David Friedman: Konektor antara Trump dan Israel

0
165

Nusantara.news, Jakarta – David Friedman kini tengah bersiap menjalankan tugas baru. Februari mendatang ia akan mengisi pos Dubes AS di Israel. Sejak Trump diumumkan sebagai pemenang Pilpres, ia telah memilih Friedman sebagai calon Dubes AS untuk Israel.

Friedman adalah warganegara AS dan berdarah Yahudi tulen. Lahir di tahun 1959 di New York, tokoh yang memiliki nama lengkap David Melech Friedman ini merupakan satu dari empat anak dari Morris S. Friedman dan Addi Friedman. Morris, sang ayah, adalah seorang rabi di Kuil Hillel, sinagoga Konservatif di North Woodmere, New York dan menjabat sebagai Kepala Dewan Rabi New York. Sang ibu bekerja seorang guru bahasa Inggris di SMA.

Lulus gelar sarjana muda di bidang antropologi dari Universitas Columbia di tahun 1978 ia melanjutkan pendidikannya di program pasca sarjana bidang hukum di Universitas New York dan lulus di tahun 1981. Di tahun berikutnya tergabung ke dalam organisasi advokat di New York dan memulai karirnya sebagai bankruptcy lawyer.

Di tahun 1981 ia menikah dengan Tammy Deborah Sand yang berasal dari negara bagian Miami. Friedman juga memiliki rumah pribadi di bilangan distrik Talbiya, Yerusalem.

Di tahun 1994 ia bersama beberapa rekannya mendirikan firma hukum Kasowitz, Benson, Torres & Friedman. Keahliannya sebagai pengacara kebangkrutan mengantarkan dirinya untuk mengenal lebih dekat Donald Trump. Bahkan, ia sering kali mewakili Trump dalam berbagai urusan bisinis.

Kedekatannya dengan Trump membuat ia akhirnya “ditarik” oleh sang taipan. Oleh Trump ia dipercaya untuk menjabat sebagai Wakil Presiden pada Trump Organization. Friedman yang sangat fasih dalam bahasa Ibrani ini  juga menjadi penasehat Trump untuk isu-isu seputar Israel dan Yahudi semasa musim kampanye Pilpres di AS. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika Trump menominasikannya sebagai Dubes AS untuk Israel.

Sayap Kanan Militan

Selama ini Fredman dikenal karena kegiatan-kegiatan filantropisnya. Ia menjabat sebagai Presiden American Friends of Bet El, sebuah organisasi yang aktif melakukan lobby, kampanye serta penggalangan dana  untuk pengembangan pemukiman warga Yahudi di Tepi Barat. Aktifitas lain yang kerap ia lakukan adalah menulis kolom untuk surat kabar sayap kanan Israel yang berbahasa Inggris, Arutz Sheva dan The Jerusalem Post.

Retorika politik Trump selama masa kampanye yang cenderung rasis membuat berbagai kelompok minoritas di AS, termasuk komunitas Yahudi, tidak menyukai sosok ini. Di sinilah jasa Friedman bagi Trump. Ia selalu menetralisir persepsi masyarakat Yahudi di AS bahwa Trump bukan merupakan musuh kaum Yahudi.  Namun, tidak semua orag Yahudi di AS mempercayai omongannya. Itulah sebabnya nominasi atas dirinya sebagai calon Dubes AS untuk Israel justru menimbulkan kontroversi di kalangan komunitas Yahudi di AS.

Friedman sendiri terkenal karena pandangan politiknya yang konservatif. Ia  bahkan tidak segan-segan menyerang secara terbuka di publik terhadap sesama Yahudi yang memiliki pandangan berbeda dengannya. Sikap dan tindakannya itu menyebabkan beberapa kelompok Yahudi dan Israel di AS menentang pencalonannya.

 

 

Eksistensi Israel adalah Harga Mati

Tokoh Yahudi dari organisasi advokasi liberal, J. Street menentang keras nominasi Friedman. Hal ini dilatarbelakangi oleh sikap Friedman yang mengambil sikap oposisi terhadap solusi dua-negara untuk Israel dan Palestina. Di mata kelompok Yahudi liberal, solusi dua-negara masing-masing untuk Israel dan Palestina merupakan opsi yang adil.

Opsi ini mengandaikan Israel dan Palestina hidup berdampingan sebagai negara berdaulat, saling menghormati, bekerjasama, serta aktif menjaga dan mempromosikan perdamaian di Timur Tengah.

