Di Laut Masihkah Kita Jaya? (3)

Dari Laut Mengejar Pertumbuhan Ekonomi

0
278

Nusantara.news, Jakarta – Keberadaan sumber daya kelautan dan perikanan yang demikian besarnya adalah merupakan peluang bagi sumber pertumbuhan ekonomi nasional dan wahana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun demikian, permasalahan dan kendala yang dihadapinya juga cukup besar yang tidak mudah untuk diatasi.

Menurut mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Prof.Dr. Rokhmin Dahuri, permasalahan utama yang dihadapi antara lain adalah pencemaran laut dan pembuangan limbah secara ilegal oleh negara lain, pencurian ikan, gejala penangkapan berlebih (over fishing), degradasi habitat pesisir (mangrove, terumbu karang, padang lamun, estuaria, dll), konflik penggunaan ruang dan sumberdaya, belum tersedianya teknologi kelautan dan perikanan secara memadai, terbatasnya sumber permodalan yang dapat digunakan untuk investasi, dan kemiskinan yang masih melilit sebagian besar penduduk di wilayah pesisir, khususnya petani ikan dan nelayan skala kecil.

Permasalahan tersebut muncul antara lain sebagai akibat dari paradigma pembangunan masa Orde Baru yang lebih berorientasi ke darat (terresterial) yang menyebabkan pengalokasian segenap sumberdaya pembangunan lebih diprioritaskan pada sektor-sektor daratan.

Apabila peluang dan prospek yang terbuka dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, dan permasalahan yang masih dihadapi dapat diatasi secara bertahap, maka bukan suatu pilihan yang salah jika sektor kelautan dan perikanan dijadikan andalan pertumbuhan ekonomi nasional di masa depan.

Apalagi sektor kelautan dan perikanan dalam jangka pendek diketahui sebagai sektor yang mampu memberikan dampak terhadap kegiatan produksi dari sektor lain (Out put Multiplier/OM) dan peningkatan pendapatan masyarakat (Income Multiplier/IM). Disamping itu, dalam jangka panjang sektor ini juga mempunyai keterkaitan ke belakang (Backward Linkage/BL) dan keterkaitan ke depan (Forward Linkage/FL) yang cukup besar terhadap kegiatan produksi sektor lain.

Sebagai gambaran, berdasarkan analisa pakar ekonomi terhadap Tabel Input-Output (I/O) tahun 1995, misalnya untuk industri kapal dan jasa perbaikannya memiliki nilai indeks OM 1,82 dan IM 0,34, sedangkan untuk kegiatan industri pengolahan dan pengawetan ikan, nilai indeks OM dan IM masing-masing adalah 1,88 dan 0,19. Selanjutnya untuk kegiatan jasa perdagangan hasil perikanan dan maritim memiliki  nilai indeks BL 1,29 dan FL 4,22, sedangkan untuk perdagangan ikan laut dan hasil laut lainnya, nilai indeks BL dan FL masing-masing adalah 1,31 dan 1,56.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor kelautan dan perikanan akan dapat memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi, pendapatan masyarakat, dan penyerapan tenaga kerja di sektor lain yang terkait. (Renstra Pembangunan Kelautan dan Perikanan Tahun 2001-2004).

Indonesia memiliki potensi sumberdaya perikanan laut yang cukup besar, baik dari segi kuantitas maupun diversitas. Potensi lestari (MSY; maximum sustainable yield) sumberdaya ikan laut Indonesia diperkirakan sebesar 6,26 juta ton per tahun yang terdiri dari potensi di perairan wilayah Indonesia sekitar 4,40 juta ton per tahun dan perairan ZEEI sekitar 1,86 juta ton per tahun.

Potensi sumberdaya ikan tersebut, apabila dikelompokkan  berdasarkan jenis ikan terdiri dari pelagis besar 1,05 juta ton, pelagis kecil 3,24 juta ton, demersal 1,79 juta ton, udang 0,08 juta ton, cumi-cumi 0,03 juta ton, dan ikan karang 0,08 juta ton. Dari seluruh potensi sumberdaya ikan tersebut, jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB atau TAC; total allowable catch) sebesar 5,01 juta ton per tahun atau sekitar 80% potensi lestari. Meski diakui beberapa jenis ikan telah mengalami gejala tangkap lebih (overfishing) di beberapa perairan nusantara.

Potensi budidaya laut khususnya ikan dan moluska juga masih sangat besar. Luas lahan total perairan laut yang berpotensi untuk budidaya ikan (kakap, baronang dan kerapu) sekitar 1.059.720 ha, dan budidaya moluska (kerang-kerangan) dan teripang sekitar 720.500 ha. Sedangkan potensi produksi dari kegiatan budidaya ikan dan moluska diperkirakan sekitar 46,73 juta ton per tahun.

Potensi budidaya laut yang terdiri dari total potensi budidaya ikan (kakap, baronang dan kerapu), budidaya moluska (kerang-kerangan dan teripang) dan budidaya rumput laut serta mutiara mencapai volume total 528,4 ribu ton, memiliki potensi nilai ekonomi sekitar US$ 567,00 juta. Potensi ini diperkirakan hanya berdasarkan potensi luas lahan yang tersedia, belum dengan peningkatan teknologi maupun intensifikasi. Tentu, dengan peningkatan teknologi maka produktivitas akan meningkat, dengan demikian akan memiliki nilai ekonomi yang lebih besar.

Sementara itu potensi perikanan darat terdiri dari potensi perairan umum (danau, sungai dan rawa), potensi budidaya kolam, dan minapadi. Total potensi perairan umum di Indonesia tahun 1993 adalah sekitar 141.820 ha, dengan potensi produksi sekitar 356.020 ton per tahun. Keseluruhan potensi perikanan dari perairan umum ini secara ekonomi mencapai nilai US$ 1 milyar.

Sedangkan potensi pengembangan budidaya kolam terdiri dari potensi irigasi sekitar 3.755.904 ha dan potensi lahan seluas 375.800 ha, yang memiliki potensi produksi sekitar 805.700 ton per tahun. Sementara itu, untuk potensi minapadi yang terdapat di Indonesia untuk potensi irigasi seluas 1.760.827 ha, potensi lahan seluas 880.500 ha dengan potensi produksi sekitar 233.400 ton per tahun. Nilai ekonomi kedua potensi budidaya air tawar ini diperkirakan mencapai US$ 5,19 milyar.

Sedangkan untuk potensi perikanan budidaya payau (tambak) cukup besar, yaitu sekitar 866.550 ha. Sampai tahun 1996, potensi lahan budidaya baru dimanfaatkan sekitar 344.759 ha, dan sebagian besar potensi ini terdapat di kawasan timur Indonesia. Peluang pengembangan perikanan budidaya ini juga terbuka lebar mengingat tingkat pemanfaatannya masih rendah, dan dapat mendatangkan devisa yang cukup besar.

Jika potensi ini digarap secara optimal dengan mengusahakan sekitar 500.000 ha saja, dengan target produksi konservatif sekitar 2 ton udang windu per hektar, setiap tahunnya setidaknya bisa dihasilkan 1 juta ton. Jika harga per kilogram US$ 10 maka nilai yang diperoleh mencapai US$ 10 milyar.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here