Energi Ekonomi Reuni Akbar PA 212 (1)

Dahsyatnya Gerakan 212 Bisa Menggerakkan Roda Ekonomi

0
96
Dampak ekonomi gerakan 212 ternyata cukup luas dan melinatkan banyak orang. Itu sebabnya ke depan ini harus dikelola dengan baik agar menjadi energi ekonomi umat yang besar.

Nusantara.news, Jakarta – Reuni Akbar Persatuan Alumni (PA) 212 baru saja usai. Warga muslim dan non muslim yang hadir dalam perhelatan akbar itu cukup fantastik, tentu jumlah manusia yang banyak itu membawa berkah di sektor ekonomi. Apa saja berkah ekonomi yang menetes dari energi 212?

Tidak bisa dipungkiri, gerakan 212 benar-benar menjadi gerakan fenomenal. Belum pernah ada gerakan yang dilakukan jutaan manusia yang damai, bersahabat dan memukau sebanyak itu. Tak hanya lalu lintas terjaga, gedung-gedung aman, tak ada sampah, tapi juga rumput-rumput di sekitar Monas pun terjaga kehidupannya.

Walaupun gerakan itu diboikot oleh tivi maupun media cetak lokal, namun sejumlah tivi dan media internasional justru menjadikan gerakan 212 sebagai headline dan breaking news di tempatnya masing-masing.

Ada perdebatan serius mengenai berapa jumlah keikutsertaan manusia dalam hajatan tahunan yang dimulai pada 2 Desember 2016. Ada yang menyebut 7,4 juta, ada yang bilang 10 juta, bahkan ada yang menghitung 14,3 juta. Whatever berapa pun jumlahnya tentu semua punya dasar perhitungan dan rasionalitas yang mendasarinya.

Seperti Profesor Ilmu Pengetahuan tentang Kerumunan/Massa dari Universitas Metropolitan Manchester Dr. G. Keith Still memberikan panduan terkait batas keamanan dalam kerumunan, yaitu dua orang per meter persegi, dan untuk antrean adalah empat orang per meter persegi.

Sebelum menghitung estimasi jumlah umat dalam #Aksi212, setidaknya ada 10 konsentrasi massa terbesar yang tercatat dalam sejarah modern dunia. Pertama, ibadah 12 tahunan Kumbh Mela pada 2013. Sebanyak 30 juta umat Hindu mendatangi Uttar Pradesh di utara India.

Kedua, festival Arbaeen di Iraq pada 2014 yang dihadiri sekitar 17 juta orang. Posisi ketiga, agenda pemakaman CN Annadural di India yang diperkirakan dihadiri 15 juta orang.

Keempat dan selanjutnya, pemakaman Ayatollah Khomeini di Iran pada 1989 dihadiri 10 juta orang; penyambutan Paus di Manila, Filipina, pada 2015 disaksikan 6 juta orang; World Youth Day juga di Filipina dalam rangka menyambut kedatangan Paus John Paul II pada 1995; pemakaman Gamal Abdul Nassser pada 1970 dihadiri 5 juta orang; konser Rod Stewart di Brazil pada 1994.

Kesembilan adalah ibadah Haji 2012 di Mekkah yang diestimasi mencapai 3 juta orang. Kesepuluh, parade Anti Perang 2003 di Roma yang menolak invasi Amerika Serikat atas Irak hadiri nyaris 3 juta orang.

Kalkulasi peserta 212

Ketua Panitia Maulid dan PA 212 Bernard Abdul Jabbar memperkirakan jumlah peserta yang hadir mencapai 8 juta hingga 10 juta. Mereka berasal sejumlah ormas, partai, kelompok pengajian, artis, dan para eksekutif muda dari sejumlah kota besar, serta kaum muslimin dari manca-negara.

Sementara Kapolres Jakarta Pusat Kombes Suyudi memperkirakan massa peserta 212 hanya 30.000. Ini tentu pernyataan yang mengecil-ngecilkan, karena aparat terpadu yang ditugasi mengawal acara tersebut mencapai 40.000. Jubir PSI Mohammad Guntur Romli malah mengatakan peserta 212 tak lebih banyak dari peserta tari poco-poco, seperti tak ikhlas melihat realitas.

Termasuk Prof. Muradi dari Univesitas Pajajaran menyebut jumlah peserta maksimum 40.000. Ternyata Muradi lupa jumlah 40.000 adalah jumlah aparat gabungan yang mengawal perhelatan akbar 212. Indonesia Corruuption Watch (ICW) yang biasa mengawasi korupsi ternyata juga mengorupsi data peserta yang dinyatakan hanya 20.000 orang saja tanpa menjelaskan metodologi perhitungannya.

Jelas narasi mengenai jumlah peserta gerakan 212 asal tebak, cucokologi, dan asal mangap, tentu susah dijadikan sebagai dasar. Ada pula yang menghitung secara metodologis dan lebih meyakinkan.

Seperti aktivis Iwan Piliang yang bersumber dari jumlah International Mobile Equipment Identity (IMEI) telepon genggam peserta reuni akbar PA 212 yang didapat dari Mobile Switching Central (MSC) atau pusat operatornya masing-masing.

Dari data tersebut didapat informasi akurat jika jumlah peserta reuni akbar PA 212 kemarin adalah sebanyak 13,4 Juta jiwa. Jadi bukan 8 juta, bukan 10 juta, tapi 13,4 juta.

Berdasarkan perhitungan Google Earth yang mendasari perhitungannya dari kerapatan manusia yang dipotret lewat satelit diperkirakan mencapai 14,2 juta. Angka ini mendekati dengan perhitungan pusat operator yang di-quote oleh Iwan Piliang.

Lepas dari perbedaan jumlah peserta reuni akbar PA 212, yang jelas jumlahnya spektakuler, dan ini tentu saja memiliki multiplier effect perekonomian yang luar biasa.[bersambung]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here