Sebaliknya, bagi Friedman hanya satu solusi bagi konflik Israel – Palestina, yaitu: pengakuan terhadap Israel secara utuh, tanpa embel-embel eksistensi Palestina. Ia sering mempertanyakan kebutuhan untuk solusi dua-negara dengan mengatakan, “Solusi dua negara bukan prioritas.  Solusi dua negara adalah cara, tapi itu bukan satu-satunya cara.”

Untuk mempertegas posisinya ia mengatakan bahwa Trump akan sangat terbuka bagi Israel untuk mencaplok wilayah Tepi Barat. Dari sisi ini, Friedman memang tergolong kelompok Yahudi ultra konservatif. Di sisi lain, Friedman juga kerap membuat pernyataan kontroversial menyangkut soal-soal Timur Tengah, termasuk dalam soal konflik Israel – Palestina.

Salah satunya adalah ide Friedman untuk memindahkan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem dan mendukung aneksasi Israel di wilayah Tepi Barat. Idenya ini seolah menantang dunia Islam dan gereja Katolik (Tahta Suci Vatikan)—dua entitas umat beragama yang tidak mengakui kekuasaan Israel atas Kota Yerusalem.

Saeb Erekat, tokoh Yahudi liberal yang dikenal dekat dengan orang-orang Palestina mengecam sikap Friedman yang tak kenal kompromi itu. Ia mengatakan, “Sikap dan pernyataan Friedman mengarah pada penghancuran proses perdamaian, melanggar hukum dan ekstrem.” Saeb Erekat merupakan tokoh Yahudi yang aktif menjembatani dialog antara berbagai komunitas di Israel maupun Palestina dalam rangka mewujudkan solusi dua negara.

Ia juga aktif mendorong masyarakat internasional agar status Otoritas Palestina dapat dinaikkan menjadi negara Palestina yang berdaulat penuh. Kini ia menjabat sebagai Kepala Perunding untuk Otoritas Palestina.

Selain J. Street dan Saeb Erekat, setidaknya ada enam anggota Demokrat di DPR, termasuk perwakilan Yahudi Jan Schakowsky, Jerrold Nadler, John Yarmuth, dan Steve Cohen, yang secara terbuka menentang pencalonannya sebagai Dubes untuk Israel.

Namun, beberapa kelompok Yahudi sayap kanan mendukung nominasi Friedman. Nathan Diament, Direktur Eksekutif kebijakan publik di Uni Ortodoks, sebuah kelompok Yahudi  ultra konservatif, memuji Trump yang telah menominasi Friedman. Ia menilai, langkah ini sebagai upaya perubahan positif dalam meningkatkan hubungan Israel dan AS yang agak memburuk selama pemerintahan Obama.

Organisasi Zionis Amerika, Koalisi Yahudi Republik, dan Rabbi Yechiel Eckstein, pendiri dan presiden dari International Fellowship Kristen dan Yahudi, semua merupakan elemen-elemen yang mendukung nominasinya menjadi Dubes AS untuk Israel. The Yesha Council, organisasi payung yang mengatur dan mengkoordinasikan pembangunan pemukiman Yahudi di Tepi Barat, juga menyambut nominasi Friedman.

Dukungan terhadap Friedman juga datang dari otoritas Israel. Tzipi Hotovely, Wakil Menteri Luar Negeri Israel yang juga politisi partai Likud ini mendukung pencalonan Friedman karena aktifitasnya yang pro-pemukiman Yahudi di Tepi Barat yang dilakukan Friedman selama ini.

Street, tokoh Yahudi yang mempromosikan perdamaian dan persahabatan Israel – Palestina diserang habis-habisan oleh Friedman. Menulis dalam sebuah opini untuk surat kabar Arutz Sheva—sebuah media cetak berhaluan kanan yang terbit di Israel—Friedman menyatakan, perilaku kaum Yahudi pendukung J Street lebih buruk dari kamp konsentrasi Nazi.

Ia tampaknya ingin menyindir kelompok Yahudi liberal dengan menyamakan tindakan mereka seperti kamp konsentrasi era Nazi di Jerman yang telah membantai kaum Yahudi. Dalam pandangannya, kaum Yahudi liberal justru akan menghancurkan Israel. “J. Street dan para pendukungnya bukan orang Yahudi dan mereka tidak pro Israel,” tulis Friedman. Ini memang  retorika khas kelompok sayap kanan di manapun. “Asli” dan “tidak asli” selalu menjadi unsur utama dalam “membangun” komuniskasi politik sebagai dasar untuk membedakan antara kawan dan lawan. [] (Disarikan dari berbagai sumber)

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here