sebagian timur laut Cina, yang memungkinkan AS untuk memata-matai uji coba rudal Cina serta melemahkan penangkal nuklir Beijing.

Buntut dari penoakan Cina atas penyebaran sistem anti-rudal, Cina “menghukum” Korsel dengan menarik 39 toko ritel Lotte karena memberikan lahannya untuk THAAD, proyek resor Lotte yang besar di kota utara-timur Shenyang juga ditangguhkan.

Sejumlah penerbangan, kapal pesiar untuk wisatawan Cina ke Korsel juga telah dihentikan oleh Cina.

Kepentingan Cina dan AS

Sekarang Korsel menjadi medan kepentingan antara Cina dan AS untuk menancapkan kuku pengaruhnya. Upaya AS menyebar sistem anti-rudal beberapa hari sebelum Park dimakzulkan diduga sebagai kekhawatiran AS terhadap Korsel yang bisa saja dipimpin presiden baru yang pro-Cina.

Sementara bagi Cina, momentum pemakzulan presiden Korsel menjadi titik balik untuk memperbaiki hubungan Cina-Korsel yang memburuk selama Korsel dipimpin Park. Korsel akan melakukan pemilihan calon presiden pengganti Park setelah 60 hari setelah putusan pemakzulan oleh MK.

Tokoh oposisi Korsel, Moon Jae-in menurut jajak pendapat, menduduki elektabilitas tertinggi untuk memenangkan Pemilu sela pasca-pemakzulan Presiden Park. Moon Jae-in, adalah tokoh yang menginginkan penangguhan penyebaran THAAD di Korsel, sesuai dengan keinginan Cina.

Jika demikian, kemunduran Presiden Korsel merupakan keuntungan bagi Cina, karena dengan begitu bertambah lagi daftar kemunduran diplomasi AS di kawasan Asia, setelah sebelumnya Filipina bergeser ke Cina karena kecewa dengan AS yang keluar dari kemitraan perdagangan TPP.

Presiden Park terpaksa meninggalkan Blue House, istana presiden Korsel, setelah MK Korsel memakzulkannya. Ini artinya yang kedua kali dalam hidupnya Park meninggalkan Istana. Park pernah tinggal di Blue House pada 1963 setelah ayahnya, diktator militer Park Chung-hee menjadi presiden ketiga Korsel, dia berkuasa sampai terbunuh pada tahun 1979.

Saat ini, Park tidak lagi memiliki kekebalan hukum sebagaimana waktu dia masih menjadi menjadi presiden. Selanjutnya, Park akan menghadapi tuntutan pidana penyuapan, pemerasan dan penyalahgunaan kekuasaan yang terkait dengan kolega pengusahanya Choi Soon-sil.

Sementara Park disibukkan dengan persoalan hukum yang menjerat dirinya, Korsel juga akan disibukkan dengan pemilihan presiden berikutnya, dan akan ditandai dengan pertarungan kepentingan Cina-AS.

Ketegangan Korea Utara, Cina dan Amerika Serikat akan menempatkan presiden Korsel berikutnya dalam posisi sulit: Haruskah dia tetap dekat dengan AS dan Barat, atau mendekat ke tetangganya? Meskipun jika yang terpilih Moon Jae-in kemungkinan besar opsi terakhir yang bakal dipilih.

Tapi tampaknya siapa pun yang akan mengambil-alih kendali kepemimpinan Korsel, dia tetap harus mempertimbangkan Cina. Apa pun Cina adalah 25 persen ekspor perdagangan Korsel. Tapi masalahnya Korsel juga saat ini butuh dukungan militer dari AS, terutama untuk membentengi diri dari ancaman Korut, meskipun secara teori sebetulnya bisa saja diredakan oleh Cina sebagai sekutu diplomasi dan perdagangan Korut. Akankah kuku Amerika benar-benar tak akan lagi menancap di Korsel pasca-terpilih presiden baru? Kita tunggu. []

Baca juga:

Akhirnya Presiden Korsel Resmi Dipecat MK Karena Skandal

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here