Daoed Joesoef, Menteri Pemikir yang Multitalenta

0
154

Nusantara.news, Jakarta – “Cogito Ergo Sum,” demikian satu diktum terkenal dari salah seorang filsuf asal Prancis, Rene Descartes (1596-1650), yang artinya “Aku berpikir, maka aku ada.” Dengan kalimat itu, Descartes hendak mengatakan bahwa aktivitas berpikir bagitu penting bagi manusia.

Barangkali karena itulah, Daoed Joesoef Daoed (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 1978-1983 dalam Kabinet Pembangunan III) sangat mengagumi sekaligus pelanjut pemikiran Descartes: filsuf yang taat beragama, tapi tak meletakkan nalar, rasio, tunduk di bawah iman. Pembagiannya jelas: nalar dan bukan-nalar. Begitupun dengan Daoed Joesoef, dalam cara merumuskan pikirannya, ia rasional seperti Descartes: claire et distinct. Kalimatnya terang dan lempang. Semua disampaikannya murni dari gejolak emotif. Tak ada yang abu-abu, kusut, sengkarut.

Di tahun 1978-1983, ketika ia Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam kabinet Soeharto, orang tak melihatnya sebagai muslim dengan acuan yang lazim di pesantren. Ia dikenal sebagai menteri yang melarang anak perempuan memakai jilbab di sekolah negeri. Karena itu, mereka bilang, ia “anti-Islam”.

Daoed Joesoef memang sekuler, ia tak ingin mencampurkan agama dalam urusan negara. Sebagai pemuja alam pikiran ilmuwan Prancis, ia juga barangkali terpengaruh dengan ide Laicite dalam konsep kenegaraan Prancis: kekuasaan agama tak boleh mencampuri tugas publik. Label anti-Islam Daoed makin kentara, manakala ia hidup sebagai pemangku kuasa di tengah landscap saat negara mengalami masa “Islampobia”.

Kebijakan Daoed Joesoef lain yang dicap anti-Islam dan memancing kontroversi adalah tidak meliburkan sekolah pada bulan Ramadhan. Padahal, menurutnya, justru Islam yang memerintahkan kita tetap beraktivitas secara konstruktif pada saat menjalankan puasa. Puasa bukan untuk tidur dan bermalas-malasan. Terhadap orang-orang yang mempertanyakan ke-Islamannya itu, dia hanya berujar enteng, “Saya ini sejak kecil sudah disuruh Emak berlatih membaca Al Quran.”

Tak hanya dituding anti-Islam, Daoed Joesoef juga disebut pembungkam kekritisan mahasiswa, utamanya lewat kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) tahun 1978.  Aturan itu, membersihkan kampus dari kegiatan-kegiatan politik, termasuk menghapuskan Dewan Mahasiswa di seluruh universitas yang ada di Tanah Air. Kebijakan ini pun disinyalir bentuk pemberangusan terselubung gerakan mahasiswa agar penguasa tenang tanpa gejolak, tak ada lagi demonstrasi.

Namun Daoed Jusuf sendiri berkilah, banyak orang salah paham perihal NKK/BKK. Menurutnya, dasar konsepnya tentang NKK: pencarian kebenaran adalah tugas cendekiawan yang tak boleh mencampurkan pencarian itu dengan nafsu politik dan kekuasaan. Karena itu, perguruan tinggi, yang dibiayai mahal dengan dana publik, pertama-tama harus melahirkan para terpelajar yang ulung tanpa diganggu kegiatan dan interes lain, terlebih lagi jadi panggung berpolitik.

Daoed Joesoef Saat Menjabat Sebagai Mendikbud di Era Orde Baru

Alasan Daoed boleh jadi logis, tapi juga keliru. Sebab, kerja ilmiah pada dasarnya adalah “politik” pembebasan dari doktrin ataupun dogma. Dalam praktiknya, konsep Daoed itu pada akhirnya jadi alat gebuk pemerintah, proses pencarian kebenaran pun lumpuh. Dan sejak itu, daya kritis di kampus menjadi mandek.

Daoed Joesoef, Satu di Antara Menteri Adiluhung Orde Baru

Lepas dari segala kontroversinya, Daoed sejatinya merancang kebijakan selalu pada pijakan empiris dan keyakinan nalar. Ia bukan tipe pejabat yang tanpa konsep, apalagi malas berpikir. Dan karena itulah, Soeharto mempercayakan dirinya yang sebenarnya seorang ahli ekonomi untuk mengurusi kementerian pendidikan dan kebudayaan. Pak Harto terpikat dengan sejumlah konsep penyelenggaraan negara dengan pendekatan multidisipliner yang disusun Daoed. Konsep itu terdiri dari pembangunan ekonomi nasional, pertahanan keamanan, dan pembangunan pendidikan.

