Dari Tlatah Arek, Bonek Mendobrak Ketidakadilan dan Arogansi

0
91

Nusantara.news, Surabaya – Sudah dari sononya (warisan sifat dari nenek moyang), masyarakat yang tinggal di wilayah atau Tlatah Arek (Surabaya, Jombang, Mojokerto, Sidoarjo, Gresik) memiliki karakter pemberani, tanpa tedeng aling-aling alias selalu terang-terangan, tanpa sungkan menyampaikan apa adanya dalam setiap persoalan, itulah sifat Arek Suroboyo, Arek Jawa Timur yang kental dengan kultur Arek-nya.

Sifat dan sikap itu selalu melekat dan dimiliki oleh Bonek (Bondho Nekat), yang dikenal dengan kalimat singkatnya “Wani” alias selalu berani, apalagi di posisi yang benar. Dan, itu selalu diterapkan untuk mendukung kejayaan Persatuan Sepakbola Surabaya (Persebaya).

Kultur Arek, dikenal dengan sifat dan sikapnya yang berani, tegas, sportif dan jangan lupa mereka juga memiliki toleransi yang sangat tinggi. Dikutip dari EmosiJiwaku.com, Bonek adalah karakter militansi terhadap klub sepak bola kebanggaannya, Persebaya.

Gebrakan keberanian Bonek bisa kita lihat enam tahun silam, yang kemudian menjadi titik awal bagi Bonek meneguhkan diri secara bersama-sama, berjuang melawan ketidakadilan yang menimpa Persebaya. Tentu masih segar diingatan kita, saat itu Persebaya dipaksa kalah WO saat melawan Persik Kediri, itu untuk menyelamatkan ‘anak kesayangan’ PSSI, yakni Pelita Jaya.

Bisa jadi pikiran PSSI kala itu, meremehkan dan mengerdilkan perlawanan Bonek, pendukung fanatik Persebaya. Mungkin mereka juga lupa Arek-arek Suroboyo atau Bonek yang memiliki semangat pantang menyerah, bisa dikadalin. Saat itu, PSSI tentu beranggapan suporter itu mudah terbeli, tidak konsisten dan bisanya “joget” belaka. Siapa pun boleh memperdebatkan keberadaan atau posisi Persebaya sebagai klub inisiator lahirnya Liga Primer Indonesia (LPI) dan Indonesia Premier League (IPL). Namun, tak bisa diabaikan Persebaya adalah klub sepakbola yang berani melawan ketidakadilan dalam persepakbolaan di tanah air.

Masyarakat juga perlu tahu, saat itu PSSI dengan kroninya mengkloning Persebaya. Namun, upaya buruk itu tidak menyurutkan perjuangan Arek-arek Bonek. Mayoritas suporter fanatik itu tetap berada dan setia di rumah besar tim yang berjuluk Bajol Ijo di bilangan Jalan Karanggayam No. 1 Surabaya.

Saat itu, meski didatangkan pemain-pemain nasional di Gelora Bung Tomo untuk menarik dukungan Bonek agar menonton Persebaya kloningan. Namun, mayoritas Bonek tak tergiur dengan skenario tersebut. Bonek tetap teguh, tidak hadir di Stadion GBT jika bukan Persebaya berstempel ‘Asli’ yang bertanding.

“Memang munculnya skenario dualisme Persebaya menimbulkan gesekan dan konflik antara Bonek. Tapi mayoritas mendukung Persebaya yang bermarkas di Jalan Karanggayam No 1 Surabaya,” kata Junaedi, pecinta Persebaya asal Sidoarjo.

Gesekan fisik, fitnah, dan kampanye hitam menjatuhkan perjuangan mayoritas Bonek tak terhindarkan. Ejekan menjadi makanan rutin setiap hari. Kemudian, April 2013, dalam Kongres PSSI di Hotel Shangri-La, Surabaya, semakin menegaskan bahwa PSSI ingin mengubur Persebaya asli dalam kiprahnya di sepak bola nasional.

Apakah Perjuangan Bonek berhenti? Diulas dalam catatan itu, ternyata tidak, perlawanan Arek-arek Bonek semakin membesar dan membara. Perjuangan Bonek semakin masif, rutin dan militan. Gesekan dengan ormas, konflik dengan aparat keamanan, termasuk kadang bersitegang dengan media massa yang pro PSSI mewarnai cerita perjalanannya.

Bonek meneguhkan diri sebagai ‘pejuang’ mampu memaksa pemerintah untuk membekukan PSSI. Dan itu tidak pernah terjadi dalam sejarah sepakbola di dunia. Kekuatan dan perjuangan Bonek dengan slogan kalimat pendeknya “Kami Haus Gol Kamu” mampu memberi pengaruh luar biasa sehingga putusan Pengadilan Niaga Surabaya memenangkan Persebaya asli di bawah naungan PT Persebaya Indonesia.

