Di Balik Narasi ‘Indonesia Bisa Punah’

0
194
Prabowo Subianto

Nusantara.news, Jakarta – Narasi ‘Indonesia bisa punah’ yang diucapkan calon presiden Prabowo Subianto masih menyisakan prokontra. “Kita tidak bisa kalah. Kita tidak boleh kalah. Kalau kita kalah negara ini bisa punah,” kata Prabowo saat menyampaikan pidato di acara Konfernas Partai Gerindra yang digelar di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Senin (17/12).

Prabowo mengatakan Indonesia bisa punah lantaran elite terlalu lama berkuasa dengan langkah dan cara yang keliru yang menyebabkan tingginya ketimpangan sosial di Indonesia. Sontak tanggapan sinis meluncur dari kubu lawan politik pasangan nomor urut 02 ini. Cawapres Ma’ruf Amin: “Saya kira Indonesia tidak akan punah. Memang anu, hewan purba?” Sedangkan Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal (Purn) Moeldoko meminta Prabowo jangan berimajinasi.

Sebelumnya Prabowo juga pernah bicara tentang negara ini akan bubar tahun 2030. Alasannya, antara lain, lemahnya kedaulatan negara. Menurut dia, dari 80 persen tanah seluruh negara, hanya 1 persen yang dikuasai rakyat Indonesia. “Tidak enak kita bicara, tapi sudah tidak ada waktu untuk kita pura-pura lagi,” ujar Prabowo yang terinspirasi dari novel berjudul Ghost Fleet karya P.W. Singer dan August Cole.

https://nusantara.news/negara-tak-bisa-punah/

Sebenarnya dalam konteks kampanye, apa yang disampaikan Prabowo adalah sesuatu yang lumrah. Tentu saja, narasi Indonesia akan punah bukanlah dalam arti sebenarnya, melainkan kiasan atau majas. Punah dalam konteks ini, negara yang tak punya kedaulatan alias dikuasai asing. Fenomena penguasaan asing dengan elite-elite politik tanah air yang menghamba pada kepentingan asing, hakikatnya ‘Indonesia sudah punah’.

Memang diksi Indonesia akan punah jika kubu Prabowo kalah, sepintas terdengar tidak sedap dan sangat berlebihan. Namun jika menilik narasi tersebut diucapkan di acara internal, yaitu di hadapan para kader Gerindra, maka sebenarnya narasi itu hanya dimaksudkan memperkuat loyalitas pendukung Prabowo saat ini. Pernyataan itu semata-mata retorika Prabowo untuk mendapat dukungan dan menyolidkan mesin politiknya.

Negara Bisa Punah, Hiperbolis atau Realistis?

Pengamat politik Universitas Gadjah Mada Dodi Ambardhi menilai narasi Prabowo soal Indonesia akan punah atau Indonesia akan bubar 2030 itu tak lain untuk menekankan sisi emosi bagi pendukungnya ketimbang pesan di balik pernyataannya. Sehingga ia pun bisa memakluminya. “Jadi presisinya di sana (narasi Indonesia punah) itu tidak ada. Yang lebih menonjol di sana adalah elemen emosinya,” ujarnya.

Hanya saja, di era keterbukaan informasi, narasi-narasi kontroversi menjadi sesuatu yang seksi untuk diberitakan pada khalayak. Keriuhan pun muncul. Terlebih, di tahun politik kedua kubu seolah saling mengintip saat-saat Jokowi-Ma’ruf Amin ataupun Prabowo-Sandiaga Uno ‘keseleo’ berbicara. Jika muncul satu ‘diksi ambigu ataupun kontroversial’ saja, mereka seakan telah menemukan perkakas untuk men-dogwngrade lawan politiknya dengan cara mendramatisasi sedemikian rupa guna meraup berkah elektoral.

Tak heran, beberapa ucapan capres Prabowo saat kampanye, dianggap blunder oleh sejumlah pihak. Misalnya, soal tampang Boyolali. Meski sebenarnya ledekan Prabowo itu bermaksud mencandai sistem perekonomian Indonesia yang menurut kubunya makin bobrok. Gara-gara ujaran itu, Prabowo diprotes oleh kelompok yang menamakan diri Forum Boyolali Bermartabat. Mereka menggelar aksi Save Tampang Boyolali pada Ahad, 4 November 2018.

Selain tampang Boyolali, ada pula ucapan Prabowo yang diprotes yakni soal pengojek. Menurut juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo – Sandiaga, Andre Rosiade, Prabowo sebenarnya tengah menjelaskan soal minimnya lapangan kerja hingga membuat masyarakat banting stir menjadi pengojek. Ucapan itu kemudian ditafsirkan merendahkan profesi tukang ojek. Serupa dengan Prabowo, ucapan cawapres Sandiaga Uno juga jadi sasaran ‘goreng-menggoreng’ oleh kubu Jokowi, misalnya soal tempe setipis ATM.

Di kutub lain, pasangan Jokowi-Ma’ruf pun tak lepas dari ‘gorengan politik’ kubu oposisi. Ucapan Jokowi yang tak biasa dan berubah ofensif seperti diksi ‘sontoloyo, genderuwo, bahkan tabok’, lantas menuai polemik.

Kembali ke ‘Indonesia bisa punah’, dalam konteks sejarah Indonesia hal itu pernah terjadi. Misalnya kepunahan Kerajaan Majapahit dan Sriwijaya, dua “negara” nenek moyang kita sebagai bangsa itu sudah punah berabad lalu. Majapahit runtuh pada tahun 1478, sedangkan Sriwijaya berakhir antara tahun 1178 dan 1225. Keruntuhan dua kerajaan besar tersebut dipicu oleh proses akumulasi antara pemberontakan, perang sudara, hingga ekspansi bangsa asing. Dari fenomena itu, wadah berupa ‘kerajaan’ memang punah tetapi Indonesia sebagai bangsa tetap ada, sampai akhirnya berdiri wadah baru bernama ‘Republik’ Indonesia.

Mungkinkah Indonesia akan bubar?

Bukan tidak mungkin, negara Indonesia saat ini sesungguhnya juga terancam punah. Tentu saja bukan lantaran adanya pemberontakan dan praktik kolonialisme primitif (serangan bersenjata) dari negara luar, hal itu kecil kemungkinan terjadi dalam konstalasi dunia sekarang. Akan tetapi, pihak luar akan melumpuhkan Indonesia lewat imperalisme baru, infiltrasi budaya dan ideologi, hingga penguasaan aset-aset negara melalui skema kapitalisme global.

Sementara faktor internal seperti ketimpangan sosial, ketidakadilan pendapatan, konflik horizontal, lonjakan pengangguran, kemunduran kualitas SDM, rapuhnya imunitas budaya lokal, hingga tergerusnya ikatan-ikatan kemajemukan, niscaya bisa mengancam eksistensi sebuah negara. Tak heran, Wapres Jusuf Kalla menilai, apa yang dikatakan Prabowo itu bisa saja terjadi jika persatuan dan kesatuan Indonesia tak dijaga. Sebab sudah banyak contoh negara terpecah karena perang saudara.

Akhirnya, ucapan Prabowo soal negara bisa punah selain dimaksudkan sebagai penguat militansi pendukungya, juga harus dimaknai sebagai peringatan dini agar elite mampu merawat negara ini dengan benar. Memang narasi Prabowo tampak hiperbolis dan terkesan pesimistis, namun pesan politik di balik itu cukup jelas: menyampaikan Indonesia dalam bahaya, dan Prabowo akan tampil sebagai sang penyelamat (hero).[]

Baca juga:

Negara (tak) Bisa Punah

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here