Deddy Mizwar Favorit Pemenang, TB Hasanuddin Kuda Hitam

0
377

Nusantara.news, Jakarta –  Pemilihan Gubernur Jabar 2018 adalah kali pertama di mana calon yang diusung PDIP tidak diunggulkan. Unggulan Pilgub Jabar kali ini condong ke Deddy Mizwar. Apakah TB Hasanuddin-Anton Charliyan hanya penggembira? Eletabilitas TB Hasanuddin-Anton Charliyan tidak tinggi. Tetapi Jabar adalah basis PDIP. Jumlah kursi PDIP di DPRD Jabar selalu di peringkat satu atau dua. Kemampuan mengonsolidasi pemilih, merupakan modal besar bagi TB Hasanuddin – Anton Charliyan.  Persaingan antara Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi dengan Mayjen TNI (Purn) Sudrajat – Ahmad Syaikhu, yang diperkirakan akan berlangsung keras, juga menguntungkan TB Hasanuddin-Anton Charliyan. Karena itu, pasangan yang tidak diunggulkan ini bisa menjadi kuda hitam yang berakhir dengan kemenangan.

Peta Pilgub Jabar

Pilgub Jabar kali ini memang agak lain. Pertama, itu tadi, untuk pertama kalinya calon yang diusung PDIP tidak diunggulkan. Pencalonan pasangan TB Hasanuddin – Anton Charliyan sangat berbeda dengan pencalonan Agum Gumelar – Nu’man pada Pilgub 2008 dan pencalonan pasangan Rieke Diah Pitaloka – Teten Masduki pada Pilgub 2013. Pencalonan dua pasangan yang terkahir ini langsung menggetarkan jagat Pilgub Jabar ketika itu. Sementara pencalonan TB Hasanuddin – Anton Charliyan terhegemoni oleh hnama Deddy Mizwar, Dedi Mulyadi dan Ridwan Kamil.

Kedua, PKS sebagai partai pemenang pilgub dua kali berturut-turut yakni 2008 dan 2013, tidak ngotot mengambil posisi sebagai cagub. PKS mengikhlaskan Ahmad Syaikhu hanya sebagai calon wakil berpasangan dengan Mayjen TNI (Purn) Sudrajat, diusung oleh koalisi Gerindra, PKS dan PAN.

Ketiga, tiga calon populer yakni Deddy Mizwar, Dedi Mulyadi dan Ridwan Kamil yang semula membentuk tiga kubu berseteru, mengelompok dalam dua kubu koalisi. Yakni koalisi Demokrat-Golkar mengusung Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi, koalisi Nasdem, PPP, PKB, Hanura mengusung Ridwan Kamil dan Uu Ruzhanul.

Keempat, munculnya dua nama yang tak terduga. Yakni Mayjen TNI (Purn) Sudrajat berpasangan dengan Ahmad Syaikhu diusung koalisi  Gerindra, PKS, PAN, dan nama TB Hasanuddin dan Anton Charliyan diusung sendiri PDIP.

Siapa paling unggul di antara empat pasang calon ini?

Dari segi hitungan-hitungan kursi di DPRD Jabar, pasangan TB Hasanuddin dan Anton Charliyan adalah pasangan paling lemah, karena hanya didukung 20 kursi di DPRD.  Sementara pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi paling unggul karena didukung 29 kursi yakni Demokrat 12 kursi dan Golkar 17 kursi. Pasangan Mayjen TNI (Purn) Sudrajat – Ahmad Syaikhu yang didukung 27 kursi, dan pasangan Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul didukung 24 kursi, berada di tengah-tengah.

Itu dari segi jumlah kursi di DPRD Jabar. Dari segi pengalaman memenangi Pilgub Jabar, maka yang unggul adalah pasangan Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi, karena satu-satunya calon yang sudah merasakan manisnya kemenangan.

Namun dari segi partai pemenang, PKS harus dikatakan sebagai partai pemenang. PPP dan PAN pernah juga merasakan manisnya kemenangan. PPP merasakan manisnya kemenangan ketika berkoalisi dengan PKS mengusung Ahmad Heryawan dan Deddy Mizwar. Sementara PAN merasakan manisnya kemenangan ketika mengusung Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf. Namun, PKS dianggap paling unggul, karena PKS menjadi satu-satunya partai yang merasakan kemenangan dua kali berturut-turut, sekaligus menjadi partai utama dalam koalisi.

