Demokrat Masih Setengah Hati Dukung Prabowo-Sandi?

0
124

Nusantara.news, Jakarta – Beberapa waktu lalu, sehari jelang ditutupnya pendaftaran capres dan cawapres yang akan bertarung di Pilpres 2019, gejolak sempat mewarnai koalisi Prabowo. Gejolak ini bermula dari cuitan Wsekjen Partai Demokrat Andi Arif yang menuding Sandiaga Uno sudah “membeli” PKS dan PAN seharga Rp500 miliar sebagai mahar cawapres Prabowo. Andi bahkan menyebut Prabowo sebagai “jenderal kardus” karena lebih memilih menemani Sandiago Uno bertemu dengan PAN dan PKS.

Tudingan itu jelas langsung dibantah PKS dan PAN. Keduanya juga kompak akan membawa tudingan Andi Arief itu ke jalur hukum. “Saya kira itu fitnah, biar di ranah hukum kita selesaikan ya,” kata Sekjen PKS Mustafa Kamal, Kamis (9/8/2018).

Tak pelak, kubu lawan Prabowo pun seolah mendapat dua durian runtuh dari cicitan Andi Arief. Ibarat kata, sekali dayung satu dua pulau terlampaui, sekali berkicau di twitter, peluru untuk menyerang Prabowo secara personal dan koalisi pengusungnya didapatkan.

Pertama, sebutan ‘Jenderal Kardus’ akan tetap digunakan bagi lawan Prabowo untuk ‘mem-bully‘ mantan danjen Kopassus itu di pilpres nanti. Kedua, tentu saja isu ‘mahar politik’ akan menjadi peluru paling seksi untuk digunakan menyerang parpol koalisi prabowo di kampanye pilpres 2019. Meski drama yang dihadirkan Partai Demokrat berakhir dengan tetap bergabungnya partai besutan SBY itu dalam barisan pengusung Prabowo-Sandiaga Uno, namun kubu lawan telah terlanjur mendapatkan senjata untuk menyerang prabowo-Sandiaga.

Jika kita simak, tampaknya Demokrat menjadi aktor utama drama dan dinamika di kubu penantang capres petahana. Sejak awal atau sejak Pilkada Jakarta, hubungan antara Gerindra dan PKS dalam menyikapi pilpres 2019 terbilang sangat harmonis. Seolah keduanya saling memberi dan menerima. coba tenggok pilkada saat pilkada serentak lalu, seperti yang terjadi di Jabar. Meski calon yang diusungnya gagal meraih kemenangan, hal itu tidak membuat hubungan Gerindra dan PKS renggang. Malahan, justru semakin kuat.

Masuknya PAN pun seperti tidak berefek apa-apa dalam kemesraan Gerindra-PKS. Meski PAN juga menyodorkan nama-nama kader untuk diusung sebagai capres dan cawapres, tetap saja suhu politik di koalisi tersebut tetap adem. Justru hadirnya Demokrat yang membuat hubungan di internal koalisi pengusung Prabowo menjadi memanas.

Hadirnya Demokrat dalam koalisi pengusung Prabowo, langsung membuat dinamika hadirnya poros ketiga di pilpres menguat. PKS bahkan seolah langsung menetapkan jika posisi cawapres adalah harga mati dalam koalisi pengusung Prabowo. Beberapa politikus PKS juga bahkan sempat menyatakan jika dukungan ke Prabowo di pilpres belum final dan dapat berubah.

Demokrat sendiri meski di panggung depan menyerahkan posisi cawapres pada keputusan Prabowo, namun di panggung belakang tetap “kasak-kusuk” menyorongkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai calon RI-2. Sementara PAN lebih memilih jalan tengah dengan menyodorkan cawapres dari luar partai koalisi.

Hal ini membuat Prabowo, sang bakal capres, harus sibuk melakukan safari politik bertemu dengan pimpinan-pimpinan parpol. Berbeda dengan kubu Jokowi, dimana seolah sang capreslah yang duduk santai, dan parpol pengusung yang mendatanginya.

