Garuda, Air Asia dan Sriwijaya Air (1)

Dari Isu Kerjasama Operasi Hingga Akuisisi

0
72
PT Garuda Indonesia Tbk berencana mengakuisisi 51% saham Sriwijaya Air dan Air Asia Indonesia. Sanggupkah keuangan Garuda mnanggung beban finansial dua airline tersebut?

Nusantara.news, Jakarta – Baru saja PT Garuda Indonesia Tbk pulih dari defisit panjang keuangannya menjadi surplus, BUMN penerbangan itu harus menghadapi realitas baru, yaitu kerjasama operasi sampai akuisisi PT Sriwijaya Air dan PT Air Asia Indonesia Tbk. Sanggupkah Garuda melewati fase sulit ini?

Tak bisa dipungkiri, selepas era banting tarif tiket pesawat menyusul ramainya era low cost carrier, tarif pesawat berbiaya murah, industri penerbangan menghadapi masalah berat. Yakni fenomena naiknya bahan bakar minyak dunia (BBM) yang berdampak pada naiknya harga avtur.

Kalau dalam era low cost carrier, tiket pesawat dibanting semurah mungkin dengan harapan menangguk penumpang sebanyak mungkin. Bahkan harga tiket dibanting hingga Rp250 ribu untuk penerbangan domestik, bahkan Rp300 ribu untuk penerbangan kawasan ASEAN.

Kini, di era harga tiket mahal, dimana tarif tiket minimal Rp1 juta untuk rute domestik, membuat industri penerbangan oleng. Antara lain Sriwijaya Air dan Air Asia Indonesia, dua pioner penerbangan murah low cost carrier, terhuyung-huyung.

Itu sebabnya kedua penerbangan swasta ini berusaha mempertahankan hidup di tengah megap-megapnya industri penerbangan. Mereka pun menyandarkan nasib kepada Garuda, baik Sriwijaya Air maupun Air Asia Indonesia minta semacam kerjasama operasi karena sudah tak sanggup beroperasi sendiri secara business as usual.

Bahkan kerjasama operasi tak cukup, Sriwijaya Air maupun Air Asia minta diakuisisi sahamnya oleh Garuda.

Paling tidak pengakuan itu disampaikan Direktur Utama Sriwijaya Air Joseph Adrian Saul. Ia mengungkapkan kelanjutan rencana akuisisi Garuda Indonesia terhadap Sriwijaya Air. Menurutnya, hal ini dilakukan sebagai komitmen kerja sama manajemen Garuda Indonesia dengan Sriwijaya Air.

Joseph mengatakan Sriwijaya Air akan memperbaiki manajemen perusahaan  agar bisa bergabung dengan Garuda Indonesia Group sepenuhnya. "Kita memang sudah bergabung, tapi belum 100%," tutur Joseph.

Menurut rencana Garuda akan mengakuisisi Sriwijaya Air sebanyak 51% saham pemilik lama. Untuk melaksanakan prosesnya, Sriwijaya sudah bekerja sama dengan Kantor Jasa Penilaian Publik (KJPP). Karena, salah satu proses akuisisi adalah dengan penilaian aset (appraisal) yang dimiliki oleh Sriwijaya Air.

Sriwijaya Air dan Garuda Indonesia sebelumnya sudah terikat dengan kerja sama operasional (KSO) sejak 9 November 2018. KSO ini memiliki masa perjanjian dua tahun. Namun, Joseph berharap dengan berjalannya KSO ini, dapat memperbaiki kondisi Sriwijaya Air secepat mungkin. Sehingga proses akuisisi bisa rampung lebih cepat.

Sebelumnya dikabarkan Sriwijaya Air dikabarkan terancam bangkrut, terjadi penurunan jumlah penumpang sementara biaya operasional meningkat. Namun Presiden Direktur PT Sriwijaya Air sebelumnya, Chandra Lie membantah tentang informasi yang menyebutkan Sriwijaya Air terancam bangkrut.

Pengusaha nasional kelahiran Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung itu membantah penafsiran Sriwijaya Air bangkrut terkait pengambilalihan operasional dan financial maskapai. Menurutnya, KSO antara Sriwijaya Air dan anak perusahaan PT Garuda Indonesia yakni Citilink bukan untuk mengakuisisi atau mengambil alih perusahaan. Akan tetapi hanya berupa kerjasama operasional atau join operation dengan dasar kesepakatan dalam KSO.

“(Itu) Kerja sama operasi (KSO) saja, kepemilikan saham kita tidak berubah masih 100 %. (KSO) ini baik untuk mengangkat Brand Image kita,” kata Chandra Lie beberapa waktu lalu.

Namun dengan fenomena belakangan dimana Garuda akan mengakuisisi 51% saham Sriwijaya Air, dan menyerahkan operasional kepada anak perusahaan Garuda yakni Citilink, seolah membenarkan bahwa sesungguhnya Swiwijaya Air sedang ada masalah.

Yang jelas Sriwijaya Air dililit utang cukup besar. Laporan keuangan Garuda Indonesia pada September 2018 lalu menyebut Sriwijaya Air memang memiliki utang jangka panjang sebesar US$9,33 juta atau sekitar Rp135 miliar (kurs saat itu Rp 14.600).

Utang tersebut untuk pengerjaan overhaul 10 engine CFM56-3. Pembayarannya akan dilunasi melalui angsuran selama 36 bulan.

Sementara Dirut PT Garuda Indonesia Tbk I Gusti Ngurah Askhara atau biasa disapa Ari Askhara membenarkan rencana Garuda mengakuisisi 51% saham Sriwijaya Air.

"Kita di dalam perjanjiannya memang sudah ada opsi untuk membeli minimum 51%, jadi kita sekarang dalam proses penilaian aset, kemudian kita negosiasi berapa value yang akan disepakati," katanya di sela-sela acara rapat koordinasi BUMN belum lama ini.

Dia mengatakan, akuisisi akan dieksekusi maksimal 5 tahun. Perseroan akan melihat perkembangan Sriwijaya Air. "Dalam waktu maksimum 5 tahun kita akan exercise, kita lihat perkembangannya kalau misalnya kondisinya bagus, bagaimana kita bisa meminta Sriwijaya pengembalian utangnya dan prospek ke depannya bagus ya kita akan exercise," paparnya. 

Soal biaya akuisisi, Ari belum bisa memaparkan. Karena posisi saat ini sedang menunjuk Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) untuk melakukan penilaian.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here