Dari Mana Sumber Uang Korea Utara?

0
1600
Truk buatan Cina membawa rudal dengan huruf bertuliskan "Pukkuksong" dalam parade militer memperingati 105 tahun pendiri Korea Utara, Kim Il Sung, dalam foto tidak bertanggal yang disiarkan oleh Pusat Agensi Berita Korea Utara (KCNA), Minggu (16/4). Foto diambil tanggal 16 April 2017. ANTARA FOTO/REUTERS

Nusantara.news Korea Utara saat ini menjadi sebuah kekuatan yang tidak bisa dipandang sebelah mata, bahkan oleh negara adidaya sekelas Amerika sekali pun. Korea Utara dianggap menyimpan senjata nuklir yang lebih canggih ketimbang sebelumnya. Itulah yang membuat pemimpinnya, diktator Kim Jong-Un tak bergeming sedikit pun oleh ancaman militer Amerika.

Sebagai negara terisolasi dari dunia luar, dan termasuk negara dunia ketiga, dari mana Korea Utara punya kemampuan untuk mengembangkan teknologi persenjataan? Dari mana negara itu mendapatkan uang?

Korea Utara adalah teka-teki. Dia tampak sebagai negara terbelakang, tertinggal dan miskin karena terisolasi. Tapi di sisi lain, jika melihat parade militer yang diadakan saat peringatan ke-105 pendiri negara mereka, Kim Il Sung, pada 15 April lalu, begitu megah pertunjukan militer mereka. Mengingatkan dunia, betapa negara tertutup itu ternyata tidak semiskin yang dibayangkan.

Jika dilihat dari perkembangan persenjataan yang makin menunjukkan kemajuan, tampaknya Korea Utara memiliki aliran dana tetap dari suatu tempat untuk program-program pengembangan teknologi persenjataan, militer, dan nuklir mereka. Bagaimana, jika tanpa dana yang cukup mereka bisa mengembangkan rudal balistik antar-benua, yang sangat ditakuti Amerika itu?

Bruce Klingner, peneliti senior di Heritage Foundation menduga, Korea Utara memiliki sumber dana yang sangat beragam. “Korea Utara memiliki ekonomi terbuka dan terselubung, yang melalui keduanya negara itu memperoleh uang,” kata Klingner sebagaimana dilansir Fox News, Kamis (20/4).

“Perekonomian terbuka sebagian besar adalah dengan penjualan sumber daya alam,” jelasnya.

“Sementara, ekonomi terselubung lebih sulit diperkirakan, tapi terdiri dari penjualan senjata, pemalsuan uang kertas USD 100 dolar, produksi dan distribusi narkotika, rokok dan obat-obatan terlarang, termasuk Viagra, penipuan asuransi, pencucian uang, dan cybercrime,” rinci Klingner.

Menurut Klingner, daftar kegiatan ilegal Korea Utara cukup luas, misalnya menggelapkan upah pekerja Korea Utara di luar negeri, atau diplomat Korea Utara terlibat dalam penjualan ilegal satwa liar seperti tanduk badak dan gading gajah.

Selain itu, hampir tidak mungkin untuk berbicara tentang sumber keuangan Korea Utara tanpa menyebut tetangga yang juga sekaligus sekutu utamanya, yaitu Cina.

“Tanpa Cina, Korea Utara akan mengalami keruntuhan,” jelas Nicholas Eberstadt, seorang pakar Korea Utara dari American Enterprise Institute.

“Cina adalah aktor besar dan dominan dalam ekspor-impor untuk Korea Utara. Kegiatan utama Korea Utara meliputi pengembangan senjata pemusnah massal sehingga Cina, tentu saja, mendukungnya,” tambah Eberstadt.

Seiring dengan aktivitas ilegal seperti pemalsuan uang dan penjualan obat-obat terlarang, Eberstadt menduga adanya kemungkinan sumber-sumber keuangan lain.

“Hal-hal lain yang tidak kami ikuti dengan baik adalah sumber kekayaan luar negeri milik keluarga Kim (pemimpin Korea Utara) yang tersimpan di Macau dan tempat-tempat lain,” katanya.

Korea Utara tengah berada di bawah ancaman Amerika Serikat terkait tudingan program pengembangan senjata nuklir yang melanggar Dewan Keamanan PBB.

Awal bulan lalu, Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang negeri Kim Jong-Un itu jika tidak berhenti melakukan provokasi uji coba rudal balistik dan tidak menghentikan program senjata nuklirnya. Trump, ketika itu menyatakan akan bertindak sendiri, jika Cina, sekutu Korea Utara, tidak mau bekerja sama menghentikan program nuklir Korea Utara.

Presiden Cina sendiri, Xi Jinping sudah mengungkapkan kesulitannya untuk mengendalikan Korea Utara kepada Presiden AS Donald Trump. Cina mengaku bahwa masalah sebenarnya yang dihadapi antara Cina dengan Korea Utara amatlah rumit, tidak semudah yang dibayangkan. Trump sempat terperangah mendengar pengakuan Presiden Cina yang disampaikan kepadanya lewat telepon. Semula, Trump mengira Cina dapat dengan mudah mengendalikan Korea Utara jika dia mau, tapi kenyataannya tidak semudah itu.

Presiden AS Donald Trump memerintahkan Angkatan Laut AS agar mengirimkan kapal induk USS Carl Vinson ke kawasan Laut Jepang, tepatnya ke semenanjung Korea. Kendati, kapal induk tersebut baru akan sampai pekan depan karena nyatanya Sabtu lalu masih berada di Selat Sunda, dekat Indonesia. Perintah ini sempat membuat Korea Utara marah, dan Korea Utara mengancam akan menggunakan senjata nuklirnya jika AS terus menekan dan memprovokasi.

Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson, sebagaimana dilansir CNN, Kamis (20/4) mengatakan AS sedang mencari cara untuk menekan program nuklir Korea Utara. Media pemerintah Korea Utara memperingatkan AS akan kemungkinan adanya sebuah “serangan pendahuluan yang sangat dahsyat”, dengan mengatakan “jangan main-main dengan kami”.

Wakil Presiden AS Mike Pence telah mengatakan berulang kali bahwa kesabaran atas Korea Utara telah berakhir.

Sementara Ketua DPR AS Paul Ryan, dalam sebuah kunjungan ke London juga mengatakan bahwa opsi militer harus menjadi bagian dari tekanan terhadap Korea Utara.

Presiden Korea Selatan, Hwang Kyo-ahn, negara paling akan terkena dampak jika meletus perang Korea, pada Kamis (20/4) berulang kali meminta agar kementerian militer dan keamanan untuk selalu menjaga kewaspadaan.

Rodong Sinmun, surat kabar resmi Partai Pekerja yang berkuasa di Korea Utara, mengatakan bahwa Korea Utara sepenuhnya siap menghadapi serangan AS.

“Jika serangan pre-emptive yang super kuat kami luncurkan, akan segera menumpas, tidak saja pasukan invasi imperialis AS di Korea Selatan dan daerah sekitarnya, tapi juga di daratan AS dan akan melumatnya menjadi abu,” kata koran itu. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here