Demokrat Laris Manis di Bojonegoro, PDIP-PKB Duet  

0
607
Anna Muawanah (dua dari kiri), Ketua PP Fatayat NU yang juga anggota DPR RI tiga periode dari Dapil Tuban-Bojonegoro. Sebagai aktivis Pergerakan Perempuan PKB, dinilai memiliki popularitas dan elektabilitas paling tinggi untuk maju di Pilkada Bojonegoro.

Nusantara.news, Bojonegoro – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Bojonegoro yang bakal dihelat 27 Juni 2018, membuat para calon bupati mulai berebut rekom dari sejumlah partai politik. Sebenarnya masyarakat Bojonegoro masih banyak yang belum paham tentang perkembangan politik Pilkada Bojonegoro 2018 mendatang. Mereka hanya menerka-nerka saja. Mereka hanya diperlihatkan dengan tontonan banyaknya bakal calon bupati (Bacabup) dan bakal calon wakil bupati (Bacawabup) yang berbondong-bondong mendaftarkan diri di masing-masing Parpol) yang ada di Kota Ledre itu.

Beberapa Parpol sudah membuka pendaftaran seperti DPC PDI Perjuangan Bojonegoro. Partai berlambang banteng moncong putih itu membuka pendaftaran paling awal. Lalu dilanjutkan dengan DPC Partai Hanura Bojonegoro, DPD Partai Nasdem Bojonegoro, DPC Partai Gerindra, Bojonegoro, DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Bojonegoro, DPC Demokrat Bojonegoro, dan DPD Partai Golkar Bojonegoro.

Update terakhir, Partai Demokrat menjadi partai rebutan. Padahal, Demokrat di Bojonegoro hanya memiliki 7 kursi, dan tidak bisa mengusung sendiri pasangan calon bupati dan wakil bupati, karena syarat mencalonkan adalah 10 kursi di DPRD Kabupaten Bojonegoro.

Diakui sekretaris DPD Partai Demokrat Jawa Timur Renville Antonio di kantor DPD, Jalan Kertajaya, Surabaya, Kamis (5/10/2017), tokoh-tokoh yang berebut rekomendasi Cabup dan Cawabup Bojonegoro sangat luar biasa.  “Ada 16 orang yang mendaftar sebagai bakal calon bupati dan wakil bupati Bojonegoro ke DPC Partai Demokrat Bojonegoro. Siapa calon yang diusung ditentukan DPP,” katanya.

Mereka mulai dari Wakil Bupati, Sekda Bojonegoro, anggota DPR RI, Ketua DPRD Bojonegoro, kader dari PKB dan PKS, birokrat dari Pemprov Jatim hingga dosen dan pengusaha.

Dari 16 nama yang sudah mengambil formulir pendaftaran yakni, Akmal Budianto (Widya Iswara-dosen di Badan Pendidikan Latihan Pemprov Jatim), Ayub dari birokrat, Taufiq Rahman dari dosen. Ada juga Setyo Hartono (saat ini Wakil Bupati Bojonegoro), Soehadi Moeljono (Sekda Kab Bojonegoro), Heru Suroso, M Pitono, Arif Budiono, dr Agung, Wahyu Subaktiono (mereka dari kalangan pengusaha). Sedangkan dari DPR RI yang juga berebut rekom dari Demokrat yakni, Kuswiyanto (dari PAN) dan Ana Muawanah (dari PKB).

Dari politisi dan kader partai di Bojonegoro seperti Sukur Priyanto (Ketua DPC Partai Demokrat Bojonegoro), Fauzan (Ketua Fraksi Demokrat), Mitro’atin (Ketua DPRD Bojonegoro dari Partai Golkar), dan Sutrisno kader PKS.

Renville mengatakan, semua mekanisme pendaftaran bakal calon bupati dan wakil bupati sama seperti mekanisme pendaftaran calon gubernur dan wakil gubernur Jatim. “Desk pilkada di Bojonegoro hanya bertugas menjaring. Selesai, direkap dan dilaporkan ke DPD. Dari DPD disetorkan ke DPP hingga memutuskan siapa bakal calon bupati dan wakil bupati yang akan direkomendasi menjadi pasangan calon bupati dan wakil bupati,” tandas politisi DPRD Jatim ini.

