Defisit Perdagangan Berkelanjutan Mulai Ancam Pertumbuhan

0
75
Kepala BPS Suharyanto mengingatkan Pemerintah jika defisit perdagangan yang telah terjadi berturut-turut selama tiga bulan, masih harus ditambah bulan Maret, maka dipastikan dapat menekan laju pertumbuhan.

Nusantara.news, Jakarta – Kerja…kerja…kerja. Begitulah Presiden Jokowi selalu menggesa dirinya dan para menteri Kabinet Kerja. Namun dalam tiga bulan terakhir kinerja Kabinet Kerja, khususnya di Kementerian Perdagangan benar-benar mengecewakan.

Paling tidak hal itu tercermin dari defisit neraca perdagangan yang terjadi selama tiga bulan berturut-turut—Desember, Januari, Februari—secara berkelanjutan. Jika masih terjadi pada Maret 2018, maka sudah dipastikan kinerja pertumbuhan ekonomi pada 2018 akan tergerus.

Sinyal itu disampaikan langsung oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto. Dia mengatakan pengaruh defisit neraca perdagangan terhadap pertumbuhan ekonomi semakin akut jika neraca perdagangan bulan Maret 2018 nanti tak kunjung surplus.

Karena itu dibutuhkan kinerja ekspor dan surplus yang baik agar pertumbuhan ekonomi kuartal I 2018 bisa membaik. Sebab, ekspor netto merupakan salah satu komponen pembentuk pertumbuhan ekonomi selain konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi.

“Defisit perdagangan Januari dan Februari mengoreksi (pertumbuhan ekonomi) ke bawah, tapi kami berharap bulan Maret bisa surplus sehingga bisa mengompensasi defisit di dua bulan ini,” kata Suhariyanto baru-baru ini.

Menurut Direktur Core Indonesia M. Faisal, kendati beberapa bulan ke depan neraca perdagangan kita kembali berpotensi surplus, struktur neraca berdagangan masih sangat rentan. Mengingat peran ekspor manufaktur kita masih tergolong lemah.

Kinerja ekspor impor

BPS mencatat, neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2018 defisit US$120 juta lantaran dipicu oleh defisit sektor migas sebesar US$870 juta, meski di sektor nonmigas sempat mencatat surplus US$750 juta.

Defisit pada Februari 2018 merupakan defisit yang ketiga kali sejak Desember 2017. Menurut data BPS, pada Januari 2018 defisit neraca perdagangan tercatat sebesar US$680 juta dan defisit Desember 2017 sebesar US$270 juta. Ini menjadi peringatan buat kita semua.

Sedangkan dari sisi ekspor, BPS mencatat nilai ekspor Indonesia pada Februari 2018 secara bulanan turun tipis 3,14% menjadi sebesar US$14,10 miliar dibanding Januari 2018 yang mencapai US$14,53 miliar. Ekspor nonmigas secara bulanan turun 3,96%, sementara ekspor migas naik 5,08%.

Untuk jenis produk periode Februari 2018 dibandingkan dengan Januari 2018, ekspor komoditas yang mencatat penurunan ada di sektor alas kaki sebesar 18,19%, bahan bakar mineral 3,93%, besi dan baja 19,17%, dan pakaian jadi bukan rajutan 12,91%. Secara keseluruhan, penurunan terbesar disumbang oleh ekspor mesin dan peralatan listrik yang ekspor tercatat melemah US$ 86,6 juta.

Padahal ekspor nonmigas menyumbang 90,13% dari total ekspor Februari 2018.

Berdasarkan sektor, ekspor nonmigas yang mencatat penurunan antara lain terjadi di sektor pertanian yakni 8,81% atau US$240 juta serta pertambangan juga turun 3,74% atau US$2,27 miliar. Penurunan pada sektor industri pengolahan sebesar 3,89% turut menyebabkan total ekspor Indonesia turun US$10,20 miliar.

Menurut negara tujuan, pangsa ekspor tidak banyak berubah. Ekspor masih terfokus pada tiga negara tujuan utama yang didominasi oleh Tiongkok sebesar 15,36% atau US$ 3,98 miliar, Amerika Serikat 10,91% atau US$ 2,83 miliar, dan Jepang 10,22% atau US$ 2,65 miliar.

“Kita masih terpaku pada negara tradisional. Karenanya perlu memperluas pasar ekspor ke negara non tradisional dan mengembangkan diversifikasi komoditas ekspor,” ujarnya.