Dari segi figur, yang unggul tentulah pasangan Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi. Mengapa? Terutama karena unsur Deddy Mizwar. Deddy Mizwar malah memiliki sejumlah keunggulan. Pertama, unggul karena petahana. Kedua  unggul karena dianggap juga sebagai representasi PKS atau lebih luas representasi 212. Ketiga, karena dari semua calon yang muncul, Deddy Mizwar adalah satu-satunya selebriti (film). Faktor yang terakhir ini dinilai menjadi faktor penting, karena menurut analis, kemenangan Ahmad Heryawan pada Pilgub 2008 adalah karena berpasangan dengan selebriti bernama Dede Yusuf. Sementara kemenangan Ahmad Heryawan pada Pilgub 2013 disebabkan karena berpasangan dengan Deddy Mizwar yang dikenal sebagai aktor dan sutradara terkenal.

Figur Ridwan Kamil walau populer, diprediksi  tidak akan mampu bersaing dengan Deddy Mizwar. Selain karena penetrasinya baru sebatas Kota Bandung, juga karena diterpa isu tak sedap yakni isu LGBT, yang diperkirakan potensial direject oleh pemilih muslim yang nota bene sangat berpengaruh di Jabar.

Sementara figur Mayjen (TNI) Sudrajat dan Mayjen TNI (Purn) Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin dinilai paling lemah, terutama apabila mengacu pada kekalahan Letjen TNI (Purn) Agum Gumelar pada Pilgub 2008. Agum ketika itu bertarung dengan Ahmad Heryawan. Dari segi kebesaran nama, Agum jelas berada di atas Ahmad Heryawan. Agum yang kelahiran Tasikmalaya adalah tokoh nasional dan beberapa kali jadi menteri, unggul dalam banyak hal dibanding Ahmad Heryawan yang kelahiran Sukabumi dan karir politik tertingginya baru setingkat anggota DPRD DKI Jakarta.

Agum ketika itu berpasangan Nu’man Abdul Hakim, kader PPP  yang merupakan petahana Wakil Gubernur  Jabar. Kehadiran Nu’man Abdul Hakim di menguatkan Agum. Bahwa hasil akhir, Agum kalah dengan Ahmad Heryawan dapatlah dibaca disebabkan oleh faktor keberadaannya sebagai tentara. Kekalahan itu dapat pula dijadikan indikator bahwa masyarakat Jabar tidak menginginkan gubernurnya berasal dari kalangan tentara. Mengacu pada analisis kemenangan Ahmad Heryawan, masyarakat Jabar lebih menginginkan pimpinan jabar dari kalangan atau yang ada unsur selebritinya seperti Dede Yusuf dan Deddy Mizwar.

Oleh sebab itu, dari segi figur, maka dari empat pasang figur yang bersaing di Pilgub Jabar, di atas kertas figur Mayjen TNI (Purn) Sudrajat dan figur Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin adalah figur paling lemah. Di antara kedua figur terntara ini, pasangan TB Hasanuddin – Anton Charlyan menjadi yang terlemah karena Anton adalah juga seorang polisi yang dianggap tidak jauh berbeda dengan seorang tentara.

TB Hasanuddin Kuda Hitam

Walau merupakan figur terlemah, pasangan TB Hasanuddin-Anton Charliyan berpotensi menjadi kuda hitam yang pada akhirnya memenangi Pilgub Jabar.

Ada beberapa alasan yang memosisikan TB Hasanuddin-Anton Charliyan sebagai kuda hitam.

Pertama, karena Jabar adalah daerah basis PDIP. Terbukti dalam setiap pemilihan legislatif, PDIP selalu berhasil memperoleh kursi terbanyak peringkat satu atau dua, baik untuk kursi DPRD Jabar, maupun kursi untuk DPR RI.

Pada pemilu 2009, Partai  Demokrat meraih 28 kursi, tetapi pada pemilu 2014 turun drastis menjadi 12 kursi. Jumlah kursi Partai Golkar juga konsisten, tetapi peringkatnya bergerak antara peringkat satu sampai tiga, sedang jumlah kursi PDIP bergerak antara peringkat satu dan dua saja. Konsistensi kursi di DPRD Jabar merupakan indikasi bahwa Jabar adalah basis PDIP.

Banyaknya kursi PDIP di DPRD indentik dengan jumlah pemilih PDIP. Anggota DPR RI yang terpilih dari Dapil Jabar adalah Junico BP Siahaan, Ketut Sustiawan, Yadi Srimulyadi, Jalaludin Rakhmat, Diah Pitaloka,  Ribka, Tjiptaning, Adian Yunus Yusak Napitupulu, Indra P Simatupang, Sukur Nababan, Risa Mariska, Rieke Diah Pitaloka, Tono Bahtiar, Ono Surono, Yoseph Umarhadi, Maruarar Sirait, TB Hasanuddin, Puti Guntur Soekarno, Dony Maryadi Oekon.

