Dekranasda Dorong Pertumbuhan Ekonomi Jatim

0
76
“Perdagangan antar daerah kita selalu surplus, ini membuktikan produk kita punya daya saing. Jika kita bisa menguasai pasar dalam negeri pasti kita bisa survive menguasai pasar internasional, apalagi masyarakat Jatim kreatif dan inovatif"

Nusantara.news, Surabaya – Menyambut HUT Dekranasda ke-38, Provinsi Jawa Timur menggelar hajatan besar, ‘Gelar Kriya Dekranasda Jatim 2018’. Yakni, pameran berbagai kerajinan produk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dari berbagai Dekranasda kabupaten/kota se-Jatim. Acara itu dilaksanakan selama empat hari, 15-18 Maret 2018, di Atrium Grand City Mall Surabaya, pembukaannya dilakukan oleh Gubernur Jatim Soekarwo, Kamis (15/3/2018).

Pameran diikuti oleh berbagai stand yang menampilkan berbagai produk kerajinan unggulan dari daerahnya masing-masing. Juga diikuti BUMN, BUMD, sejumlah UKM mandiri dan Dinas Koperasi UMKM dan Disbudpar Jatim. Produk yang dipamerkan di antaranya kerajinan kulit, batik, bordir, aksesoris dan furniture. Lomba fashion show busana batik juga ikut memeriahkan kegiatan itu.

Melongok keberadaan Dekranasda Jatim, tidak lepas dari sosok Nina Kirana, tak lain adalah istri Gubernur Jatim, Soekarwo. Selama satu dasawarsa, Nina yang juga Ketua
Yayasan Kangker (YKI) Indonesia Cabang Surabaya, mengisi sebagian kesehariannya mendekati dan terjun ikut memberikan pembinaan kepada para pelaku UMKM.

Gali dan Kembangkan Potensi Lokal

“Dekranasda Jatim, terus berupaya memfasilitasi para perajin salah satunya melalui pameran”

Adalah hal tepat, jika kerja serius memanfaatkan potensi kekayaan lokal untuk mengangkat derajat pelaku menuju kemakmuran ekonomi. Itu, termasuk yang dilakukan di Jatim. Melalui Dekranasda, pelaku usaha kecil dirangkul dan berjalan bareng meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Menangkap peluang itu, Nina terus berkiprah melalui wadah Dekranasda Jatim. Bersama jajaran pengurus di semua kabupaten/kota di Jatim mereka terus berkreasi, salah satunya mengembangkan produk unggulan sektor UMKM.

Melihat kiprah itu, Gubernur Soekarwo memberi apresiasi dan itu disampaikan saat membuka Gelar Kriya Dekranasda Jawa Timur 2018 di Atrium Grand City Mall Surabaya, Kamis (15/3/2018).

Soekarwo menyebut, PDRB Jatim Tahun 2017 yang mencapai Rp2.019,20 triliun, sebanyak 1.100 triliun atau 54,98 persen berasal dari sektor UMKM. Dari jumlah tersebut, 9,21 persen atau sekitar Rp185 triliun berasal dari UMKM binaan Dekranasda Jatim.

“Ini bukti dari kerja keras yang terus dilakukan Dekranasda Jatim sebagai bagian tak terpisahkan dari konsep kesejahteraan dan pengabdian kepada masyarakat,” kata Soekarwo.

Gayung bersambut, Pemerintah Provinsi Jatim menyambut baik gelaran yang dilakukan oleh para wanita di Jatim. Melalui kreatifitas kriya, fashion dan kuliner disepakati sebagai peluang bisnis guna peningkatan ekonomi yang tidak ada batasnya. Pakde Karwo menyebut, ketiga aspek itu berkaitan langsung dengan gaya hidup seseorang. Semakin tinggi pendapatan seseorang, maka makin tinggi juga gaya hidupnya.

“Gaya hidup dan fashion yang naik ini sebagai tanda pendapatan daerah naik, justru bagus. Sekarang tugas kita adalah menaikkan kualitas produk dan membuat packaging yang lebih menarik terhadap produk-produk yang ada,” terangnya.

Sistem Digital Genjot Perdagangan Jatim

Sementara, guna mengimbangi terus tumbuhnya perkembangan teknologi, Mei 2018 nanti Jatim mencanangkan memiliki etalase ekonomi digital. Sistem yang tengah dikembangkan Diskominfo dan Disperindag nantinya menjual produk-produk unggulan baik melalui pameran manual juga digital. Sebenarnya, layanan sistem digital sudah di tempuh dan salah satunya East Java Investment Super Corridor (EJISC), dikelola Dinas Penanaman Modal dan PTSP Jatim. Layanan berbentuk dashboard investasi berbasis web, memberikan kemudahan berinvestasi di Jatim. Untuk melancarkan semua itu, Pakde Karwo pun berpesan agar para pelaku bisnis juga pelaku UMKM meningkatkan keramahan pada pembeli.

