Cita-cita Emil, Bangun Jatim Seperti Belanda

0
137
Emil “Jika saya terpilih, saya akan terus mengawal (Kabupaten Trenggalek) hingga 2019, atau tahun ke empat pemerintahan saya. Ini juga untuk menjawab keraguan istilah Tinggal glanggang colong playu"

Nusantara.news, Surabaya – Emil Elestianto Dardak yang juga cucu Mochamad Dardak, salah satu kiai Nahdlatul Ulama (NU) ini namanya mencuat setelah resmi menjabat sebagai Bupati Kabupaten Trenggalek.

Anak pasangan Hermanto Dardak-Sri Widayati  itu semakin moncer saat dirinya resmi digandeng Khofifah Indar Parawansa, untuk maju sebagai bakal calon Wakil Gubernur Jatim, di Pilkada 2018 mendatang. Ayahnya, Hermanto, adalah Wakil Menteri Pekerjaan Umum periode tahun 2010-2014.

Sedangkan dari ibunya mengalir darah pejuang Letjen Anumerta Wiloejo Poespojudo yang juga Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) pertama di era Presiden Soekarno.

Sebagai generasi muda berbakat dan cemerlang Emil ternyata menyimpan sejumlah gagasan cerdas. Salah satunya, jika kelak terpilih mendampingi Khofifah sebagai Wakil Gubernur Jatim, dirinya sempat melontarkan gagasan cemerlang, yakni membangun Jatim seperti Negeri Belanda.

Kecerdasan Emil bisa jadi sangat beralasan untuk bisa mewujudkan gagasan tersebut. Emil sejak muda tercatat memiliki prestasi akademik yang luar biasa. Pada tahun 2001 atau saat berusia 17 tahun, Emil telah berhasil menyabet gelar diploma dari Melbourne Institute of Business and Technology.

Baca Juga: OSO Dukung Khofifah, Jangan Ada Dusta di Antara Kita

Kemudian melanjutkan pendidikan S1 di Universitas New South Wales, Australia. Dilanjutkan kembali belajar untuk mendapat gelar S2 dan S3 dari Ritsumeikan Asia Pacific University, Jepang.

Tahun 2001-2003, Emil kemudian menjabat World Bank Officer di Jakarta, dan Media Analysis Consultant di Ogilvy. Puncak karier Emil dicapai saat didaulat menjadi Chief Business Development and Communication-Executive Vice President di PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero).

Emil, selain cerdas dan kaya pengalaman juga dikenal sebagai kepala daerah yang tidak banyak bicara apalagi guyonan yang berlebihan. Sebaliknya, yang berjuluk Bupati Milenial lebih banyak menonjolkan capaian kinerja dan hasil kerja nyata.

Itu terbukti, Kabupaten Trenggalek yang dipimpinnya dua kali menyabet predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), dari hasil Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun Anggaran 2015 dan 2016.
Ditambah, dengan tangan dinginnya bisa mempertahankan ekonomi di tengah cobaan bencana yang luar biasa.

Termasuk keberhasilan Trenggalek untuk bersinergi dengan berbagai pihak guna membangun inovasi di bidang UKM, mengangkat rumah sakit mendapatkan akreditasi lebih baik, serta menjalankan pembangunan dengan sumber dana yang sudah diamanatkan Kabupaten Trenggalek terserap dengan baik.

Jika terpilih menjadi Wakil Gubernur Jatim mendampingi Khofifah, dia juga punya cita-cita menjadikan Provinsi Jatim sekelas ‘Negeri Kincir Angin’ Belanda, Wow Keren.

Mengapa Harus Seperti Negeri Kincir Angin?

Emil Dardak “Jatim akan lebih baik jika kita terapkan seperti pola pembangunan di Negeri Belanda”

Silakan disimak, Jatim akan lebih baik jika kita terapkan seperti pola pembangunan yang dilakukan di Negeri Belanda.

“Jangan lupa, Jatim memiliki luas kurang lebih 48 ribu kilometer pesegi dan menyumbang kurang lebih 15 persen perekonomian Indonesia, atau sekitar 1.800 triliun lebih dihasilkan dari Jatim,” papar Emil.

Lanjut Emil, dari luas wilayah, Belanda hampir sama dengan Jatim, bahkan populasi penduduk hanya sekitar 16,9 hingga 17 juta di tahun 2015. Bandingkan dengan Jatim yang berpenduduk 38 juta lebih.

Baca Juga: Kandidat Harus Punya Konsep Jelas Dekati Pemilih

Menurut Emil, dengan jumlah penduduk yang lebih sedikit, GDP (Gross Domestic Product atau PDB/Produk Domestik Bruto) Belanda sekitar 750 miliar dolar AS atau sekitar Rp 7.500 triliun.

