Dari Tahun ke Tahun, Jumlah Santri Ponpes Lirboyo Semakin Meningkat

0
196
Seorang santri tengah menunggu untuk kelas malam.

Nusantara.news, Kediri – Dunia pendidikan di negeri ini masih menempatkan pondok pesantren sebagai pilihan nomor dua. Yang namanya belajar agama hanya cukup dipelajari di luar sekolahan. Para orangtua salah besar jika memandang pesantren hanya tempat mencari ilmu agama. Padahal, pesantren juga menjadi tempat belajar.

Ya, ada pepatah mengatakan begini: ilmu agama dapat, ilmu dunia pun dapat! Inilah peran pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang mengakar di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.

Pondok pesantren sudah ada sejak lama di Indonesia, bahkan sebelum lembaga pendidikan modern ada. Berdirinya pesantren berawal dari masuknya ajaran Islam ke tanah Indonesia yang dibawa oleh para dai, mubaligh dan wali dari luar negeri.

Pondok pesantren merupakan wadah pendidikan yang mempunyai kurikulum dan sistem terbaik. Tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu ukhrawi, pesantren juga mengajarkan ilmu-ilmu duniawi.

Namun banyak orang yang salah kaprah memaknai arti pesantren. Kebanyakan image yang beredar di masyarakat mengatakan bahwa pesantren itu kuno, radikal, dan sebagainya.

Namun fakta-fakta tersebut dipatahkan oleh banyak orang. Karena banyak petinggi negeri ini merupakan jebolan pesantren, salah satunya mantan Presiden Abdurrahman Wahid.

Di Indonesia, khususnya Jawa Timur telah lahir pesantren-pesantren modern. Ada Gontor, Tebuireng, Langitan, Lirboyo, dan Sidogiri.

Khusus Lirboyo, pesantren ini dari tahun ke tahun mengalami kenaikan cukup signifikan. Tampaknya pondok pesantren (Ponpes) Lirboyo berhasil memupus pola pikir umum bahwa pesantren bukan tempat menimba ilmu agama saja, melainkan juga tempat belajar ilmu dunia. Hal ini bisa dibuktikan dengan naiknya grafik jumlah santri Liboyo yang kian pesat.

Dari hasil pendataan yang dilansir dari lirboyo.net, tahun 2015 jumlah seluruh santri Lirboyo (termasuk unit dan cabang) mencapai 16.839 santri. Angka ini naik 3.434 dari tahun lalu, karena jumlah santri Lirboyo tahun kemarin hanya 13.405 santri.

Namun demikian, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH. M. Anwar Manshur, mengatakan semakin banyak santri maka tanggung jawabnya semakin besar.

Semakin banyak santri itu semakin besar tanggung jawabnya. Kita jangan saling menyalahkan. Kalau kebetulan ada yang kurang sreg, mari kita bicarakan biar ketemu solusinya,” pesan KH. Anwar Mashur.

Dituntut Khatam 40 Kitab

Pesantren Lirboyo yang terletak di Kecamatan Mojoroto Kota Kediri, Jawa Timur, sebenarnya memiliki sejarah panjang. Nama Lirboyo diambil dari nama desa bekas lokasi sarang penyamun dan perampok.

Gerbang menuju Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.

Menurut Muchlas Nur, pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo, “Dahulu desa ini merupakan sarang penyamun dan perampok, hingga pada suatu ketika atas prakarsa Kiai Sholeh, seorang yang alim dari Desa Banjarmelati dan dirintis oleh salah satu menantunya yang bernama K.H. Abdul Karim, seorang yang alim berasal dari Magelang, Jawa Tengah,” tuturnya.

Muchlas menjelaskan, sejarah berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo erat hubungan dengan awal mula K.H. Abdul Karim menetap di Desa Lirboyo sekitar tahun 1910 Masehi.

Perpindahan K.H. Abdul Karim ke Desa Lirboyo dilatarbelakangi dorongan dari mertuanya sendiri yang pada masa itu seorang dai. Kiai Sholeh berharap dengan menetapnya K.H. Abdul Karim di Lirboyo, berharap syiar Islam bisa lebih luas lagi.

Di samping itu juga, lanjut Muchlis, atas permohonan Kepala Desa Lirboyo kepada Kiai Sholeh, agar berkenan menempatkan salah satu menantunya  di Desa Lirboyo. Dengan niat baik inilah diharapkan Lirboyo yang semula angker dan rawan kejahatan menjadi sebuah desa yang aman dan tenteram. Dan sekarang, jadilah Pesantren Lirboyo yang kita kenal sekarang ini.