Penurunan neraca ekspor juga diimbangi oleh penurunan impor sebesar 7,16% menjadi sebesar US$14,21 miliar pada Februari 2018 dibadingkan dengan Januari 2018. Penurunan impor terjadi karena komoditas nonmigas berkurang sebesar sebesar 8,41%

Impor nonmigas mencapai US$11,9 miliar, turun dibandingkan Januari 2018 dari US$13,0 miliar. Sementara, impor migas sebesar US$2,26 miliar, naik 0,06% secara bulanan dari US$2,25 miliar.

Menurut penggunaan barang secara bulanan, nilai impor Indonesia untuk bahan baku atau penolong turun 7,74% dan barang modal turun 9,19%. Meski yang juga menjadi catatan, impor barang konsumsi meningkat 1,36%. Tentu akan berkontribusi perkembangan ekonomi.

Sementara dari total impor non migas Indonesia per Februari 2018, Tiongkok masih menjadi importir terbesar dengan total pasar sekitar 29,09%, diikuti regional Asia Tenggara 20,14% dan Jepang 10,90%.

Cenderung melambat

Menko Perekonomian Darmin Nasution mengakui bahwa ekspor bulan ke bulan memang cenderung melambat. “ Ini yang tidak bagus,” ujar Darmin.

Ia pun menyayangkan kinerja sektor migas yang tercatat tidak terlalu baik, meski pun masih mampu didorong oleh neraca nonmigas yang tercatat positif serta penurunan impor yang juga cukup tinggi.

Guna memaksimalkan kinerja ekspor, Kementerian Perdagangan mengaku telah menyiapkan empat startegi untuk mendorong target pertumbuhan ekspor tahun ini yang dipatok sebesar 11%. Target tersebut diutarakan sekaligus menjawab teguran Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada Kemendag terhadap kinerja Ekspor Indonesia yang monoton. Atas teguran itu, Kemendag juga menaikan target ekspor menjadi 11% dari sebelumnya 7%.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan strategi pertama yang akan dilakukan guna menggenjot ekspor adalah lewat upaya menyelesaikan perjanjian dagang. Hingga saat ini, mendag mencatat terdapat sekitar 17 perundingan perjanjian perdagangan Internasional yang akan diselesaikan, seperti Australia, European Free Trade Association (EFTA), Iran, Uni Eropa, dan Regional Comprehensive Economics Partnership (RCEP).

Strategi kedua, melalui misi perdagangan. “Pengusaha punya kemampuan sehingga tidak akan membebani APBN (Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara),” ungkapnya.

Strategi misi perdagangan juga perlu dibarengi dengan inovasi dalam perdagangan. “Misalnya dengan upaya barter atau counter-trade,” tuturnya.

Barter yang bisa dilakukan antara lain untuk produk komoditas unggulan seperti minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) bakal ditukar dengan komoditas yang Indonesia butuhkan. Dengan begitu, menurut Enggar, pasar non tradisional yang mengalami kesulitan devisa bisa melakukan perdagangan meski mengalami kesulitan pembayaran. “Sehingga kedua pihak bakal mendapatkan devisa,” ujar dia.

Selain itu, pemanfaatan Indonesia Trade Promotion Center dan Atase Dagang Indonesia bisa menjadi strategi terakhir Kemendag. Sebab, atase perdagangan bukan saja agen pemerintah, tetapi juga bisa bertindak sebagai agen bisnis dan ahli pemasaran.

Tiga strategi atasi defisit

Menurut Suharyanto dibutuhkan strategi agar Indonesia bisa lepas dari jeratan defisit. Pertama, Indonesia harus bisa diversifikasi produk dan tak melulu bergantung pada Sumber Daya Alam (SDA) dan komoditas yang rentan terhadap harga. Ini mengingat US$7,82 miliar dari ekspor dua bulan pertama 2018 berupa hasil pertanian, pertambangan, dan migas.

Kedua, Indonesia juga harus bisa memproduksi bahan baku industri agar ketergantungan atas bahan baku impor bisa berkurang. Menurut data BPS, impor bahan baku sepanjang Januari dan Februari tercatat US$22,05 miliar atau 74,67% dari total impor senilai US$29,52 miliar. Sekarang ini kan masih ekonomi dengan biaya tinggi, masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan.

Ketiga, BPS juga akan memantau neraca perdagangan di masa-masa mendekati hari raya Idul Fitri dan bulan Desember mengingat tren tahunan defisit terjadi di masa-masa itu. Ia meyakini neraca perdagangan Maret akan kembali surplus lantaran defisit bulan Februari tercatat US$120 juta atau membaik dibanding bulan sebelumnya yakni US$670 juta.

Tampaknya memang diperlukan cara pandang yang jeli guna menggenjot ekspor supaya lebih maksimal. Sehingga ke depan kinerja neraca perdagangan bisa ada setitik harapan, sebab kalau masih harus defisit, maka pertumbuhan ekonomi akan menjadi taruhannya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here