Demi Keuntungan Elektoral, Ahok Ditolak Kubu Jokowi

1
333

Nusantara.news, Jakarta – Bebasnya mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang kini ingin disebut BTP, disambut dengan berbagai pemberitaan. Pria yang dulu akrab disapa Ahok ini kabarnya siap melakukan comeback ke panggung politik nasional melalui berbagai cara. Di antara yang penting, dia disebut-sebut akan menjadi anggota Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan masuk ke Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin.

Soal menjadi anggota PDIP, langkah ini sudah dia realisasikan sejak 26 Januari 2019. Namun kabar itu baru diumumkan pada Jumat (8/2) saat ia berkunjung ke kantor DPD PDIP Bali. Sekitar dua jam berada di kantor DPD Bali, Ahok memberikan kejutan dengan keluar memakai jaket PDIP.

Langkah Ahok ini sebenarnya tidak terlalu mengagetkan jika melihat gerak-geriknya selama ini. Jauh sebelum kabar ini terungkap, Djarot Saiful Hidayat, pasangannya saat menjadi Gubernur DKI Jakarta menyebut bahwa PDIP akan jadi partai pilihan Ahok jika kembali aktif berpolitik. Banyak yang menduga bahwa pilihan Ahok ini terkait erat dengan efek elektoral yang akan diberikan oleh Ahok tersebut kepada PDIP. Meski tak sedikit yang menanggapi berlabuhnya Ahok ke PDIP akan menggerus suara partai bergambar banteng moncong putih itu.

Sayangnya, langkah Ahok berikutnya yaitu masuk ke TIM Jokowi-Ma’ruf dalam Pilpres 2019 ibarat bertepuk sebelah tangan, gayung tak bersambut. TKN Jokowi-Ma’ruf menanggapi dingin bebasnya Ahok dan peluang bergabungnya mantan politikus Gerindra itu ke kubu mereka.

Ketua TKN Jokowi-Ma’ruf, Erick Thohir misalnya mengungkap bahwa di internalnya tidak ada pembicaraan soal Pilpres terkait dengan Ahok. Hal senada diungkap wakilnya, Arsul Sani yang menyebut nama Ahok tak pernah dibicarakan. Sementara Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto memberikan kesempatan kepada Ahok untuk berlibur dan menjalankan agenda pribadinya ke luar negeri sehinga tak dilibatkan di tim sukses Jokowi.

Teranyar, penolakan secara terang disampaikan oleh Ketua Dewan Pengarah Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Jusuf Kalla (JK), “Kalau saya ditanya sebagai Dewan Pengarah (TKN), jangan (masuk struktur),” ujarnya di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (12/2/2019).

Kalla beralasan, masuknya Ahok ke dalam struktur TKN paslon 01 berpotensi mengingatkan kembali pemilih dengan kasus penodaan agama yang sempat menjerat Ahok. Hal tersebut berpotensi menggerus suara pemilih Jokowi-Ma’ruf.

Jokowi Mulai Meninggalkan Ahok?

Di atas kertas, melalui afiliasi politiknya, Ahok seharusnya bisa disambut baik oleh tim kampanye, Jokowi-Ma’ruf. Terlebih, ia tergolong sebagai tokoh yang bisa menarik sorotan masyarakat. Lantas, mengapa TKN Jokowi-Ma’ruf tampak tak menginginkan ‘kehadiran’ Ahok?

Kedekatan Jokowi-Ahok saat menjadi pasangan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta

Jika ditelisik, sikap ‘penolakan’ TKN Jokowi-Ma’ruf boleh jadi memiliki maksud elektoral. Meski telah melakukan rebranding dari  Ahok menjadi BTP, publik bisa saja belum sepenuhnya melupakan kiprah pria kelahiran Belitung Timur itu. Secara spesifik, label penista agama terlanjur melekat kepada Ahok meski ia tengah berusaha untuk terlihat baru.

Menurut French dan Smith, political  branding merupakan jejaring asosiatif dari informasi politik yang saling berhubungan, disimpan dalam ingatan dan dapat diakses ketika dirangsang oleh memori pemilih. Jika disarikan, suatu aktor politik memiliki asosiasi terhadap hal tertentu yang terus-menerus diingat oleh pemilih. Dalam kasus Ahok asosiasi yang dimaksud boleh jadi adalah penista agama.

Di tengah politik Islam yang masih sangat kuat di tanah air, asosiasi Ahok dengan label penista agama boleh jadi akan menjadi sesuatu yang merugikan bagi kandidat yang satu kubu dengannya. Bukan tidak mungkin jika Jokowi-Ma’ruf menerima Ahok dengan tangan terbuka, label yang menempel pada Ahok akan diasosiasikan pula pada mereka.

Hal itu tentu akan kontraproduktif dengan ikhtiar yang belakangan tengah dilakukan oleh tim pemenangan Jokowi tersebut. Jokowi selama ini dianggap sebagai sosok anti-Islam, sehingga berbagai cara dilakukan untuk mengikis anggapan itu mulai dari memasangkan dirinya dengan Ma’ruf Amin, hingga menerima tantangan salat dan mengaji. Jika Ahok disambut gembira TKN Jokowi-Ma’ruf, maka upaya mereka menghapus citra anti-Islam bisa saja terkubur akibat asosiasi Ahok dengan masa lalu kelamnya.

Selain itu, nama Ahok juga bisa saja tak lagi seharum tahun-tahun sebelumnya akibat berita perceraiannya yang diekspos begitu rupa. Sebenarnya, bukan hanya berita perceraiannya saja yang bisa membuat Ahok tak lagi punya jenama sekuat beberapa tahun yang lalu. Pengakuan adiknya, Fifi Lety Indra tentang kisah di balik perceraian itu bisa saja memberatkan nama Ahok.

Fifi beberapa waktu lalu mengagetkan publik melalui kiriman di akun Instagram miliknya. Sosok yang biasanya dikenal sebagai pembela Ahok ini mengungkapkan bahwa dirinya tak setuju dengan perceraian kakaknya dari Veronica Tan. Tak hanya itu, Fifi juga menyebutkan bahwa dirinya dipaksa Ahok untuk mengganti alasan perceraian dengan zina.

Pernyataan-pernyataan tersebut tentu mengejutkan terlebih Fifi selama ini kerap muncul sebagai pembela utama Ahok. Pernyataan itu bisa memiliki konsekuensi luas jika ternyata ada banyak pihak yang bersimpati pada Veronica dan mempertanyakan dengan keras keputusan BTP untuk menceraikannya. Dalam kadar tertentu, perkara pribadi seperti pernikahan dan perceraian dapat berpengaruh pada citra seseorang di mata publik.

Mengingat political branding memiliki unsur yang saling terhubung satu sama lain dalam ingatan pemilih, bukan tidak mungkin, asosiasi terkait label ‘penista agama’ dan kisah pribadinya akan diingat kuat oleh pemilih. Asosiasi-asosiasi tersebut boleh jadi memberatkan TKN Jokowi untuk menarik Ahok ke tim pemenangan mereka. Oleh karena itu, TKN Jokowi-Ma’ruf tidak menyambut kebebasan Ahok dengan antusias apalagi sampat menerima keinginannya membantu Jokowi-Ma’ruf.

Dalam konteks Pilpres 2019 ini, tampaknya memang ‘Ahok’ (terpaksa) harus ‘disingkirkan’ dari barisan orang-orang dekatnya demi keuntungan politik.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here