Defisit Neraca Perdagangan Makin Gerus Kredibilitas Jokowi

0
112
Direktur Statistik Distribusi BPS Anggoro Dwitjahyono mengungkapkan defisit bulan November 2018 menjadi yang terparah sepanjang tahun ini dan dalam lima tahun terakhir.

Nusantara.news, Jakarta – Salah satu indikator keberhasilan kepemimpinan ekonomi adalah mampu menciptakan neraca perdagangan yang positif. Belakangan ini pencapaian neraca perdagangan Indonesia terus merosot, seolah memperlihatkan kualitas dan kredibilitas kepemimpinan nasional.

Paling tidak berdasarkan pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS) siang tadi menunjukkan data neraca perdagangan Indonesia pada November 2018 yang kembali mengalami defisit UD$2,05 miliar. Realisasi neraca perdagangan bulan ini lebih tebal dibandingkan Oktober 2018 yang defisit sebesar US$1,82 miliar.

Kepala BPS Ketjuk Suhariyanto mengungkapkan penyebab defisit bulan ini adalah neraca perdagangan minyak dan gas bumi yang mengalami defisit US$1,5 miliar. Selain itu, neraca perdagangan non-migas juga mengalami defisit sebesar US$583 juta.

“Defisit November 2018 cukup dalam yakni sebesar US$2,05 miliar. Migas dari minyak mentah terutama hasil minyak sebesar US$1,6 miliar, sementara gas masih tumbuh positif,” papar Kepala BPS di DPR siang tadi.

Suharyanto menjelaskan, pada November 2018 ekspor Indonesia tercatat mengalami penurunan dibanding Oktober 2018. Dimana pada November 2018, realisasi ekspor Indonesia yakni mencapai US$14,83 miliar atau menurun sebesar 6,69% dibanding Oktober 2018.

Sementara itu, impor Indonesia pada periode November 2018 juga mengalami penurunan sebesar 4,47% dibanding Oktober 2018. Pada November 2018, impor Indonesia mencapai US$16,88 miliar. Pada November nilai impor US$16,88 miliar. Kalau dibanding Oktober 2018 turun 4,47%.

Direktur Statistik Distribusi BPS Anggoro Dwitjahyono mengungkapkan, kondisi defisit neraca perdagangan periode November tidak jauh berbeda dengan Juli 2013, dimana pada periode tersebut defisit mencapai US$2,03 miliar. Defisit bulan November 2018 menjadi yang terparah sepanjang tahun ini dan dalam lima tahun terakhir.

“Ini defisit yang terdalam memang sepanjang tahun ini, cukup besar. Kalau dibandingkan Juli 2013, iya beda sedikit,” ungkapnya.

Secara kumulatif, Suharyanto menjelaskan, neraca perdagangan Indonesia dari Januari hingga November 2018 mengalami defisit sebesar US$7,52 miliar. Penyebabnya adalah karena defisit neraca perdagangan migas sebesar US$12,21 miliar, sedangkan neraca perdagangan nonmigas masih surplus US$4,6 miliar.

“Jadi bisa dilihat pergerakan defisitnya. Tentu kita berharap kedepan bisa menggenjot ekspor dan mengendalikan impor menjadi lebih berhasil. Sehingga kedepan neraca perdagangan kita kedepan kembali akan surplus,” tandasnya.

Isu negatif soal melebarnya defisit perdagangan membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memasui zona merah. Pada sesi pembukaan IHSG bergerak dua arah, memasuki jeda istirahat siang, IHSG konsisten bergerak di zona merah dan terus bertahan hingga penutupan perdagangan sesi kedua.

Pada perdagangan pre opening, IHSG melemah 6,215 poin (0,10%) ke 6.163,628. Indeks LQ45 juga berkurang 1,552 poin (0,16%) ke 985,102.

Membuka perdagangan pagi, sebenarnya IHSG cenderung menguat 1,661 poin (0,03%) ke 6.171,504. Indeks LQ45 naik 0,264 poin (0,03%) ke 986,918.

Pada pukul 09.05 JATS, IHSG berbalik melemah 7,121 poin (0,11%) ke 6.162,624. Indeks LQ45 1,830 (0,19%) 984,824.