Ketika Prabowo memilih Sandiaga, PKS dan PAN relatif lebih berlapang dada. Sebaliknya, hal tersebut seolah masih menyisakan kekecewaan pada beberapa elite Demokrat yang sejak awal berharap AHY jadi pendapming Prabowo. Salah satu kekecewaan itu ditunjukkan oleh Andi Arif.

Hanya saja, Demokrat tak bisa berbuat banyak. Sebab di detik-detik terakhir sudah tidak mungkin lagi bagi Demokrat membentuk koalisi baru. Bergabung dengan koalisi Jokowi sudah tidak mungkin mengingat pernyataan SBY sendiri yang sudah menyebut tidak bisa dengan Megawati, masih ada hambatan. Memilih netral atau absen lebih parah lagi sebab dalam UU Pemilu Pasal 235 Ayat 5, parpol yang tidak memiliki atau mengajukan capres atau cawapres di Pemilu 2019 maka tak boleh ikut Pilpres di 2024. Akhirnya Demokrat pun tak punya pilihan lain selain bergabung ke kutub koalisi oposisi.

Tak heran, selepas “rebut-ribut” itu, muncul sinyalemen bahwa Demokrat masih “setengah hati” merapat ke kubu Prabowo. Absennya SBY di ruang publik, termasuk tak menemani langsung Prabowo-Sandi mendaftar ke KPU, hingga rentetan twit Andi Arif yang berseberangan dengan koalisi Prabowo dan tak pernah ditegur oleh partai, dapat dibaca Demokrat belum sepenuhnya menerima Sandiaga Uno sebagai pendamping Prabowo. Ditambah, sejauh ini Demokrat memang belum pernah duduk satu forum dengan PKS dan PAN untuk membahas tim pemenangan Prabowo-Sandiaga.

Namun, anggapan tersebut dibantah anggota Majelis Tinggi Demokrat Amir Syamsudin yang menyatakan partainya tetap solid untuk barisan koalisi dan siap bekerja sama dengan semua partai di dalamnya. Amir pun membantah ihwal partainya masih tak terima dengan pemilihan Sandiaga sebagai cawapres Prabowo. “Kami all out. Saya pastikan all out. Kalaupun ada isu-isu miring, itu hanya bagian dari dinamika. Biasa saja,” kata Amir.

Menunggu Pembuktian

Akhirnya, kini yang paling ditunggu adalah bagaimana keseriusan Demokrat dalam memenangkan Prabowo-Sandiaga. Dari sanalah Demokrat bisa menjawab keraguan publik jika partai itu tidak hanya sekadar mengugurkan kewajiban mengusung capres-cawapres di Pilpres 2019, dan bahwa apa yang terjadi tidak lebih dari dinamika politik biasa.

Prabowo-sandiaga saat menjalani tes kesehatan capres dan cawapres

Jika Demokrat memang serius dalam pilpres kali ini, tentu hal tersebut akan sangat membantu Prabowo-Sandiaga Uno. Bagaimanapun, punya modal untuk mengantarkan capres-cawapres yang diusungnya untuk menang. Kekuatan demokrat tidak bisa dipandang enteng. Berkaca dari hasil pemilu 2014 lalu, Partai Demokrat bisa duduk di posisi empat besar atau memperoleh suara 10,19 persen secara nasional. Artinya, jika mesin politik benar-benar digerakan secara maksimal dan tulus maka Demokrat bisa menjadi pembeda di Pilpres 2019. Terlebih jika SBY yang “jago strategi” ikut turun gunung “melatih” tim oposisi dan meracik kemenangan bagi Prabowo-Sandiaga.

Sangat menarik untuk menunggu bagaimana strategi Demokrat dalam pilpres kali ini. Apakah menerapkan strategi menyerang untuk mem-backup Prabowo-Sandi, atau hanya menerapkan strategi ‘Parkir Bus’, dengan hanya mempedulikan pencapaian mereka di pemilu legislatif yang digelar bersamaan? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here