Renville Antonio Sekretaris DPD PD Jatim (Foto: Tudji Martudji)

Sementara dari internal Partai Golkar masih terjadi perbedaan pendapat. Ada dua nama yang berusaha mendapatkan rekomendasi, yakni ketua DPD Mitro’atin yang juga sebagai Ketua DPRD Bojonegoro serta Diana Hargianti Wakil Sekretaris DPD II Golkar dan Anggota Komisi D DPRD Bojonegoro. Diana saat saat ini juga menjabat ketua Kosgoro 1957 cabang Bojonegoro.

Hal itu disampaikan sesepuh Partai Golkar dan penasehat Kosgoro Bojonegoro, H. Tamam Syaifuddin. Menurutnya dinamika politik menjelang Pilkada Bojonegoro masih cukup baik dan dinamis. Apalagi dengan adanya banyak bakal calon yang muncul dan siap berkompetisi berebut hati rakyat.

“Menurut saya biarkanlah dua kader (Mitro’atin dan Diana) terbaik ini berkiprah dan berkomunikasi dengan masyarakat. Mereka punya waktu, ruang dan kesempatan yang sama. Nanti masyarakat yang bisa menilai dan memilih. Yang terpenting kader Golkar atau Kosgoro yang muncul itu semua kebesaran Partai Golkar,” tegas H. Tamam Syaifuddin saat ditemui di Ponpes Modern Al Fatimah Bojonegoro, Rabu (4/10/2017).

Mantan Ketua DPRD Bojonegoro periode 2004-2009 ini mengungkapkan, Kosgoro itu sejarahnya pendiri Partai Golkar. Maka jika ada kader Kosgoro yang lebih baik, akan didukung bersama. “Otomatis akan all out dan solid mendukung kadernya Kosgoro jika diberi kepercayaan untuk maju,” tegasnya.

Golkar tambah H. Tamam Syaifuddin sebagai pemenang pemilu di Bojonegoro sudah seharusnya mempunyai target sebagai calon bupati. Namun, jika kader terbaik Kosgoro dicalonkan menjadi wakil bupati, itu sah-sah saja.

PAN dan PKB Usung Calon Sendiri

Dari DPD Partai Amanat Nasional, partai berlambang matahari bersinar ini tidak membuka pendaftaran. Sebab PAN karena telah memiliki calon sendiri yang sudah digadang-gadang, yakni Kuswiyanto yang juga anggota DPR RI dari Dapil 9.

Keputusan ini disepakai dalam rapat kecil di sela-sela Rakernas di Bandung, beberapa waktu lalu. Menurut Wakil Ketua DPP PAN Suyoto, untuk mengusung Kuswiyanto menjadi bakal calon bupati, PAN akan berkoalisi dengan beberapa partai. PAN, saat ini sudah komunikasi intens dengan Partai Demokrat dan Golkar, serta partai lainnya. “Kita intens dengan Demokrat dan Golkar selama ini, mungkin bulan depan kita akan segera lebih banyak komunikasi dengan partai lain,” ujar Suyoto.

Menurut pria yang saat ini menjabat sebagai Bupati Bojonegoro ini, selama ini para kader diberikan kesempatan yang sama dan dilakukan survei untuk bisa diberangkatkan menjadi bakal calon dari PAN. Dan ternyata tambah pria yang biasa disapa Kang Yoto, Kuswiyanto mampu turun ke masyarakat dan hasilnya baik. Sehingga dengan salah satu pertimbangan itu, maka PAN sepakat mengusung kader internal yang akan dipasangkan dengan bakal calon wakil bupati nantinya.

“Ya yang pasti, hasil rapat internal, termasuk saya di dalamnya, karena saya pengurus pusat, telah memutuskan Pak Kuswiyanto yang akan maju menjadi calon bupati yang diusung partainya,” jelas Kang Yoto.