Di jeda istirahat siang hari ini, IHSG parkir di zona merah. IHSG turun 61,1 poin (0,99%) dan bertengger di level 6.108,743. Sementara indeks LQ45 juga turun 10,739 poin (1,09%) ke 975,915.

Pelemahan IHSG berlanjut hingga penutupan perdagangan. Sore ini IHSG ditutup pada level 6.089,305, turun 80,538 poin (-1,31%). Sementara indeks LQ45 juga memerah di level 971,159.

Sedangkan nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka melemah 22 poin atau 0,15% ke level Rp14.603 per dolar AS, dan pergerakannya terus tertekan sepanjang perdagangan hari ini, hingga pada akhirnya mampu rebound ke posisi Rp14.580 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah telah melemah sekitar 7,57% sepanjang tahun ini (year-to-date) terhadap dolar AS hingga akhir perdagangan 14 Desember.

Bandingkan dengan raihan pada periode yang sama tahun lalu ketika nilai tukar rupiah tercatat hanya melemah 0,76% terhadap dolar AS.

Menkeu Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan defisit yang terjadi merupakan dampak perekonomian global sehingga pemerintah akan terus memperhatikan faktor-faktor tersebut.

“Kita akan terus melihat faktor ekonomi di luar, dari sisi ekspor ini akan menjadi tantangan, beberapa komoditas kita maupun pasar tempat kita mengekspor harus kita lihat secara sangat hati-hati, karena seperti RRT pertumbuhan ekonominya, sedang dalam posisi penyesuaian, karena adanya penyesuaian kebijakan di internal mereka sendiri maupun adanya trade war dengan Amerika Serikat (AS),” ujar Menkeu hari ini.

Selain itu, menurut Menkeu, pemerintah juga harus melihat berbagai komoditas yang sensitif terhadap isu-isu non-ekonomi yang kemudian menjadi penghambat ekspor. Komoditas yang dimaksud seperti crude palm oil (CPO) dan minyak.

Sedangkan untuk menciptakan pasar tujuan ekspor baru dalam kondisi ekonomi saat ini tendensinya lemah, kemampuan menyerap ekspor juga akan sangat terbatas.

“Jadi, memang kita harus hati-hati dalam mengelola transaksi eksternal kita. Masih sama, ekspor masih akan dipacu dari sisi, daya kompetisi kita, dari berbagai kebijakan untuk mendukungnya seperti insentif,” ungkap Sri Mulyani.

Namun Sri meminta pemerintah dan swasta harus memahami bahwa dinamika pasar global sedang sangat tinggi dan menimbulkan ketidakpastian.

Di sisi lain, Pemerintah akan tetap melihat kembali impor yang dilakukan. Kebijakan pengendalian impor dengan menaikkan PPh pada 1.147 komoditas dia nilai sudah menunjukkan penurunan transaksi harian.

“Kita melihat untuk sektor lain migas dan non-migas harus memperhatikan kemampuan industri dalam negeri untuk bisa menghasilkan substitusi,” terangnya.

Sebenarnya, bila dicermati secara seksama, selain faktor eksternal yakni perang dagang AS dan China serta Brexit, faktor internal juga cukup besar menopang pelebaran defisit. Seperti pemaksaan impor beras, gula, garam, jagung cukup besar memberi kontribusi pelebaran defisit perdagangan.

Sayangnya, pemaksaan impor pangan tersebut seperti menjadi upaya mengejat argo, yang seharusnya untuk mempersempit defisit justru dalam praktiknya memperlebar defisit perdagangan.

Wajar bila ada kecurigaan kegiatan impor yang dipaksaan tersebut terselip motif memburu rente. Itu sebabnya ekonom senior Rizal Ramli sudah melaporkan kegiatan impor pangan yang ugal-ugalan di tengah produksi pangan kita masih surplus kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena dampaknya justru memperlemah ekonomi nasional.

Semoga angka-angka defisit itu menyadarkan Presiden Jokowi, sebab kalau kecenderungan defisit perdagangan ini didiamkan, tentu akan menjadi energi negatif bagi pencapresan mantan Walikota Solo tersebut.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here