Curhat Jokowi Soal Investasi Arab di China, Indikasi Lepaskan Diri dari Politik Tumpang Sari Ahok?

0
360

 

Nusantara.news, Jakarta – Jarang sekali atau sepertinya malah tidak pernah Presiden Jokowi  bicara soal China. Karena itu menjadi menarik dipertanyakan curhat Jokowi di Pesantren Buntet, Cirebon, Kamis  (13/4/2017), tentang investasi Arab Saudi ke China yang jauh lebih jauh lebih besar ketimbang ke Indonesia seperti yang dijanjikan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud saat datang ke Indonesia beberapa waktu lalu. Jokowi terkesan iri China yang dapat dana investasi lebih besar? Apakah hal ini dapat dibaca sebagai sinyal Jokowi mulai mengubah sikapnya terhadap China sebagai mitra utama pembangunan Indonesia?

Curhatan Jokowi

Ichwal hubungan Pemerintah Indonesia di bawah Presiden Jokowi yang begitu dekat dengan Pemerintah China sudah menjadi pengetahuan publik. Isu isu China mendominasi isu-isu politik penting Indonesia sejak Jokowi. Antara lain terkait kedatangan 60 konglomerat ke PDIP sehari sebelum pencapresan Jokowi. Kemudian langkah Pemerintah Indonesia yang kembali berutang US$3 miliar (setara Rp40 triliun) kepada China yang ditandatangani tiga bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yakni Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia, dan Bank Rakyat Indonesia, disaksikan Menteri BUMN Rini Soemarno di Beijing, pada 16 September 2015. Kehadiran Forum Bhayangkara Indoensaia (FBI) yang disebut-sebut ormas China di Indonesia, tenaga kerja China yang masuk secara ilegal, pembangunan rel ganda kereta api Jakarta-Bandung yang sudah sempat di-ground breaking (peresmian peletakan batu pertama pembangunan) oleh Jokowi dan lain sebagainya.

Sejak Jokowi, memang pula sangat santer pembicaraan bahwa Pemerintah Indonesia yang sejak Orde Baru bermitra utama dengan Amerika Serikat, berubah dan bermitra utama dengan China.

Hal ini memang pula sesuai dengan pernyataan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, saat bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing, Kamis (15/10/2015) yang menyatakan Indonesia dan China sepakat  terus memantapkan kemitraan strategis komprehensif dan dijabarkan lebih nyata lagi, sehingga menguntungkan kedua pihak

“China memiliki proyek Jalur Sutra Maritim Abad 21, dan kita memiliki proyek Poros Maritim. Ini peluang sangat bagus bagi Indonesia untuk bisa mengembangkan diri, tentu dengan tetap melihat peluang yang sesuai dengan kebutuhan kita,” kata Mega ketika itu.

Curhatan Jokowi cukup serius, karena menyebut nyebut bagaimana ia memayungi Raja Salman di Istana Bogor sampai ia kebasahan,dan menyupiri saat berada di Istana negara Jakarta.

Namun, saat Raja Salman bertandang ke Negeri Tirai Bambu, nilai investasi Arab Saudi di China rupanya jauh lebih besar ketimbang investasi di Indonesia.

“Investasi Saudi ke Indonesia Rp 89 triliun. Tapi ya saya lebih kaget saat beliau ke Tiongkok, ke China yang beliau tanda tangani Rp 870 triliun,” kata Jokowi.

Betul, yang salah bukan China-nya melainkan kebijakan Arab Saudi-nya. Tetapi sebagai mitra strategis komprehensif, Jokowi rasanya tidak elok bersungut-sungut  bernada iri seperti itu. Sebagai mitra utama,  lebih elok Jokowi pura pura tidak tahu, atau senyum senyum jika negara mitranya, China diberkahi dana investasi dalam jumlah besar.

Oleh sebab itu, menjadi patut dipertanyakan, mengapa Jokowi memperlihatkan sikap iri seperti itu? Apakah ini pertanda Jokowi mulai mengubah sikapnya terhadap Pemerintah China?

Melepaskan Diri dari Politik Tumpang Sari Ahok

Mengubah sikap terhadap China, cukup masuk akal. Sebab isu-isu tentang China yang hiruk pikuk, nyaris semuanya bernada negatif. Sebut misalnya ormas China Forum Bhayangkara Indonesia (FBI) yang dituding ingin menjadi pengawal pengusaha China di indonesia. Tenaga kerja China yang masuk ke Indonesia secara ilegal, dituding akan menguasai lapangan kerja Indonesia.

Ketika Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok terbelit kasus reklamasi yang dilanjutkan kasus penistaan agama terkait Al-maidah 51 yang diucapkan di Kepulauan Seribu, isu tentang China berekskalasi kian hitam bahkan hitam pekat.

Hitam pekatnya isu China ini menjadi masuk akal jika Jokowi mulai gerah. Betapapun Jokowi dan Ahok berada dalam satu paket, tapi antara Ahok dan Jokowi berbeda dalam banyak hal.

Ahok China sementara Jokowi Jawa. Ahok Kristen, Jokowi Islam. Ahok dari Belitung Timur (Sumatera) Jokowi Jawa (Solo).   Dari segi ini saja, Jokowi jauh lebih dapat diterima oleh publik Indonesia ketimbang Ahok yang tak kenal kata kapok dan tak punya sense politik karena tetap ngotot walau nyata-nyata ditentang oleh umat Islam.

Dari posisi politik, Jokowi sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara jauh melampaui posisi politik Ahok, bahkan posisi politik gabungan China perantauan yang diduga mendukugnya saat maju sebagai capres.

Kekuasaan yang sekarang berada dalam genggaman Jokowi membuatnya memiliki ruang untuk memainkan sebuah manuver politik radikal baik untuk karir politiknya sendiri maupun untuk bangsa Indonesia.

Hal ini sangat mungkin terjadi, karena siapapun tidak nyaman apabila terus dituding sebagai presiden boneka. Lagi pula dalam politik praktis dikenal prinsip tidak ada kawan abadi, tidak ada lawan abadi. Yang abadi adalah kepentingan.

Melepaskan diri dari pohon induk tumpang sari politik Ahok, dari segi hitung-hitungan politik juga lebih menguntungkan bagi Jokowi dalam rangka Pemilihan Presiden 2019. Sebab, peluangnya dipilih pada Pilres 2019 mendatang tergerus jika terus diganduli isu China dan Kristen yang nyata-nyara bertentangan dengan arus besar opini publik.

Sebaliknya, dengan kekuasaan di tangan sekarang ini, Jokowi bisa  bermanuver misalnya menggenggam Partai Golkar yang ketua umumnya sudah dicekal oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan sejumlah manuver lainnya.

Bola politik masih bundar. Pernyataannya yang bernada iri terhadap China, tidak tertutup kemungkinan merupakan indikasi dini atau sinyal dini bahwa Jokowi mulai melepaskan diri dari paket Jokowi-Ahok, melepaskan diri dari tudingan presiden boneka, melepaskan diri dari pohon induk politik tumpang sari Ahok, menuju sebuah jalan politik yang lebih mandiri, sekaligus mengubah posisi China sebagai negara mitra strategis komprehensif. []

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here