Deddy Mizwar akan Unggul vs Ridwan Kamil

0
265
Deddy Mizwar vs Ridwan kamil

Nusantara.news, Jakarta – Deddy Mizwar (Demiz) diprediksi akan unggul melawan Ridwan Kamil (Emil) pada Pilgub Jabar yang digelar Juni 2018. Prediksi ini mengacu pada modal sosial dan modal politik yang dimiliki Demiz yang lebih baik ketimbang modal politik dan modal sosial yang dimiliki Ridwan Kamil.

PDIP dan Gerindra

Utak atik koalisi di Jabar memang belum tuntas. Masih ada tiga partai yang belum menentukan sikap. Yakni Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Gerindra dan Hanura. PDIP dengan 20 kursi di DPRD Jabar, bisa mengusung satu pasang calon. Sementara Gerindra dan Hanura dengan total 14 kursi, harus berkoalisi  dengan PDIP atau dengan salah koalisi partai yang sudah terbentuk yakni koalisi partai yang mengusung Ridwan Kamil yakni Golkar, Nasdem, PPP dan PKB dengan total 51 kursi di DPRD Jabar, atau koalisi yang mengusung Deddy Mizwar yakni Demokrat, PKS dan PAN dengan total 26 kursi di DPRD Jabar.

Walau bisa mengusung calon sendiri, PDIP tampaknya memilih berkoalisi dengan salah satu koalisi patai yang sudah ada. Sebab, dalam dua kali Pilgub Jabar, yakni Pilgub 2008 dan 2013, PDIP mengalami kekalahan. Kekalahan itu diluar perhitungan, karena calon yang diusung sangat populer dan PDIP juga sedang kuat-kuatnya di Jabar.

Pada Pilgub 2008, PDIP yang berkoalisi dengan PPP, PKB, PKPB,  PBB, PBR dan PDS  mengusung Agum Gumelar dan Nu’man Abdul Hakim, kalah melawan koalisi dua partai papan tengah yakni PKS dan PAN yang mengusung pasangan muda yang belum berpengalaman yakni Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf.

Pasangan Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf memperoleh 40,50% suara, sedang pasangan Agum Gumelar dan Nu’man Abdul Hakim memperoleh 34,55% suara. Sisanya diperoleh pasangan pasangan Danny Setiawan  dan Iwan Sulandjana yang diusung koalisi Partai Golkar dan Partai Demokrat dengan perolehan suara 24,95%.

Pada Pilgub 2013, PDIP juga mengusung tokoh kuat, kombinasi sosok populer  dan sosok bersih yakni pasangan Diyah Pitaloka alias Oneng (aktris) dan Teten Masduki (tokoh antikorupsi).

Pasangan ini lagi-lagi kalah berhadapan dengan Ahmad Heriawan yang kali ini berpasangan Deddy Mizwar yang diusung koalisi Gerindra dan PKS.

Berdasarkan pengalaman ini, tampaknya PDIP akan memilih berkoalisi dengan koalisi yang sudah ada. Jika PDIP memilih berkoalisi dengan salah satu koalisi yang mengusung Deddy Mizwar atau koalisi yang mengusung Ridwan Kamil, maka Gerindra dan Hanura harus melakukan hal sama.

Dalam perspektif ini, koalisi mana pun yang akan dipilih PDIP, Gerindra dan Hanura, figur yang bertarung adalah  Ridwan Kamil dan Deddy Mizwar. Siapa favorit pemenang di antara dua figur ini?

Deddy Mizwar vs Ridwan Kamil

Ridwan Kamil lahir di Bandung, 4 Oktober 1971. Sedang Deddy Mizwar lahir di Jakarta, 5 Maret 1955. Namun demikian, tempat lahir hanyalah salah satu bagian kecil dari faktor yang menentukan kemenangan dalam sebuah pemilu. Masih terdapat sejumlah unsur yang terlibat dalam upaya memenangkan sebuah pertarungan dalam pemilu. Unsur itu secara garis besar dapat dibagi dua, yakni unsur-unsur yang berada di luar diri kandidat tetapi mendukung kandidat, dan unsur yang dimiliki atau yang melekat pada diri kandidat.

Unsur-unsur yang berada di luar kandidat termasuk dalam hal ini adalah partai, kader partai, relawan, endorser, dan lain sebagainya, secara keseluruhan dapatlah disebut mesin partai.

