Di Balik Moratorium TKI, Nagel Kapalah Lumayan Bikin Merinding

0
79
Para TKI selama ini belum mendapat perlindungan layak dari pemerintah karena adanya sistem Nagel Kapalah di Timur Tengah, khususnya Arab Saudi. Kebijakan pemerintah memberlakukan moratorium TKI ke negara-negara Timur Tengah merupakan upaya untuk memperbaiki sistem ketenegakerjaan Indonesia.

Nusantara.news, Jawa Timur – Hingga akhir tahun 2017, pemerintah masih menetapkan moratorium (penghentian) pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Timur Tengah, terutama Arab Saudi. Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri punya alasan belum dibuka pengiriman TKI/TKW ke Timur Tengah.

Meski banyak permintaan dari warga Indonesia yang ingin menjadi TKI/TKW ke Timur Tengah, namun menurut pemerintah permintaan tersebut tidak ada salahnya. Permintaan serupa juga datang dari Kerajaan Arab Saudi. Pihaknya mendesak agar Indonesia segera membuka kran penempatan TKI atau pekerja migran Indonesia (PMI) ke negaranya.

Hal itu disampaikan Duta Besar Kerajaan Arab Saudi untuk Indonesia Osamah Mohammad Al Shuibi beberapa waktu lalu. Osamah menilai moratorium pengiriman TKI bukanlah strategi yang tepat.

Sejak diberlakukannya moratorium pengiriman TKI ke Arab Saudi, tak pelak membuat penerimaan devisa Indonesia berkurang. Lembaga Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai potensi remitansi ke dalam negeri hilang mencapai Rp37 triliun atau setara dengan 3 miliar dolar AS.

Remitansi yang dihasilkan para pekerja migran dikirim kembali ke daerah masing-masing dan digunakan untuk membiayai pendidikan anak, memberikan modal kerja untuk berwirausaha, menggerakkan perekonomian keluarga dan juga desa.

Namun laporan Kerajaan Arab Saudi menilai, devisa para TKI yang hilang mencapai 8 miliar dolar AS atau sekitar Rp 106,4 triliun per tahun.

Arab Saudi sendiri, kata Osamah, sangat membutuhkan tenaga-tenaga kerja dari Indonesia untuk bekerja di sektor informal, seperti penata laksana rumah tangga (PLRT). Disebutkan Osamah, tenaga-tenaga kerja Indonesia memang terbaik dibanding negara lain.

Sebab inilah menjadi alasan Arab Saudi agar Indonesia membuka kembali pengiriman TKI di sektor informal. Bagi Arab Saudi, TKI merupakan tenaga kerja terbaik karena memiliki keahlian. Mereka juga muslim dan mudah memahami kemauan majikannya.

Selain itu, moratorium memberi dampak negatif pada maskapai Garuda Indonesia dan bank-bank lokal. Dengan berkurangnya jumlah penumpang Indonesia ke Riyadh, dan berkurangnya transaksi-transaksi pengiriman uang dari Arab Saudi ke bank-bank lokal di Indonesia. Selain itu, TKI di Arab Saudi memiliki keuntungan dapat melaksanakan ibadah haji dan umroh gratis dibiayai oleh majikan. Jadi, mereka bisa berhaji tanpa antre yang panjang.

Namun pemerintah memiliki penilaian sendiri. Saat ini pemerintah mengaku lebih fokus kepada peningkatan soft skills maupun hard skills. Karena dua-duanya diperlukan. Untuk soft skills, harus ditingkatkan keberanian, semangat dan kepercayaan diri para pekerja. Pun untuk hard skills perlu adanya peningkatan ketrampilan untuk perawat maupun juru masak.

Karena itu pemerintah akan mulai melakukan uji coba 2 tahun penempatan TKI untuk pekerja rumah tangga (PRT) di beberapa negara di Timur Tengah mulai April 2018-April 2020.

Alasan dilakukan uji coba penempatan TKI PRT adalah, pertama, setiap bulan marak pengiriman secara ilegal TKI PRT ke sana. Kedua, begitu banyaknya orang Indonesia mencari kerja dan ingin bekerja di luar negeri, terutama Timteng. Ketiga, permintaan tenaga kerja termasuk dari Indonesia oleh negara-negara Timteng tinggi.