Jika dijumlahkan, total suara yang diperoleh oleh seluruh anggota DPR RI dari Dapil Jabar ini mencapai sekitar 1.7 juta suara. Belum lagi suara yang diperoleh seluruh anggota Fraksi PDIP DPRD Jabar, dan suara Fraksi PDIP di DPRD Kabupaten Kota di seluruh Jabar. Jumlah totalnya mungkin mencapai sekitar 3 – 4 juta suara. Total 3 – 4 juta suara ini basis suara yang menjadi modal kuat untuk TB Hasanuddin-Anton Charliyan. Modal kuat karena basis suara ini lebih besar dibanding basis suara yang dimiliki oleh partai-partai yang mengusung calon lain.

Basis suara ini berhasil dilampaui oleh pasangan Rieke Diah Pitaloka – Teten Masduki pada Pilgub 2013 yang meraih 5.714.997 suara dan tidak jauh terpaut dengan suara Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar yang memenangi Pilgub 2013 dengan memperoleh 6.515.313 suara.

TB Hasanuddin dinilai bisa membuat perolehan suara dalam even pileg berbanding lurus dengan perolehan suara pada even pilgub, karena posisinya sebagai Ketua DPD PDIP Jabar membuatnya bisa lebih leluasa menggerakkan seluruh anggota legislatif PDIP mulai dari tingkat kabupaten kota, propinsi dan DPR RI, menjadi endorser bagi kemenangannya. Berbeda halnya jika Tb Hasanuddin bukan Ketua DPD PDIP jabar, di mana ada prosedur yang harus ditempuh untuk meminta seluruh anggota fraksi PDIP dari seluruh Dapil Jabar bergerak mengonsolidasi pemilih masing-masing untuk memenangi pilgub.

Itu yang pertama. TB Hasanuddin dan Anton Charliyan berpotensi menjadi kuda hitam, karena pertarungan Pilgub Jabar 2018 ini lebih menjadi pertarungan antara Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi dengan Mayjen TNI (Purn) Sudrajat-Ahmad Syaikhu.

Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi sangat berkepentingan memenangi pertarungan, karena Deddy Mizwar ingin naik kelas menjadi gubernur, dan Dedi Mulyadi ingin naik kelas dari bupati dua periode menjadi wakil gubernur.

Mayjen TNI (Purn) Sudrajat-Ahmad Syaikhu juga tentu sangat berkepentingan memenangi pilgub. Sudrajat yang dicalonkan Partai Gerindra tentu ingin meraup suara masyarakat Jabar sebagaimana Prabowo-Hatta berhasil meraup suara dengan selisih sekitar 5 juta suara dibanding Jokowi-JK pada Pilpres 2014. Jika perolehan suara Sudrajat turun, maka akan ditafsirkan sebagai turunnya pamor Prabowo di Jabar. Demikian juga Ahmad Syaikhu, akan merasa bertanggung jawab terhadap kemenangan PKS dalam dua kali pilgub sebelumnya.

Pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi dan pasangan TNI (Purn) Sudrajat-Ahmad Syaikhu akan bertarung seru, karena ada ceruk politik yang mungkin akan digarap oleh keduanya. Hal ini terkait dengan keberadaan Deddy Mizwar yang sebelumnya diusung oleh PKS. Pasar politik yang memenangi Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar tentunya juga akan dinapaktilasi oleh Deddy Mizwar.

Forum 212 yang dianggap sebagai salah satu faktor dalam pemilu, jika dihidupkan tentunya juga  menjadi bagian yang menguntungkan Deddy Mizwar.

Saling cakar (katakan saja demikian) antara Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi dan pasangan TNI (Purn) Sudrajat-Ahmad Syaikhu, akan membuat Tb Hasanuddin – Anton Charliyan bisa lebih leluasa mengonsolidasi seluruh anggota Fraksi PDIP dari Dapil Jabar turun mendekati pemilih masing-masing, melakukan sosialisasi untuk memilih Tb Hasanuddin – Anton Charliyan.

Jika Tb Hasanuddin – Anton Charliyan mampu dan berhasil menciptakan atau mengkreasi isu baru yang genrenya berada di luar isu 212, tetapi diterima oleh masyarakat Jabar, maka Tb Hasanuddin – Anton Charliyan betul betul menjadi kuda hitam yang berhasil memecahkan telur busuk PDIP dengan keluar sebagai pemenang Pilgub Jabar 2018. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here