Dahsyatnya Dampak Kenaikan Tiket dan Bagasi Pesawat Domestik

0
284
Hukum kanibalisme sedang berlaku di industri penerbangan setelah menaikkan tarif pada gilirannya membawa dampak buruk yang panjang ke industri pendukungnya.

Nusantara.news, Jakarta –  Sudah jatuh, terimpa tangga pula, itulah nasib para penumpang pewasat domestik. Betapa tidak, sejak beberapa bulan terakhir industri penerbangan, khususnya untuk penerbangan low cost carrier, telah menaikan harga tiket pesawat rerata di atas Rp1 juta. Bahkan belakangan memberlakukan tarif bagasi penumpang.

Tentu saja kebijakan masing-masing perusahaan penerbangan lokal ini memiliki multiplier effect yang luas baik untuk penumpang, industri, dan segala sesuatu yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan industri penerbangan. Bahkan pada akhirnya boleh jadi akan memukul iindustri penerbangan itu sendiri.

Ihwal kenaikan harga tiket pesawat domestik dipicu oleh perang harga bertahun-tahu lalu, terutama dimotori oleh low cost carrier Lion Air. Lalu diikuti Air Asia, Citilink, Sriwijaya Air, Wings dan seterusnya.

Pada periode ini penumpang seperti dimanjakan, karena hendak ke ibukota atau mudik lebaran, bahkan pembantu rumah tangga sekalipun, mampu membeli tiket pesawat murah. Namun ketika harga minyak dunia melonjak hingga US$80 per barel, maka ikut berdampak pada kenaikan harga avtur. Ditambah pula nilai tukar rupiah anjlog tajam pada 2018 sekitar 13% dan sempat menyentuh level terlemah di Rp15.260 per dolar AS.

Oleh karena berbahan bakar avtur plus menggunakan dolar AS dalam segala aktivitas penerbangan, sehingga industri penerbangan menghadapi high cost economy. Awal Desember 2018 adalah periode terberat bagi industri penerbangan sehingga membukukan kinerja keuangan defisit.

Untu memulihkan keadaan, industri penerbangan pun menaikkan tarif dari berkisar Rp300.000 menjadi rerrata di atas Rp1 juta per penerbangan. Range kenaikan tiket pesawat domestik antara 300% hingga 500%, karuan saja kenaikan tarif yang ugal-ugalan ini, diikuti oleh pengenaan biaya bagasi hingga 25 kg, memberi pukulan sangat berarti bagi penumpang.

Saking mahalnya tiket dan ongkos bagasi, terkadang biaya bagasi lebih mahal dari tiket. Sehingga seringkali penumpang meninggalkan bagasinya di bandara karena tak sanggup membayar biaya bagasi. Bahkan dampaknya kini makin meluas, setidaknya ada 10 segmen kehidupan yang mengalami dampak negatif dari kenaikan harga tiket dan bagasi pesawat domestik ini.

Pertama, terjadi penurunan penumpang yang signifikan. Di Pekanbaru saja sejak 1 hingga 14 Januari 2019 terjadi 233 kali pembatalan penerbangan yang datang maupun berangkat. Hal itu dipicu oleh sedikitnya penumpang, sementara low cost carrier mengandalkan jumlah penumpang penuh dapat segera terbang.

Sepanjang Januari 2019 saja, jumlah penumpang domestik turun 4,5 juta orang atau turun berkisar 30% hingga 65% di masing-masing daerah. Jika dihitung hingga Februari 2019 boleh jadi jumlah penurunan penumpang bisa meningkat dua kali lipatnya. Di-13 bandara besar di Indonesia rerata penurunan penumpang mencapai 11%, satu angka penurunan yang besar.

Kedua, mengganggu ekosistem pariwisata lokal. Sejak tiket pesawat domestik naik, jumlah orang berwisata di dalam negeri merosot tajam. Menteri Pariwisata Arief Yahya mengeluhkan tujuan wisata domestik belakangan turun 30% sejak tiket pesawat mahal.

Ketiga, tingkat hunian hotel merosot hingga 50%. Arief juga menyebutkan occupancy rate hotel juga merosot tajam 30% hingga 50%, terutama dialami di akhir tahun 2018 lalu. Penurunan occupancy rate hotel ini masih berlangsung hingga hari ini.

