Deradikalisasi, Kerja Keras yang tak Kunjung Tuntas

0
69
Pemakaman jenazah terduga teroris Tuban, Rizki Rahmat di TPU Boom Lama, Semarang Rabu (12/4) dini hari. Foto: Antara

Nusantara.news, Surabaya – Diawali pertemuan di Malang akhir 2016, skema teror dari kelompok yang menamakan Jamaah Ansharut Daulah, meledak di Tuban, Sabtu (8/4/2017). Jaringan yang diklaim tanzhim Jamaah Anshar Tauhid ini menyasar polisi sebagai bentuk aksi “amaliah” pasca penangkapan Ketua JAD Jawa Timur Zainal Anshori dan dua anggotanya di Lamongan tiga hari sebelumnya.

Terlepas dari aksi teror berujung baku tembak yang menewaskan enam terduga anggota JAD tersebut, pertanyaan pun menyeruak melihat beberapa pelaku masih berusia muda. Yakni kian masifnya penyebaran paham kekerasan berbalut ideologi agama dan sejauh mana efektivitas deradikalisasi.

Butuh pemahaman bersama lintas sektoral jika menghadapi paham kekerasan ini butuh kerja keras dan waktu yang panjang. Mulai dari tingkat pusat hingga daerah. Sebab, di era teknologi penyebaran paham ini tak hanya jadi ruang kerja Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) atau kementerian di Jakarta. Pemerintah daerah juga wajib memantau karena akar persoalan terkadang justru berasal dari internal bangsa Indonesia.

“Program deradikalisasi hakikatnya merupakan upaya yang positif untuk mengurangi aksi teror dengan cara mengubah pola pikir, cara pandang atau ideologi orang-orang yang terpapar paham radikal yang mengarah kepada aksi-aksi teror,” terang Ketua PCNU Surabaya Achmad Muhibin Zuhri kepada Nusantara.news, Selasa (11/4/2017).

Namun upaya itu tidak semudah membalik telapak tangan. Hal ini diakui pria yang juga dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya tersebut. “Mengubah pola pikir, cara pandang atau ideologi yang diyakini seseorang memang bukan hal yang mudah. Butuh waktu yang cukup lama serta usaha yang intensif dan sustainable. Ini sebagaimana proses internalisasi paham radikal itu sendiri berlangsung. Usaha ini juga harus dilakukan secara komprehensif dan holistik, tidak bisa parsial dan sektoral,” bebernya.

Mahal dan lamanya program deradikalisasi terlihat hasilnya yang munculkan kesan tidak efektif. Apalagi, tambah Muhibin, ada syarat-syarat di atas yang belum terpenuhi sehingga terkadang deradikalisasi lebih cenderung bersifat project dan masih sektoral. “Belum menjadi atensi seluruh stake holder negara dan masyarakat,” nilai Muhibin.

Kondisi ini yang ikut memicu penyebaran dan rekrutmen anggota aliran berpaham radikal masih mendapat sambutan di kalangan generasi muda. Apalagi secara naluriah, generasi muda butuh ruang untuk menunjukkan eksistensinya. Sehingga ketika ada yang menggelitik ego dan melambungkan jati diri secara terus menerus, sisi nalar pun bisa terbalik.

Indikasi ini yang terlihat ketika seruan amaliah kepada unsur kepolisian dikobarkan Zainal Anshori pasca ditangkap Detasemen Khusus (Densus) 88. Sel-sel JAD yang sempat tiarap pasca teror bom Thamrin Jakarta, sontak mencari kesempatan untuk memenuhi seruan yang diyakini panggilan religi. Seperti yang MID (22), inisial warga Desa Karangaren, Kecamatan Kutasari, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Hanya bersenjatakan parang, aksi lone wolf dilancarkan ke markas Polres Banyumas, Selasa (11/4/2017).

Ada satu kesamaan dari dua teror yang terjadi belakangan, yakni usia pelaku yang masih muda dan dikenal berkepribadian baik meskipun cenderung tertutup di keluarganya. Dalam situasi ini, lingkungan sekitar yang harusnya menjadi benteng pertama sebagai antisipasi. Terutama dari lingkup pemerintahan terkecil hingga pemangku kebijakan di daerah asal pelaku.

“Deradikalisasi selayaknya dikaitkan dengan konteks pembangunan Indonesia seutuhnya, yakni dalam berbagai bidang kehidupan. Ketidakadilan dalam bidang ekonomi dan kehidupan sosial juga politik memiliki kaitan dengan sukses tidaknya program deradikalisasi ini,” kata Muhibin menyoroti indikasi penyebab generasi muda terkena paham radikal.

Karena itu, ada beberapa solusi yang bisa dilakukan. Dari elemen pemerintahan, harus segera ambil langkah koordinasi lintas sektoral yang serius dan melibatkan unsur-unsur organisasi keagamaan moderat sebagai mitra strategis. Jangan asal-asalan atau sambil lalu saja. Harus ada atensi serius karena ini isu krusial dan serius yang bisa berdampak mengerikan bagi keutuhan NKRI.

“O, ya, program deradikalisasi juga harus dimulai dari hulunya. Yakni mengantisipasi penyemaian bibit-bibit paham radikal melalui Sie kerohanian Islam (SKI) dan Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) di sekolah-sekolah negeri, PTN, majelis-majelis, dan penyebarnya melalui media elektronik dan internet. Jangan hanya dipangkas di hilirnya saja!” tutupnya.

Data Tabel
6 Terduga teroris yang tewas di Tuban

1.Nama : Adi Handoko*
Tempat, tanggal lahir: Batang, 29 Maret 1983
Alamat: Dk. Limbangan, Kec. Tersono, Kab. Batang

2. Nama : Satria Aditama
Tempat, tanggal lahir: Semarang, 28 Oktober 1998
Alamat: Jalan Taman Karonsih, Kec. Ngaliyan-Semarang
No. Paspor : B4284092

3. Nama : Yudhistira Rostriprayogi
Tempat, tanggal lahir: Kendal, 14 Februari 1998
Alamat: Ds. Cepokumulyo, Kec. Gemuh, Kab. Kendal

4. Nama : Endar Prasetyo
Tempat, tanggal lahir: 28 Juni 1965
Alamat: Dk. Limbangan, Kec.Tersono, Kab. Batang

5. Karno (20 th)
Alamat: Semarang

6. Riski Rahmat (22 th)
Alamat: Jalan Kerapu II RT 9/RW 2, Kelurahan Kuningan, Kecamatan Semarang Utara-Semarang

Tersangka Penyerangan Mapolres Banyumas

7. MID (22 th)
Alamat: Desa Karangaren, Kecamatan Kutasari, Kab. Purbalingga.

*Polri menyebut data invalid karena nama dan alamat serupa telah meninggal dunia pada 2015. []

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here