Dampak Politik Kasus Romi terhadap Jokowi-Ma’ruf Amin

0
447
Ketua Umum PPP Romahurmuziy (Romi) berada dalam satu pesawat dengan Presiden Jokowi

Nusantara.news, Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuzy alias Romi di Jawa Timur. Penangkapan petinggi salah satu partai pendukung petahana Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam Pilpres 2019 ini berlangsung dalam operasi tangkap tangan pada Jumat (15/3/2019) sekitar pukul 08.00 WIB di Kanwil Kementerian Agama Sidoarjo, Jawa Timur.

Romi lantas dibawa ke Markas Kepolisian Daerah Jawa Timur, Jalan Ahmad Yani, Surabaya untuk menjalani pemeriksaan. Terungkap kemudian, KPK menangkap pria kelahiran Sleman ini karena diduga terlibat dalam suap jabatan di lingkungan Kementerian Agama.

Penangkapan Romi pun mengejutkan sejumlah pihak, banyak yang tak menyangka politisi muda yang memiliki latar belakang NU cukup kuat tersandung kasus suap. Ia juga dikenal sebagai salah satu orang dekat capres petahana Jokowi. Namun bagi Lulung Lunggana, eks-pengurus PPP yang kecewa dengan kepemimpinan Romi, menyebut penangkapan itu sebagai balasan terhadap Romi yang dinilainya telah memecah belah PPP.

Tak ingin kasus Romi dikaitkan dengan Pilpres 2019, Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin, Erick Thohir buru-buru memberi keterangan bahwa penangkapan anggota Dewan Penasihat TKN itu tidak akan mempengaruhi elektabilitas pasangan calon nomor urut 01.”Tidak (terpengaruh). Harus dibedakan antara pribadi dengan pilpres,” ujar Erick.

Berbeda dengan Erick, Ketua Dewan Pengarah TKN yang juga wakil presiden, Jusuf Kalla (JK), tak memungkiri penangkapan Romi akan berdampak juga pada koalisi Jokowi-Ma’ruf Amin. “Ya pastilah, terutama efeknya ke PPP. Kalau PPP (terkena) efek, yang lain juga punya efek. Pasti,” jelasnya.

Sementara dari kubu oposisi, saat ditanya apakah kasus Romi menguntungkan kubu 02 jelang Pemilu 2019, cawapres Sandiaga Uno menjawab dengan bijak. “Saya nggak mau bicara sama sekali. Ini musibah, jangan kita ngambil kesimpulan seperti itu, belajarlah dewasa, it could happen to anyone, apalagi KPK bilang kalau mau OTT tiap hari juga bisa,” tegas Sandi.

Sebenarnya, tidak sekali ini saja Romi harus berurusan dengan lembaga antirasush itu. Sebelumnya, KPK juga pernah memanggil Romi pada tahun 2014 lalu. Pemilik harta kekayaan 11 miliar ini diduga terlibat dalam kasus alih fungsi hutan Riau seluas 1.6 juta hektar. Romi pada waktu itu menjabat sebagai Ketua Komisi IV DPR RI yang memiliki lingkup tugas di bidang pertanian, pangan, maritim, dan kehutanan.

Pada Agustus 2018, Romi juga diperiksa KPK sebagai saksi dalam kasus dugaan suap usulan dana perimbangan keuangan daerah pada RAPBN Perubahan Tahun Anggaran 2018.

Tumbangnya Romi “Si Gatot Kaca”: Gaya Ketua Umum PPP Romahurmuziy (Romi) berkostum Gatot Kaca saat menghadiri acara Deklarasi Kampanye Damai Pemilu Serentak

Elektabilitas Petahana Tergerus

Tentu saja, penangkapan Romi dalam perkara korupsi sangat memalukan. Betapa tidak, orang nomor satu di partai berbasis Islam dan punya rekam jejak keagamaan yang panjang, harus terciduk atas dugaan kejahatan hina. Kasus ini seakan menambah buram masa depan PPP dalam Pemilu 2019 ini. Selain dilanda perpecahan internal, diprediksi tak lolos ke parlemen oleh beberapa lembaga survei, partai bergambar ka’bah ini juga kerap dianggap bertolak belakang dengan aspirasi umat Islam.

Dalam konteks Pilpres, penangkapan Romi jelas akan menggerus elektabilitas Jokowi-Ma’ruf. Sebab, Romi merupakan bagian tak terpisahkan dari timses Jokowi-Maruf, bahkan termasuk orang dekat Presiden Jokowi. Tidak hanya itu, selain kasus ini akan terus disorot publik, juga bisa saja akan dikapitalisasi oleh lawan-lawan politik untuk mendegradasi Jokowi. Akibatnya, bukan tidak mungkin akan terbangun citra buruk atau persepsi negatif dari masyarakat terhadap petahana.

Kondisi semacam ini memang tidak menyenangkan. Terlebih, kasus ini bergulir di saat mendekati hari pencoblosan, yakni kurang lebih tinggal sebulan lagi. Sementara di saat bersamaan, elektabilitas Jokowi juga tergolong masih belum aman (stagnan), bahkan sudah dipepet rivalnya (Prabowo). Di luar itu, kekisruhan di internal koalisi akibat blunder PSI yang dianggap menyinggung partai-partai lain dalam koalisi, membuat soliditas mereka terganggu. Ini pertanda buruk bagi Jokowi.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here