Sementara unsur-unsur yang melekat pada diri kandidat, adalah modal yang dimiliki dan melekat pad diri kandidat, yakni modal sosial dan modal politik.

Kedua unsur ini, yakni antara mesin partai dan modal kandidat, seringkali berjalan tidak sinkron. Pengalaman PDIP yang kalah dalam dua kali Pilgub Jabar, dapat dijadikan contoh dalam hal ini.

Walau PDIP adalah partai besar di Jawa Barat, dan calon yang diusung populer, tetapi pada Pilgub 2008 dan 2013 pasangan yang diusung PDIP kalah dengan pasangan yang diusung partai lebih kecil. Mengapa kalah? Ada beberapa kemungkinan. Pertama mesin partai tidak bekerja optimal, atau modal sosial dan modal politik yang dimiliki calong yang diusung kalah dibanding modal sosial dan modal politik calon yang diusung partai lain.

Untuk saat ini yang sudah bisa dinilai adalah perbandingan modal sosial dan modal politik yang dimiliki kedua kandidat. Sementara mesin partai masih terbuka terhadap perubahan mengingat PDIP, Gerindra dan Hanura belum menentukan sikap.

Bagaimana perbandingan modal sosial dan politik antara Deddy Mizwar dan Ridwan Kamil?

Modal politik diartikan sebagai pendayagunaan keseluruhan jenis modal yang dimiliki oleh seorang pelaku politik atau sebuah lembaga politik untuk menghasilkan tindakan politik yang menguntungkan atau memperkuat posisi pelaku politik atau lembaga politik bersangkutan.

Ada empat pasar politik yang berpengaruh pada besaran modal politik yang dimiliki oleh seorang pelaku politik atau sebuah lembaga politik.

Pasar politik pertama adalah pemilu karena  pemilu betapa pun adalah instrumen dasar untuk pemilihan pemimpin dalam sistem demokrasi.

Pasar politik kedua adalah perumusan dan pelaksanaan kebijakan-kebijakan publik.

Pasar politik ketiga adalah dinamika hubungan dan konflik antara pelaku politik dan lembaga politik dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan-kebijakan publik.

Pasar politik keempat adalah pendapat atau pandangan umum (public opinion) mengenai pelaku politik atau lembaga politik.

Sementara modal sosial diartikan sebagai bagian-bagian dari organisasi sosial seperti kepercayaan, norma dan jaringan yang dapat meningkatkan efisiensi masyarakat dengan memfasilitasi tindakan-tindakan yang terkoordinasi. Modal sosial juga didefinisikan sebagai kapabilitas yang muncul dari kepercayaan umum di dalam sebuah masyarakat atau bagian-bagian tertentu dari masyarakat tersebut. Selain itu, konsep ini juga diartikan sebagai serangkaian nilai atau norma informal yang dimiliki bersama di antara para anggota suatu kelompok yang memungkinkan terjalinnya kerjasama.

Bagaimana peta persaingan antara Deddy Mizwar dengan Ridwal Kamil diukur dari perbandingan modal sosial dan modal politik yang dimiliki keduanya?

Data-data Deddy Mizwar dan Ridwal Kamil cukup banyak di sistem internet. Berdasarkan penelusuran terhadap keduanya, secara cepat dikemukakan bahwa modal sosial dan modal politik Deddy Mizwar berada di atas modal sosial dan modal politik yang dimiliki Ridwan Kamil.

Ridwan Kamil banyak berkecimpung di luar negeri.  Tamat dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ridwan Kamil bekerja di sebuah perusahaan di Amerika. Dari sana dia melanjutkan studi di University of California, Berkeley dan baru pulang ke Tanah Air tahun 2002. Di Indonesia, Ridwan Kamil mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang jasa konsultan, perencanaan, arsitektur dan desain.

Orientasi asing Ridwan Kamil cukup kental. Karena itu sejumlah penghargaan diperolehnya berasal dari media internasional seperti BCI Asia Awards yang diperolehnya selama tiga tahun berturut-turut pada tahun 2008, 2009 dan 2010.

Orientasi asing ini, sudah  tentunya cenderung melahirkan modal ekonomi bagi Ridwan Kamil, dan tidak melahirkan modal sosial atau modal politik. Apalagi hal-hal yang terkait dengan arsitektur dan desain, cenderung elitis, sehingga tidak efektif membentuk jaringan sosial, sebagai inti dari modal sosial.

