Cuaca Buruk, Harga Gabah Jatuh

0
127

Nusantara.news, Lamongan – Musim panen padi tahun ini dilanda wereng dan cuaca buruk, akibatkan harga jatuh.  Anomali cuaca dengan adanya lalina yang melanda Lamongan mulai  berdampak. Hujan yang terus menerus mengguyur di wilayah hulu sungai Lamongan  telah mengakibatkan wilayah hilirnya diterjang banjir, bahkan berimbas ke Kabupaten Gresik dan kabupaten Mojokerto.

Lamongan merupakan lumbung beras nomor dua nasional. Wilayah eks Kawedanan Ngimbang di kabupaten ini sudah mulai panen padi. Di beberapa wilayah seperti di  Kecamatan Sukorame dan Bluluk, petani telah memanen lebih dulu karena serangan wereng.

Hujan yang terus menerus menyebabkan kelembaban tinggi dan suhu yang dingin membuat wereng semakin sulit dibasmi. “Sengaja kami memanen lebih awal, sebab hama werang sudah menyerang, padahal sudah kami kami kompres dengan pestisida, sepertinya werengnya kebal,” ujar Suliono (45 tahun), kepada Nusantara.news Sabtu(18/2/2017)

Selain sawahnya, beberapa lahan milik warga lain juga terkena wereng. “Kami yang memakai bibit bantuan pemerintah saja yang terkena wereng. Yang beli sendiri tidak ada yang terkena. Pastinya berapa yang terkena wereng kami tidak tahu, bisa sampai puluhan hektar,” katanya

Deritanya semakin bertambah sebab padi yang dipanen tidak bisa langsung dijual. ”Kalau gabah terkena wereng dan dalam kondisi basah, tengkulak tidak ada yang mau. Jadi harus dijemur dulu. Itu pun kalau kering harganya juga rendah karena kualitasnya jelek,” terangnya

Ia mengaku belum tahu berapa harga gabahnya. ”Kalau gak ada beli, ya kami simpan buat persedian. Kalau kembalikan biaya tanam, itu yang bikin saya pusing. Mungkin beberapa ekor kambing akan dijual,” keluhnya.

Hal berbeda dialami Sasmito (63 tahun) yang  mengaku tahun ini hasilnya lebih bagus dari tahun kemarin. ”Tahun lalu, sawah saya yang cuma ¼ hektar ini cuma dapatkan 35 sak, sekarang naik jadi 45 sak. Tapi ya karena hujan terus terpaksa kami jual langsung dari sawah. Harganya Rp3.300/Kg,” katanya

“Kalau cuaca baik, kami jemur sendiri, paling butuh waktu 3-5 hari. Harga yang kami dapat lebih tinggi. Kalau dijual ke gudang bisa Rp4000. Karena hujan terus, kalau kami jemur sendiri bisa 2 minggu lebih baru kering dan juga terancam gabahnya rusak,” ujarnya.

Dari 45 sak yang beratnya hampir 2 ton  bisa diperoleh pendapatan sebesar hampir Rp6.6juta. Dipotong biaya panen Rp850ribu serta biaya tanam dan perawatan Rp2.5juta, terdapat sisa Rp3.25juta.

Jika cuaca mendukung dari dua ton tersebut akan susut 10% dengan hasil bersih menjadi 1,9 ton. Dengan harga Rp4000/kg, maka akan didapat hasil Rp7.6juta. Dipotong biaya jemur Rp200 ribu, terdapat sisa Rp4.05 juta. Dengan begitu, jika cuaca buruk, petani menerima hasil sekitar satu juta rupiah lebih rendah dibanding saat cuaca mendukung.

Mengingat anomali cuaca yang tidak menentu dan potensial menimbulkan dampak buruk bagi kehidupan rakyat, pemerintah seharusnya jeli. Sudah seharusnya petani dibantu dalam penanganan pasca panen dengan  bantuan alat pengeringan padi baik yang produksi pabrikan maupun hasil kretivitas sendiri. Repotnya bantuan traktor untuk petani di Lamongan dipungli oknum aparat dan kasusnya tengah diproses di kepolisian.

Lebih dari itu, patut disayangkan jika dalam APBD 2017, Pemkab Lamongan hanya menanggarkan Rp15 miliar saja untuk “pembangunan” pertanian.  Bahkan, tidak ada program untuk mengatasi anomali cuaca. Pemkab Lamongan sepertinya lebih tertarik membuat gedung seharga Rp150 miliar. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here