Bonek juga mampu memaksa Persebaya jadi-jadian berubah nama menjadi Persebaya United, Bonek FC, Surabaya United, Bhayangkara Surabaya United, hingga menjadi Bhayangkara FC.

Dari perjalanan itu, seharusnya persoalan Persebaya selesai karena sudah tidak ada dualisme. Tapi tidak, Bonek ternyata harus terus berjuang untuk mengembalikan Persebaya. Tak terhitung berapa banyak aksi Bonek untuk Bela Persebaya yang dilakukan melalui berbagai tema.

Heroik perjuangan Bonek yang luar biasa dan mencengangkan adalah saat menggeruduk Jakarta 1 dan 2. Banyak yang heran, bagaimana Bonek mampu hadir di Jakarta dengan ribuan massa dengan terbuka dan bisa diterima oleh Jakarta yang notabene mayoritas adalah suporter Persija yang masih jadi rival Bonek.

Phobia dan ketakutan yang berlebihan bahwa akan ada kerusuhan selama Bonek berada di Jakarta pupus. Puncak perjuangan Bonek mengembalikan Persebaya diakhiri di Bandung. Bukan tanpa masalah, rintangan yang muncul Ketum PSSI mengultimatum Bonek untuk tidak datang ke Bandung. Ancamannya, Ketum PSSI akan mencoret Persebaya, jika Bonek datang ke Bandung.

Komunitas Bonek paham dan sadar kalau PSSI masih berisi orang-orang yang tidak ingin Persebaya yang asli kembali. Bagi mereka, kembalinya Persebaya adalah kekalahan fatal yang akan dialami. Bonek pun meneguhkan sikap, beramai-ramai tetap datang ke Bandung. Tentu, mereka sadar dengan berbagai risiko dan konsekuensinya. Susah senang ditanggung bersama.

Datangi KLB PSSI di Ancol Jakarta

Dalam perjuangannya, puluhan suporter Persebaya atau Bonek mendatangi lokasi Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Kamis (10/11/2016). Selain untuk mengawal jalannya kongres yang digelar PSSI, mereka juga menagih janji, agar Persebaya bisa kembali berlaga di Liga Indonesia. Tidak boleh ada yang menghalangi Persebaya untuk berlaga di kompetisi sepakbola di tanah air. Semangat perjuangan Arek-arek Bonek tak akan surut dengan rintangan apa pun, bahkan semakin membara jika ada yang menghalangi. Mereka, Bonek tekatnya telah bulat, melawan semua bentuk ketidakadilan dan arogansi.

Sekitar 10 orang perwakilan Bonek berangkat dari Stadion Tugu, Koja, Jakarta Utara pukul 10.45 WIB. Kehadiran mereka menumpang bus polisi dibarengi dengan pengawalan ketat dari petugas kepolisian. Sesampai di Hotel Mercure, sekitar pukul 11.30 WIB mereka langsung masuk ke areal kongres yang sudah berlangsung sejak pukul 09.15 WIB.

“Kedatangan kita (Bonek) saat itu memang untuk menagih janji komitmen PSSI agar Persebaya kembali bisa berkancah di liga nasional, jika komitmen tersebut diingkari, kami melakukan perlawanan hukum dan aksi spontas ratusan Bonek yang sudah ada di Jakarta,” tegas Andie Peci.

Lanjut Andie, aksi spontanitas juga akan dilakukan di depan Istana Negara dan sejumlah tempat lain. Itu dilakukan agarsemua mata terbelalak dan mengetahui kalau Bonek tidak main-main dalam berjuangannya menegakkan kembali aturan dan melawan siapa saja yang berusaha mengubur semangat Bonek, juga menghancurkan Persebaya. Hanya satu kata yang selalu diucapkan massa Bonek, Lawan..!.

“Lihat saja nanti aksinya seperti apa, mereka (PSSI) harus berkomitmen dengan janjinya,” ujar Andie saat itu.

Sementara, Kongres PSSI di Ancol itu mengagendakan dilakukan pemilihan ketua umum PSSI. Dan, hajat besar itu mendapat pengawalan polisi dari Polres Jakarta Utara, tidak tanggung-tanggung penjagaan dan pengamanan dilakukan hingga radius 2 kilometer dari lokasi acara.

Namun, dengan komando Andie Peci, Arek-arek Suroboyo yang tergabung di wadah kebersamaan senasib, seperjuangan yakni Bonek, tidak bergeming sedikit pun. Bahkan, mereka bisa masuk ke areal lokasi KLB dan bisa menyuarakan pernyataan juga “perlawanan”. Itulah Bonek, tak akan mundur selangkah pun menghadapi berbagai rintangan. Apalagi jika memperjuangkan kebenaran, nyawa pun ditaruhkan untuk berjuang dan membela harga diri. Mungkin telah banyak orang tahu, slogan Bonek, ‘Diam membahayakan, bergerak mematikan. Itulah Bonek.

