Di balik Kerjasama Pendidikan, Perancis Kuatkan Investasi di Jatim

0
87

Nusantara.news, Surabaya – Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Perancis sepakat meningkatkan kerjasama di bidang pendidikan. Terutama untuk pendidikan vokasional bidang industri kreatif. Pembahasan itu dilakukan saat Soekarwo menerima kunjungan H.E Mr. Jean-Charles Berthonnet, Duta Besar Perancis untuk Indonesia di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Jum’at (9/6).

Soekarwo mengatakan, kerjasama pendidikan vokasional bidang industri kreatif sangat diperlukan karena di Tahun 2020, Jawa Timur akan mengalami bonus demografi. Artinya, jumlah penduduk usia produktif (antara 15-64 tahun), mencapai 2/3 dari total jumlah penduduk. Sehingga bonus demografi ini harus diantisipasi dengan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia, yakni melalui pendidikan vokasional.

“Kerjasama ini secara adhoc selama dua tahun, tetapi jangka panjangnya bisa sampai 2024,” terang Gubernur Soekarwo.

Namun, di balik peningkatan kerjasama pendidikan antara Jawa Timur dengan Perancis, negara tersebut juga punya bidikan lain, yakni menancapkan dan menguatkan investasi bisnisnya di berbagai bidang industri di Provinsi Jawa Timur. Dan, Jawa Timur dipastikan kebanjiran investasi yang dibalut dengan kerjasama khususnya bidang perdagangan dan investasi.

Data yang ada, tercatat, sejak Tahun 1974 sampai April 2017, terdapat sebanyak 18 proyek investasi dari Perancis di Jawa Timur dengan nilai investasi sebesar 115,21 juta USD dan menyerap 1.318 tenaga kerja.

“Investasi ini paling banyak di bidang usaha industri kayu, serta kimia dan farmasi,” ungkap Pakde Karwo sapaan Soekarwo saat saat berbincang dengan media.

Sepintas, memang menguntungkan untuk Jawa Timur khususnya untuk bidang kerjasama pendidikannya. Namun, jika bentuk kerjasama bidang pendidikan serta pengembangan industri tidak dikontrol, penguasaan modal asing akan semakin mengikis industri lokal. Serta penguasaan oleh asing akan semakin merajalela di Provinsi Jawa Timur.

Pakde Karwo menyebut, keputusan investasi Perancis di Provinsi Jawa Timur sangat tepat. Karena Jawa Timur merupakan wilayah penghubung Indonesia Timur. Serta, posisi Jawa Timur yang sangat strategis yakni di tengah-tengah arus distribusi barang dan jasa (center of grafity).

Logistic and connectivity kita sangat baik, karena banyak barang yang dikirim ke Indonesia Timur melalui pelabuhan yang ada di Jatim, sehingga sangat efisien bila berivestasi di Jatim,” ungkapnya.

Selanjutnya, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga akan memberikan empat jaminan bagi investor Perancis yang akan menanamkan investasinya di wilayah Jawa Timur. Empat jaminan tersebut yaitu soal perijinan, ketersediaan lahan, power plan atau ketersediaan listrik, serta ketersediaan tenaga kerja dan iklim buruh yang kondusif.

“Soal perijinan semua diurus oleh Pemprov Jatim dengan terukur dan terstandar, kemudian soal ketersediaan listrik, di Jatim tersedia 2.800 Megawatt,” jelas Pakde Karwo dengan nada meyakinkan.

Orang nomor satu di Provinsi Jawa Timur itu menambahkan, komoditas utama non migas Jatim yang diekspor ke Perancis adalah perabot dan penerangan rumah, alas kaki, serta ikan dan udang. Juga, mesin dan peralatan listrik, serta pakaian jadi bukan rajutan. Sedangkan komoditas utama non migas Jawa Timur yang diimpor dari Perancis adalah susu, mentega, dan telur.

Serta, ampas atau sisa industri makanan, bubur kayu (pulp), berbagai makanan olahan, dan mesin atau pesawat mekanik. Sementara menimpali semua uraian yang dilakukan Pakde Karwo, Mr. Jean-Charles Berthonnet, Dubes Perancis, menyambut baik kerjasama di bidang pendidikan antara Jawa Timur dengan Perancis.

Menurutnya, kerjasama ini akan diprioritaskan agar semakin banyak pelajar dari Jawa Timur yang menempuh pendidikan di Perancis. Jean-Charles Berthonnet menyebut, hingga saat ini tercatat sudah ada 600 alumni lulusan Perancis di Jawa Timur. Ke depan, diharapkan akan terus meningkat.

“Kami harap kesepakatan yang akan kami tandatangani hari ini dapat memasilitasi kerjasama tersebut,” ungkapnya.

Terkait lima perusahaan Perancis yang sudah menandatangani ijin prinsip di Jawa Timur, tapi belum terealisasi investasinya, Mr. Jean-Charles Berthonnet berjanji akan segera mengecek lebih lanjut.

“Kami akan support untuk membawa investor ke Indonesia terutama Jatim. Karena situasi di sini kondusif dan banyak potensi yang bisa ditawarkan,” jelasnya.

Dalam kunjungannya ke Jawa Timur, Dubes Perancis membawa beberapa delegasi dari Perancis. Di antaranya pengusaha Perancis, unsur dari organisasi bidang ketenagakerjaan serta Konsul Kehormatan Perancis di Surabaya, Han Jayanata.

Para pengusahanya juga sedang melakukan beberapa kerjasama di antaranya dengan PT. PAL Indonesia dalam hal pembuatan kapal selam, serta dengan beberapa perusahaan energi seperti PT. Paiton.

Dalam kesempatan itu, Pakde Karwo juga menjelaskan soal isu pluralisme yang hangat, kondisi Jawa Timur disebutkan sangat kondusif. Pluralisme bisa dikembangkan dengan baik di Jawa Timur. Salah satu solusi menghadapi pluralisme adalah dengan kebudayaan dan membuka ruang publik. Di Jawa Timur, lanjut Pakde Karwo, yang dikedepankan adalah dialog atau musyawarah mufakat.

“Ketika ada masalah, pemimpin membuka diskusi dengan masyarakat melalui ruang publik. Contohnya, ketika ada demonstrasi, gubernur atau wakil gubernur akan melakukan dialog dengan para demonstran. Demonstrasi kita terima dengan baik bila memiliki substansi, sehingga tidak sampai anarkis,” terang Pakde Karwo.

Dengan kebiasaan itu, Pakde Karwo juga ingin berpesan kepada masyarakat Jawa Timur, bahwa segala sesuatu bisa diselesaikan dengan musyawarah mufakat, tanpa harus menimbulkan kegaduhan.

Namun, kehati-hatian terhadap warga asing juga perlu diperhitungkan, karena kemandirian bangsa juga tidak boleh ditinggalkan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here