Tentu saja Soeharto tak sembarang menunjuk para pembantunya. Presiden kedua RI ini dikenal paling jago meracik kabinet yang diisi oleh orang sekaliber ahli. Ia tak asal tunjuk, karena itu Soeharto tak pernah sekalipun me-reshuffle menteri-menterinya. Sebelum mengangkat menteri atau pejabat setingkatnya, Pak Harto kerap memastikan kualifikasi calon lewat penelusuran orang terdekatnya dan data intelijen dalam proses yang panjang, meliputi: kompetensi, riwayat keluarga, rekam jejak prestasi, hingga tabiat calon.

Buah dari jerih payah ini melahirkan para menteri adiluhung, seperti Menlu Adam Malik, Mochtar Kusumaatmaja, dan Ali Alatas, Mendagri Amir Machmud, Menristek B.J.Habibie, Mensesneg Moerdiono, Menteri Penerangan Ali Moertopo, Menparpostel Joop Ave (mantan kepala rumah tangga istana yang dikenal elegan mengatur kostum dan manner presiden), Menpora Akbar Tanjung, hingga Mendikbud Daoed Joesoef sendiri. Tim ekonominya pun diisi para begawan ekonomi kelas wahid, diantaranya Sumitro Djojohadikusumo, Widjojo Nitisastro, Ali Wardana, Radius Prawira, J.B. Soemarlin, dan Emil Salim.

Jauh berbeda jika dibandingkan dengan komposisi kabinet saat ini. Di awal pembentukannya, Presiden Jokowi tersandera utang politik terhadap koalisi parpol, bahkan tekanan elite oligarkis. Sehingga, racikan menteri di “Kabinet Kerja” pun sarat dengan deal politik, bagi-bagi kursi, serta abai pada kualitas personal menteri. Kabinet kerja namun tak mencerminkan kapasitas zaken kabinet. Tak heran, yang muncul ke publik umumnya adalah para pejabat yang dangkal wacana, miskin konsep, dan berkinerja buruk. Belum lagi soal kegaduhan-kegaduhan dan misskoordinasi yang justru ditimbuklkan oleh para menterinya.

Kembali ke Daoed Joesoef, pergumulannya dengan tradisi berpikir membuat Daoed Joesoef lebih memilih berkuliah di Prancis selepas lulus dari FE UI, ketimbang Amerika. Mengapa Prancis? Sebab di negeri itu para pemikir berpengaruh yang membawa ke era pencerahan Barat, tumpah ruah. Seperti: Charles-Louis de Secondat Baron de La Brède et de Montesquieu, Voltaire, JJ Rousseau, Diderot, Helvetius, Holbach, Auguste Comte, Jean-Paul Sartre, dan Albert Camus. Karya-karya besar mereka seputar politik, ekonomi, dan sosial mengilhami Daoed Joesoef dalam merumuskan dan memetakan persoalan secara rasional.

Dalam buku berjudul Emak, Daoed menceritakan peluangnya menempuh pendidikan lebih tinggi ke Prancis lewat tawaran beasiswa dari The Ford Foundation. Setelah kembali ke Indonesia, bersama dengan Ali Moertopo, Soejono Humardhani, dan Harry Tjan Silalahi, ia merintis lembaga kajian/diskusi. Lembaga tersebut menjadi wadah pemikir kebijakan publik yang saat ini dikenal dengan Centre for Strategic and International Studies (CSIS).

Pengagum Bung Hatta ini juga pernah menjadi Kepala Departemen Fakultas Ekonomi di almamaternya. Di masa jabatannya itu, ia sempat ditawari untuk menjadi Gubernur Bank Indonesia menggantikan Sjafruddin Prawiranegara di tahun 1953. Namun peluang itu ditolaknya karena alasan tidak akan bisa lagi bebas menuangkan ide tulisannya. Dia juga bukan model petinggi yang kemaruk untuk rangkap jabatan seperti di masa kekinian.

Hingga pada 1978, Daoed akhirnya tak bisa menolak tugas negara yang diberikan Presiden Soeharto kepadanya sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Dia masuk jajaran anggota yang masuk kabinet tidak dengan ”kepala kosong”. Dia bawa konsep. Komisi Pembaharuan Pendidikan Nasional yang dibentuknya merupakan langkah pertama perbaikan praksis pendidikan. Disusul dengan sejumlah kebijakan untuk pendidikan dasar dan menengah, termasuk pendidikan kejuruan di tingkat menengah dan tinggi.

