Data 1 Juta Bocor Facebook Terancam Pemblokiran di Indonesia

0
108
Ilustrasi

Nusantara.news, Jakarta – Pencurian data pribadi oleh Cambridge Analytica ternyata bukan hanya di Amerika Serikat. Melainkan juga ke sejumlah negara – termasuk Indonesia. Maka Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengatakan tak segan memblokir Facebook jika memang diperlukan.

Sebagaimana dikutip dari laman Facebook News Room, media sosial yang didirikan dan dikelola oleh Mark Zuckerberg itu mengakui adanya akun pribadi yang dicuri Cambridge Analytica bukan hanya 50 juta, melainkan mencapai 87 juta akun. Pencurian terbesar terjadi di Amerika Serikat (AS) yang mencapai 70-an juta akun, disusul Filipina 1,1 juta akun, dan Indonesia 1 juta akun.

Terancam Pemblokiran

Cambridge Analytica adalah konsultan politik yang disewa Tim Kampanye Donald J Trump pada Pemilu 2016 lalu. Puluhan juta akun yang dibajak digunakan untuk mempengaruhi pemilih lewat 10 ribu iklan kampanye yang dengan penghitungan logaritma menyasar pemilih yang berbeda-beda. Iklan yang ditayangkan Cambridge Analytica itu dibaca miliaran kali oleh sebagian besar pemilih AS.

Indonesia menempati peringkat ke-3 data Facebook yang bocor

Menanggapi itu, Menteri Rudiantara mengaku sudah berkoordinasi dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) untuk mengantisipasi penegakan hukum secepatnya. “Penggunaan data yang tidak semestinya oleh Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) bisa melanggar Peraturan Menteri Kominfo tentang Perlindungan Data Pribadi (PDP) maupun Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE),”ujarnya di Jakarta, Kamis (5/4).

Ada pun sanksi yang mengancam pengelola Facebook, lanjut Rudiantara, bisa berupa sanksi administrasi, sanksi hukuman badan dengan ancaman 12 tahun penjara, dan sanksi denda hingga Rp12 miliar. Bahkan Rudiantara, apabila diperlukan tidak segan-segan akan memblokir Facebook. “Tentunya mekanisme ini harus melalui prosedur dan aturan yang berlaku di Indonesia,” beber Rudiantara kepada media.

Rudiantara juga mengatakan sudah menghubungi Facebook langsung melalui telepon sekitar 10 hari lalu. Dia mengingatkan selaku penyelenggara PSE yang beroperasi di Indonesia, Facebook harus taat dengan peraturan yang berlaku di Indonesia – sekaligus minta penjeasan terkait Cambridge Analytica dan dampaknya terhadap pengguna di Indonesia. Namun Rudiantara mengakui hingga kini Facebook belum menjawabnya.

Data yang bocor bisa digunakan untuk beragam kepentingan. Cambridge Analytica sebagai perusahaan pengolah data digital dengan bisnis sampingan konsultan politik menggunakan data yang dicurinya untuk pemenangan Presiden AS Donald J Trump. Media kenamaan Inggris, The Guardian, belum lama ini memperoleh “cetak biru” tentang bagaimana data-data yang dicuri lewat kuis kepribadian di Facebook itu untuk memenangkan kliennya.

Cetak biru itu diperoleh dari Chris Wylie mantan pegawai Cambridge Analytica yang berkebangsaan Kanada. Dalam cetak biru mencakup 23 halaman presentasi perusahaannya tentang bagaimana memenangkan pengguna jasanya. “Ini adalah kumpulan kampanye digital berbasis data yang digunakan Trump,” ungkap Brittany Kaiser, mantan Direktur Pengembangan Bisnis Cambridge Analytica tentang cetak biru yang didapat The Guardian.

Jasa yang ditawarkan Cambridge dalam cetak biru itu meliputi penelitian, survei intensif, pemodelan data, serta mengoptimalkan penggunaan alogaritma untuk menyasar target sebanyak 10 ribu iklan untuk konstituen yang berbeda-beda. Mengutip data dokumen yang dipresentasikan oleh Federal Bureau Investigation (FBI) beberapa minggu setelah Trump terpilih, tercatat iklan kampanye yang tersebar itu dbaca miliaran kali oleh calon pemilih.