Ya, sebagaimana diberitakan sejak Mei 2015, pemerintah melalui Kemnaker telah menghentikan pengiriman TKI ke negara-negara Timteng. Penghentian pengiriman itu tertuang dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 260 tahun 2015 tentang Penghentian Pengiriman TKI PRT ke Timteng.

Perbudakan TKI di Arab Saudi 

Menteri Hanif memberlakukan moratorium TKI di Timur Tengah bukan tanpa alasan. Setidaknya ada tiga alasan kuat pemerintah memberlakukan moratorium TKI. Pertama, pengetahuan dan ketrampilan dari kebanyakan TKI belum memenuhi standar internasional. Kebanyakan mereka tidak mengetahui hak mereka dalam menjalankan tugas. Kedua, budaya di Timteng masih menempatkan pekerja sektor domestik sebagai kelas rendah. Ketiga, sistem sponsorship di mana majikan mempunyai suara kuat dalam perjanjian kerja maupun peraturan ketenagakerjaan, ini menyebabkan sulitnya pemerintah Indonesia melindungi warganya.

Alasan ketiga inilah yang menurut pemerintah perlu dilakukan perbaikan antara pemerintah Indonesia dan negara-negara Timur Tengah yang menjadi tempat tujuan TKI. Sebab pada bulan Januari-Februari 2017, Migrant Care mendapatkan pengaduan adanya penyekapan yang dialami oleh sekitar 300 perempuan di kawasan Riyadh, Arabia Saudi.

Mereka, yang sebagian besar berasal dari Nusa Tenggara Barat, ditempatkan pada masa penghentian permanen. Di bulan September 2017, juga terungkap sindikat perdagangan manusia yang nekat menempatkan perempuan Indonesia untuk bekerja di kawasan konflik bersenjata Suriah.

Pemerintah berupaya cukup keras mengungkapkan hard policy itu diterapkan karena negara-negara Timur Tengah yang umumnya masih menerapkan sistem kafalah (Nagel Kapalah) atau sponsorship. Di sini hak privasi majikan sangat kuat daripada perjanjian kerja maupun peraturan ketenagakerjaan.

Seorang buruh migran asal Tulungagung menyebut, selama ini sistem Nagel Kapalah di Arab Saudi dan Timur Tengah tak ubahnya praktek jual beli TKI atau oper majikan. Atau, dalam istilah Indonesia disebut praktek ijon (manusia dijual). Jual beli TKI/TKW terjadi jika mereka berganti majikan baru atau kapil karena ingin resmi.

Cerita yang disampaikan soal Nagel Kapalah memang lumayan membuat merinding. Sebut saja Khaliya (38), mantan TKW Arab Saudi asal Tulungagung menceritakan, hingga kini di Tanah Suci masih menerapkan praktek-praktek perbudakan Nagel Kapalah.

“Praktek perbudakan ini dialami semua pekerja kita. Laki-laki maupun perempuan semua dianggap budak. Aneh juga. Padahal Nabi SAW sudah menghapus praktek perbudakan sejak lama. Praktek ini sampai sekarang masih ‘bergentayangan’. Kejadiannya malah di negara yang menjaga kultur Islam,” tutur Khaliya pada Nusantara.News.

Diakui Khaliya, para TKI di Arab Saudi hingga sekarang tidak memiliki hak terhadap dirinya. Hak kebebasan sudah dirampas oleh ‘para onta’ (sebutan majikan Arab). Sekiranya, hanya satu hak yang mereka miliki, yakni hak hidup. Hidup pun, kata dia, juga tidak leluasa.

“Betapa bosannya tinggal di rumah majikan. Setiap hari diatur waktunya. Kita dilarang keluar masuk rumah. Setiap hari hanya berada di rumah. Bekerja, bekerja, dan bekerja. Keluar rumah harus ada ijin dari majikan,” urainya.

Sebaliknya, saat masa kontrak habis, menjadi hak majikan untuk menjual TKI/TKW ke majikan lain. Majikan yang sudah tidak lagi menggunakan jasa TKI/TKW asal Indonesia, akan menjualnya ke majikan lain.