Saat itu yang menjadi santri perdana (pertama) adalah seorang pemuda bernama Umar asal Madiun. Dialah santri pertama yang menimba ilmu ke KH. Abdul Karim di Pondok Pesantren Lirboyo. Karena kedatangannya untuk tholabul ilmi, maka oleh Kiai Abdul Karim, Umar diterima menimba pengetahuan agama. Selama nyantri, Umar sangat ulet dan telaten. Ia benar-benar taat pada kiai.

Tahun demi tahun, keberadaan Pesantren Lirboyo semakin dikenal luas oleh masyarakat. Ribuan santri dari berbagai daerah datang ke sini. Meski jumlah santri mencapai ribuan, namun tidak banyak yang tahu bagaimana para santri itu beraktivitas. Hanya santri dan keluarganya yang tahu.

Soal aktivitas pesantren, pada dasarnya semua pesantren menerapkan aturan yang sama. Namun tiap pesantren tentu memiliki aturan yang berbeda-beda. Untuk Lirboyo, aktivitas para santri dituntut untuk hidup disiplin dan mandiri. Aktivitas dimulai pada pagi buta, yakni Subuh. Mereka bangun pagi untuk menjalankan salat Subuh berjamaah dan kemudian dilanjutkan dengan pelajaran ilmu agama hingga malam.

Yang menarik jika kita melihat aktivitas mereka selama bulan Ramadan. Para santri Lirboyo dituntut mengisi berbagai kegiatan keagamaan. Salah satu agenda rutin adalah Ngaji Kilat atau Ngaji Pasanan.

Seluruh santri diharuskan mengikuti kegiatan ngaji cepat ini. Mereka dituntut menyelesaikan puluhan kitab selama bulan puasa.

Kegiatan ini cukup menguras waktu santri. Bayangkan, selama satu hari satu malam, mereka terbiasa hanya menggunakan 1,5 jam untuk beristirahat. Selebihnya dipakai untuk mengikuti Ngaji Kilat. Mulai pagi hingga malam hari.

Pada pukul 11.00 WIB,  para santri biasanya terlihat berada di halaman Ponpes Hidayatul Mubtadi’aat, masih kawasan komplek Ponpes Lirboyo Kediri. Mereka duduk bersila di atas sajadah. Tidak ada yang melakukan komunikasi. Mereka hanya diam, dan matanya memandang kitab yang disangga dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanan mereka memegang bolpoin.

Di tengah keseriusan itu, terdengar seseorang tengah mengaji dengan pengeras suara. “Beliau adalah KH Anwar Mansur, salah seorang pengasuh yang sedang ngaos (ngaji) Kitab Tambihul Ghofilin,” kata pengurus pondok Samsul Muil.

Kitab Tambihul Ghofilin adalah sebuah kitab yang berisi ilmu tasawuf dan fiqih. “Isinya kolaborasi antara ilmu Tasawuh dengan Ilmu Fiqih. KH Anwar Mansur yang ngaos, dan para santri memaknai,” terang Samsul Muin memberikan penjelasan.

Rupanya, para santri sudah mengikuti kegiatan ngaji bersama KH Anwar Mansur itu sejak pukul 06.00 WIB tadi. Tampak pula di antara mereka ada yang mengantuk, tapi kemudian bangkit lagi setelah diingatkan. Pemuda berpakaian baju warna abu-abu kombinasi putih garis-garis lengan panjang, dan sarung biru, serta mengenakan songkok hitam itu sempat tertidur pulas.

Seorang santri tertidur ketika mengaji Kitab Kuning di komplek Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.

Dia tertidur masih dalam keadaan menyangga kitab dan memegang bolpoin. “Hal seperti itu (santri tidur) adalah wajar. Mereka yang mengantuk kadang juga tertidur seperti itu,” kata Samsul Mu’in.

Sesekali saja mereka hanya membenahi posisi duduk bersila. Cara itu mereka gunakan untuk menghilangkan rasa capek dan kantuk. Maklum, mereka sangat kekurangan waktu untuk beristirahat. Maka, tidak jarang dari mereka yang sampai tertidur di majelis tempat mengaji itu.

Samsul menjelaskan, Ngaji Kilat pada bulan Ramadan biasanya diikuti oleh 1.100 santri. Para santri diinstruksikan agar mengadakan kegiatan Safari Ramadan ke pelosok-pelosok.

Kegiatan Safari Ramadan, ungkap Samsul, dilakukan oleh para santri yang sudah senior. Mereka melakukan siar agama kepada masyarakat. “Kegiatan Safari Ramadan ini sudah berlangsung sejak empat tahun terakhir,” beber Samsul.

