“Dikerjain” Partai, Pilgub Jabar Tanpa Ridwan Kamil dan Deddy Mizwar

0
404
Ridwan Kamil (kiri) terlibat perbincangan dengan Deddy Mizwar (kanan)

Nusantara.news, Jawa Barat – Peta koalisi di Pilgub Jabar jelang pendaftaran pasangan calon 8 Januari 2018, terus berubah-ubah. Tak cukup sekali drama pecah kongsi, bongkar pasang koalisi, dan kocok ulang pasangan calon mewarnai perjalanan menuju Jabar satu ini. Sebelumnya, pasangan Deddy Mizwar (Demiz)-Ahmad Syaikhu yang diusung PKS- Partai Gerindra kandas dengan alasan Gerindra tak menemukan kecocokan dengan Demiz. Kemudian Demiz mencari pelabuhan baru. Partai Demokrat, PKS, dan PAN pun meracik ulang koalisi dan tetap mengusung Demiz sebagai Cagub.

Namun, pasca-pengumuman koalisi Pilgub di lima provinsi oleh Gerindra-PKS-PAN yang diumumkan hari Rabu (27/12), praktis PAN dan PKS menarik diri dari poros Demokrat. Ketiga partai tersebut secara resmi mengumumkan pasangan calon untuk berlaga di Pilgub Jabar, yaitu Mayjen (Purn) TNI Sudrajat-Ahmad Syaikhu.

Mayjen (Purn) TNI Sudrajat-Ahmad Syaikhu akhirnya secara resmi diusung PKS-Gerindra-PAN untuk Pilgub Jabar

Koalisi Demokrat sedianya mengantongi 28 kursi dari syarat minimal 20 kursi di DPRD Jabar untuk mengusung cagub/cawagub. Koalisi ini akhirnya retak dan meninggalkan Demokrat sendirian. Dukungan kepada Deddy menjadi gembos karena baru mengantongi 12 kursi dari Demokrat.

Hal serupa dialami Ridwan Kamil (RK) yang didukung Partai Golkar, NasDem, PKB, dan PPP. Walikota Bandung ini ditinggalkan Golkar selepas partai beringin itu berganti ketua umum dari Setya Novanto ke Airlangga Hartarto. Langkah Golkar ini membuat PPP dan PKB di atas angin. Kedua partai tersebut, di hari yang sama, mengancam akan mencabut dukungan politik terhadap Walikota Bandung tersebut. Alasannya seragam: hal ihwal penetapan cawagub yang tak menemukan kata sepakat. Mereka berebut posisi wakil dari partai masing-masing.

Dengan begitu, posisi RK belum aman. Sebab, tak menutup kemungkinan, PPP, PKB, dan NasDem yang notabene rekan sekoalisi di pemerintahan pusat, bisa kapan saja beralih haluan ke poros PDIP. Golkar pun kabarnya akan merapat ke PDIP.

Kecewa dengan Ridwan Kamil soal cawagub, PPP dan PKB Evaluasi Dukungan

Senasib dengan RK, Demiz juga rentan. Pencalonannya tergantung manuver partai pendukung semata wayangnya yaitu Demokrat. Di tengah langkahnya yang sulit, mustahil Demokrat tetap mempertahankan Demiz. Kemungkinannya Demokrat akan bergabung ke salah satu koalisi yang telah ada, bisa juga abstain dari percaturan Pilgub Jabar.

Empat Poros Politik

Dengan peta politik yang berubah, tentu saja berdampak pada poros koalisi dan pasangan calon yang juga berubah. Diprediksi, peta koalisi di Pilgub Jabar akan diramaikan empat kemungkinan poros politik. Pertama, poros merah. Yaitu koalisi yang dibangun PDIP/20 kursi bersama partai-partai koalisi pusat (Golkar/17, PPP/9, PKB/7, NasDem/5) untuk menjagokan cawagub Dedi Mulyadi berpasangan dengan cagub dari PDIP (antara eks-Kapolda Jabar Anton Charliyan, Puti Guntur, TB Hasanuddin, atau calon lain).