“Penduduk hanya seperempat, luas wilayah sama dengan Jatim tetapi bisa menghasilkan ekonomi hampir enam kali lipat Jatim, itu Negeri Belanda. Artinya masih banyak ruang yang bisa kita perbuat untuk memajukan Provinsi Jatim,” terangnya.

Masuk akan, jika Emil bicara global karena di usianya yang masih muda yakni saat ini 33 tahun, dia sudah memiliki jaringan internasional, termasuk berpengalaman sebagai eksekutif di lembaga keuangan Bank Dunia serta menjabat wakil presiden di Asosiasi Kepala Daerah se-Asia Pasifik.

Bangun Bandara di Mataraman

Bagi Emil, membangun Jatim tak cukup dengan semangat baja, tetapi perlu penyiapan infrastuktur, itu juga telah diantisipasinya. Bersama tujuh kepala daerah di wilayah Mataraman, Emil tengah menyiapkan bandara untuk membangun dan meningkatkan kemajuan perekonomian di Jatim.

“Kalau ingin maju ekonominya harus membuka akses penerbangan udara. Bagaimana mungkin kita ingin menjadi daerah jasa, perdagangan kalau dari bandara saja jauh. Begitu juga dengan pariwisata dan seterusnya,” urainya.

Selama ini, lanjut Emil, lebih dari 10 juta penduduk di wilayah Mataraman tidak terlayani bandara karena memang di wilayah tersebut tidak boleh dibangun bandara lantaran 24 jam digunakan untuk latihan tempur.

Menurut Emil, untuk penerbangan di wilayah itu, tidak perlu penuh, cukup beberapa waktu dalam sehari yang penting memiliki penerbangan guna mendorong kemajuan ekonomi, khususnya di wilayah setempat.

“Alhamdulillah Bapak Presiden Jokowi sudah memerintahkan Panglima TNI dan Menhub agar mengalokasikan penerbangan sipil untuk wilayah Mataraman. Ini sebuah sejarah baru untuk meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat Jatim,” terangnya.

Atas perintah Menkopolhukam saat itu, Luhut Binsar Panjaitan, para kepala daerah pun bersepakat untuk mencari tanah ratusan hektare dan mendapatkannya di selatan Tulungagung (masuk wilayah Kediri) milik Perhutani.

Hapus Ego Sektoral untuk Kemajuan Semua 

Meski Emil sangat ‘berkeringat’ soal lobi-lobi pembangunan bandara di wilayah Mataraman, dia tak bersikeras agar dibangun di wilayah pemerintahannya, Trenggalek.

“Buat apa ngotot membangun bandara di Trenggalek, kalau manfaatnya lebih kecil. Lebih baik dibangun di derah lain dan kami fokus pembangunan pelabuhan. Maka semuanya dapat, Tulungagung, Kediri, Trenggalek, semua dapat,” paparnya.

Baca Juga: Partai Pendukung Akan All Out Menangkan Khofifah-Emil di Pilgub Jatim

Perspektif itu yang didorong Emil, hal itu juga ditunjukkan kalau kedatangan tamu sekelas menteri, misalnya, akan mengundang kepala daerah lain di sekitar Trenggalek.

“Karena kita membangun ini dalam bingkai NKRI, bukan ego daerah sendiri-sendiri. Inilah konsep untuk membangun Jatim menjadi lebih baik, bukan membangun kejayaan satu daerah saja,” terangnya.

Belanda Dibanding Negeri Tetangganya

Emil “Luas wilayah, Belanda hampir sama dengan Jatim, bahkan populasi penduduk hanya sekitar 16,9 hingga 17 juta di tahun 2015. Bandingkan dengan Jatim yang berpenduduk 38 juta lebih”

Belanda dikenal sebagai negeri yang mempunyai ciri khas, yakni negeri di bawah laut yang tersohor di dunia. Memiliki luas 41,543 km2, termasuk 33,893 km2 darat. Belanda bukan negara yang besar di benua Eropa. Bandingkan dengan tetangganya Jerman, yang total luas negaranya adalah 357,168 km2. Keunikan Belanda adalah fakta bahwa 26 persen wilayahnya di bawah permukaan air laut. Termasuk di antara wilayah yang berada di bawah permukaan laut adalah Bandara Internasional Schiphol, di dekat Amsterdam.

Di Belanda, keberadaan tanggul menjadi bagian hidup masyarakatnya. Sejak ribuan tahun lalu, dalam kurun waktu sekitar 500 SM – 700 Masehi, masyarakat kuno menghuni wilayah yang sekarang terdapat tanggul, namun berpindah apabila tanggul yang digunakan jebol. Sekitar tahun 1000 Masehi, dengan pertumbuhan penduduk, maka pengerjaan tanggul dilakukan dengan lebih terencana. Hasilnya, di tahun 1250-an telah terdapat sistem tanggul yang efektif untuk menghalau masuknya air dari laut.