Ngaji Kilat sendiri dimulai sejak awal Ramadan dan biasanya selesai pada tanggal 17 Ramadan, atau tepat hari Nuzulul Qur’an (peringatan turunnnya Al-Qur an). Setiap RamadhKhaan, setidaknya ada 40 kitab yang mesti diselesaikan. Terdiri dari kitab besar dan kitab kecil.

Kitab besar yang sudah diselesaikan adalah Kitab Iqna’. Kitab ini terdiri dari dua jus. Jus satu sebanyak 300 lembar, dan jus dua hampir 400 lembar. “Kitab Iqna’ sudah khatam seminggu. Lalu diteruskan dengan kitab-kitab lainnya,” terus santri yang sudah mengaji di Lirboyo sejak kecil itu.

Empat puluh kitab itu dibaca oleh lima orang pengasuh. Diantaranya, KH Idris Marzuki. Mbah Idris, sebutan akrab KH Idris Marzuki membaca lima buah kitab. Antara lain, Kitab Hidayatul Hidayah, Fatkhul Basoul Iqwan, dan Dalairul Qoirot, sekaligus pemberian ijazah Dalail terhadap santri.

Kemudian KH Anwar Mansur, membacakan dua buah kitab. Yaitu, Kitab Tambikhul Ghofilin, dan Ta’limul Muta’alim sejak pagi pukul 06.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB. Selanjutnya, KH Abdullah Khafabiyi membaca dua kitab, Jawairul Buchori dan Arba’in Nawawi, setelah Sholat Tarawih.

KH Imam Yahya Mansyur yaitu, Kitab Sarah Jurumiyah dan Usfuriyah serta Tankhihul Qoul pada pukul 07.00 WIB. Dan terakhir adalah Habibullah Zaini membaca kitab Iqna’ yang sudah khatam. Seluruh kitab tersebut berisi, ilmu fiqih, tafsir, tasawuf, tauhid dan akhlaq.

Mempelajari kitab menjadi keharusan bagi para santri, meski hari sudah lama.

Merawat Keikhlasan dan Kepatuhan antara Kiai-Santri

Hubungan yang intens antara kiai-santri, itulah yang menguatkan pondasi spiritual. Kiai ikhlas, dan santri patuh. Di Solo ada Kiai bernama Ahmad Umar Abdul Manan, pengasuh Pesantren Al-Muayyad. Saat ada santri-santri nakal, sang kiai tidak memilih mengeluarkan. Melainkan beliau menempatkan mereka pada urutan pertama dalam doa-doa di setiap usai salat tahajud, agar kelak mereka menjadi orang yang baik, sukses, dan bermanfaat. Dan benar, tidak sedikit santri nakal yang didoakan itu menjadi kiai dan sukses secara sosial dan spiritual.

Spiritualitas semacam ini tidak ditemukan dalam sistem pendidikan di luar pesantren. Ini adalah merupakan olah roso yang membangun ingatan spiritual para santri. Hal-hal yang tampaknya mudah dan biasa, karena dilakukan dengan ikhlas dan penuh dedikasi, secara spiritual menjadi pengikat dalam jejaring yang tumbuh antar santri dan kiai.

Hubungan semacam ini menyadarkan kita bahwa pendidikan tidak melulu bersifat intelektualisme, tetapi juga bersifat spiritual dan huduriyah. Kiai dan guru menjadi jalan dan penyambung bagaimana spiritualitas santri bergerak dengan benar dan agama sebagai sistem nilai sebagai ageman (pegangan).

Nah, di Lirboyo ini santri seukuran Aliyah sudah diajari menulis buku. Pola kaderisasi Lajnah Bahtsul Masail (LBM) serta proses lahirnya sebuah buku ini sangat nyata. Metode Bahtsul Masail (pemecahan masalah) yang begitu matang di Lirboyo diterapkan di semua kelas. Kedua metode tersebut diwajibkan bagi setiap mustahiq (guru) untuk diterapkan secara maksimal untuk  mencapai hasil akhir sebagaimana yang sudah tertuang dalam Kurikulum Madrasah.

Atap pondok memang tempat belajar yang nyaman bagi para santri Lirboyo ini.