Setalah tak lagi menjadi Mendikbud, Daoed Joesoef masih mencurahkan gagasan dan kepeduliannya pada dunia pendidikan. Ketika pemerintah menerapkan kebijakan pengelompokan “kasta sekolah” seperti Sistem Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), dia dengan tegas menolaknya.

“Saya sangat menentang sistem pembelajaran di RSBI yang bahasa pengantarnya menggunakan Bahasa Inggris. Saya menuntut supaya pemerintah secepatnya membubarkan dan meniadakannya dari bumi Indonesia yang merdeka dan berdaulat,” ujarnya saat diundang sebagai ahli dalam persidangan judicial review di MK, Jakarta Pusat, 2012 silam.

Menurutnya, beberapa alasan mengapa RSBI harus dihapuskan adalah selain karena tidak sesuai dengan konstitusi, sistem yang menggunakan bahasa Inggris tersebut bukan menjadi satu-satunya indikator kemajuan suatu bangsa. Selain itu dengan adanya sistem RSBI dan Sekolah Bertaraf Indonesia (SBI), pemerintah telah melakukan pengelompokan terhadap peserta didik.

Berkarya Hingga Akhir Hayat

Daoed Joesoef lahir di Medan Kota, Sumatera Utara, pada 8 Agustus 1926. Ia menempuh pendidikan di HIS, Medan (1939) dab MULO-Tjuu Gakko, Medan (1944). Semasa revolusi, Daoed menjadi anggota Divisi IV Sumatera Timur. Ia kemudian pindah ke Yogyakarta untuk melanjutkan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan menjadi anggota Tentara Pelajar Batalion 300.

Saat menempuh pendidikan di Kota Gudeg itu pula, bakat melukisnya tersalurkan dengan bergaul dengan Nasjah Djamin, Affandi, dan Tino Sidin. Bahkan, ia diangkat menjadi Ketua Seniman Indonesia Cabang Yogya, yang berpusat di Solo dan diketuai S Sudjojono. Yogyakarta memang merupakan kota perantauan pertama Daoed. Sebagai perantau, perjalanannya tidak begitu mulus, karena ia baru dapat merasakan bangku kuliah ketika 10 tahun setelah lulus SMA. Baru pada tahun 1959 dia masuk Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI).

Selepas dari FE UI, Daoed melanjutkan Program Master, Universite de Paris I, Pantheon-Sorbonne, Perancis (1969); Doctorat de L’Universite, Universite de Paris, Perancis (1965); Docteur d’Etat es Sciences Economiques, Universite de Paris I, Pantheon-Sorbonne, Perancis (1973).

Dia kemudian menikah dengan Sri Sulastri. Hasil pernikahannya dengan wanita Yogyakarta itu, Joeseof dikaruniai anak yang diberi nama Sri Sulaksmi Damayanti.

Semasa senjanya, kegemarannya melukis dan menulis tak pernah pupus. Bahkan hingga akhir hayatnya dia masih terlibat menjadi kolumnis di sejumlah surat kabar di Tanah Air. Ia juga aktif menulis buku. Buku kenangannya terhadap sosok yang paling berjasa bagi dirinya adalah ibunya yang tertuang dalam buku berjudul Emak (2003) yang ditulisnya pada usia 77 tahun.

Sebagai penulis, Daoed Joesoef tak hanya menelurkan Emak, tetapi sejumlah warisan intelektual lainnya seperti Dia dan Aku: Memoar Pencari Kebenaran, Teman Duduk: Kumpulan Cerpen, Borobudur, Dua Pemikiran tentang Pertahanan Keamanan, dan Strategi Nasional.

Selanjutnya, 10 Wacana tentang Aneka Masalah Kehidupan Bersama, Dua Renungan tentang Manusia, Masyarakat dan Alam, Anak Tiga Zaman: Rekam Jejak, Bukuku Kakiku, dan Imagined Affandi.

Beberapa buku karya Daoed Joesoef

Kini, Daoed Joesoef telah tiada. Dia meninggal pada Selasa, 23 Januari 2018 pukul 23.55. Daoed meninggal di Rumah Sakit Medistra, Jakarta Selatan, setelah dirawat beberapa hari karena penyakit jantung yang dideritanya. Sang profesor itu memang telah berpulang, namun buah pikirnya tak pernah lekang. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here