Defisit Perdagangan Membuat Presiden Gundah Gulana

0
246
Presiden Jokowi seperti gundah gulana lantaran kinerja pertumbuhan ekonomi tidak kunjung naik signifikan. Adakah kegundahan Jokowi terkait dengan riset Prof. Angus Deaton, bahwa semakin besar utang semakin rendah pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Nusantara.news, Jakarta – Presiden Jokowi menyampaikan rasa kekecewaannya melihat kinerja transaksi perdagangan yang terus-terusan defisit. Bahkan Jokowi mengatakan ‘kita bodoh’ karena berulang-ulang mendapati kinerja buruk transaksi perdagangan. Adakah solusi cespleng yang bisa diandalkan sang calon presiden?

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia kembali defisit sebesar US$120 juta pada Februari 2018. Angka ini membaik dibandingkan defisit bulan sebelumnya, yakni US$690 juta.

Kepala BPS Ketjuk Suhariyanto mengatakan kondisi ini terjadi lantaran pertumbuhan nilai ekspor dan impor secara bulanan (month to month) Indonesia melemah. Namun demikian, secara angka absolut, angka ekspor lebih kecil ketimbang impornya.

Ekspor Indonesia pada Februari 2018 tercatat sebesar US$14,1 miliar. Angka ini memang meningkat 11,76 persen secara tahunan (year on year), namun jumlah ini melemah 3,14 persen dibanding Januari 2018 sebesar US$14,6 miliar.

Ia juga menyebut penurunan nilai ekspor disebabkan karena sumbangan ekspor pertanian turun 8,81% secara bulanan dan pertambangan turun sebesar 3,74%. Untuk ekspor pertanian, komoditas yang mengalami penurunan nilai ekspor adalah kopi, sarang burung, dan tanaman aromatik.

Sementara itu, dari segi pertambangan, harga batu bara dan volume ekspor batu bara menurun, sehingga mengerek pertumbuhan ekspor non migas ke arah negatif. Adapun, harga batu bara pada Februari sebesar US$104,7 per metrik ton turun dari posisi Januari, yaitu US$109 per metrik ton.

“Kedua hal itu memengaruhi pertumbuhan ekspor non migas, padahal ekspor non migas mengambil porsi 90,13% dari ekspor. Sehingga, pertumbuhan ekspor Februari turun dibanding Januari 2018,” demikian jelas Suharyanto belum lama ini.

Secara kumulatif, ekspor Januari dan Februari 2018 tercatat US$28,65 miliar atau naik 10,13% dari posisi yang sama tahun lalu US$26,02 miliar. Dari seluruh kelompok golongan ekspor, industri pengolahan mendominasi dengan nilai US$20,82 miliar atau naik 5,86% dibanding tahun lalu US$19,67 miliar.

“Dari komposisi sektor non-migas yang didominasi pengolahan, kalau ada gejolak ke industri pengolahan ini akan sangat besar pengaruhnya ke total nilai ekspor,” terang dia.

Sementara itu, impor tercatat melemah 7,16% secara bulanan ke angka US$14,21 miliar. Penurunan impor ini paling besar dialami oleh kelompok bahan baku dengan penurunan 7,74% dibanding bulan sebelumnya dan barang modal sebesar 9,19% dibanding bulan sebelumnya.

Di sisi lain, impor barang konsumsi malah meningkat sebsar 1,36% dari bulan sebelumnya menjadi US$1,38 miliar. Secara tahun kalender (year to date), pertumbuhan impor barang konsumsi secara tahunan meningkat 44,3% atau lebih tinggi dibanding barang modal dan bahan baku industri yang hanya mencatat pertumbuhan 31,16% dan 23,76%.

“Dan ini, impor Februari tinggi karena ada beras impor dari Thailand dan Vietnam sebesar 500 ribu ton,” papar Kepala BPS.

Dengan neraca yang tak seimbang, artinya neraca perdagangan Indonesia masih mencatat defisit hingga Februari lalu. Defisit Indonesia terutama terjadi dengan China, Brazil, Australia, Korea Selatan, hingga Jerman.

“Ini sudah defisit dalam tiga bulan terakhir dan kami harap neraca bulan depan bisa surplus lagi,” harap Suharyanto.

Menyikapi kinerja neraca perdagangan yang masih konsisten defisit, Wapres Jusuf Kalla berpendapat penyebab utama neraca perdagangan dalam negeri defisit adalah menurunnya harga komoditas dunia. Padahal komoditas adalah sektor andalan Indonesia dalam perdagangan luar negeri.

“Harga-harga komoditi turun lagi. Seperti batubara turun, CPO turun, karet turun. Hampir semua mineral-mineral itu juga mengalami perubahan harga,” ujar Kalla di kantornya beberapa waktu lalu.

Di sisi lain Kalla pun mengatakan jumlah ekspor komoditas Indonesia tak berubah. Namun nilai ekspor tergerus karena penurunan harga tersebut. Artinya, total volume ekspornya sama, tapi valuenya turun, seperti harga batu bara turun 20% hingga 30% baru-baru ini dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.

Kalla mengatakan pemerintah sebelumnya sudah memprediksi bahwa akan terjadi peningkatan defisit neraca perdagangan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Sementara Menko Perekonomian Darmin Nasution berpendapat neraca perdagangan tahun ini memang belum bisa surplus. Penyebabnya karena defisit perdagangan migas yang masih tinggi.

“Belum. Urusan migas ini bagaimana menyelesaikannya. Setahun kah?” kata Darmin.

