Cuaca Ekstrim, Gunungkidul Dikepung Banjir

0
1310
Sebuah rumah di Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul hanya terlihat atapnya karena terendam banjir pada Selasa (28/11) siang FOTO SURANTO

Nusantara.news, YogyakartaCuaca ekstrim yang diumumkan oleh Stasiun Klimatologi Mlati Sleman akan datangnya hujan deras di sebagian besar wilayah Gunungkidul sejak Senin (27/11) terbukti benar. Banjir dikabarkan menggenangi sejumlah Kecamatan di Gunungkidul, antara lain Tanjungsari, Semanu, Wonosari, Karangmojo dan Ponjong.

Lewat pantauan di WhatsApp Group alumni SMA 2 Wonosari dan Alumni SMPN Ponjong, banjir menggenang hampir di sebagian ruas jalan utama di sejumlah Kecamatan di Gunungkidul. Banjir juga merendam areal persawahan di Desa Genjahan, Kecamatan Ponjong. Debit air Sungai Gremeng yang mengairi areal persawahan sepanjang Umbulrejo, Genjahan hingga pedukuhan Ngagel, Karangmojo dikabarkan meluap.

Areal pertanian di Desa Genjahan, Kecamatan Ponjong, tergenang air

Jalanan Yogya-Wonosari dikabarkan sempat terputus oleh pohon tumbang. Genangan air yang cukup tinggi juga mengguyur Jalan Raya Semanu yang tembus ke Praci, Kabupaten Wonogirim hingga Kabupaten pacitan, Jawa Timur. Sejumlah rumah di Semanu hanya terlihat atapnya.

Di Kecamatan Tanjungsari, ruas jalan menuju Pantai Baron dikabarkan tergenang banjir setinggi sekitar 50 meter. Bahkan siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) I Tanjungsari yang berlokasi di Pedukuhan Rejosari, Desa Kemadang, tampak sibuk mengevakuasi sejumlah peralatan seperti komputer agar tidak tergenang.

Berdasarkan keterangan kepala sekolah SMKN I Tanjungsari Sudiarto, hujana deras yang mengguyur wilayah perbukitan seribu membuat debit air terus meningkat. Sejak Selasa (28/11) pukul 05.00 WIB air terus meluap ke jalan raya dan mengalir ke kompleks sekolah.

“Genangan air paling rendah sekitar 60 cm, bahkan di lapangan bola bisa mencapai 2 meteran,” ucap Sudiarto kepada sumber nusantara.news di Tanjungsari, Selasa (28/11) pagi.

Padahal saat banjir menggenang tercatat 247 siswa yang sekolah SMK jurusan pelayaran itu dijadwalkan mengikuti ujian akhir semester mata pelajaran berbasis komputer. Karena kondisi tidak memungkinkan ujian akhir semester ditunda hingga waktu memungkinkan.

Halaman depan SMKN I Tanjungsari yang masih tergenang air. Di areal sekolah air bahkan mencapai 2 meter

Sudiarto sendiri mencatat, tahun 2016 lalu sekolahnya dua kali kebanjiran. Pertama pada 18 Juni dan yang kedua pada 2 Desember. Untuk mencegahnya, Kepala sekolah ini pernah mengusulkan pembuatan pagar penahan banjir dan meninggikan ruang kelas.

Mengutip keterangan Samiyo, warga yang tinggal di dekat SMKN I, biasanya setiap hujan deras air yang tumpah langsung masuk ke luweng di dekat sekolah. Diduga karena tingginya debit air dan semakin banyak orang membuang sampah ke luweng membuat air meluap.

Ternyata bukan hanya di sekitar SMKN I saja yang terkepung banjir. Melainkan juga di Pedukuhan Padangan, Desa Bandarejo. Ketinggian air di pedukuhan itu mencapai rata-rata 70-an cm. Tercatat 7 rumah tergenang air. Jalan raya depan Balai Desa Bandarejo terputus oleh genangan yang membuat mogok kendaraan.

Selain di Tanjungsari, khususnya jalan raya ke arah pantai Baron yang terputus oleh genangan setinggi 60-an cm, hujan deras sejak kemarin sore membuat Sungai Besole di Kota Wonosari meluap. Sejumlah rumah warga di Dusun Ringinsari terendam banjir. Warga tidak menyangka sungai yang biasanya kering itu meluap.

“Ya, seumur-umur tinggal di sini baru sekarang saya lmelihat luapan air separah ini,” ucap Sunarto (41) yang mengaku tinggal di dusun Ringinsari. Memang setiap hujan deras, beber Sunarto, debit air berwarna kecoklatan itu meninggi tapi tidak pernah meluber seperti sekarang.

Hujan memang mengguyur Kota Wonosari, ibu kota Kabupaten Gunungkidul, sejak Senin (27/11) kemarin. Sempat berhenti sebentar namun sejak pukul 05.00 pagi kembali turun hujan deras hingga Selasa (28/11) siang tadi,

Sejumlah rumah warga di Pedukuhan Rejosari, Desa Baleharjo juga dikabarkan terendam air. Penyebab tak lain karena selokan besar tidak mampu menampung debit air yang meluap. Akses jalan lingkungan sempat ditutup karena dinilai membahayakan keselamatan penggunanya.

Selain Rejosari, sejumlah rumah warga di Pedukuhan Mulyosari juga digenangi banjir. Banjir juga merendam sebagian lokasi di kompleks RSUD Jeruksari, Desa Kepek. Lorong-lorong menuju pasien rawat inap untuk beberapa saat juga tergenang banjir.

Penyair Sitok Srengenge sedang berpose di genangan air yang menggenangi pekarangan rumahnya

Di akun Facebook penyair SItok Srengenge di Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, terlihat gambar hujan menggenangi taman yang sedang dia bangun. Tampak Sitok Srengenge berpose di genangan air yang meluap setinggi lututnya.

Datangnya curah hujan yang tinggi dalam kategori cuaca ekstrim itu sudah diumumkan oleh Stasiun Klimatologi Mlati Sleman, Yogyakarta. Peringatan diri cuaca ekstrim itu berlaku sejak 27 hingga 29 November 2017.

Penyebab cuaca ekstrim itu adalah. Pertama, munculnya Badai CEMPAKA di perairan Selatan Jawa mengakibatkan area belokan angin yang menyebabkan peningkatan pertumbuhan awan hujan. Dan kedua, aliran masa udara basah dari barat menyebabkan kondisi udara di sekitar Jawa dan D.I. Yogyakarta menjadi sangat tidak stabil.

Interaksi dari kedua fenomena di atas menyebabkan potensi cuaca ekstrim di sekitar wilayah D.I. Yogyakarta antara lain potensi hujan lebat di sebagian besar Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, Kabupaten Kulonprogo, Bantul bagian selatan dan sebagian besar Gunungkidul,

Potensi angin kencang dan puttng beliung mengintai sebagian besar Kabupaten Sleman, sebagian besar Kabupaten Kulon Progo, sebagian besar Kabupaten Gunung Kidul. Dan potensi gelombang setinggi 2,5 – 6 meter akan membidik pantai selatan Daerah Istimewa Yogyakarta. Disarankan nelayan tidak melaut.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here