Defisit Transaksi Berjalan Semakin Menekan Rupiah 

0
147
Mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli mengingatkan peningkatan defisit transaksi berjalan dapat menekan nilai tukar rupiah

Nusantara.news, Jakarta – Salah satu kepiawaian seorang ekonom pemerintah adalah kemampuannya menyuguhkan data ekonomi yang cantik dan menggembirakan. Data itu benar-benar hasil karya dan sentuhan langsung ramuan kebijakan ekonomi yang dikeluarkan.

Kali ini mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli menyoroti salah satu data ekonomi yang tampaknya menghkawatirkan. Rizal mengingatkan masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah, bahwa defisit transaksi berjalan (current account deficit) Indonesia sepanjang Januari-Agustus 2017 terus melebar.

Berdasarkan data Bank Indonesia, pada Februari 2017, defisit transaksi berjalan masih US$1,8 miliar. Pada Mei 2017, defisit transaksi berjalan meningkat ke level US$2,4 miliar. Pada Agustus 2017 defisit transaksi berjalan sudah meningkat tajam ke posisi US$5 miliar.

Rizal berpendapat, seiring dengan defisit transaksi berjalan yang terus melebar, sementara pertumbuhan impor lebih lambat (pertumbuhan impor per Agustus 2017 mencapai 8,9% yoy) daripada pertumbuhan ekspor (pertumbuhan ekspor per Agustus 2017 19,2% yoy).

“Maka dapat dikatakan akan ada tekanan terhadap kurs rupiah karena net payment service yang besar. Rupiah yang melemah beberapa pekan lalu bukan hanya faktor global, yang selalu dijadikan kambing hitam, tetapi juga karena kelemahan domestik,’’ tegas mantan Menko Kemaritiman itu.

Rizal berpendapat, yang menyedihkan solusi atas defisit itu sudah benar, yakni menggenjot penerimaan pajak. Yang salah adalah kemana pajak itu digenjot, seharusnya kepada pajak kelas menengah atas, tapi Menteri Keuangan Sri Mulyani malah memburu pajak kelas menengah ke bawah.

“Di dalam negeri, pajak  kelas menengah ke bawah diuber dan digenjot oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, namun pajak bagi Freeport malah diturunkan. Ini kan tidak adil dan mencerminkan Neoliberalisme yang sangat keras, brutal,” sesalnya.

Pemerintah juga terus melakukan berbagai upaya penarikan pajak lebih besar, antara lain dengan program tax amnesty dan kerja sama terkait keterbukaan perpajakan internasional. Rizal mengoreksi langkah-langkah pengetatan pajak di tengah kondisi ekonomi yang sedang melambat.

“Di negara lain, ketika ekonomi melambat, pajak dilonggarkan. Kalau membaik baru digenjot,” celoteh Rizal dalam facebooknya.

Ia menganggap langkah Sri Mulyani menggenjot pajak hanya bertujuan mencapai target setoran utang. Tapi tidak sungguh-sungguh dinisbahkan untuk memperbaiki struktur APBN dan transaksi berjalan.

“SMI genjot pajak, hanya sekedar uber setoran utang,” katanya.

Menurut Rizal, kebijakan Menteri Keuangan memotong anggaran di sana-sini, serta menaikkan tarif dan menguber pajak malah berdampak negatif pada daya beli masyarakat.

“Potong-potong anggaran, naikkan tarif dan uber pajak membuat ekonomi melambat, daya beli menengah bawah merosot sehingga penjualan retail merosot,” katanya.

Dalam proyeksi BI

Sebelumnya Bank Indonesia (BI) meramal defisit transaksi berjalan tahun 2017 bakal melebar dibandingkan tahun lalu menjadi di kisaran 2,11% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB).

“Untuk tahun 2017, defisit transaksi berjalan mungkin akan sedikit di atas US$20 miliar,” prediksi Gubernur BI Agus DW Martowardojo pada awal tahun.

Prediksi Gubernur BI tersebut didasari pada defisit transaksi berjalan tahun 2016 sebesar US$17,5 miliar (2,0% dari PDB) pada 2015 menjadi US$16,3 miliar (1,8% dari PDB). Hal itu didukung perbaikan kinerja neraca perdagangan barang dan jasa.

Dampaknya, secara akumulatif, kinerja neraca pembayaran 2016 meningkat yang ditopang oleh penurunan defisit transaksi berjalan dan kenaikan surplus transaksi modal dan finansial. Neraca pembayaran pada 2016 mencatat surplus sebesar US$12,1 miliar setelah tahun sebelumnya mengalami defisit US$1,1 miliar.

Agus mengungkapkan, tadinya BI memperkirakan defisit transaksi berjalan 2017 akan ada di kisaran 2,4% dari PDB. Namun proyeksi itu kembali direvisi menjadi 2,11% dari PDB.