Tanggul Pembatas Air Laut

Emil “Kalau ingin maju ekonominya, harus membuka akses penerbangan udara”

Keberhasilan bangsa Belanda untuk membuat sistem tanggul bahkan memungkinkan mereka di tahun 1986, untuk membuat sebuah wilayah baru, setingkat provinsi dari reklamasi laut dengan pembangunan tanggul. Provinsi tersebut bernama Flevoland. Kini provinsi tersebut memiliki lebih dari 390 ribu jiwa.

Belanda Negeri Hasil Reklamasi

Luar biasanya, perkembangan Flevoland, sedemikian pesat sebagai provinsi ke 12 di Belanda, dengan pertambahan 2 ribu hunian baru per tahun, menurut situs resmi Provincie Flevoland. Tidak hanya itu, namun wilayah yang dilindungi oleh tiga tanggul besar, yakni tanggul Timur Laut, tanggul Selatan dan tanggul Timur – berambisi menjadi area metropolis dengan ekonomi terbesar kelima di Uni Eropa dalam sebuah gabungan bersama Amsterdam, Den Haag, Rotterdam dan Utrecht.

Baca Juga: Simbol Anak Muda, AMPI Jatim Dukung Emil Dardak

Konsep ini tidak jauh berbeda dengan megapolitan Jabodetabek yang kita kenali di Indonesia. Salah satu sudut provinsi Flevoland, sebuah wilayah yang sepenuhnya hasil reklamasi laut di Belanda. Semua merupakan hasil dari pengelolaan infrastruktur yang baik, serta perencanaan yang matang.

Dengan pengelolaan yang baik, Kota Amsterdam berdiri kokoh hingga kini padahal berada di bawah laut, dan Kota Utrecht juga berada di pinggir lautan, menakjubkan. Sistem tanggul di Belanda ini butuh waktu ribuan tahun untuk dibangun, diperbaiki dan disempurnakan secara terus menerus. Manusia sudah cukup banyak belajar bagaimana memanfaatkan teknologi untuk maksimalkan penggunaan wilayah dengan baik dan efisien. Apakah sistem serupa bisa dipelajari dan diterapkan di Indonesia, termasuk untuk Provinsi Jatim?.

Jakarta misalnya, sudah semakin membahayakan dengan banjir tahunan yang mengakibatkan kerugian dengan jumlah yang tidak sedikit. Mungkin kita bisa belajar dari orang lain guna menghindari kerugian tahunan akibat banjir? Kalau orang di Belanda bisa, seharunya di Indonesia juga dapat menguasainya.

Ini Profil Negeri Belanda

Belanda adalah sebuah negara monarki konstitusional yang terletak di Benua Eropa. Wilayahnya meliputi daratan di Benua Eropa Barat dan tiga pulau di kawasan Karibia. Negara kerajaan ini memiliki luas wilayah 41.543 km2 dan jumlah penduduk 17.016.967 jiwa. Etnis Belanda atau Dutch adalah etnis mayoritas di negara Belanda. Bahasa resmi yang digunakan adalah bahasa Belanda atau Dutch. Di daratan benua Eropa, Belanda berbatasan dengan Jerman di sebelah timur dan Belgia di sebelah selatan. Sedangkan di sebelah utaranya berbatasan dengan Laut Utara (North Sea).

Di bidang perekonomian, Belanda merupakan salah satu negara maju di dunia dengan pendapatan per kapita US$ 50.800,-. Aktivitas utama perekonomian masyarakat adalah industri pengolahan minyak, kimia, makanan dan produksi peralatan atau mesin listrik serta produk-produk agrikultur.

Baca Juga: Surabaya Tenggelam, Proyek Rp 1 Triliun Risma Menguap

Pendapatan Domestik Bruto nomimal Belanda pada tahun 2016 sebesar US$ 865,9 miliar dengan pertumbuhan ekonominya sebesar 1,7 persen. Sementara di bidang Politik, Belanda yang memiliki nama lengkap Kerajaan Belanda atau Kingdom of the Netherlands ini menganut sistem pemerintahan Monarki Konstitusional Parlementer yaitu, sistem pemerintahan yang kepala negaranya adalah seorang Raja. Sedangkan kepala pemerintahannya adalah seorang perdana menteri. Dengan ibukota Belanda adalah Amsterdam.

Secara administratif, Negeri Belanda terbagi menjadi 12 provinsi, yakni 12 negara bagian dan ibukota. Zeeland ibukotanya Middelburg, Utrecht ibukotanya Utrecht, South Holland ibukotanya The Hague, Overijssel ibukotanya Zwolle, North Holland ibukotanya Haarlem, North Brabant ibukotanya ‘s-Hertogenbosch. Limburg ibukotanya Maastricht, dan  Groningen ibukotanya Groningen, Gelderland ibukotanya Arnhem, Friesland (Fryslân) dengan ibukota Leeuwarden, Flevoland ibukotanya Lelystad, Drenthe ibukotanya Assen.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here