Debat tanpa Manfaat

0
61

SETELAH usai debat kedua antarcalon presiden kemarin, apa yang tersisa di benak publik? Pertanyaan ini patut kita ajukan karena semestinya perdebatan dua calon pemimpin tertinggi itu menancapkan pesan yang mendalam di masyarakat. Pesan itulah yang akan menjadi preferensi rakyat untuk menentukan pilihan dalam bilik suara pemilu nanti. Kasihan rakyat, jika mereka memilih menyerahkan nasib dan masa depannya ke seorang pemimpin yang tidak memberikan pesan yang jelas. Padahal satu dari dua calon pemimpin itulah yang akan mengemudikan perahu bangsa ini memasuki lautan masa depan yang penuh gelombang.

Seusai debat, hanya tim pendukung kedua belah pihak saja yang ramai dengan klaim bahwa calon presidennya telah memenangkan pertandingan silat lidah itu. Lalu ada saling mengadu ke KPU atau Bawaslu bahwa calon lawannya telah melanggar ini dan itu.

Tidak ada perdebatan lanjutan yang eksploratif dari kedua kubu –mungkin karena tak ada pula topik yang layak dieksplorasi. Coba saja lihat, debat yang gegap gempita dan berbiaya mahal itu ternyata jauh dari eksplorasi konsepsi yang paradigmatik. Kedua kandidat terjebak masuk ke level teknis. Ketika ada yang keliru di level teknis itu, bullying serempak berhamburan.

Ketika banyak kritik terhadap debat pertama 17 Januari lalu, KPU mencoba menyempurnakan format teknis debat. Misalnya tak ada lagi kisi-kisi yang diberikan, ada tayangan video dan sebagainya. Tetapi, tetap saja tidak banyak membantu untuk menghadirkan tampilan perdebatan yang bermutu.

Mumpung masih ada tiga debat lagi yang tersisa, KPU harus merombak total format debat.  Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan.

Pertama, harus dipahami bahwa yang berdebat ini adalah calon presiden dan calon wakil presiden. Dalam manajemen pemerintahan, mereka adalah pengambil kebijakan dan keputusan tertinggi. Presiden dan wapres itu berada di level kebijakan, karena kebijakannya yang menentukan arah penyelenggaraan negara. Pejabat setinggi itu tidak perlu terlalu banyak berurusan dengan level strategis, apalagi level taktis.

Sebab level stategis itu semestinya menjadi urusan para pembantu presiden atau para menteri. Sementara level taktis itu ditangani oleh pejabat kementerian/lembaga di bawah menteri atau kepala lembaga.

Misalnya, presiden menetapkan kebijakan di bidang keuangan. Para pembantu presiden mengatur strategi untuk melaksanakan kebijakan itu, baik strategi moneter, fiskal, dan sebagainya. Pejabat di bawahnya merumuskan lagi taktik operasional menjalankan strategi itu.

Sistematika inilah yang dikacaukan dalam debat capres-cawapres ini. Karena pada umumnya kandidat ditanya soal strategi, bukan kebijakan, untuk mengatasi suatu permasalahan. Anehnya pula, dalam menjawab strategi itu para kandidat pun terkadang masuk ke level taktis.

Oleh karena itu, pertanyaan yang diajukan harus mampu menggali alternatif kebijakan calon presiden tentang bagaimana mencapai tujuan dan cita-cita nasional negara. Calon presiden harus berbicara hal-hal yang bersifat besar dan paradigmatik.

Kebijakan yang paradigmatik inilah yang seharusnya diperdalam. Misalnya, bagaimana korelasi secara integralistik antara kebijakannya itu dengan tujuan-tujuan negara? Atau bagaimana memposisikan Indonesia dalam percaturan politik dan ekonomi regional dan internasional?  Jika pertanyaan masuk ke level strategis, apalagi taktis, maka calon presiden akan masuk wilayah sangat detil yang tidak terlalu relevan bagi jabatan setinggi kepala negara.

Kedua, memaksimalkan panelis. Kehadiran sejumlah akademisi dan guru besar dari berbagai perguruan tinggi terkemuka sebagai panelis seharusnya dapat memancing debat mendalam. Kalau mereka hanya ditugasi menyusun pertanyaan untuk para capres seperti yang kemarin, jelas mubazir untuk tingkat keahliannya.

Selain menyusun pertanyaan, panelis juga mesti aktif dalam debat. Mereka harus diberi peluang untuk mengajukan pertanyaan pendalaman, agar benar-benar tergali kebijakan sang calon. Kalau calon hanya menjawab pertanyaan, dan tidak ada penggalian lebih lanjut terhadap jawaban itu, maka jawaban asal bunyi saja cukup. Tidak bisa diukur kebenaran atau kualitas jawabannya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here