Selain memenangkan Trump, Cambridge Analytica diduga ikut campur dalam referendum Britain Exit (Brexit) dan pemiilihan umum di sejumlah negara Afrika. Bukan tidak mungkin Cambridge Analytica yang memiliki reputasi gemilang memenangkan calon Presiden Donald J Trump dengan data curian yang dimilikinya masuk ke Indonesia – memangkan siapa pun calon Presiden yang berkemampuan secara finansial menggunakan jasanya.

Banyak Cara Pembobolan

Pembobolan akun pribadi di Facebook – sebagaimana dikutip dari Kompas Tekno – bisa dilakukan dengan beberapa cara. Sebagai pengguna anda mungkin pernah mendapatkan kiriman sort message service (SMS) berisi kode konfirmasi untuk mereset password dari jejaring sosial itu. Kalau SMS itu datang tiba-tiba – tanpa anda minta – itu sebagai indikasi adanya orang lain yang sedang berusaha masuk akun anda tanpa izin.

Selain itu ada juga yang disebut phising. SMS atau email yang dikirim boleh jadi datang dari pihak lain yang menyamar sebagai Facebook. Jebakan phising ini sebenarnya sangat umum digunakan untuk meretas sejumlah akun media sosial. Phising bisa berupa peringatan seolah-olah akun Anda dalam bahaya dari laman yang mirip login Facebook. Begitu anda memasukkan password sejak itu akun anda diambil alih oleh peretas (hacker). Apabila mendapatkan pesan “phising”seperti itu, hapus atau abaikan. Sebaiknya tidak mengklik tautan yang ada.

Indonesia berada di peringkat ke-4 pengguna Facebook Dunia

Kesalahan Facebook terkait pencurian 87 juta akun pribadi dapat dianalogikan, Facebook membiarkan “pencuri”masuk ke rumahnya. Bahkan pencuri itu difasilitasi membuat aplikasi yang memungkinkan mengambil “data-data pribadi”pengguna yang dipercayakan kepada Facebook selaku pemilik rumah. Lebih parah lagi, Facebook – seperti halnya dalam kasus kuis kepribadian – mendorong penggunanya mengikuti program si pencuri.

Tidak mengherankan apabila Mark Zuckerberg – selaku pengembang sekaligus Chief Executive of Officer (CEO) Facebook sempat dipanggil Senat AS untuk menjelaskan keamanan data pribadi di media sosial yang dikelolanya. Belakangan ini Facebook yang nilai valuasi sahamnya anjlok di bursa saham mesti menghadapi penyelidikan Federal Trade Commission (FTC) – semacam lembaga perlindungan konsumen – yang tidak bisa dianggap main-main untuk masa depan usahanya. Sejumlah perusahaan yang mengabaikan perlindungan terhadap keselamatan konsumennya sudah dibuat bangkrut oleh FTC.

Facebook memang perusahaan raksasa media sosial. WhatsApp, Instragram dan Messanger yang juga banyak penggunanya juga dimilii oleh Facebook. Pengguna aktif Facebook seluruh dunia mencapai 2,17 milir. Indonesia berada di peringkat ke-4 dengan pengguna mencapai 130 juta atau 6 persen dari pengguna Facebook di seluruh dunia. Pangguna aktif akun Facebook di Indonesia bahkan mencapai hampir setengah dari penduduk Indonesia yang sekitar 267 juta. Sulit dibayangkan bagaimana kalau data-data itu dibobol pencuri untuk mempengaruhi pemilih Indonesia – baik Pemilu Presiden maupun Pemilu Legislatif?

Faktor yang lebih berbahaya adalah terjadinya pembohongan terhadap publik secara besar-besaran lewat iklan atau mewabahnya “berita palsu” di sosial media – khususnya Facebook, Amerika Serikat saja yang canggih dengan infrastruktur penegakan hukum yang lebih lengkap saja bisa kebobolan, apalagi Indonesia. Pembohongan lewat propaganda itu akan menegaskan kebenaran dari ucapan, kebohongan yang diucapkan berulang-ulang akan menjadi kebenaran.

Untuk itu, sudah benar kiranya apabila penegak hukum di Indonesia perlu menelisik komitmen Facebook dalam mengamankan akun media sosialnya dari pencurian data pribadi. Sebab kita tidak ingin siapa pun Presiden atau anggota DPR maupun DPD yang dipilih lahir dari kebohongan yang diucapkan secara berulang-ulang di media sosial. Apalagi lewat akun bajakan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here