Dana Belum Turun, Pengembangan City Airport Bandara Juanda Mandek

0
1150

Nusantara.news, Surabaya – Bandara Internasional Juanda Surabaya yang tertelak di Sidoarjo, Jawa Timur kepadatannya semakin menjadi. Jumlah penumpang dan pengunjung di Terminal I dan 2, mencapai 17,1 juta orang. Artinya, Bandara Juanda butuh bangunan baru untuk menambah kapasitas serta sarana penunjang dan kenyamanan penumpang.

“Karena itu, Pemprov Jatim sepakat dilakukan pengembangan kawasan bandara,’’ ungkap Kepala Dinas Perhubungan Lalu-Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ) Jawa Timur, Wahid Wahyudi.

Pengembangan perluasan kawasan bandara dan fasilitas penunjang menjadi program prioritas Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Mengingat jumlah penumpang yang semakin tinggi, pelayanan jasa transportasi direncanakan akan dimaksimalkan, termasuk di Bandara Juanda. Saat ini, Bandara Internasional Juanda memiliki dua terminal dengan kapasitas 12,5 juta orang per tahun. Namun, kenyataannya di Terminal I dan 2 arus penumpang telah mencapai 17,1 juta orang per tahun.

Mengacu kenyataan itu serta kebutuhan untuk meningkatkan kenyamanan dan pelayanan, rencana pembangunan pun digagas. Pengembangan bandara direncanakan akan dilakukan di sisi utara mengarah ke timur. Pemenuhan kebutuhan lahan, sebagian dari reklamasi laut. Lahan yang digunakan untuk terminal mencapai 2 ribu hektar, juga untuk terminal dan runway,. Untuk pengembangan fasilitas tersebut seperempatnya  akan dilakukan di daratan, sementara sisanya  dari reklamasi.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Timur telah bersurat ke Kementerian Perhubungan terkait proyek tersebut. Pemerintah provinsi ingin izin pengembangan dan reklamasi pantai segera turun agar pemerintah maupun PT Angkasa Pura I bisa segera merealisasikan rencana proyek tersebut.

Dalam perkembangannya, rencana pengembangan City Airport di Bandara Juanda Surabaya ini mandek. Itu lantaran belum ada kucuran anggaran dari pemerintah pusat. Pembangunan dan persiapan melakukan perluasan dan untuk mempercantik sarana dan prasarana lainnya juga terhenti.

“Rencananya tahun 2019 bisa beroperasi, dan pengerjaannya tahun ini. Tapi karena tidak ada anggaran, akhirnya mandek,” kata Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Kamis (23/2/2017).

Soekarwo menyebut, sebenarnya Kementrian Perhubungan telah menyetujui konsep yang diajukan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Termasuk Detail Engineering (DED) tersebut sudah diselesaikan setahun lalu, dan tahun ini sebenarnya masuk tahapan dimulainya pembangunan fisik.

“Sudah disetujui, dan DED-nya sudah selesai tahun 2016. Seharusnya pembangunan fisik sudah bisa dimulai tahun ini,” tambahnya.

Untuk diketahui, City Airport dirancang untuk mengintegrasikan Bandara Juanda dengan fasilitas pendukung lainnya seperti pusat perbelanjaan, dan sarana lain di lingkungan bandara.  Rencananya, kawasan terintegrasi itu akan dibangun di lahan seluas 4 ribu hektar, yang sebagian besar akan memanfaatkan reklamasi di Pantai Timur Sidoarjo.

Dalam konsep pengembangannya, selain dilengkapi dengan pusat perbelanjaan juga ada kawasan bisnis. Termasuk, juga akan dibangun landasan pacu kedua yang memiliki panjang 3.600 meter, dan terminal keberangkatan penumpang dari lahan reklamasi. Dalam jangka panjang, konsep pembangunan ini ditujukan untuk meminimalisir antrian penumpang.

Kondisi saat ini di Bandara Juanda jika dihitung dari boarding sampai terbang sudah sampai 30 menit karena adanya antrian. Kondisi jelas memerlukan langkah antispatif, karena  akan menimbulkan ketidaknyamanan penumpang. Selain itu, Bandara Juanda juga salah satu bandara tersibuk setelah Jakarta dan Bali.

Soekarwo menambahkan, anggaran pembangunan pengembangan City Airport itu diperkirakan mencapai Rp13 triliun. Selain dari investor, rencananya pemerintah pusat juga akan mengucurkan anggaran untuk program tersebut. “Tapi dengan skema APBN seperti sekarang ini jelas tidak memungkinkan,” terangnya.

Pembangunan City Airport itu telah disiapkan matang, terangkai dalam konsep pengembangan, dengan tiga tahap pembangunan. Tahap pertama berupa pengesahan masterplan, pembebasan lahan, ditambah dengan pelaksanaan reklamasi yang juga disiapkan untuk pembangunan runway.

Tahap kedua, pengembangan Terminal 1, reklamasi untuk runway tiga, kemudian masuk tahapan pembangunan runway tiga. Tahap berikutnya adalah membangun interkoneksi akses dari ruas jalan tol dan terminal. Tahap tiga masuk dalam pelaksanaan pembangunan infrastruktur penunjang dengan konsep Airport City.

Rincian pembangunan dan penambahan landasan pacu serta pembangunan perluasan bandara akan menempati lahan seluas 1.750 hektare, yang akan ditambah pembangunan kawasan bisnis di sekitar bandara, dengan luas lahan 4.250 hektare. Total areal yang dibutuhkan untuk pengembangan bandara mencapai 6 ribu hektare.

Namun, meski semua konsep telah disiapkan matang, termasuk turunnya izin dari Kementerian Perhubungan untuk pelaksanaan, tetapi anggaran sesuai yang dituangkan dalam DED, belum cair. Pemerintah Provinsi dan masyarakat Jawa Timur agak masih harus bersabar. Niat baik mewujudkan bandara yang megah dan nyaman sesuai kebutuhan, tertunda untuk sementara waktu. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here