Kemudian, pada 8 Januari 2017 menjadi saksi terukirnya sejarah hebat dari perjuangan membela kebenaran, menegakkan keadilan, dan melawan arogansi yang dilakukan oknum di tubuh PSSI. Dan, peristiwa heroisme yang dilakukan Arek-arek Bonek menjadi catatan penting, bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia. Jika diperjuangkan secara bersama-sama dan dengan bersungguh-sungguh.

Salam Kemenangan untuk-mu Bonek! Banyak orang mengaku bangga dengan sepakterjangmu, menerjang lawan mendobrak ketidakadilan.

Ini selogan suci yang selalu dipegang oleh Arek-arek Bonek, Keadilan adalah ibunda perjuangan dan perlawanan. Melawan dengan sebaik-baiknya. Berjuang dengan sehormat-hormatnya.

Andie Peci Arek Manukan Suroboyo

Dikutip dari Satoenyali.com, menyebut banyak fakta tentang Presidium Bonek, Andie Peci yang belum diketahui banyak orang. Situs itu menulis memiliki banyak data dan cerita tentang Andie, Arek Manukan Surabaya serta sejarah perjalanannya dengan Persebaya, semuanya adalah fakta, nggak mbujuk (tidak bohong) dan tidak ditambah-tambahi, tulis online itu. Lelaki itu kemudian dikenal sampai sekarang dan terus mewarnai kiprah Persebaya.

Kisah itu diawali saat klub kesayangannya, Persebaya berlaga di Sleman, Jawa Tengah. Saat itu, di laga Persebaya melawan Persibo di semifinal Piala Dirgantara, Andie Peci tiba-tiba naik scaffolding. Dia juga sesekali ikut mengajak ratusan Bonek untuk ikut bernyanyi bersama dengan menggerakkan ke dua tangannya. Big applause, Pak Peci!

Dalam aksinya, Andie juga dikenal punya sejumlah kata favorit. Dan saat diwawancarai televisi mana pun, dipastikan (selalu) terucap dan itu selalu dicatat oleh rekan-rekannya adalah kata ‘gitu’.

Andie, oleh teman-temannya dikenal suka dan selalu mencari kerupuk kalau makan. Dan, jika tidak ada kerupuk, dirinya melancarkan protes terutama kepada sahabat karibnya. Dan, itu sudah menjadi kebiasaan, kapan pun, di mana pun, dan dengan siapa pun harus selalu ada kerupuk.

Kebiasaan atau kesukaannya adalah, selalu menyanyi tembang-tembang lawas. Itu, seperti yang ditulis oleh Joner sahibnya. Disebutkan, Adie saat berada di Mess Persebaya atau ketemu dengan Bonek Oldies dipastikan minta lagu tembang-tembang lawas. “Saat itu Dadang yang main gitas, Pak Peci yang menyanyi dan lagunya selalu tembang-tembang lawas,” tulis Joner.

Andie Peci juga dikenal jarang tertawa. Namun ada yang menuliskan di online itu, Andie Peci bisa tertawa saat membaca sejumlah komentar atau apa saja yang diunggah di online Satoenyali.com. Dipastikan, itu karena dia ingat kalimat-kalimat yang pernah diucapkan, atau ulah teman-temannya yang menuliskan kisahnya tersebut secara detail. Dituliskan juga, kalau Andie Peci baru bisa tertawa kalau bertemu dengan Joner dan Dadang, entah kenapa apakah mereka berdua itu lucu di mata Andie, hehe.

Dikisahkan, ulah mereka bisa tertawa saat Andie Peci dan dua sohibnya itu terlibat gurauan, misalnya kejar-kejaran. Atau saling lempar biji salak, atau bungkus rokok (Isie lak gak kejar-kejaran, uncal-uncalan biji salak, uncal-uncalan bungkus rokok, karo uncal-uncalan bojo. Hahaha…). Biasanya, kalau tidak kejar-kejaran, saling lempar biji salak, atau rokok

Andie Peci yang memiliki istri yang cantik dan putih itu, juga dikenal memiliki jiwa sosial yang tinggi. Dikenal dengan sikapnya yang kritis dengan isu-isu sosial. Jiwa sosial itu kemudian diwujudkan dengan mendirikan sekolah untuk balita di dekat rumahnya di wilayah Manukan.

“Jadi gak salah, Rek, lak Pak Peci yo isok disandingno karo Joner. Mereka berdua masuk kategori hot papa yang patut disayangi dan dikasihi. Bedoe cuma terletak nang “divisi ngurus mengurus”. Lak Pak Peci karo Joner podo podo ngurusi Bonek, bedoe sijie wes rabi sijie gorong ero sido rabi ta gak,” bunyi tulisan itu.

Itulah sebagian kisah heroik Arek-arek Surabaya, tepatnya yang dilakukan Bonek masyarakat dari Tlatah Arek, yang berjuang melawan ketidakadilan dan arogansi.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here