Dari Haters Menjadi Ahokers

0
1320

Nusantara.news, Jakarta – Masih membekas ingatan kita saat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan GP Ansor bereaksi keras atas pernyataan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok terhadap K.H. Ma’ruf Amin dalam sidang lanjutan kasus penistaan agama, beberapa waktu lalu. Saat itu, Ahok mengancam dan menuding ada komunikasi antara K.H. Ma’ruf Amin dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang mendesak agar fatwa soal penistaan agama segera dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

GP Ansor juga tidak kalah garang. Dengan dalih menjaga marwah, mereka mengecam sikap Ahok yang dinilai tak sopan terhadap ulama. Bahkan, mereka sudah merapatkan barisan untuk membela K.H. Ma’ruf Amin sebagai Rais Aam PBNU.

Seiring berjalannya waktu, perkembangan dinamis terjadi di tubuh PBNU. Di hari-hari akhir menjelang putaran Pilkada DKI Jakarta digelar, beberapa elit PBNU yang tersebar di PKB dan PPP secara resmi mendukung pasangan Ahok-Djarot. Keputusan itu seperti jadi sinyal bahwa tidak ada kesamaan persepsi kendati Ketua PBNU K.H. Said Aqil Siroj menegaskan untuk kembali ke Khitthah 1926, yakni sikap NU untuk tidak terlibat politik praktis. Tampaknya, setelah beragam peristiwa yang sebelumnya membuat hubungan mereka memanas, upaya Ahok untuk mendekatkan diri dengan PBNU dan GP Ansor bisa dikatakan berhasil. Berikut ini adalah momentum dari bergulirnya reaksi dan kecaman keras “haters” sampai pernyataan sikap simpatisan “Ahokers”. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here