Desember Kelabu Menggelayut Sektor Pariwisata Bali 2017

0
243
Sejumlah penumpang menunggu jadwal keberangkatan pesawat di terminal internasional Bandara Ngurah Rai, Bali, Sabtu (2/12). Sebanyak 33 penerbangan domestik dan 35 penerbangan internasional dari dan ke Bali melalui Bandara Ngurah Rai telah membatalkan penerbangan karena dampak erupsi Gunung Agung. ANTARA FOTO/Wira Suryantala/nz/17.

Nusantara.news, Den Pasar – Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Desember 2017 ini sektor pariwisata di Bali terancam gagal panen. Padahal setiap penghujung tahun Bali diserbu tak kurang dari 400 ribu wisatawan asing. Angka pastinya, BPS mencatat Desember 2016 ada 442.800 wisatawan asing datang ke Bali. Sekarang?

Biasanya tiket pesawat ke Bali di bulan Desember ditawarkan dengan harga gila-gilaan. Tapi tahun ini tiket promo bertebaran. Begitu juga dengan penginapan. Ribuan hotel sebagaimana dikutip dari sejumlah agen perjalanan online menawarkan diskon hingga 50 persen. Itu berarti pengelola bisnis pariwisata memang sedang gundah.

Gunung Agung yang meletus pada Sabtu, 25 November 2017 pekan lalu masih “batuk-batuk” dan tidak bisa diduga kapan sembuhnya. Wajar apabila Menteri Pariwisata Arief Yahya pesimis dengan target 550 ribu wisatawan manca pada Desember 2017 ini.

Secara keseluruhan, wisatawan manca yang datang ke Bali pada 2016 mencapai 4,92 juta orang. Tahun ini ditargetkan 5,5 juta orang. Secara keseluruhan pula Bali menyumbang 40 persen pendapatan negara dari sektor pariwisata.

“Kalau erupsi Gunung Agung terus berlanjut hingga akhir Desember sektor pariwisata di Bali bisa kehilangan omset Rp9 triliun,” beber Arief Yahya, di kantornya, Selasa (29/11) lalu.

Sumbangan sektor pariwisata di Bali ke kas pemerintah mencapai Rp70 triliun per tahun. Sejak Gunung Agung “batuk-batuk” pada September 2017 potensi kerugian per hari mencapai Rp234 miliar per hari. Target kunjungan wisatawan asing ke Indonesia yang semula 15 juta, tutur Arief, hanya akan tercapai sekitar 14 juta saja.

Setelah letusan Sabtu (25/11) lalu selama tiga hari tercatat 400 penerbangan domestik dan manca menuju atau dari Den Pasar dibatalkan. Tercatat 40 ribu turis diangkut dengan bus dari Ngurah Rai menuju bandara terdekat, dan terbanyak ke Bandara Juanda di Surabaya. Apabila Bandara Ngurah Rai terus buka tutup seperti akhir November kemarin, sudah pasti harapan panen di musim liburan penghujung Desember punah.

Padahal sejak gejala erupsi Gunung Agung terdeteksi pada akhir September 2017 lalu, Bandara Ngurah Rai juga masih berjalan normal, potensi kerugian dari sektor pariwisata di Bali sepanjang bulan Oktober mencapai USD 20 juta atau setara Rp268 miliar. Di bulan itu tercatat 60 ribu wisatawan asing yang masing-masing menghabiskan uang 1.300 dolar AS membatalkan kunjungannya ke Bali.

Sepanjang Desember tahun ini, Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (Asita) memperkirakan penerbangan dan paket wisata ke Bali berkurang sekitar 50 persen. Itu tidak terlepas dari munculnya pembatalan. Sedangkan paket baru berupa aneka promo dan diskon belum banyak menarik minat calon wisatawan.

Gejala penurunan jumlah penerbangan dan paket wisata, ungkap Wakil Ketua Asita Budijanto, sebenarnya sudah terjadi sejak dua bulan lalu, ketika Gunung Agung menunjukkan aktivitasnya dan dinyatakan berstatus siaga. “Kala itu penurunan hanya2-3 persen dan kembali normal. Tapi karena minggu lalu meletus sekarang kira-kira turun 50 persen,” ujar Budijanto.

Penurunan hingga 50 persen itu, terang Budijanto, mencakup seluruh penerbangan dan paket wisata, terutama didominasi wisatawan domestik. “Kalau luar negeri, terutama yang ketat dari Australia, mungkin itu pembatalannya sampai 10 persen. Kalau diakumulasi, penurunannya sampai 20-30 persen,” ungkapnya.

Namun Budi belum bisa memperkirakan berapa total kerugian yang ditanggung para perusahaan perjalanan wisata. Sebab, hal ini bergantung pada seberapa lama status siaga level tiga ini disematkan ke gunung yang terletak di Kabupaten Karangasem, Bali itu. “Masih terus dilihat (kerugiannya), ya kalau sampai lama terus seperti ini tentu semakin rugi,” imbuhnya.

Provinsi Bali sendiri, dengan adanya erupsi Gunung Agung diperkirakan kehilangan pendapatan Rp2,47 triliun dari sektor pariwisata. Apabia erupsi berjalan selama 3 bulan, tercatat sejak awal Oktober hingga awal Januari, perekonomian di Bali diperkirakan hanya tumbuh 3,8-4,2 persen. Padahal selama ini pertumbuhan di Bali pada level di atas 6 persen.

Namun sebelum erupsi pun sudah ada tanda-tanda penurunan kinerja ekonomi di Bali yang diperkirakan hanya tumbuh 5,25-5,65 persen. Dengan adanya erupsi, tentu saja bukan hanya sektor pariwisata yang terpukul. Melainkan juga sektor-sektor penunjang lainnya. Misal saja pasokan pasokan komoditas seperti cabai, daging, dan telur akan terganggu.

Sebelum erupsi saja, sebanyak 44 hotel dan villa di Bali melaporkan adanya pembatalan kedatangan tamu pada kuartal terakhir 2017. Secara detail tercatat  2.535 wisatawan asing dan 2.085 wisatawan domestik batal melancong ke Bali. Dari sana saja para pengusaha penginapan sudah kehilangan pendapatan sekitar Rp11,57 miliar.

Dengan adanya “batuk” dan “pilek” Gunung Agung, pemerintah Provinsi Bali bukan saja disibukkan oleh urusan mengungsikan 100 ribu penduduknya yang sebagian enggan mengungsi karena khawatir dengan keamanan binatang ternak yang ditinggalkan, melainkan juga diselimuti awan kelabu sektor pariwasata yang menjadi tulang punggung perekonomiannya.

Semoga saja erupsi Gunung Agung segera berakhir dan perekonomian Bali segera pulih setelah awan kelabu di bulan Desember 2017 menghantam sektor pariwisata. Setidaknya bisa pulih di musim banjir wisatawan pada Imleks tahun depan. Semoga.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here