Menurut Khaliya, harga jual TKI/TKW tidak murah. Jual beli pekerja Indonesia di Arab Saudi justru dilakukan layaknya membeli mobil. Semakin bagus skill semakin tinggi harga jualnya.

Khaliya bercerita pernah ditebus majikan barunya dari majikan lama seharga 6 ribu real (Rp 20 juta). Itu harga lama, katanya, sebelum dia mahir bekerja atau ketika baru setahun bekerja. Setelah 4 tahun, otomatis pengalaman dan skill yang dimiliki cukup baik. Maka, harga Khaliya bisa naik. Khaliya memperkirakan, sekarang harga jual dia bisa mencapai 10 ribu real (Rp 35 juta) bahkan bisa lebih.

Teman Khaliyah, TKI asal Madiun yang bekerja sebagai sopir, sebut saja Wanto, konon harganya jauh lebih mahal. Disebutkan, selama ini teman prianya itu menjadi TKI ilegal. Namun setelah mendapat majikan baru, dia mau dibeli.

Sebelum dibeli, majikannya belum resmi memiliki Wanto. Jadi majikannya harus beres-beres ke semua ke pihak yang bersangkutan untuk mengurus surat-suratnya. Katanya untuk membeli Wanto. Majikan tersebut harus mengeluarkan 16 ribu real.

Kata Khaliya, harga sopir lebih mahal dari PRT. Jika transaksi jadi, maka gaji si sopir per bulan dipotong atau gajinya turun. “Biasa dibayar 2 ribu real, nanti kalau sudah dibikin resmi gajinya turun menjadi 1600/1800 real. Maklum, majikan baru juga tidak mau rugi,” urainya.

Praktek-praktek perbudakan seperti ini di Arab Saudi, terang Khaliya, masih terus terjadi. Karena alasan inilah pemerintah Indonesia memberlakukan moratorium. Sebab sistem Nagel Kapalah dianggap tidak bisa melindungi para TKI dan bahkan merusak sistem ketenagakerjaan.

Memang, bagi mereka yang mendapat majikan baru dan baik patut disyukuri. Ini tidak menjadi masalah. Namun tidak sedikit dari mereka yang mendapat majikan buruk. Parahnya, mereka disekap dan dipaksa bekerja seharian. Kadang malah ada yang dijadikan budak seks, terutama bagi para TKW.

“Kita yang berada di tanah air tentu tidak paham dengan kejadian saudara-saudara kita di Arab Saudi. Tapi beginilah kenyataan di negeri yang katanya suci tersebut. Para saudara kita diperlakukan tak ubahnya budak belian. Miris sekali,” ulas Khaliya yang tidak mau lagi bekerja di Timur Tengah.

Maka dari itu, Khaliya sepakat jika pemerintah mengupayakan moratorium TKI di Timur Tengah. Sebab, bagaimana juga para TKI adalah manusia. Nabi Muhammad SAW saja sudah menghapus segala perbudakan, mengapa pemerintah Arab Saudi masih justru masih menerapkan sistem perbudakan.

Realitas ini memperlihatkan bahwa kebijakan pelarangan penempatan buruh migran adalah kebijakan yang selain berpotensi melanggar HAM, terutama hak bermobilitas dan hak bekerja, juga berpotensi membuka ruang terjadinya praktik perdagangan manusia dengan memanfaatkan banyaknya keinginan untuk tetap bekerja di wilayah yang dilarang. Kawasan Timur Tengah memang merupakan kawasan yang belum ramah bagi buruh migran, namun moratorium ataupun penghentian permanen memang bukan satu-satunya jalan keluar penyelesaiannya.

Tingginya permintaan agar buruh migran Indonesia bisa bekerja lagi di sana harus dijawab dengan keberanian untuk mendesak dan menuntut agar negara-negara tujuan buruh migran di Timteng bersedia membuat bilateral agreement mengenai perlindungan (terutama) PRT migran dan mengakhiri praktik perbudakan yang ada dalam Nagel Kapalah tersebut.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here