Yang tak terdengar suaranya adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPD Bojonegoro. Apakah partai ini sudah memiliki calon atau memang tidak membuka pendaftaran Bacabup Bacawabup dalam Pilkada Bojonegoro 2018. Bahkan beberapa kadernya diperbolehkan untuk mendaftar ke partai lain seperti Demokrat dan Nasdem.

Hal yang sama dilakukan DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Bojonegoro. PKB tidak membuka pendaftaran Bacabup Bacawabup karena kabarnya telah memiliki calon sendiri. Ya, DPC sudah bulat mengusung Anna Muawanah, anggota DPR RI. Ada beberapa kader partai PKB dan tokoh NU Bojonegoro yang awalnya akan diharapkan bisa ikut bursa pencalonan, namun popularitas dan elektabilitasnya masih kurang tinggi di banding dengan Anna Muawanah. Ana sendiri sudah tiga periode menjadi wakil rakyat di DPR RI pada daerah pemilihan Tuban-Bojonegoro.

“Yang jelas kami tidak membuka pendaftaran untuk DPC PKB, tetapi kami sudah bulat untuk mengusung Bu Anna. karena selain survei yang tinggi hasilnya, juga karena Bu Anna juga dianggap bisa membawa aspirasi warga Bojonegoro nantinya,” ujar Ahmad Sundjani, Sekretaris PKB Bojonegoro.

Ahmad yang duduk di kursi wakil pimpinan DPRD Bojonegoro ini juga mengatakan bahwa Anna dan PKB sudah melakukan komunikasi dengan beberapa pengurus Nahdlatul Ulama baik di tingkat pusat maupun cabang Bojonegoro. Dan saat ini Anna terus melakukan silaturahmi dengan semua partai dengan melakukan kunjungan safari politik di kantor DPC Partai yang ada di Bojonegoro.

Abdulloh Umar, ketua Garda Bangsa PKB Bojonegoro membenarkan jika elektabilitas bakal calon bupati (Anna Muawanah) memang cukup tinggi. Saat ini sedang dilakukan komunikasi intens dengan partai PDIP dan partai lainnya yang diharapkan bisa satu visi untuk membangun Bojonegoro akan datang.

“Beberapa waktu lalu kami sudah melakukan komunikasi politik dengan berkunjung ke partai-partai. Semoga hasilnya nanti cukup signifikan dan bisa satu visi membangun Bojonegoro,” kata Abdulloh.

Dari penelusuran Nusantara.News, Anna berani tampil menjadi bakal calon Bupati Bojonegoro dari PKB dengan partai yang berkoalisi, karena keluarga besarnya di kabupaten Bojonegoro cukup banyak. Tokoh perempuan Partai Kebangkitan Bangsa ini juga menjadi pengurus Muslimat Pusat yang sering memperhatikan rakyat melalui beberapa program yang disponsorinya selama menjabat wakil rakyat, sehingga diyakini nanti jika maju dalam Pilkada mampu ikut mendulang suara yang signifikan.

Terpisah, Anna Muawanah mengklaim sudah mengantongi rekomendasi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), namun nama wakilnya belum muncul. “Sejauh ini PKB berkoalisi dengan PDIP, karena itu untuk nama wakilnya saya serahkan pada PDIP. Untuk namanya saya ikut kebijakan partai,” kata Anna, Jumat (6/10/2017).

Karena itu Anna mengajak partai lain untuk berjuang bersama dirinya, termasuk dengan PDIP. “Saya ingin mengajak rekan-rekan partai lain bersama-sama berjuang untuk menyejahterakan rakyat Bojonegoro,” ujarnya.

Sejauh ini modal awal Anna cukup untuk berlaga pada Pilkada 2018 mendatang. Ia mengantongi 11 kursi DPRD yang terdiri dari PKB (6 kursi) dan PDIP (5 kursi). Apalagi jika ditambah dengan partai lainnya. Selain dukungan partai, ia yakin pengalamannya sebagai anggota DPR RI tiga periode dinilai sebagai bekal untuk kembali memenangkan hati rakyat.

