Analisis Berita

Dalam 5 Tahun Terakhir AS Kuasai Sepertiga Volume Ekspor Senjata di Dunia

0
205

Nusantara.news, Jakarta – Berakhirnya era Perang Dingin yang ditandai oleh bubarnya Uni Soviet di tahun 1991 secara umum dimaknai sebagai meredanya ketegangan politik dunia. Era pasca Perang Dingin oleh banyak kalangan diharapkan akan mendorong terciptanya kondisi politik global yang lebih aman dan stabil.

Implikasi dari harapan ini tertuju pada berkurangnya budget dan produksi perangkat militer di satu sisi serta meningkatnya alokasi belanja publik bagi upaya pemenuhnan kesejahteraan masyarakat di sisi lain.

Namun, berbeda dengan harapan banyak kalangan, perdagangan global perangkat dan sistem senjata utama selama lima tahun terakhir ini justru mengalami kenaikan volume yang relatif pesat sejak berakhirnya Perang Dingin.

Bahkan, kenaikan tersebut merupakan titik tertinggi sejak Perang Dingin. Fakta ini merupakan temuan studi mutakhir yang dilakukan oleh SIPRI (Stockholm International Peace Research Institute), sebuah lembaga kajian strategis ternama di dunia yang berkedudukan di Stockholm, Swedia.

Dalam laporan yang diberi tajuk SIPRI Year Book 2016 itu lembaga ini mencatat lebih banyak senjata yang diekspor dalam periode 2012 hingga 2016 dibandingkan periode lima tahun sejak 1990.

Laporan yang resmi diterbitkan Senin (20-02-2017) ini mengungkap bahwa Arab Saudi tercatat sebagai negara yang mengalami kenaikan volume impor senjata paling tinggi di dunia. Selama lima tahun terakhir, volume belanja militer negeri ini mengalami kenaikan sebesar 212% atau naik rata-rata 40% per tahun.

Namun demikian, dari segi proporsi impor senjata dalam skala global Arab Saudi berada di bawah India. Dalam impor senjata India berada pada posisi tertinggi dengan global share sebesar 14%, disusul oleh Arab Saudi dengan global share sebesar 7%.

Negara Timur Tengah lainnya, yaitu Uni Emirat Arab memiliki global share impor senjata sebesar 4.6%, sementara Turki mengambil porsi sebesar 3.4%. Negara-negara ini hampir sepenuhnya mengandalkan AS dan Inggris sebagai pemasok utama peralatan militer mereka.

“Selama lima tahun terakhir, sebagian besar negara di Timur Tengah telah berpaling terutama ke Amerika Serikat dan Eropa untuk mengejar akselerasi mereka untuk memperoleh peralatan militer canggih”, kata Pieter Wezeman, salah seorang peneliti senior SIPRI.

Ironisnya, tingkat permintaan terhadap persenjataan canggih di Timur Tengah justru muncul bersamaan dengan jatuhnya harga minyak bumi—yang selama ini menjadi andalan pemasukan negara. “Meskipun harga minyak rendah, negara-negara di kawasan itu terus memesan lebih banyak senjata pada tahun 2016 sebagai alat penting untuk menangani konflik dan ketegangan regional,” ujar Wezeman pada Senin (20-02-2017) di Stockholm, Swedia.

Dalam global share impor senjata, sebagaimana dilaporkan SIPRI, RRC menduduki posisi ke tiga (4.7%). Namun, negeri ini ternyata juga memiliki global share ekspor senjata ke tiga terbesar di dunia (5.9%).

Hal ini mengindikasikan bahwa RRC telah tumbuh menjadi salah satu pemain kunci dalam perdagangan senjata berskala global—meskipun negeri ini masih tergantung impor beberapa komponen peralatan militer. Sambil mengurangi ketergantungannya dari impor peralatan militer, negeri ini semakin mengandalkan kemampuan domestiknya untuk mengembangkan kemampuan memproduksi peralatan militer.

Aktor Lama

Dalam global share ekspor senjata posisi AS masih belum tergoyahkan. Sepertiga ekspor senjata dunia atau sekitar 33% sejak 2011 hingga 2015 berasal dari AS.

Sementara itu, Rusia yang merupakan rival utama AS menduduki tempat ke dua dalam global share ekspor senjata. Dalam periode 2011 – 2015 para produsen senjata Rusia mengambil porsi seperempat volume ekspor dunia. Posisi berikutnya masing-masing ditempati oleh Perancis (5.6%) dan Jerman (4.7%) sebagai negara ekspotir senjata nomor 4 dan nomor 5 terbesar di dunia.

Menurut catatan SIPRI, berdasarkan omzet penjualan, dari 10 produsen senjata terbesar di dunia 7 diantaranya adalah perusahaan asal AS. Dari 7 perusahaan asal AS tersebut nama-nama besar yang selama ini dikenal sebagai produsen senjata masih tetap dominan. Beberapa diantaranya adalah Loockheed Martin, Boeing, Northrop Grumman dan General Dynamics.

Berdasarkan peringkat omzet penjualan, Lockheed Martin menduduki posisi pertama. Korporasi yang di masa lalu kerap terlibat praktik penyuapan dalam penjualan senjata keluar negeri ini meraih omzet penjualan senjata terbesar di dunia di tahun 2014 dengan nilai mencapai U$37.479 miliar.

Tempat ke dua diduduki oleh Boeing dengan omzet sebesar U$28.300 miliar, kemudian disusul oleh Raytheon, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang sistem IT, dengan omzet penjualan sebesar U$21.730 miliar.

Sementara itu BAE System asal Inggris, Airbus (perusahaan gabungan dari Inggris, Jerman, Perancis dan Spanyol)  serta Finmeccanica asal Italia masing-masing menempati posisi ke 4, ke 7 dan ke 9 sebagai perusahaan produsen senjata dengan omzet penjualan terbesar di dunia.

Konflik Regional

Tidak hanya kenaikan dalam volume perdagangan senjata di dunia, SIPRI juga mencatat bahwa dalam tiga tahun belakangan ini konflik regional, terutama di kawasan Timur Tengah, telah mengalami eskalasi.

Konflik yang melibatkan unsur-unsur Islam radikal yang melakukan pemberontakan bersenjata di Irak dan Suriah—sebagai rangkaian dari “Arab Springs”—dinilai ikut menyumbang bagi meningkatnya volume ekspor senjata dalam beberapa tahun belakangan ini ke kawasan tersebut.

Dilatarbelakangi oleh kondisi semacam itu SIPRI mencatat bahwa kawasan Timur Tengah tergolong zona paling berbahaya dibandingkan dengan kawasan manapun di dunia. Intensitas penggunaan senjata di kawasan ini juga paling tinggi di dunia dalam 3 tahun terakhir.

Menurut studi SIPRI, sekalipun kelompok-kelompok teroris gagal meraih kemenangan di Irak dan Suriah, mereka tetap merupakan ancaman bagi stabilitas dan keamanan dunia. Efek konlfik dan kekerasan bersenjata di Timur Tengah potensial menyebar ke berbagai belahan dunia. [] Disarikan dari SIPRI Year Book 2016, Armaments, Disarmaments, and International Security (Stockholm: SIPRI, 2017) dan beberapa sumber lain.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here