Jatim Raih Asia Competitiveness Institute Singapura

Soekarwo “Ini bukti dari kerja keras yang terus dilakukan Dekranasda Jatim sebagai bagian tak terpisahkan dari konsep kesejahteraan dan pengabdian kepada masyarakat”

Kemudahan layanan yang dilakukan Jatim itu membuahkan provinsi ini meraih penghargaan peringkat satu untuk ketegori kemudahan berbisnis tingkat nasional dari Asia Competitiveness Institute Singapura. Penilaian itu dilakukan oleh Singapura setelah sebelumnya dilakukan riset dilakukan selama April-September 2017 di sejumlah provinsi di seluruh Indonesia.

“Kemudahan berbisnis itu dilihat dari sumeh-nya orang, tidak cemberut. Di negara-negara maju pun, pelayanan di depan itu dilatih untuk terus tersenyum,” katanya.

Kembangkan Potensi Captive Market

Ketua Dekranasda Jatim, Nina Soekarwo mengatakan, jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar yakni 261 juta orang lebih atau sekitar 40 persen jumlah penduduk ASEAN merupakan pasar yang pasti. Potensi itu harus terus dikembangkan terutama dalam perdagangan antar daerah.

“Perdagangan antar daerah kita selalu surplus, ini membuktikan produk kita punya daya saing. Jika kita bisa menguasai pasar dalam negeri pasti kita bisa survive menguasai pasar internasional, apalagi masyarakat Jatim kreatif dan inovatif,” kata Nina.

Dia menyebut, di era pasar bebas saat ini para perajin dituntut untuk terus meningkatkan daya saing dengan berinovasi menghasilkan produk berkualitas, berkarakter budaya lokal dengan harga kompetitif.

“Dekranasda Jatim, terus berupaya memfasilitasi para perajin salah satunya melalui pameran ini,” terangnya.

Selain melalui pameran, Dekranasda Jatim juga fokus dalam peningkatan kualitas SDM, kualitas produk, membantu akses permodalan bagi perajin, serta memfasilitasi sertifikasi Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).

Nina menyebut yang dilakukan memang membutuhkan waktu. Selama 2017, Dekranasda Jatim terus bekerjasama dengan berbagai instansi, termasuk memfasilitasi UKM dan IKM Jatim. Di antaranya, dengan menyelenggarakan bimbingan teknis kepada 520 UKM dan IKM bidang kerajinan batik tulis warna alam, pengembangan produk kulit dan alas kaki, serta peningkatan mutu bordir.

Juga pembinaan pengembangan kewirausahaan bagi 170 perajin produk sulam handicraft dan batik gedog. Memfasilitasi pelaksanaan ISO, SNI, HAKI, bagi 847 UKM dan IKM. Dan, memfasilitasi UKM dan IKM dalam pelaksanaan pameran Jatim Fair, Surabaya Internasional Jewellery Fair 2017 dan Festival Indonesia 2017 di Moscow, Rusia.

Menurut Nina, Dekranas memiliki peran penting untuk mengggali, melestarikan dan memgembangkan budaya bangsa serta membina dan menemukan teknologi industri perajin baru. Termasuk memperhatikan dan memperjuangkan kepentingan perajin guna mendorong terus tumbuhnya kewirausahaan. Termasuk memberikan masukan kepada pemerintah dalam mengembangkan dan memajukan kerajinan, mempromosikan dan memperluas pasar baik di dalam maupun di luar negeri.

“Pengrajin harus ikut andil untuk memajukan perekonomian Jatim yang semakin kokoh dan stabil,” ujar Nina.

Untuk diketahui, pertumbuhan ekonomi Jatim tahun 2016, di Triwulan III, sebesar 5,57% atau lebih tinggi dari angka nasional yang sebesar 5,4%. Jatim juga memberi kontribusi PDRB terhadap UMKM hampir 55%.

Sejarah Dibentuknya Dekranas

Awalnya Dekranas dibentuk oleh Departemen Perindustrian dan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Seiring dengan berkembangnya waktu Dekranasda kemudian dikoordinir oleh Kementrian yang membina usaha produk kerajinan, enam departemen yaitu di Kementerian Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pariwisata, Menteri Badan Usaha Milik Negara.

Ke enam menteri tersebut diberikan amanah sebagai penasehat Dekranasda. Mengacu pada Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART), Ketua Umum Dekranasda pusat adalah isteri wakil Presiden. Ketua Harian isteri salah satu penasehat, ketua bidang isteri dari penasehat yang lain, dari 5 bidang atau ketua umum dapat menunjuk isteri menteri, dan lainnya mengikuti hak perogratif ketua umum.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here