Perlu dijelaskan bahwa antara Ibtidaiyyah, Tsanawiyah dan Aliyah di Lirboyo lamanya masa belajar dari satu jenjang ke jenjang tidak ringkas. Rincian masa belajar di Lirboyo, Kelas Ibtidaiyyah mesti ditempuh selama 6 tahun kendati santri yang masuk kebanyakan setelah dites banyak duduk di kelas 4 Ibtidaiyyah. Jenjang Tsanawiyah dan Aliyah masing-masing tiga tahun. Rata-rata santri Lirboyo menghabiskan waktu untuk menamatkan pelajaran sampai jenjang Aliyah adalah sembilan tahun.

Lalu, darimana asal-usul budaya menulis di Lirboyo? Di kelas, manajemen madrasah mewajibkan kepada seluruh guru dan santri menulis pelajaran selain kitab fikih. Hal ini penting untuk menumbuhkembangkan minat santri untuk menulis. Di samping itu bisa membantu mempermudah menghafal pelajaran.

Untuk menulis, tentu dibutuhkan Masyaikh (guru besar) Lirboyo untuk membakar semangat kaum santri dalam dunia tulis menulis. “Tinta ulama lebih berharga dari darah syuhada,” kata-kata di atas sangat membekas bagi semua kalangan di Lirboyo. Buktinya banyak lahir karya-karya apik dari dari kiai, guru dan santri.

Di Lirboyo dunia tulis menulis tidak hanya dalam aspek ilmu semata namun setiap bagian atau unit memiliki Tugas, Pokok dan Fungsi (TUPOKSI) yang sudah dinarasikan dalam bentuk tulisan untuk dibukukan. Sehingga bisa dijadikan acuan untuk menjalankan TUPOKSI-nya masing-masing. Dan lebih mudah dilakukan evaluasi untuk melihat berjalan atau tidak sesuai harapan.

Para santri Lirboyo menjalankan sholat Jumat.

Untuk menggembleng santri agar bisa melahirkan karya tulis, setiap angkatan diwajibkan menulis karya ilmiah dalam bentuk kerja kelompok. Alasan dibuat dalam bentuk tugas kelompok agar tidak memberatkan santri karena ini diwajibkan untuk kelas tiga Aliyah. Budaya menulis yang sudah dipupuk sejak di Madrasah. Dan ketika menjadi guru, budaya menulis ini semakin mengakar dan tumbuh subur bagai jamur di musim hujan. Terbukti dengan ratusan judul buku dari berbagai disiplin ilmu dengan begitu mudah kita dapatkan di Pesantren Lirboyo.

Pesantren Lirboyo juga mendirikan lembaga otonom yang berkiprah dalam bidang masing-masing untuk menelurkan karya tulis secara sistemastis dan profesional. Ada Lajnah Falakiah (Lembaga Astronomi), Lajnah Ittihadul Muballighin (LIM), Lajnah Bahtsul Masail (LBM), semua karya baik secara lembaga, kolektif maupun personal santri akan ditampung oleh Lajnah Taklif Wa Nashar (penerbit buku) resmi Lirboyo.

Pesantren Lirboyo juga memiliki beberapa majalah dan buletin antara lain yang sudah kami baca Majalah Misykat dan Buletin Ar-risalah. Di majalah dan buletin tersebut merupakan wadah bagi kiai, guru dan santri untuk berdakwah menyampaikan ilmu lewat tulisan. Disamping juga tempat mengasuh dan mengasah bakat santri dalam bidang Jurnalistik.

Seorang ulama besar pernah berkata, “Bila kamu bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, menulislah”. Ulama itu bernama Imam al-Ghazali.

Ya, kesetiaan orang-orang pesantren merupakan peran mengelola negara dan bangsa,serta pada saat yang sama menyemai nilai-nilai Islam. Secara intelektual dan konseptual, pesantren mesti menyediakan ruang dalam merawat negara dan bangsa.

Ilmu-ilmu pesantren, misalnya bidang ushul fiqh, (kalau mau) bisa diterapkan ke dalam ranah legislasi di gedung DPR dalam merumuskan undang-undang agar produk hukum dan kebijakan yang dihasilkan berorientasi pada kemaslahatan umat. Orang-orang pesantren diharapkan mampu merumuskan tema-tema baru yang dibutuhkan umat dan bangsa, misalnya tentang fiqih lingkungan, fiqih kewargaan, fiqih buruh, dan yang lain. Jejaring pesantren dan ribuan jamaah sudah saatnya tidak lagi menjadi objek atau sekadar pasar, tetapi harus menjadi subjek. Ukhuwah haruslah melahirkan berkah secara sosial, ekonomi, dan politik bagi pesantren dan bangsa. Sungguh kini bangsa Indonesia sedang menunggu tuah pesantren.[]

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here