Dampak Brexit: Pengusaha Inggris Khawatir Kekurangan Tenaga Kerja

0
119
Pekerja di London berjalan di tengah hujan. (Foto: Reuters)

Nusantara.news, London –  Proses British Exit (Brexit) atau berpisahnya Inggris dari blok Uni Eropa bakal segera dimulai. Rencananya Perdana Menteri Inggris Theresa May akan mengawali proses negosiasi tersebut pada akhir Maret 2017. Namun, sejumlah perusahaan di Inggris sudah mulai mengkhawatirkan sulitnya mendapatkan tenaga kerja, yang selama ini berasal dari negara-negara Uni Eropa.

Lebih dari seperempat pengusaha di Inggris mengatakan kekhawatiran mereka bahwa staf dan karyawan yang berasal dari dari negara-negara Uni Eropa lainnya akan meninggalkan perusahaan sepanjang tahun 2017 ini, setelah tahun lalu Inggris mengadakan referendum dan memutuskan untuk keluar dari blok Uni Eropa.

Menurut survei yang dilakukan Chartered Institute of Personnel and Development (CIPD) dengan melibatkan lebih dari 1.000 perusahaan, kekhawatiran meningkat pada pengusaha di bidang pendidikan (43%) dan sektor kesehatan (49%).

Namun demikian, CIPD mengatakan pasar tenaga kerja Inggris tetap kuat, tetapi keputusan meninggalkan Uni Eropa cenderung memaksa sejumlah perusahaan untuk memikirkan kembali strategi pelatihan terhadap staf dan karyawan mereka, karena di masa depan mereka akan lebih sedikit merekrut tenaga kerja dari luar Inggris atau pekerja dari negara-negara Uni Eropa.

Perdana Menteri Theresa May sebelumnya berjanji akan mengontrol lebih ketat lagi masalah imigrasi pada saat nanti Inggris sudah benar-benar meninggalkan blok Uni Eropa yang mungkin baru akan rampung prosesnya pada tahun 2019. Hal ini juga berarti, Inggris di tahun yang sama kehilangan haknya atas akses tak terbatas terhadap pasar tunggal Uni Eropa.

Data terbaru CIPD menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan di Inggris sangat bergantung pada buruh migran yang berasal dari sejumlah negara di Uni Eropa. Mereka setiap tahun berjuang untuk mengisi sejumlah lowongan pekerjaan di Inggris.

Perusahaan-perusahaan di bidang retail dan grosir, manufaktur, kesehatan dan akomodasi, serta perusahaan layanan makanan, menyumbang sekitar 45 persen buruh migran di Inggris pada akhir tahun 2016.

Gerwyn Davies, penasihat pasar tenaga kerja CIPD juga mengatakan, bahwa data CIPD juga menunjukkan, jumlah warga negara Uni Eropa dari luar Inggris yang mengisi pekerjaan di Inggris mulai melambat dalam tiga bulan sebelum September 2016, bulan-bulan tersebut adalah di mana hasil referendum telah menyatakan Inggris keluar dari UE.

“Hal ini menciptakan tantangan yang signifikan bagi perekrutan tenaga kerja di sektor-sektor yang secara historis mengandalkan tenaga kerja dari Uni Eropa non-Inggris. Tapi posisi mereka sangat rentan karena adanya perubahan kebijakan imigrasi Inggris setelah keluar dari Uni Eropa,” kata Davies.

Tanda-tanda kekurangan pekerja migran di Inggris sebetulnya telah muncul sejak tahun lalu, misalnya pada sektor pertanian di Inggris, tak lama setelah referendum Brexit bulan Juni 2016. Penurunan nilai pound, mata uang Inggris, membuat negara itu menjadi kurang menarik sebagai tujuan bagi para pencari kerja migran. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here