PDIP hingga kini belum mengumumkan jagoannya untuk berlaga di Pilgub Jabar. PDIP selain sulit menang di Jabar, dihadapkan pada kesulitan mencari kader yang tepat. Bursa calon yang beredar antara lain: mantan Kapolda Anton Charliyan, Puti Guntur, TB Hasadunin, hingga Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti

Kedua, poros putih. Adalah koalisi PKS/12, Gerindra/11, dan PAN/4 dengan mengusung Mayjen (Purn) TNI Sudrajat-Ahmad Syaikhu.

Ketiga, poros biru. Koalisi Demokrat/12 yang kemungkinan masih bisa menarik Golkar/17 atau PPP/9 dan PKB/7 (untuk menggenapi minimal 20 kursi) denga mengusung Demiz-Demul (Deddy-Dedi). Skenario lain, Demiz dipasangkan dengan cawagub dari partai selain Golkar.

Keempat, poros hijau. Koalisi ini terdiri dari PPP/9, PKB/7, NasDem/5, dengan mengusung pasangan RK yang sementara ini berpasangan dengan-Uu Ruzhanul Ulum (Bupati Tasikmalaya, kader PPP).

Namun koalisi ini bisa berubah menjadi poros kuning jika Golkar/17 kembali mengusung RK sebagai cagub berpasangan dengan Demul. Golkar/17 saat ini sedang menggoda PPP/9 dan PKB/7 yang masih bersengketa dengan RK soal cawagub. Golkar juga gencar menjajaki kongsi dengan Hanura/3. Akibat dari koalisi ini, PKB dan PPP yang sejak awal berebut cawagub, bisa jadi mencabut dukungan terhadap RK dan bergabung ke poros lain.

RK-Demiz, Sengaja Dijegal?

Di luar poros tersebut, kemungkinan lain muncul: RK dan Demiz gugur karena tak punya kendaraan politik alias tak bisa ikut kontestasi di Pilgub Jabar. Jika maju lewat jalu perseorangan (independen) pun, keduanya tak bisa sebab jalur tersebut sudah ditutup pendaftarannya. Keduanya berada di ujung tanduk.

RK saat diusung Golkar: Penyerahan rekomendasi usungan dari DPP Partai Golkar ke Ridwan Kamil

RK maupun Demiz yang semula dipuja-puji partai, calon petahana, dan punya popularitas serta elektabilitas tinggi, kini nasibnya ‘terlunta-lunta’ karena manuver partai-partai pendukung yang menarik diri di masa injury time pendaftaran. Jika harus bertahan, kondisinya berbalik: memaksa mereka untuk ‘serah bongkokan’ pada kuasa partai. Itu artinya, saham transaksi akan lebih ditentukan oleh telunjuk parpol. Sampai di sini, muslihat parpol menunjukkan kelasnya. Sedangkan RK dan Demiz berada di posisi yang terjepit.

Kondisi ini tak ayal memicu spekulasi adanya operasi untuk menjegal calon yang punya elektabilitas tinggi. Modusnya: Demiz dan RK digantung di seleksi awal, bisa jadi tidak diloloskan, dan ujungnya terlempar dari kontestasi. Sebaliknya, parpol akan leluasa membuka peluang bagi kader partainya sendiri atau calon di luar kader untuk maju. Tampaknya, partai lebih memilih orang-orang yang disukai tapi tidak punya elektabilitas. Dan, “Pembantaian” Demiz – RK ini merupakan keegoisan partai dalam merengkuh kekuasaan politik.

Padahal, di tengah kepercayaan publik yang merosot terhadap partai (termasuk calon yang diusung), majunya RK dan Demiz sempat membuat publik antusias menyambut Pilgub Jabar. Pesta demokrasi lima tahunan di tanah pasundan itu bahkan digadang-gadang akan menjadi “perang bintang”, mengingat tokoh yang bertarung memiliki kelebihan dan popularitas masing-masing di hati masyarakat Jabar.

Diuntungkan: Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi (Demul) sebagai kader Golkar diuntungkan jika Demiz dan RK tak bisa ikut kontestasi di Pilgub Jabar nanti

Namun, ketiadaan Demiz-RK, sedikit banyak memupus harapan menyaksikan “pertandingan” seru. Kondisi ini, bisa jadi membuat kualitas dan daya saing kontestasi di Pilgub Jabar buruk. Lebih dari itu, berdampak pada kurangnya antusias masyarakat menyambut dan berpartisipasi di pilgub Jabar.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here