Keempat, banyak biro perjalanan gulug tikar. Ian Hanafiah, Ketua Association of The Indonesia Tour and Travel Agencies (Asita) Sumatra Barat menyebut sudah ada anggota organisasi tersebut yang gulung tikar, karena masifnya dampak kenaikan harga tiket pesawat tersebut.

Kelima, terjadi penurunan omzet rumah makan dan restoran besar dan kecil. Tidak bisa dipungkiri, imbas kenaikan tiket dan biaya bagasi, membuat jumlah orang berkunjung di wisata lokal menurun. Hal ini tentu saja menurunkan jumlah pembelian makan lokal seiring dengan penurunan orang berkunjung tersebut.

Keenam, terjadi peralihan kunjungan domestik harus mampir dulu ke luar negeri agar ongkos lebih murah. Seperti tiket pesawat Jakarta-Padang pergi-pulang mencapai Rp4 juta per orang. Tapi kalau harus mampir ke Malaysia atau Singapura justru harga tiket pesawat 5 kali lebih murah, yakni hanya Rp800 ribu atau paling mahal Rp900 ribu tergantung pesawat yang ditumpangi.

Ketujuh, turunnya jumlah bagasi. Tidak hanya jumlah penumpang, jumlah muat bagasi dan barang angkutan udara domestik di Kepulauan Riau juga mengalami penurunan 8,44% dari 4.389,05 ton dibulan Oktober menjadi 4.018,51 ton bulan November 2018. Hingga hari ini penurunan itu lebih tajam, tinggal 2.071,12 ton saja.

Kedelapan, membuat porter kehilangan pekerjaan. Seorang porter dimasa normal bisa memperoleh penghasilan Rp100 ribu hingga Rp200 ribu sehari. Dengan sedikitnya jumlah bagasi hari ini, penghasilan mereka anjlog hanya berkisar Rp20 ribu hingga Rp50 ribu, itupun setelah berebutan dengan porter lainnya. Bahkan sudah banyak porter yang harus kehilangan pekerjaannya karena makin sulit mendapat order angkut barang bawaan.

Kesemblian, penumpang Damri yang relatif murah pun ikut terpukul. Damri yang setiap hari selalu dinaiki penuh oleh penumpang dari bandara Cengkareng, kini tak lebih dari separohnya saja. Fenomena ini juga terjadi di-13 bandara lainnya di tanah air.

Kesepuluh, apalagi sopir taksi atau taksi online yang ongkosnya lebih mahal benar-benar habis terpukul. Jika sebelumnya seorang penumpang bisa naik taksi dengan membawa banyak barang, kini kalaupun ada penumpang hanya membawa satu ransel atau koper kecil, itupun jarang sekali.

Jika demikian halnya, lantas untung apa yang diperoleh perusahaan penerbangan dari menaikkan harga tiket dan biaya bagasi? Mungkin dalam jangka pendek sedikit bisa menutup negatif yang besar di masa lalu. Tapi tidak terlallu lama mungkin, akhirnya ikut terpukul oleh karena jumlah penumpang yang terus merosot.

Itu sebabnya, Kementerian Perhubungan harus mengumpukan semua stakeholder industri untuk duduk bersama, melakukan simulasi terbaik agar industri ini tidak saling hantam, tidak saling memakan satu sama lain. Salah kelola di industri penerbangan bisa berdampak pada saling bunuh, atau kanibalisme, di lintas industri pendukung penerbangan itu sendiri.

Mumpung belum terlambat, langkah Garuda dan Citilink menurunkan tarif 20% cukup kondusif mengurangi tekanan biaya penumpang. Namun jika dibandingkan kenaikan yang dilakukan sebelumnya antara 300% hingga 500%, tentu penurunan tiket pesawat tersebut belum cukup berarti.

Masih diperlukan langkah bersama untuk menyelamatkan industri penerbangan. Jangan sampai ketika satu, dua, tiga airline harus tutup, baru diambil tindakan. Better late than never, lebih baik telat daripada tidak pernah melakukan apapun sama sekali wahai Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here