“Modal awal saya NU. Insya Allah saya didukung NU. Lalu saya punya pengalaman berkompetisi meraih simpati sampai dengan pemilih militan sejak 2004. Saya anggota DPR RI tiga periode sejak 2004 hingga sekarang. Dengan pengalaman itu, saya yakin bisa kembali meraih simpati dan dukungan rakyat Bojonegoro,” ujar pengurus PP Muslimat NU ini.

Pada Pemilu Legislatif 2004-2009, Anna mendapatkan sekitar 79.355 suara, kemudian Pileg 2009-2014 ia kembali terpilih dengan perolehan suara 44.425, lalu pada periode terakhir 2014-2019 suara Mbak Anna sebesar 95.621. “Pada periode kedua dan ketiga, perolehan suara saya tertinggi sedapil,” kata Anna menjelaskan.

Senada, PDIP Bojonegoro juga menargetkan menang, tentunya dengan beberapa strategi yang sudah dipersiapkan oleh pengurus internal partai. Pilihannya duet dengan PKB. Hal itu disampaikan Ketua DPC PDIP Bojonegoro, Budi Irawanto, dua partai ini telah lama berkomunikasi, karena ada kesepahaman basis massa yakni agamis dan nasionalis. Meski surat rekomendasi dari PDIP maupun PKB belum turun, Wawan sapaan akrabnya sangat yakin jika bakal berkoalisi dengan PKB.

Ditanya terkait banyaknya isu dukungan yang mengarah ke ketua DPC PDIP Bojonegoro yang akan berpasangan dengan bakal calon dari PKB Ana Mu’awanah yang sudah solid diusung oleh DPC PKB Bojonegoro, Budi Irawanto yang juga menjabat anggota DPRD Bojonegoro di Komisi C tidak menampik dengan kabar tersebut.

“Itu bukan lagi rahasia umum. Logikanya dengan rumor, isu realita di lapangan kan juga sama seperti itu. Cuma nanti kalau saya membenarkan ternyata rekom tidak seperti itu kan repot. Yang jelas saya sangat intens komunikasi dengan mbak Ana (Anna Muawanah) dan Bu Mit (Mitro’atin),” tegas Budi Irawanto, di Kantor DPRD Bojonegoro.

Ditanya terkait Ketua DPC PDIP hanya mendaftarkan diri pada posisi bakal calon wakil bupati, Budi Irawanto yang juga menjadi ketua Yayasan IKIP PGRI Bojonegoro ini menjelaskan, “Semua keputusan itu ada di tangan DPP. Sebenarnya saya daftar bakal calon S1 (bupati) atau S2 (wakil bupati) itu tidak masalah,” imbuhnya.

Saat ini para bakal calon pemimpin daerah Bojonegoro saling berlomba melakukan komunikasi dengan partai yang akan mengusung mereka. Bahkan beberapa kandidat juga blusukan untuk mendapat simpatik warga. Ada calon yang masih menjabat bersosialisasi ke masyarakat dengan menggunakan jabatanya untuk numpang bersilaturahmi ke masyarakat alias sosialisasi gratis. Ada pula yang hanya memperkenalkan dirinya dengan memasang gambar dirinya di banner, bahkan ada yang tak dikenal oleh masyarakat dan mereka sangat pede tidak bersosialisasi.

Apapun niat baik mereka untuk bisa maju sebagai pemimpin di Kabupaten Bojonegoro ini, sudah bisa diterima dengan baik oleh masyarakat Bojonegoro. Bahkan warga kerap membicarakan sosok atau figur bacabup dan bacawabup yang mendaftarkan diri untuk memimpin Bojonegoro periode 2018-2023.

Masyakrat Bojonegoro saat ini memang sedang dipertontonkan sebuah permainan politik, bagaimana seseorang sukses menapaki kursi bupati-wakil bupati. Namun siapapun yang berhasil memperoleh rekom hingga menang, masyarakat Bojonegoro akan menerimanya dengan lapang dada, asalnya dilaksanakan dengan proses demokrasi yang baik dan tak menyalahi aturan yang ada.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here