Kondisinya sangat berbeda atau malah berbanding terbalik dengan Deddy Mizwar, yang berkarir  di dunia film. Deddy Mizwar dikenal sebagai aktor senior, sutradara sukses dan pernah menjadi Ketua Badan Pertimbangan Perfilman nasional periode 2006-2009.

Film yang dibintangi atau yang disutradarai Deddy Mizwar juga bukan sekadar populer, tetapi ada beberapa yang tak terlupakan, seperti Film Naga Bonar yang sangat populer dan sinetron Para Pencari Tuhan yang diputar salah satu TV swasta di bulan Ramadhan.

Dua film ini, yakni Naga Bonar dan Para Pencari Tuhan merupakan modal sosial kuat bagi Deddy Mizwar, karena secara tak langsung membentuk jaringan sosial antara penggemar dan Deddy Mizwar.

Genre dua film ini berbeda. Film Naga Bonar yang progresif melekat kuat terutama pada masyarakat di perkotaan, atau dalam istilah akademisnya, pada masayarakat abangan. Sedang Sinetron Para Pencari Tuhan yang lembut, merupakan melekat kuat pada masyarakat agamis atau dalam bahasa akademisnya, santri.

Di Jawa Barat sendiri, keseluruhan masyarakat secara garis besar dikelompokkan dalam dua kelompok besar, yakni Pantura dan Priangan. Sosok Deddy Mizwar mudah dipersonaliasi oleh dua kelompok besar masyarakat ini. Masyarakat Pantura yang progresif mudah mempersonalisasi diri dengan sosok Deddy Mizwar melalui film Naga Bonar, sedang masyarakat Priangan yang lembut, mudah mempersonalisasi diri dengan sosok Deddy Mizwar melalui Sinetron Para Pencari Tuhan.

Dengan satu dua sentuhan, modal sosial ini akan berkembang atau berubah menjadi menjadi pemilih pada Pilgub jabar yang digelar Juni 2018 mendatang.

Modal politik Deddy Mizwar juga lebih luas ketimbang Ridwan Kamil. Modal politik Deddy Mizwar meliputi seluruh kabupaten kota di Jawa Barat atau seluas jangkauan kebijakan Pemprov Jabar di mana Deddy Mizwar adalah wakil gubernur, sementara modal politik Ridwan Kamil terbatas pada wilayah Kota Bandung.

Isu 212, yang konon katanya juga akan bermain di pilkada serentak, kecenderungannya akan memihak ke kubu Deddy Mizwar, bukan saja karena unsur PKS, tetapi juga karena terkait dengan miodal sosial yang dimiliki Deddy Mizwar..

Dari perspektif ini Deddy Mizwar di atas kertas unggul besar dibanding Ridwan Kamil.

Namun demikian, bukan berarti Ridwan Kamil tidak bisa menang. Sebab, terdapat sejumlah faktor lain yang mempergaruhi pilgub. Ridwan Kamil misalnya bisa memanfaatkan modal ekonomi yang dimiliki antara lain dengan menggiring opini publik Jabar ke arah hal-hal di mana dia unggul dibanding Deddy Mizwar.

Salah satunya, misalnya pengalaman Ridwan Kamil di dunia internasional (Amerika), atau keahlian Ridwan Kamil dalam hal arsitektur.  Ridwan Kamil bisa saja membentuk opini publik tentang saling ketergantungan antar negara sebagai kunci pembangunan ekonomi, atau dalam hal arsitektur, Ridwan Kamil bisa berkreasi membentuk kota-kota di Jawa Barat yang gagah dan setara dengan kota-kota terkenal di dunia atau Amerika.

Ridwan Kamil juga bisa memanfaatkan keahliannya di bidang artsitektur dengan menjadikan situs purbakala yang bertebaran di Jawa Barat sebagai objek kampanye. Situs purbakala tidak saja bisa dipoles melalui pendekatan arsitektur menjadi daya tarik wisata melebihi Bali, tetapi juga dikembangkan menjadi objek penelitian internasional sehingga membentuk citra masyarakat Indonesia, Jabar pada khsusnya sebagai masyarakat yang sudah menguasai teknologi tinggi sejak dahulu kala. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here