Demokrat Resmi Gugat Rusia, WikiLeaks dan Trump

0
167
Ketua Democratic National Committee (DNC) Rom Perez

Nusantara.news, Washington – Partai Demokrat menggugat secara hukum pemerintah Rusia, WikiLeaks dan Tim Kampanye Trump. Ketiganya dituduh berkomplot melakukan kecurangan Pemilu Presiden Amerika Serikat (Pilpres AS) untuk menyingkirkan calon presiden dari Partai Demokrat, Hillary Clinton.

Gugatan itu diajukan oleh Komite Nasional Demokrat (DNC/Democrat National Committee) ke Pengadilan Federal di distrik selatan New York, pada hari Jumat Kliwon (20/4) lalu.

Materi Gugatan

Dalam materi gugatannya DNC mengklaim ganti rugi US$ 1 juta dengan alasan pihak-pihak yang berkomplot melakukan tindakan yang merugikan partainya dengan cara peretasan server DNC dan merusak reputasi Hillary Clinton.

“Selama kampanye Pilpres 2016, Rusia melancarkan serangan habis-habisan terhadap demokrasi kami, dan menemukan mitra yang bersedia dan aktif dalam kampanye Donald Trump,”tuding ketua DNC Tom Perez dalam sebuah pernyataan.

“Ini merupakan tindakan pengkhianatan yang belum pernah terjadi sebelumnya ketika seorang calon presiden Amerika Serikat bersekutu dengan kekuatan asing yang bermusuhan untuk memperbesar peluangnya sendiri memenangkan kursi kepresidenan.”

Disertakan sebagai tergugat adalah putra tertua Donald Trump – Donald Trump Jr. – menantu laki-laki sekaligus penasehat khususnya Jared Kushner, mantan ketua tim kampanye Paul Manafort dan wakilnya Rick Gates serta mantan penasehat kebijakan luar negeri George Papadopoulos.

Gugatan juga menyertakan pendiri WikiLeaks Julian Assange dan Roger Stone – orang kepercayaan Trump lama yang berkomunikasi dengan WikiLeaks yang bertugas mempublikasikan email hasil peretasan – baik dari email DNC maupun email Tim Kampanye Hillary Clinton, John Podesta.

Di antara orang-orang Rusia yang disebut sebagai tergugat adalah Aras dan Emin Agalarov – keluarga miliarder yang dirujuk sebagai saluran potensial antara Tim Kampanye Trump dan Moskow dalam rantai email eksplosif yang melibatkan Trump Jr dalam sebuah pertemuan pada Juni 2016 di Trump Tower.

Dalam email itu humas Emin Agalarov – Rob Goldstone – memberi tahu Trump Jr bahwa Agalarov memiliki “informasi tingkat tinggi dan sensitif” yang membuktikan keterlibatan Rusia dalam Pilpres AS.

Dugaan keterlibatan Rusia yang berkomplot dengan tim kampanye Trump sedang diselidiki secara hati-hati dan mendalam oleh Kongres AS dan Jaksa khusus yang dipimpin oleh Robert Mueller.

Penyelidikan federal di bawah kepemimpinan Mueller telah menyampaikan dakwaan ke pengadilan untuk Manafort, Rick Gates, George Papadopoulos dan mantan penasehat keamanan Michael Flynn. Mueller juga telah mendakwa 13 warga negara Rusia dan 3 kelompok Rusia pada Februari 2018 lalu yang bertentangan dengan hukum Amerika – melarang keras keterlibatan pihak asing dalam Pemilu AS.

Papadopoulos dan Flynn keduanya mengaku bersalah karena berbohong kepada FBI (Federal Bureau Investigation) dan telah bekerja sama. Gates juga mengaku bersalah karena berbohong kepada penyelidik – selain penipuan keuangan – dan telah setuju untuk bekerja sama dengan tim Mueller.

Hanya Manafort yang tidak mengaku bersalah atas tuduhan penggelapan pajak, penipuan bank, persekongkolan melawan AS dan memberikan pernyataan palsu kepada FBI.

Taktik Watergate

Gedung Putih enggan mengomentari gugatan itu. Namun tangan kanan Trump dalam Tim Kampanye periode mendatang menyebut gugatan itu hal yang sembrono.

“Ini adalah gugatan mengada-ada dengan tudingan palsu tentang persekongkolan Rusia yang diajukan oleh Demokrat yang putus asa, disfungsional dan hampir bangkrut,” kecam manajer kampanye 2020 Trump – Brad Parscale.

“Dengan teori konspirasi Demokrat melawan tim kampanye presiden yang menguap secepat penggalangan dana DNC yang gagal, mereka tenggelam ke titik rendah baru untuk mengumpulkan uang, terutama di antara donor kecil yang telah meninggalkan mereka,”ulas Brad.

Berulang-kali Trump menyebut penyelidikan yang dilakukan oleh tim Mueller adalah “perburuhan penyihir” dan bersifat partisan – sekaligus menegaskan tidak ada persekongkolan antara tim kampanyenya dan Rusia.

Dalam gugatannya, DNC juga menyebutkan dugaan persekongkolan itu “menimbulkan kerusakan besar” dengan menghancurkan kemampuannya untuk menyebarluaskan pesan partai kepada pemilih dan di dalam tubuh Partai Demokrat itu sendiri.

Gugatan juga menyebutkan peretasan “serius mengganggu komunikasi internal dan eksternal DNC”, mendorong penurunan signifikan dalam penggalangan dana, dan menyebabkan kerusakan pada sistem organisasi yang membutuhkan biaya lebih dari US$ 1 juta untuk memperbaikinya.

“Tidak ada yang di atas hukum dan para pelaku serangan ini harus bertanggung jawab,” seru Perez. “Kita harus mencegah serangan di masa depan terhadap demokrasi kita, dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk melakukannya.”

“Ini bukan partisan, ini patriotic …. Ini adalah kewajiban kami kepada rakyat Amerika.”

DNC tampaknya menggunakan strategi yang sama ketika menangani “Skandal Watergate” dengan cara mengajukan gugatan perdata pada 1972 – dengan merinci kerusakan yang ditimbulkan partainya dari kampanye pemilihan kembali Richard Nixon terkait pembobolan informasi di markas besar Partai Demokrat di Washington.

Meskipun gugatan itu dikecam oleh Jaksa Agung ketika itu tapi Washington Post menyebut Nixon diharuskan membayar kerugian US$ 750 ribu saat “dipecat” dari kantor kepresidenan.

Gugatan setebal 66 halaman DNC datang ketika presiden dan orang-orang di lingkaran dalamnya menghadapi persoalan hukum yang semakin meningkat.

Selain pernyataan Mueller – pengacara pribadi Trump sejak lama – Michael Cohen – berada di bawah penyelidikan kriminal untuk urusan “penyuapan” yang dibayarkan kepada aktris film dewasa Stormy Daniels agar tidak lagi mengungkit perselingkuhannya dengan Donald Trump. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here