Menurut dia, neraca perdagangan Indonesia masih berat atau lebih dipengaruhi migas. “Sebenarnya terakhir kita surplus migas neraca perdagangannya itu pada 2001 atau 2002. Setelah itu pelan-pelan makin besar, makin besar,” ujar dia.

Saat ini, kata Darmin, neraca perdagangan jika dilihat dari nonmigas, Indonesia surplus. Namun, defisit migas terlalu besar, sehingga totalnya jadi defisit keseluruhan neraca perdagangan.

Pada 2018 neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$8,57 miliar (ekuivalen Rp122 triliun) dibanding tahun sebelumnya surplus US$11,8 miliar. Nilai impor yang tumbuh lebih kencang dari nilai ekspor membuat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit untuk pertama kalinya dalam empat tahun terakhir. Sementara defisit neraca berjalan (current account deficit–CAD) pada 2018 mencapai Rp349,6 triliun, pada 2019 pemerintah menargetkan CAD sebesar Rp296 triliun.

Menyikapi langganan defisit tersebut membuat Presiden Jokowi naik pitam dan kesal.

Saking kesalnya Jokowi bahkan sampai mengucapkan kata ‘bodoh’ saat mengungkapkan ekspresinya itu.

“Tahu kesalahan kita, tahu kekurangan kita, rupiahnya berapa defisit kita tahu, kok enggak kita selesaikan? Bodoh banget kita kalau seperti itu,” katanya saat membuka rapat koordinasi nasional investasi di Nusantara Hall, Indonesia Convention Exhibition (ICE) Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (12/3).

Jokowi menjelaskan sejatinya semua pihak sudah mengetahui cara untuk menyelesaikan masalah defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan itu, yakni lewat meningkatkan investasi dan ekspor. “Defisit transaksi berjalan, defisit neraca perdagangan membebani kita berpuluh-puluh tahun tapi tidak diselesaikan.”

Sayangnya, kata Jokowi, meski sudah puluhan tahun defisit tapi tak kunjung ada penyelesaian. “Padahal kuncinya kita tahu investasi dan ekspor, kuncinya di situ.”

Ia meminta pemerintah pusat dan daerah mempermudah proses perizinan untuk investor demi menggenjot investasi dan ekspor. Jokowi mewanti-wanti agar jangan  sampai nilai investasi dan ekspor Indonesia kalah oleh Kamboja dan Laos. Pasalnya Indonesia telah tertinggal dari Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam.

Saking geramnya dengan kondisi investasi dan ekspor Indonesia, Jokowi melontarkan wacana di rapat kabinet untuk membuat kementerian yang khusus mengurusi dua hal itu.

“Apakah perlu dalam situasi seperti ini yang namanya Menteri Investasi dan Menteri Ekspor?” Ia berdalih sudah banyak negara yang memiliki kementerian investasi dan ekspor.

Ia meminta pemerintah pusat dan daerah mempermudah proses perizinan untuk investor demi menggenjot investasi dan ekspor. Jokowi mewanti-wanti agar jangan  sampai nilai investasi dan ekspor Indonesia kalah oleh Kamboja dan Laos. Pasalnya Indonesia telah tertinggal dari Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam.

Jokowi menegaskan Indonesia sejatinya tahu di mana letak kesalahannya terkait investasi dan ekspor ini. Namun masih tidak mampu menuntaskannya. “Paling geregetan, kita ngerti kekurangan, kesalahan, dan jalan keluar namun kita nggak bisa tuntaskan masalah yang ada,” ujarnya.

Ia menuturkan akan menyelidiki di mana saja hambatan yang membuat investasi dan ekspor Indonesia tertinggal. Ia menduga sumber masalah masih seputar lambatnya perizinan.

“Jangan sampai nanti saya cek di PTSP ngomong-nya SIUP sehari jadi nyatanya dua minggu. IMB ngomongnya seminggu tapi tiga bulan, delapan bulan. Bisa di pusat, bisa di daerah,” ujarnya.

Solusi untuk mengatasi defisit yang sustainable Wapres Jusuf Kalla menyarankan peruubahan pola perdagangan yang lebik menguntungkan dengan negara-negara sahabat lainnya.

“Dengan empat negara Eropa sudah selesai. Ini kita lagi berunding menyelesaikan Australia dengan AS. Dan juga nanti dengan Uni Eropa. Itu antara lain cara agar posisi ekspor kita lebih baik, karena Thailand, Vietnam, juga memiliki perjanjian seperti itu. Kita mengejar sistem itu, agar ekspor kita bisa lebih baik,” tegas Kalla.

Menurut Kalla, proses perundingan dengan Australia yaitu Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) sudah hampir selesai. Pemerintah kedua negara tinggal meneken kesepakatannya. Adapun kesepakatan serupa dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat, diharapkan selesai awal tahun depan.

Kalla juga mendorong penyelesaian sejumlah kesepakatan dengan beberapa negara tersebut untuk meredam dampak buruk perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

“Karena kalau terjadi perang dagang, kesempatan kita masuk lebih tinggi. Pasti barang-barang China ini naik harganya di Amerika. Ini kesepatan kita masuk. Tapi kalau kita tidak ada perjanjian khusus tentang perdagangan secara keseluruhan, itu nanti kita akan terhalang,” kata demikian Jusuf Kalla

Jadi, kata kunci agar Presiden Jokowi tidak terus-terusan ngedumel soal defisit perdagangan, perlu inovasi negara-negara tujuan ekspor, inovasi produk ekspor dan inovasi cara-cara termudah dan tercepat menggenjot ekspor. Tanpa itu, kita akan terus terombang-ambing oleh kerasnya perang dagang.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here