Menurut Agus, pelebaran defisit transaksi berjalan tahun 2017 disebabkan oleh perbaikan ekonomi global dan domestik. Hal itu juga didukung oleh perbaikan harga komoditas dan minyak dunia.

“Kita tahu ekonomi di tingkat global itu terus menunjukkan kondisi yang lebih baik. Istilah kami pertumbuhan ekonomi 2017 itu bisa tumbuh 3,4% dan di tahun 2018 itu bisa 3,6%,” ujarnya.

Di Indonesia, perbaikan neraca perdagangan juga telah terjadi tahun lalu. Efeknya, neraca pembayaran membaik dari defisit US$1,1 miliar pada tahun 2105 menjadi surplus US$12 miliar pada tahun lalu.

Lebih lanjut, meskipun melebar Agus meyakini defisit transaksi berjalan tahun 2017 masih dalam kondisi aman. Selain itu, level defisit transaksi berjalan tersebut juga mampu menopang pertumbuhan ekonomi dengan baik.

Sementara neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2017 tercatat mengalami suplus sebesar US$270 juta atau sekira Rp3,591 triliun mengacu kepada kurs Rp13.300 per dolar AS. Namun, secara total, sepanjang periode Januari hingga Agustus, neraca perdagangan masih tetap mengalami surplus tipis sebesar US$9,11 miliar.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, defisit neraca perdagangan tidak melulu menandakan kondisi perekonomian yang buruk. Menurut mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini, selama defisit neraca perdagangan tidak melebihi 1%-2% dari total PDB, defisit masih terbilang wajar sekaligus mencerminkan kondisi perekonomian yang terjaga.

“Sebenarnya kalau defisit neraca perdagangan seperti itu dalam jumlah yang reasonable biasanya tidak lebih dari 1% atau 2% dari GDP saya rasa masih baik,” ujarnya.

Pada kuartal II-2017, posisi PDB Indonesia sebesar Rp3.366 triliun. Apabila defisit neraca perdagangan tercatat sebesar Rp3,591 triliun, persentasenya masih di kisaran 0,10% dari total PDB Indonesia.

Apa dampaknya?

Lantas, apa dampak dari peningkatan defisit transaksi berjalan?

Pada dasarnya transaksi berjalan memuat soal transaksi barang, jasa, pendapatan primer, dan pendapatan sekunder. Sedangkan transaksi finansial berisi investasi langsung, investasi portofolio, investasi lainnya.

Jika transaksi berjalan mengalami defisit terlalu tinggi maka dibutuhkan adalah transaksi finansial yang tinggi. Jika tidak mencukupi maka simpanan yang ada di cadangan devisa akan terpakai. Dengan kondisi itu berarti rupiah akan mengalami tekanan karena kebutuhan dolar AS yang meningkat.

“Dampaknya adalah permintaan dollar AS yang tinggi sehingga rupiahnya mengalami tekanan. Kalau rupiah tertekan maka defisitnya harus dijaga. Current Account Deficit yang sehat itu antara 2% hingga 2,5% dari PDB,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Tirta Segara, beberapa waktu lalu.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Direktur Departemen Statistik Bank Indonesia, Tutuk S. Cahyono, menjelaskan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) merupakan statistik yang merangkum transaksi ekonomi antara penduduk dengan bukan penduduk dalam periode waktu tertentu.

“Terdiri dari transaksi berjalan, transaksi modal, dan transaksi finansial,” jelas Tutuk.

Transaksi ekonomi adalah interaksi antara penduduk dan bukan penduduk yang terjadi melalui mutual agreement atau penerapan ketentuan dan melibatkan suatu pertukaran nilai ekonomi atau transfer.

Transaksi ini meliputi pertukaran barang/jasa dengan barang/jasa, pertukaran barang/jasa dengan aset finansial baik saham, cash, obligasi, pertukaran aset finansial dengan aset finansial, serta unrequited transfer seperti pemberian sumber daya riil/finansial tanpa imbalan misalnya hibah, pengiriman dana oleh Tenaga Kerja Indonesia (TKI),” ungkap Tutuk.

Sementara itu, definisi penduduk adalah orang atau badan yang berdomisili atau berencana berdomisili di suatu negara sekurang-kurangnya satu tahun, yang pusat kegiatan ekonomi utamanya berada pada negara domisili tersebut.

Penduduk ini tidak sama dengan kewarganegaraan. Jadi mencakup baik itu warga negara asing (WNA), perusahaan milik asing, dan staf lokal keduataan atau lembaga asing di Indonesia, keduataan/konsulat Indonesia, diplomat, turis, siswa, serta pasien Indonesia yang ada di luar negeri.

Itu sebabnya, agar rupiah tidak melemah, cadangan devisa tidak terkurang, ada baiknya Pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia bekerja sama menjaga agar defisit transaksi berjalan bisa ditekan sedemikian rupa.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here